Senin, 16 April 2018

Setelah Nonton Koi wa Ameagari no You ni [Review Anime]


Mungkin enak kali ya kalau menjadi pria tua yang dicintai gadis remaja. Beberapa hari terakhir, saya sering berimajinasi tentang itu. Tentunya setelah saya menonton anime berjudul Koi wa Ameagari no You ni. Sebuah anime yang juga akan saya review di postingan kali ini.
***
SINOPSIS
Tachibana Akira, gadis berumur 17 tahun yang jarang memperlihatkan ekspresinya. Gadis ini jatuh cinta dengan Kondou Masami, manajer di tempat dia bekerja paruh waktu. Manajernya tersebut berusia 45 tahun, telah bercerai dan memiliki seorang anak.

Meskipun terpaut usia yang jauh, namun Akira dengan sepenuh hati menyukai manajernya. Dan meskipun Akira tidak bisa mejelaskan alasannya mengapa dia tertarik pada manajernya, namun dia meyakini bahwa mencintai seseorang itu tidak membutuhkan alasan. Suatu hari ketika turun hujan, dia memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya.

Sumber: otakotaku.com
***
Ok, langsung aja, ya.

Menurut saya, Koi wa Ameagari no You ni adalah anime dengan premis yang sangat menarik. Menceritakan tentang kisah cinta om-om 45 tahun dengan gadis remaja yang masih 17 tahun. Menarik banget, kan? Nah, sayangnya itu adalah satu-satunya hal menarik dari anime ini. Selain lagu openingnya yang lumayan enak didengar tentunya.

Bukannya jelek tapi … gimana ya, jadi simpelnya, Koi wa Ameagari no You ni adalah anime yang nggak mungkin saya tonton ulang di masa yang akan datang. Sekali lagi bukannya jelek, cuman nggak berkesan aja.

Jadi gini, saya punya satu kriteria yang sebenarnya sangat sederhana dalam menilai bagus enggaknya suatu anime. Sederhana banget. Selama saya merasa hati saya tergerak selama menonton, berarti bagus. Semisal ikut tegang ketika nonton yang bergenre misteri. Kalau untuk anime bergenre romance, ikut baper adalah parameternya. Nah, masalahnya Koi wa Ameagari no You ni enggak bikin hati saya tergerak.

Kalau boleh jujur, ceritanya agak membosankan. Maksud saya, konfliknya kayak kurang greget aja. Kisah cinta antara Tachibana Akira dan Kondou Masami nggak bikin saya baper. Kisah persahabatan Akira dan Haruka yang merenggang juga biasa aja. Tentang Kondou Masami yang melupakan mimpinya jadi penulis atau Akira yang menghindari lari, nggak tahu kenapa semuanya biasa aja. Sama sekali nggak bikin hati saya tergerak.

Di episode pertengahan, atau awal ya? Saya agak lupa. Sebenarnya saya mulai agak bersemangat ketika Kase Ryousuke, karakter pria gondrong yang juga bekerja di tempat yang sama dengan karakter utama menunjukkan ketertarikannya ke Tachibana Akira. Bahkan sempat ngajak ngedate dan cium pipi Akira. Tapi sayangnya kisahnya Kase Ryousuke yang mendekati Akira ini kurang digali dan cuman muncul di satu episode aja. Sayang banget. Padahal ini yang bikin seru.

By the way, gara-gara Kondou Masami, karakter om-om 45 tahun yang jadi tambatan hati Akira, saya akhirnya menyadari sesuatu. Bahwa sesungguhnya apa yang membedakan antara anak muda dan orang tua adalah mimpi dan harapan. Manusia menua bukan ketika umurnya bertambah. Tapi, ketika mimpi dan harapan mulai memudar dari hatinya.    

Selasa, 10 April 2018

Takut Mencoba Hal Baru


Semua orang punya ketakutan. Ada yang takut badut, ketinggian, polisi, dan hal-hal lainnya. Yang pasti, semua orang punya sesuatu yang ditakutkan. Dan jika saya mendapatkan pertanyaan tentang sesuatu yang paling saya takutkan, maka mencoba hal yang baru adalah jawaban saya.

Nggak tahu kenapa, saya selalu takut kalau diharuskan mencoba sesuatu yang baru dalam hidup saya. Pernah ngerasain pindah sekolah? Kalau pernah, gimana rasanya menjalani hari pertama di sekolah baru? Saya pernah beberapa kali pindah sekolah. Dan rasanya menjalani hari pertama di sekolah baru itu nggak enak banget. Gugup, takut, dan perasaan-perasaan negatif lainnya seolah berkumpul menjadi satu. Nah, begitulah kira-kira apa yang saya rasakan terkait mencoba sesuatu yang baru.

Saya takut mencoba banyak hal baru. Saya takut mendatangi tempat yang belum pernah saya kunjungi. Saya takut untuk menumui orang yang belum pernah saya temui. Saya takut melakukan aktivitas yang belum pernah saya jalani. Saya takut mengurus sesuatu yang berkaitan dengan birokrasi yang sebelumnya belum pernah saya urus. Bahkan, saya takut untuk makan di tempat yang belum pernah saya datangi. Saya takut.

Selalu ada pertanyaan yang menggema dalam otak saya sebelum saya mencoba sesuatu yang baru.

“Entar gimana kalau …?”

“Aku harus ngapain kalau misalnya …?”

“Ini gak papa ya kalau misalkan aku …?”

Selalu ada keraguan. Selalu ada kekhawatiran. Keraguan dan kekhawatiran yang membuat saya selalu takut mencoba hal baru.

Saya sadar, ketakutan saya dalam mencoba hal yang baru adalah sesuatu yang buruk. Sangat buruk. Sesuatu yang membuat saya selalu gagal untuk melangkah maju. Padahal seringkali ketika saya memaksakan diri untuk melawan rasa takut, ternyata hal baru yang saya coba enggak semenakutkan apa yang saya bayangkan. Ternyata memang benar tentang apa yang sering orang-orang katakan. Ya, seringkali rasa takut lebih besar dari rasa sakit.

Ah, semoga saya bisa berubah.