Minggu, 04 Februari 2018

Pernah Makan Telur Lalat?



Pernah makan telur lalat? Saya pernah. Belum lama terjadi. Baru kemarin. Kok bisa terjadi? Jadi, ceritanya begini …

Kemarin malam, diperjalanan pulang setelah menjemput adik saya yang berlatih taekwondo untuk persiapan kejuaraan, saya bersama bapak dan adik saya mampir di sebuah warung makan yang menyediakan nasi goreng sebagai menu utamanya.

Setelah memesan, kami duduk di sebuah meja kosong. Di meja itu, terhidang di sebuah piring beberapa tusuk sate ati ayam yang dari penampakannya terlihat begitu lezat. Karena tergoda, saya pun mengambil satu. Kemudian saya memakannya. Dan rasanya … biasa aja. Ternyata enak di visualnya doang.

Tapi, hanya karena rasanya biasa aja, bukan berarti saya nggak doyan lho, ya. Saya tetap dengan lahap menikmati sate ati itu. Sampai akhirnya bapak saya menghentikan saya.

“Sal, lihat satemu,” kata bapak saya. Saya pikir, bapak saya waktu itu mau minta. Tapi kemudian beliau berkata, “jangan dimakan, ini ada telur lalatnya.”

“Telur lalat?” tentu saya bingung.

Kemudian bapak saya menunjuk di salah satu bagian sate ati yang tadi saya makan yang di situ terdapat kayak semacam putih-putih berbentuk butiran gitu. Bentuknya mirip seperti nasi. Tapi kecil. Mungkin penggambaran yang lebih tepat bukan nasi kali, ya. Tapi komedo. Pernah memencet komedo? Saya pernah. Dari hidung saya keluar butiran putih kecil-kecil mirip seperti benda yang ada di sate ati yang tadi.

Awalnya jujur saya nggak percaya. Masak iya itu telur lalat? Saya masih berusaha berprasangka baik. Bisa aja kan itu tadi bumbu. Potongan bawang putih misalnya. Karena saya sudah berprasangka baik, ya sudah sate ati tadi tetap saya makan. Saya pikir, agak mubadzir juga kalau dibuang. Waktu itu bapak saya memandangi saya dengan ekspresi jijik.

Meski sudah berprasangka baik, tapi jujur rasa penasaran saya belum juga mau pergi. Saya bertanya-tanya. Masak iya itu tadi telur lalat? Akhirnya saya cari di google dengan kata kunci “telur lalat”. Kemudian, gambar yang muncul adalah … PERSIS SEPERTI APA YANG SAYA MAKAN TADI!
Telur Lalat
Anjay! Saya makan telur lalat! Tapi sebenarnya rasanya biasa aja, sih. Tapi tetep aja, itu telur lalat!

Karena kejadian itu, kini saya paham kenapa di makanan basi biasanya ada belatungnya. Karena ketika lalat hinggap di makanan, dia sedang bertelur. Telur lalat ketika menetas wujudnya ya belatung. Akhirnya saya paham kenapa makanan seharusnya ditutup rapat-rapat. Biar makanannya nggak dipakai lalat untuk arena bertelur.

Sekarang, kalau mau makan, saya akan lebih teliti lagi dalam mengamati makanan yang akan saya makan. Jangan sampai saya makan telur lalat lagi!

2 komentar:

  1. Balasan
    1. sak orane mergo moco iki koe dadi reti to nek panganan ki iso dinggo ngendok laler. memang bermanfaat sekali tulisan saya yang satu ini, haha

      Hapus