Minggu, 04 November 2018

Tampang Boyolali, Tampang Missqueen ! ! #SaveMukaBoyolali


Sama seperti apa yang biasa dilakukan orang-orang lain ketika gatau apa yang harus dilakukan, kemarin, di tengah gabut kronis yang melanda, saya iseng-iseng liatin story WA dari teman-teman –atau siapapun- yang ada di kontak saya. Kemudian, bersliweran lah satu demi satu story yang beraneka ragam isinya. Dari yang pamer kegiatannya sampai curhat ada.

Ga ada yang menarik. Biasa aja. Ga bikin rasa bosen gara-gara gabut saya ilang. Sampai akhirnya… saya nemu salah satu story yang isinya foto si pemilik akun. Story itu bikin saya agak penasaran. Bukan karena fotonya. Tapi captionnya. Di situ tertulis #SaveMukaBoyolali. Dalam hati saya bertanya kayak … “wah, apaan nih? Ada apa dengan muka Boyolali?”. Tapi rasa penasaran itu ga bertahan lama. Karena abis itu saya mikir kayak … “bodo ah, ga penting.”

Story demi story lain mulai bersliweran. Masih sama kayak yang sebelumnya, kaga menarik. Hingga akhirnya lagi-lagi ada satu story yang sukses membuat rasa penasaran saya bangkit kembali. Lagi-lagi polanya sama, foto si pemilik akun dengan caption berhastag #SaveMukaBoyolali.

Kali ini, saya gabisa menahan rasa penasaran saya. Sebagai manusia yang di KTPnya tercatat sebagai warga Boyolali, saya bener-bener pengen tau sebenernya ada apaan sih? Lalu, bertanyalah saya kepada si pemilik akun yang bikin story #SaveMukaBoyolali. Akhirnya, dari dia saya mendapatkan jawaban. Ternyata hastag tersebut muncul sebagai reaksi atas pidato Prabowo Subianto saat beliau melakukan kunjungan di Boyolali. Sebuah pidato yang dianggap menyakiti hati warga Boyolali. Pidatonya kurang lebih begini:

“…Tapi begitu saya lihat Jakarta, saya melihat hotel-hotel mewah. Gedung-gedung menjulang tinggi. Sebut aja hotel paling mahal di dunia, ada di Jakarta Ada Rich Carlton, ada Waldorf Astoria, ngomong aja kalian nggak bisa sebut dan macem-macem itu semua. dan saya yakin kalian nggak pernah masuk hotel-hotel tersebut, betul? Mungkin kalian diusir, tampang kalian tidak tampang orang kaya, tampang kalian ya tampang orang boyolali ini….”

Nah, begitulah potongan pidato dari bapak Prabowo Subianto yang dipermasalahkan tersebut. Di situ Prabowo seolah kesannya menganggap bahwa tampang-tampang Boyolali itu tampang-tampang miskin. Tampang-tampang ga pernah masuk hotel mewah. Aah, jangankan masuk, nyebut namanya aja syusah. Haha. Saya tau mungkin Prabowo konteksnya ingin bercanda, tapi pada akhirnya tetep aja malah jadi panas.

Langsung viral deh di sosmed. Bahkan di Twitter, hastag #SaveMukaBoyolali kabarnya sempat jadi trending topic. Apakah pidato pak Prabowo hanya sebatas panas di sosmed? Hmm, sayangnya engga. Gara-gara pidato tersebut, pak Prabowo sampai dilaporkan polisi. Ga berhenti di situ, bahkan hari ini (4/11/18), ada demo yang mempersoalkan hal itu loh. Panas sekali ya situasinya. Haha.

So, sebagai warga Boyolali yang memiliki tampang sangat Boyolali, bagaimana pendapat saya tentang pidato tersebut?

Hmm… tanggapan saya sih jujur… biasa aja. Iya, biasa aja. Justru saya malah ngakak. Sumpah saya ngakak. Ya gimana, abis lucu banget. Tampang Boyolali? Hahaha. Btw, kalau boleh jujur, Boyolali itu emang bulliable banget sih. Dengan kata lain, emang sasaran empuk buat dikata-katain.

Di Solo Raya, sebenarnya posisi Boyolali emang mirip kayak Bekasi di Jabodetabek. Sering diledekin. Kenapa saya bisa bilang begitu? Ya karena saya mengalami sendiri. Sebagai warga Boyolali bagian timur yang bahkan lebih deket ke Solo daripada Boyolali Kota, sehingga mau gamau lebih banyak melakukan aktivitas di Solo, emang warga Boyolali itu di tongkrongan sering diledekin karena dianggap ndeso.

“Boyolali itu ga ada apa-apa, hiburannya cuman tabrakan.”

“Kalau kalian lihat orang pakai jaket dealer naik motor di jalan, pasti orang Boyolali tuh”

Saya sering tuh dengar orang ngeledekin saya karena saya orang Boyolali pakai kalimat-kalimat kayak gitu. Satu-satunya senjata saya buat ngebales ya cuman…

“Seenggaknya Boyolali punya bandara!”

Nah, jadi saking seringnya dibully gara-gara tampang saya tampang Boyolali, saya jadi kebal. Jadi ketika dengar Prabowo bilang tampang Boyolali ga pantes masuk hotel mewah, saya ngakak. Terus ngomong dalam hati kayak… “Anjir, kok berasa kayak lagi ditongkrongan ya”

Singkatnya, saya ngga tersinggung dengan ucapan Prabowo. Lantas, apakah saya membenarkan ucapakan beliau? Engga juga. Bagi saya Prabowo tetap salah. Bagi saya ucapan beliau biasa aja. Tapi masalahnya, sensitivitas setiap orang terhadap ketersinggungan kan beda-beda. Bagi saya biasa, bagi orang lain bisa jadi menyakiti. Dan kenyataannya, puluhan ribu orang tersakiti oleh ucapan beliau. Puluhan ribu orang ketriggered sama ucapan Prabowo. Yang awalnya bercanda malah akhirnya jadi kasus. Karena bagaimanapun kita, bahkan seorang seperti Prabowo pun gabisa mengendalikan respon orang lain.

Di demo dan bahkan dilaporkan ke polisi? Kalau menurut saya, Pak Prabowo dapet apa yang dia tanam, sih. Lain kali ati-ati pak kalau ngomong. (^_^)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar