Sabtu, 17 Februari 2018

Suka Duka Anak Rumahan



Kalau kamu sering mendapat pertanyaan dengan kalimat yang berbunyi, “nggak bosen di rumah terus?” atau “emang di rumah ngapain aja, sih?”, besar kemungkinan kita termasuk dalam golongan yang sama. Ya, kita adalah anak rumahan!

Umm … sebenarnya saya agak ragu kalau harus menyebut diri saya sebagai anak rumahan. Memang sih saya lebih suka menghabiskan waktu di dalam rumah. Tapi, masalahnya bukan itu. Masalahnya saya bukan anak-anak lagi. Bahkan disebut remaja pun udah nggak pantes. Sekitar satu tahun lebih beberapa bulan lagi, saya akan berusia ¼ abad. Jadi dengan usia segitu, masihkah saya pantas disebut anak rumahan? Tapi kalau bukan anak rumahan, lalu bagaimana menyebutnya? Orang rumahan? Manusia rumahan? Atau masyarakat rumahan? Ah, lupakan saja. Kayaknya istilah anak rumahan tetap yang terbaik.

Sama seperti banyak hal lain di dunia yang memiliki dua sisi yang berlawanan, seperti baik dan buruk, hitam dan putih, atau apapun itu, menjadi anak rumahan pun sama. Ada suka dan dukanya. Ada hal yang menyenangkan dan menyebalkannya. Dan di postingan kali ini, saya pengen membahasnya.

Baiklah, mari kita mulai dari sukanya dulu …

Yang menyenangkan dari menjadi anak rumahan adalah … kebahagian yang sederhana. Ya, kebahagiaan yang sederhana. Untuk merasa bahagia, atau seenggaknya senang, saya nggak perlu berkungjung ke tempat wisata yang keren atau sebuah kafe yang hits banget. Karena cukup dengan berada di rumah, saya sudah merasa bahagia.

Nggak bosen di rumah terus?

Enggak. Saya pribadi, saya nggak pernah merasa bosan ketika berada di rumah. Selama koneksi internet di rumah lancar, saya nggak akan pernah bosan. Atau ketika internet mati, seenggaknya ada buku yang bisa menemani. Atau acara TV yang bagus. Atau laptop untuk sekedar menonton anime. Atau, kalau semua itu nggak tersedia, bahkan hanya berbaring di dalam kamar sambil memandangi langit-langit kamar juga nggak terlalu buruk, kok.

Bahkan seringnya, kalau pas di luar rumah saya malah merasa bosan. Pengennya cepetan pulang dan sampai rumah. Makanya, saya sering bingung kalau ada teman saya yang bilang kalau dia nggak betah di rumah. Umm … gimana, ya? aneh aja, sih.

Itu tadi sukanya jadi anak rumahan. Gimana tentang dukanya? Jujur menjadi anak rumahan banyak juga lho dukanya.

Salah satunya adalah fakta kalau saya nggak punya banyak pengalaman. Seenggak berpengalaman apa saya? Sangat simple untuk menjelaskan itu. Sampai detik ini, saya belum pernah nonton film di bioskop. Saya juga belum pernah naik gojek. Nah, sudah jelaskan di titik mana level ketidak berpengalaman saya. haha.

Yang paling menyebalkan dari menjadi anak rumahan adalah susah dapat pacar. Sebenarnya daripada dibilang susah, lebih tepatnya saya nggak tahu gimana caranya. Sebagai anak rumahan, tentu lingkup pergaulannya terbatas. Kenalan lawan jenis pun terbatas pula. Kalau pun ada, saya juga bingung mesti gimana. Ajak jalan? Kemana? Refrensi tempat asik menurut saya ya cuma kamar. Masak iya diajak ngamar? Rasanya bukan ide yang bagus.

Kadang, jujur saya merasa agak iri kalau buka instagram terus lihat foto teman-teman saya yang lagi pergi ke sebuah tempat wisata dengan wajah mereka yang terlihat begitu senang. Saya pikir sepertinya asik juga. Dan saya pun pernah mencobanya. Ikut pergi sama teman saya ke tempat wisata. Di tengah perjalanan, tiba-tiba saya berkata dalam hati …

“Rasanya pengen pulang aja”

Ya, tiba-tiba saya merasa bosan. Meski itu di tempat wisata. Sepertinya rumah memang tempat terbaik buat saya. Tempat yang membuat saya merasa nyaman. Tempat yang membuat saya merasa aman. Dan tentunya, tempat yang membuat saya merasa bahagia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar