Jumat, 01 Juni 2018

Pertama Kali Naik Roller Coaster


Sebelum melangkah lebih jauh, biarkan saya mengatakannya terlebih dahulu. Ok, saya sadar, kok. Hanya dengan membaca judul postingan ini, kamu akan berpikir kalau saya adalah orang yang cukup norak. Ngeblog tentang pengalaman pertama naik roller coaster? Tuh, norak banget, kan. Haha.

Tapi, apapun yang ada di pikiran kamu, sejujurnya saya nggak begitu peduli. Karena bagaimanapun juga saya tetap akan menuliskan pengalaman norak itu. Soalnya begini, dalam dua bulan terakhir, hanya ada 4 postingan baru di blog ini. 2 dari bulan April dan 2 dari Mei. Nah, sadar akan berkurangnya produktivitas saya dalam menulis blog, maka dari itu, bodo amat senorak apapun postingannya, yang penting update. Haha.

Jadi ceritanya begini …
***
Minggu, 27 Mei 2018

Waktu itu, hari kesepuluh di bulan ramadhan tahun 2018, saya dijadwalkan untuk bertemu dengan seseorang dari Trans Studio Mini Solo untuk keperluan kerjasama dengan komunitas saya, Stand Up Comedy Kampus UMS. Pertemuan dijadwalkan di lokasi Trans Studio Mini itu sendiri, tepatnya di lantai 4 (atau 3, lupa) Transmart Pabelan.

Saya menghadiri pertemuan itu dengan seorang kawan yang waktu itu mengajak istrinya juga. Singkat cerita, akhirnya pertemuan pun berlangsung, kesepakatan demi kesepakatan pun lahir. Beberapa diantaranya … nggak penting! Ini kan postingan tentang pengalaman pertama saya naik roller coaster, jadi rasanya nggak perlu lah ya saya tulis kesepakatan apa saja yang lahir dari pertemuan itu. Jadi, kita langsung skip aja dan langsung menuju ke roller coaster.

OK. Jadi, setelah pertemuan selesai, seseorang dari trans studio yang tadi berunding bersama kami menawari kami untuk mencoba secara gratis roller coaster yang memang menjadi salah satu wahana di tempat bermain tersebut.

Jujur saja, tentunya saya ragu  untuk menerima tawaran itu. Alasannya simple, saya takut ketinggian. Separah apa sih ketakutan saya? Jadi gini. Pernah lihat rumah dengan dua lantai yang baru dibangun? Kalau pernah, biasanya kan tangganya belum ada pinggirannya, tuh. Nah, saya naik tangga yang belum ada pinggirannya aja takut setengah mati, kok. Apalagi naik roller coaster.

Di tengah keraguan itu, teman saya meyakinkan saya. Lalu saya pikir-pikir lagi. Dan akhirnya saya mau. Kira-kira ada tiga alasan sih kenapa saya mau. Pertama, pengalaman baru. Belum pernah soalnya. Kedua, siapa tahu bisa sembuh dari fobia ketinggian. Melawan rasa takut gitu ceritanya. Ketiga, mumpung gratis. Haha. Soalnya kata teman saya, sekali naik harganya 60ribu apa berapa gitu. Pokoknya lumayan mahal buat kantong mahasiswa. Makanya, mumpung gratis harus dimanfaatkan. Btw, istri teman saya nggak ikutan naik.

Menjelang naik ke roller coaster, perdebatan pun terjadi. Ini mau duduk di mana? Saat itu, seseorang dari trans studio memberi saran …

“Di belakang aja, Mas. Naik ginian paling seru kalau di belakang.”

Akhirnya kami nurut aja sama apa kata mas trans studio. Saya dan teman saya duduk di belakang. Enggak paling belakang, sih. Tepatnya kedua dari belakang. Sementara itu, mas trans studio dan satu orang rekannya naik juga dan duduk tepat di depan kami. Jujur saja, pas dengar masnya bilang di belakang lebih seru, hati kecil saya meyakini kalau sebenarnya yang bakal terjadi adalah kebalikannya, pasti maksudnya lebih serem.

Singkat cerita, roller coaster pun meluncur. Saat tanjakan pertama, saya masih biasa-biasa aja. Nah, sayangnya, hidup kan penuh keseimbangan, ya. Kalau ada tanjakan, pasti ada turunan. Dan benar saja, setelah lewat tanjakan pertama, tiba saatnya roller coaster untuk meluncur menurun dengan tajam. Di sini, saya mulai takut. Mata langsung tertutup, serapat yang saya bisa.

Karena menutup mata, saya jadi nggak lihat apa-apa. Ya iyalah, namanya juga merem. Nah, di saat mata tertutup itu, yang saya rasakan adalah sensasi tubuh seolah terlempar. Kayak terombang-ambing gitu. Dan sebagai orang yang sangat religius, di awal-awal roller coaster meluncur,  dari mulut saya meluncur kata-kata makian. Apapun, semuanya keluar. Haha. Religius sekali, kan?

Tapi itu cuman di awal doang. Lama kelamaan, karena sensasi seakan-akan terlempar dari kursi dan merasa keselamatan nyawa saya terancam, tahu-tahu saya jadi ingat Allah, loh. Beneran. Jadi yang awalnya misuh-misuh, ditengah-tengah tiba-tiba saya dzikir. Hahaha.

Setelah dua putaran, akhirnya saya turun dari roller coaster. Sumpah, waktu itu kaki saya merinding parah. Kayaknya lain kali nggak akan nyobain yang beginian lagi, deh. Nggak mau sok-sokan lagi. Naik tangga yang nggak ada pinggirannya aja udah takut apalagi roller coaster.

By the way, akhirnya saya menyadari sesuatu. Kayaknya kalau mau ingat sama Allah nggak perlu repot-repot datang ke pengajian, deh. Cukup naik roller coaster aja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar