Senin, 26 Maret 2018

Once Upon A Time Stand Up Show Jogja [Review]


Pernah pergi ke sebuah acara reuni di mana kamu sebenarnya bukan bagian dari sekelompok manusia yang sedang bereuni tersebut? Menemani pacar pergi ke acara reuni misalnya? Kebetulan saya belum pernah. Karena kebetulan, saya juga nggak punya pacar. Meski belum pernah, tapi jujur hanya dengan membayangkannya saja saya tahu kalau rasanya pasti akan sangat membosankan. Melihat orang-orang yang saling berbicara dan tertawa membahas masa lalu yang mana enggak kita alami, situasi yang saya yakin pasti akan sangat awkward sekali. Mau ikutan ngobrol tapi nggak ngerti ngomongin apa. Apalagi kalau mau ikutan ketawa, pasti canggung banget. 

24 Maret 2018, semuanya berubah. Akhirnya saya merasakannya. Bukan tentang punya pacar. Tapi tentang pergi ke sebuah acara reuni di mana saya sebenarnya bukan bagian dari sekolompok orang yang sedang bereuni tersebut. Di hari itu, saya hadir ke sebuah acara reuni bertajuk Once Upon A Time. Sebuah show stand up comedy yang menjadi ajang reuni angkatan lama comic-comic komunitas Stand up Indo Jogja. Ada Bene Dion, Benidictivity, Denny Nyamin, Nuel Andreas, Gigih Adiguna, Abraham Tino (dan harusnya sih Yusril Fahriza) yang tampil malam itu.

Pada awalnya, ketika saya ditawari oleh teman saya untuk menonton show ini, jujur awalnya saya agak malas. Alasannya sederhana saja, karena acara ini adalah show keroyokan dari banyak comic. Memang kenapa kalau show keroyokan? Jadi begini, saya memang suka nonton acara stand up. Tapi yang bentuknya special show. Buat yang belum tahu, special show itu semacam konser tunggal kalau dalam dunia permusikan. Selalu ada keyakinan dalam diri saya kalau menonton special show pasti memuaskan. Karena saya yakin comic yang berani bikin special pasti bukan comic sembarangan. Dan kayaknya itu cukup mempengaruhi pandangan saya sama show keroyokan. Karena dalam beberapa tahun terakhir, show keroyokan sudah nggak begitu menarik buat saya.

Itu alasan pertama. Alasan keduanya adalah jarak. Jujur saya cukup malas kalau harus menempuh perjalanan jauh dari Solo ke Jogja hanya untuk menonton show keroyokan. Tapi, untuk Once Upon A Time, kasusnya berbeda. Karena ketika saya melihat line up siapa saja comic yang akan tampil di acara ini, kali ini saya membuat pengecualian. Karena saya pikir akan menyenangkan rasanya menonton comic-comic yang dulunya sering wira-wiri mengisi acara stand up di kota pelajar jauh sebelum nama-nama seperti Coki Anwar, Mamat Alkatiri, atau Aly Akbar muncul.

Umm … nggak tahu kenapa, kayaknya intro dari postingan ini sedikit berbelit-belit, ya. Intinya kemarin saya nonton show stand up comedy di Jogja yang judulnya Once Upon A Time. Dan dipostingan kali ini, saya pengen mereviewnya. Jadi, nggak usah berlama-lama lagi, mari kita langsung saja.

Show ini digelar di Lembaga Indonesia Perancis Yogyakarta. Saya sampai di venue acara sekitar pukul 19.00. Menurut saya venuenya cukup menyenangkan. Jarak antara panggung dan penonton yang cukup dekat membuat suasana terasa begitu intim. Ya, terasa intim. By the way, bukankah memang seperti itu seharusnya acara reuni berjalan?

Enggak menunggu terlalu lama sejak kedatangan saya di gedung pertunjukkan tersebut, acara pun dimulai. Lampu padam. Muncul Hifdzi Khoir dan Mukti Entut yang bertugas menjadi pemandu acara pada malam itu. Duo personel Orkes Pensil Alis tersebut dengan sukses memanaskan suasana. Selain muncul di awal show, duo MC yang memiliki postur tubuh menggemaskan ini kembali hadir di setiap dua comic telah selesai tampil. Oh iya, hampir saya lupa. Malam itu, jujur saya sangat kagum tentang bagaimana Mukti Entut terlihat seolah sangat mudah membuat semua orang tertawa. Diksi-diksi jenaka yang terasa sangat spontan dalam menanggapi pancingan Hifdzi jadi sesuatu yang menarik untuk dinikmati malam itu. Sampai-sampai saya berkata dalam hati, “Iki wonge latihan disik opo dasare wes lucu awit lahir, tho?”.

Bene Dion menjadi comic yang tampil pertama pada malam itu. Masih jelas dalam ingatan saya tentang apa yang dikatakan Bene di awal penampilannya. “Kalian nonton acara ini itu sama kayak nonton Maradona main bola. Bisa, sih. Tapi udah nggak jago”. Dan kira-kira seperti itulah penampilan Bene malam itu. Persis seperti apa yang dia katakan, kayak nonton Maradona main bola. Hehe. Tapi apapun itu, saya cukup menikmati cerita-ceritanya tentang masa lalunya ketika masih tinggal di Jogja dulu. Juga tentang menjadi kaya sedikit banyak merubah dirinya menurut saya adalah pembahasan yang menarik.

Tampil kedua ada Benidictivity. Pernah dengar tentang Midas? Tentang apapun yang dia sentuh berubah menjadi emas? Sungguh cerita yang jujur saja untuk membayangkannya menjadi kenyataan adalah sesuatu yang mustahil. Tapi malam itu, di bidang lain, tepatnya comedy, saya seolah melihat sosok Midas pada diri Beni. Ya, tampil dengan suara yang agak serak, Beni mampu merubah apapun yang keluar dari mulutnya menjadi untaian tawa.

Berikutnya ada Denny Nyamin. Saya yakin semua orang yang hadir malam itu akan setuju kalau saya berkata jika Denny Nyamin adalah penampil paling aneh. Ya, seenggaknya kalau nggak mau disebut gila. Masuk panggung dengan GALER adalah awal dari semua keanehan yang Denny Nyamin tunjukkan malam itu. Materinya, pembawaanya di panggung, bahkan penampilannya secara fisik pun aneh, kayak orang mabok atau … saya juga bingung sih gimana mau nyebutnya. Tapi di balik semua keanehannya, Denny Nyamin sama sekali nggak melupakan hal paling penting dalam berkomedi. Ya, LUCU! Bagi saya, Denny Nyamin adalah penampil paling lucu malam itu. Aneh, tapi lucu. Saking anehnya, banyak bit-bitnya yang kepotong di tengah dan nggak diteruskan sampai akhir. Entah karena lupa atau apa. Tapi anehnya justru momen kayak gitu lucu. Aneh, sih. Tapi lucu.

Setelah itu ada Nuel Andreas. Diperkenalkan sebagai budak korporet, Nuel masuk panggung dengan pakaian yang terlihat sangat rapi. Nuel memulai penampilannya dengan bercerita tentang hubungannya yang nggak direstui oleh orang tua sang pacar. Hal yang paling nempel dalam ingatan saya tentang penampilan Nuel Andreas malam itu adalah ketika dia menjelaskan makna budak yang sesungguhnya dengan memperagakan gesture seseorang yang sedang berdandan. Yang tentu saja niatnya sih memplesetkan kata bedak. Wadaw sih jokenya. Tapi harus diakui, saking wadawnya sampai-sampai masih teringat sampai sekarang. Hehe.

Selanjutnya ada Gigih Adiguna. Tampil dengan bit-bit pendek, Gigih berhasil memanen tawa dengan LPM yang cukup padat malam itu. By the way, entah cuman perasaan saya atau gimana, sepertinya Gigih Adiguna tampil tidak terlalu lama di atas panggung malam itu. Tapi bagaimanapun juga, pecah tetaplah pecah.

Terakhir ada Abraham Tino alias Abe. Diperkenalkan sebagai sosok yang berbahaya, Abe benar-benar tampil berbahaya malam itu. Kombinasi antara dark dan blue comedy mendominasi apa yang dia sampaikan di atas panggung. Garang dan sangar, tapi lucu. Banyak poin yang disampaikan Abe yang jujur saja juga saya rasakan. Seperti tentang takut punya anak perempuan yang punya pacar. Meski imajinasi saya tentang hal itu nggak separah imajinasi Abe juga, sih. hehe. Tapi saya benar-benar merasakan ketakutan itu. Saya juga setuju tentang pandangannya terhadap keperawanan yang sebenarnya nggak perlu disakralkan. Intinya, bagi saya, penampilan Abe malam itu sangat relatable. Jadi bagi saya, sesangar dan setabu apapun penampilan Abe, saya sama sekali nggak merasa terganggu. Mungkin benar kata orang, komedi memang tentang refrensi.

Ah, kayaknya cukup segini saja tulisan saya kali ini. Tapi sebelum saya tutup, saya cuman mau mengkoreksi sedikit tulisan saya di awal tentang pasti awkward rasanya hadir di acara reuni yang di situ kita bukan bagian dari orang yang bereuni. Sepertinya itu nggak 100% valid. Karena faktanya, di acara Once Upon A Time, yang mana sejatinya adalah acara reuni, saya bisa tertawa lepas.

BACA JUGA:




Tidak ada komentar:

Posting Komentar