Selasa, 15 Mei 2018

Tottenham Hotspur 2017/2018: Terbaik Di London


Dua hari yang lalu, Liga Primer Inggris musim 17/18 resmi berakhir. Sebagai penggemar Tottenham Hotspur, kalau boleh jujur, musim 17/18 adalah musim yang sebenarnya tidak begitu berkesan buat saya pribadi. Namun, tidak begitu berkesan bukan berarti sama sekali tidak berkesan. Setidaknya ada beberapa hal yang rasanya cukup nempel dalam benak saya terkait perjalanan Spurs selama menjalani petualangannya di musim lalu. Sepertinyanya cukup sampai di sini saja intronya. Mari kita langsung saja …

Terbaik Di London
Harus diakui, di Liga Primer musim lalu, Spurs tidak tampil sebaik musim sebelumnya. Terkait itu, bahkan kita bisa melihatnya dari hal-hal yang sederhana. Jika di musim 16/17 Spurs berhasil finis di urutan kedua dan mengumpulkan poin sebanyak 86, di musim 17/18 Spurs hanya finis ketiga dengan 77 poin. Dari situ saja ita bisa melihat bahwa ada penurunan performa.

Tapi, meski begitu, Spurs yang hanya finis ketiga dengan 77 poin berhasil menjadi tim London dengan perolehan poin terbanyak di Liga Primer musim lalu. Bukankah itu berarti Spurs adalah tim terbaik di London? Hal itu menurut saya cukup istimewa karena terakhir kali Spurs menjadi yang terbaik di London, itu terjadi di musim 1994/1995. Kala itu Tottenham finis di posisi ketujuh dengan 62 poin, hanya unggul 2 poin dari pesaing London terkedatnya, Queens Park Rangers yang finis di urutan delapan.

Rekor Penonton Terbanyak
Pada awalnya, Stadion Wembley oleh sebagian orang disebut sebagai kutukan untuk Tottenham. Sulitnya Spurs meraih kemenangan di Stadion terbesar se-Inggris adalah penyebab utama kenapa julukan kutukan itu muncul. Namun, seiring waktu berjalan, Spurs berhasil mengatasi kutukan tersebut. Kemenangan demi kemenangan menjadi sesuatu yang mulai biasa kita saksikan ketika Spurs memainkan laga kandangnya di Wembley.

Kutukan berubah menjadi berkah? Mungkin.

Yang lebih spesial lagi, berkat kapasitas Wembley yang luar biasa besar, Spurs sukses mencatatkan rekor sebagai tim dengan pertandingan kandang berpenonton terbanyak. Tepatnya di laga Derby London Utara menghadapi Arsenal 10 Februari 2018 yang kala itu, disaksikan langsung oleh 83.222 pasang mata. Memecahkan rekor 76.073 penonton kala Manchester United menjamu Aston Villa pada Januari 2007.

Ngomong-ngomong, tahukah kamu? Sejak Liga Primer musim 1994/1995, rekor jumlah penonton terbanyak di setiap musimnya selalu menjadi milik Manchester United. Hal itu terus terjadi secara berturut-turut hingga dengan musim 2016/2017. Sesuatu yang bagi saya sendiri sebenarnya tidak mengherankan. Lha wong Old Trafford memang stadion paling gede, kok. Jadi, bagi saya pribadi, bisa menghentikan rekor Manchester United yang berturut-turut menjadi tim dengan penonton kandang terbanyak selama 18 musim beruntun adalah sesuatu yang cukup special sebagai penggemar Tottenham.

Mental Juara
Segala sesuatu di dunia pasti memiliki dua sisi yang berlawanan. Hitam-putih, gelap-terang, dan tentunya, bagus-buruk. Kalau dua poin sebelumnya saya menuliskan tentang sesuatu yang bagus, kali ini mari kita masuk ke sesuatu yang buruk dari Spurs di musim lalu. Jika kamu juga penggemar Tottenham, saya rasa kamu juga menyadarinya. Ya, mental juara.

Sebagai penggemar Spurs, kita boleh berbangga karena Spurs adalah tim dengan gaya main paling menyenangkan untuk ditonton se-Inggris. Tentunya, jika kita tidak memasukkan Manchester City ke dalam daftar. Tapi sayangnya gaya main yang bagus tidak berarti apapun jika tidak didukung dengan mental juara yang mumpuni. Sering kalah di laga penting adalah buktinya.

Kalah di semi final FA Cup dari Manchester United. Kalah dari Juventus di 16 besar Liga Champions. Ngomong-ngomong, untuk pertandingan melawan Juventus, hingga dengan half time leg 2 di Wembley, waktu itu saya sangat yakin bahwa Spurs akan lolos ke fase selanjutnya. Tapi sayangnya, lagi-lagi persoalan mental. Persoalan yang akhirnya membuat Spurs lagi-lagi mengakhiri musim dengan nihil gelar.

Bek Kanan
Jika saya disuruh untuk menyebut satu kata untuk mendeskrepsikan tentang bek kanan Spurs musim lalu, maka tidak ada lain yang akan saya ucapkan selain kata L A W A K. Ya, di mata saya, bek kanan Spurs entah kenapa sering kali bermain seperti pelawak.

Kieran Trippier bisa jadi adalah pengirim umpan silang terbaik yang Spurs miliki sejak Gareth Bale meninggalkan tim ini. Namun sayangnya, sebagai pemain yang menyandang posisi sebagai bek, Trippier tidak mampu bertahan sebagus seperti saat dia mengirimkan umpang silang.

Sementara itu, Serge Aurier, bek kanan lain yang didatangkan dari PSG di musim panas 2017, di mata saya bermain lebih ngelawak lagi. Tackling ngawur adalah sesuatu yang seringkali kita saksikan saat Aurier beraksi. Yang paling saya ingat adalah saat Spurs melawan West Ham. Saat itu Spurs unggul 3-0. Sebuah tackling ngawur berbuah kartu merah untuk Aurier membuat West Ham tiba-tiba bangkit. Untungnya West Ham hanya mampu mencetak 2 gol sehingga Spurs tetap keluar sebagai pemenang dengan skor 3-2.

Tackling ngawur lain yang cukup menempel di ingatan saya adalah saat Aurier melanggar Toni Kroos saat Spurs menghadapi Real Madrid di Santiago Bernabeu dalam partai babak grup Liga Champions musim lalu yang berbuah tendangan penalti.

Lawakan Aurier tidak berhenti sampai di situ. Saat Spurs bertandang ke Selhurst Park tanggal 25 Februari 2018 silam, Aurier bahkan tidak bisa melakukan lemparan ke dalam dengan baik dan benar. Ok, terkadang manusia memang membuat kesalahan. Tapi masalahnya, itu terjadi sampai dengan 3X!

Tapi mungkin kita bisa bernapas sedikit lega terkait permasalahan di bek kanan Spurs setelah Kyle Walker-Peters baru-baru ini menandatangani perpanjangan kontrak hingga 2021. Ya, KWP adalah setitik harapan. Hanya dua kali tampil penuh di Liga Primer musim ini, hebatnya di dua pertandingan tersebut KWP selalu keluar sebagai man of the match. Semoga saja Pochettino akan memberikan kesempatan yang lebih banyak untuk KWP di musim depan.

Harry Kane
Tidak perlu panjang lebar, jujur saya sedikit kecewa dengan Harry Kane yang mengklaim gol tendangan bebas milik Eriksen saat Spurs bertandang ke markas Stoke City. Apapun alasannya, bagi saya, entah kenapa itu tetap terlihat cukup egois. Mungkin kamu akan berpikir bahwa seharusnya saya tidak menulis seperti itu tentang Harry kane karena bagaimana pun dia adalah pemain Spurs. Tapi saya adalah penggemar Tottenham Hotspur, siapa pun pemainnya. Saya bukan penggemar pemain ini atau pemain itu. Dan di sini, saya hanya berusaha untuk jujur.

Ternyata Fans Liverpool Menyebalkan
Mungkin ini akan menjadi poin terakhir di postingan ini. Bagi saya, setelah pertandingan di Anfield antara Liverpool melawan Spurs yang berakhir dengan skor 2-2, entah kenapa penggemar Liverpool tiba-tiba berubah menjadi sekelompok orang yang menyebalkan. Apakah kamu juga merasakan hal yang sama?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar