Rabu, 28 Februari 2018

Audisi SUCI 8 Surabaya


Minggu tanggal 25 Februari kemarin, saya baru saja pulang dari Surabaya setelah sehari sebelumnya mencoba peruntungan ikut audisi SUCI 8 Kompas TV di Kota Pahlawan. Dan postingan ini, tentu saja adalah jurnal pribadi saya untuk sekedar mengabadikan kenangan selama mengikuti audisi tersebut. Dan tentu saja, kenangan selama dua hari di Surabaya termasuk perjalanannya.
***
Jumat, 23 Februari 2018

Saya berangkat dengan dua teman saya, Thesar dan Beta –nama aslinya Afrianus karo, karena orang timur, panggilannya Beta- naik kereta dari Stasiun Purwosari Solo pada hari Jumat tanggal 23 Februari pukul 10 pagi. Sampai Stasiun Gubeng Surabaya sekitar asar jam 3 sore. Jadi, kurang lebih perjalanannya memakan waktu 5 jam.

Sejujurnya, apa yang terjadi selama berada di dalam kereta saat keberangkatan bisa jadi adalah bagian paling menyenangkan dari perjalanan ini. Naik kereta Logawa kelas ekonomi dengan tiket yang hanya seharga Rp. 74.000 membuat saya duduk di sebuah kursi yang saling berhadapan dengan penumpang lainnya di sepanjang perjalanannya.

Beruntungnya, orang yang duduk di depan saya adalah seorang gadis Chinese. Nggak cukup hanya Chinese, dia juga berkacamata. Sempurna! Wajah oriental dan kacamata adalah kombinasi sempurna!

By the way, apakah saya mengajak gadis Chinese itu bicara? Tentu saja enggak. Saya nggak punya mental yang cukup kuat untuk itu. Lagian, di samping gadis itu duduk seorang cowok yang dari penampakan wajahnya, Chinese juga. Apakah mereka pacaran? Enggak yakin, sih. Saya malah menduga mereka kakak beradik. Soalnya wajahnya mirip banget. Tapi, tunggu! Bukannya semua Chinese memang terlihat mirip?

Sesampainya di sana, kami langsung nyari hotel. Dapatlah sebuah hotel yang menurut kami lokasinya cukup strategis. Dekat dengan Stasiun Gubeng dan dekat juga dengan RRI Surabaya yang akan jadi tempat audisi SUCI 8. Namanya Hotel Gubeng. Harganya lumayan murah. Sehari bertiga cuman 210k. Artinya per orang keluar biaya 70k.

Malam sekitar jam 9, kami keluar nyari makan. Pas lagi makan, Beta dapat pesan whatsapp dari temannya. Namanya Priska, komika wanita dari komunitas Stand Up Indo Jogja yang kebetulan juga berangkat ke Surabaya untuk ikutan audisi. Priska ngajak kami main ke Taman Bungkul. Jadi setelah makan, kami bertiga langsung meluncur naik taksi online menuju Taman Bungkul. Di sana, kami ketemu Priska. Dia nggak sendirian, sama temannya namanya Ellyn. Belakangan saya tahu kalau ternyata Beta, Priska, dan Ellyn sudah berteman semenjak SMA di timur sana.

Dari taman bungkul, kami berlima jalan kaki menuju patung Surabaya. Itu loh, patung hiu sama buaya yang letaknya di dekat Kebun Binatang Surabaya. Patung yang konon kabarnya kalau belum foto di situ, belum ke Surabaya namanya. Tentu saja di situ kami foto-foto.

***
Sabtu, 24 Februari 2018

Hari audisi akhirnya tiba. Pagi hari sekitar setengah enam, saya keluar hotel untuk mencari angin. Begitu keluar hotel, saya langsung disambut sama ibu-ibu dengan baju hitam yang tiba-tiba langsung berkata pada saya …

“Mas, pijet?”

Anjir, keluar hotel langsung ditawari pijet.  -__-

Kami tiba di lokasi audisi sekitar jam 8. Waktu itu suasana sudah lumayan ramai. Ada sekitar 250an peserta yang berasal dari berbagai daerah. Saya dapat nomor antrean ke 150. Antre dari pagi, saya baru naik sekitar jam 5 sore. Atau setengah 6, ya? Pokoknya sekitar itu.

Kalau ditanya bagaimana persiapan saya, jujur saya sudah sangat yakin. Ya, saya sangat yakin kalau saya akan dicut. Hehe. Nggak tahu kenapa dari awal saya memang sudah nggak berekspektasi. Lebih dari sekedar nggak berekspektasi, bahkan saya yakin kalau bakal dicut.

Waktu itu jurinya Pakde Indro dan Pandji Pragiwaksono. Bit pertama saya lempar. Reaksi penonton sangat-sangat anyep. Bit kedua saya lempar. Reaksi yang sama belum berganti. Kemudian masuk bit ketiga. Ketika lagi set up, tiba-tiba Pandji menyela …

“Yak, terimakasih ya Faisal.”
Nah, bener kan keyakinan saya. Saya akhirnya dicut beneran. Kalau dulu di audisi SUCI 6 Jogjakarta saya dicut karena membawakan toilet joke, sekarang di audisi SUCI 8 Surabaya saya dicut karena nggak lucu. Hehe.
***
Minggu, 25 Februari 2018

Hari kepulangan. Pukul 11 kami berangkat dari Stasiun Gubeng Surabaya. Sampai Purwosari Solo jam setengah 4 sore. Naik kereta yang sama, Logawa. Sebelum naik ke kereta, jujur saya bertanya-tanya. Akankah seperti saat keberangkatan di mana saya duduk berhadapan dengan gadis Chinese berkacamata lagi? Jujur, saya sedikit berharap.

Tapi, seperti kalimat klise yang sudah biasa kita dengar, terkadang kenyataan yang ada sangat jauh dari apa yang menjadi harapan kita. Alih-alih duduk berhadapan dengan gadis Chinese berkacamata, sepanjang perjalanan saya justru harus duduk berhadapan dengan ibu-ibu ngapak. -__-

Kamis, 22 Februari 2018

Jadi Begini Proses Sidang Tilang



Hari ini, setelah hampir dua bulan tahun 2018 berlangsung, akhirnya saya dapat pengalaman baru. Ya, pengalaman yang benar-benar baru. Ikutan sidang tilang. Semua bermula dari sebuah pagi di awal Februari. Di pagi itu saya kena tilang di daerah Kartasura. SIM saya ditahan. Oleh Pak Polisi, saya di suruh menghadiri sidang di Kantor Pengadilan Negeri Sukoharjo. Untuk cerita lebih lengkap tentang bagaimana saya ditilang, KLIK DI SINI.

Pagi ini, sesuai dengan hari yang sudah dijadwalkan sama Pak Polisi, saya pun mau nggak berbegas ke Kantor Pengadilan Negeri Sukoharjo. Demi satu tujuan. Mengambil kembali SIM saya. Awalnya saya pikir perjalanan naik motor dari rumah saya di Sambi, Boyolali sampai ke Sukoharjo kota bakalan terasa jauh. Dan ternyata setelah dibuktikan sendiri … MEMANG IYA. Jauh banget. Kurang lebih perjalanannya memakan waktu satu jam.

Setelah satu jam yang terlewatkan di jalan, saya sampai juga di Kantor Pengadilan Negeri Sukoharjo. Enggak susah bagi saya untuk menemukan kantor tersebut. Kebetulan letaknya memang gampang dicari, terletak di jalan besar yang kalau kita terus melaju ke selatan, akan sampai di Wonogiri.

Saat saya sampai di lapangan parkir kantor pengadilan tersebut, suasananya sama sekali berbeda dari apa yang saya bayangkan sebelumnya. Sepi. Sangat-sangat sepi. Situasi yang seolah mencerminkan kalau enggak ada sidang tilang yang digelar di tempat itu. Dan benar saja, beberapa saat setelahnya tukang parkir datang dan bilang kalau sidang tilangnya pindah tempat ke Kantor Kejaksaan Sukoharjo.

Ok, saya pun berbegas menuju kantor kejaksaan. Tapi, sebelum sempat saya meninggalkan parkiran kantor pengadilan, si tukang parkir tiba-tiba ngomong …

“Mas, parkire sewu.”

Lah, padahal kan nggak jadi parkir di situ -__- . Pada akhirnya tetap saya kasih, sih.

Di kantor kejaksaan, suasana yang saya bayangkan akhirnya saya temukan. Ramai banget. Suasananya kayak nonton kawanan ikan sarden yang berenang di acara TV tentang hewan-hewan, pokoknya ramai.
Suasana Kantor Kejaksaan Sukoharjo Tadi Pagi
Jujur karena baru pertama berurusan sama sidang tilang seperti ini, awalnya saya juga bingung prosesnya bagaimana. Namun berbekal tanya-tanya dan ikut-ikutan orang, akhirnya saya bisa juga mendapatkan SIM saya kembali. Ternyata proses sidang tilang itu mudah dan nggak ribet.

Di sana kita tinggal ambil nomor antrean. Setalah itu nunggu nomor kita dipanggil. Kalau sudah dipanggil segera berbegas ke loket. Kalau saya tadi, dipanggilnya 20 nomor sekaligus. Kemudian bayar dan SIM saya akhirnya kembali ke tangan saya. Ngomong-ngomong, awalnya saya pikir dendanya bakalan mahal. Ternyata untuk pelanggaran seperti yang saya lakukan, telat bayar pajak, dendanya cuma Rp. 60.000. Tahu gitu enggak usah bawa uang Rp. 750.000. Hehe.

Prosesnya gampang banget pokoknya. Enggak lama, kok. Enggak ada satu jam. Bahkan saya nggak yakin apakah ada setengah jam apa enggak.

Tapi jujur, proses sidang tilang ini sangat jauh dari apa yang saya bayangkan sebelumnya. Karena ada kata sidang di situ, saya pikir bakal berhadapan sama hakim atau gimana gitu. Ternyata hanya bayar denda di loket aja.

Terakhir, karena prosesnya gampang dan cepet, sebaiknya siapapun kamu, kalau kena tilang dan harus pergi ke sidang, mending berangkat sendiri. Enggak usah repot-repot pakai calo apalagi sampai nyewa pengacara.

Sabtu, 17 Februari 2018

Suka Duka Anak Rumahan



Kalau kamu sering mendapat pertanyaan dengan kalimat yang berbunyi, “nggak bosen di rumah terus?” atau “emang di rumah ngapain aja, sih?”, besar kemungkinan kita termasuk dalam golongan yang sama. Ya, kita adalah anak rumahan!

Umm … sebenarnya saya agak ragu kalau harus menyebut diri saya sebagai anak rumahan. Memang sih saya lebih suka menghabiskan waktu di dalam rumah. Tapi, masalahnya bukan itu. Masalahnya saya bukan anak-anak lagi. Bahkan disebut remaja pun udah nggak pantes. Sekitar satu tahun lebih beberapa bulan lagi, saya akan berusia ¼ abad. Jadi dengan usia segitu, masihkah saya pantas disebut anak rumahan? Tapi kalau bukan anak rumahan, lalu bagaimana menyebutnya? Orang rumahan? Manusia rumahan? Atau masyarakat rumahan? Ah, lupakan saja. Kayaknya istilah anak rumahan tetap yang terbaik.

Sama seperti banyak hal lain di dunia yang memiliki dua sisi yang berlawanan, seperti baik dan buruk, hitam dan putih, atau apapun itu, menjadi anak rumahan pun sama. Ada suka dan dukanya. Ada hal yang menyenangkan dan menyebalkannya. Dan di postingan kali ini, saya pengen membahasnya.

Baiklah, mari kita mulai dari sukanya dulu …

Yang menyenangkan dari menjadi anak rumahan adalah … kebahagian yang sederhana. Ya, kebahagiaan yang sederhana. Untuk merasa bahagia, atau seenggaknya senang, saya nggak perlu berkungjung ke tempat wisata yang keren atau sebuah kafe yang hits banget. Karena cukup dengan berada di rumah, saya sudah merasa bahagia.

Nggak bosen di rumah terus?

Enggak. Saya pribadi, saya nggak pernah merasa bosan ketika berada di rumah. Selama koneksi internet di rumah lancar, saya nggak akan pernah bosan. Atau ketika internet mati, seenggaknya ada buku yang bisa menemani. Atau acara TV yang bagus. Atau laptop untuk sekedar menonton anime. Atau, kalau semua itu nggak tersedia, bahkan hanya berbaring di dalam kamar sambil memandangi langit-langit kamar juga nggak terlalu buruk, kok.

Bahkan seringnya, kalau pas di luar rumah saya malah merasa bosan. Pengennya cepetan pulang dan sampai rumah. Makanya, saya sering bingung kalau ada teman saya yang bilang kalau dia nggak betah di rumah. Umm … gimana, ya? aneh aja, sih.

Itu tadi sukanya jadi anak rumahan. Gimana tentang dukanya? Jujur menjadi anak rumahan banyak juga lho dukanya.

Salah satunya adalah fakta kalau saya nggak punya banyak pengalaman. Seenggak berpengalaman apa saya? Sangat simple untuk menjelaskan itu. Sampai detik ini, saya belum pernah nonton film di bioskop. Saya juga belum pernah naik gojek. Nah, sudah jelaskan di titik mana level ketidak berpengalaman saya. haha.

Yang paling menyebalkan dari menjadi anak rumahan adalah susah dapat pacar. Sebenarnya daripada dibilang susah, lebih tepatnya saya nggak tahu gimana caranya. Sebagai anak rumahan, tentu lingkup pergaulannya terbatas. Kenalan lawan jenis pun terbatas pula. Kalau pun ada, saya juga bingung mesti gimana. Ajak jalan? Kemana? Refrensi tempat asik menurut saya ya cuma kamar. Masak iya diajak ngamar? Rasanya bukan ide yang bagus.

Kadang, jujur saya merasa agak iri kalau buka instagram terus lihat foto teman-teman saya yang lagi pergi ke sebuah tempat wisata dengan wajah mereka yang terlihat begitu senang. Saya pikir sepertinya asik juga. Dan saya pun pernah mencobanya. Ikut pergi sama teman saya ke tempat wisata. Di tengah perjalanan, tiba-tiba saya berkata dalam hati …

“Rasanya pengen pulang aja”

Ya, tiba-tiba saya merasa bosan. Meski itu di tempat wisata. Sepertinya rumah memang tempat terbaik buat saya. Tempat yang membuat saya merasa nyaman. Tempat yang membuat saya merasa aman. Dan tentunya, tempat yang membuat saya merasa bahagia.

Kamis, 08 Februari 2018

Apakah Telat Bayar Pajak Kena Tilang?



Apakah motor atau kendaraan secara umum bisa kena tilang kalau telat bayar pajak? Bagi saya pribadi, ini adalah sebuah pertanyaan yang cukup melegenda. Saya sering dengar pertanyaan semacam ini dengan jawaban yang berbeda-beda. Ada yang bilang ditilang, ada yang bilang enggak.

Bagi kalangan yang bilang bahwa motor yang telat bayar pajak enggak kena tilang selalu berargumen kalau pajak kendaraan bukan wewenang polisi. Melainkan adalah wewenang dari … umm, saya nggak tahu juga sih wewenangnya siapa. Tapi, kalau pengen baca argumen dari orang yang berpendapat jika telat bayar pajak nggak kena tilang, silahkan klik DI SINI. Intinya, polisi katanya nggak punya wewenang untuk menilang kendaraan yang pajaknya telat.

Tapi, apakah polisi benar-benar nggak punya wewenang untuk itu? Apakah kendaraan yang pajaknya telat bisa lolos dari jeratan tilang? Saya nggak tahu juga, sih. Seenggaknya sampai dengan hari ketujuh di bulan Februari, yang mana itu adalah kemarin, akhirnya saya tahu tentang kebenaran yang sesungguhnya akan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu.

Jadi, ceritanya begini …

Pagi itu, layaknya pagi-pagi lain yang saya lewatkan di hari-hari lainnya, saya melaluinya dengan mengantar adik saya ke sekolah di Banyuanyar, Solo. Padahal rumah saya di Sambi, Boyolali. Cukup jauh memang. Pas pulang, saya dititipi oleh orang tua saya untuk membeli serabi di Kartasura, Sukoharjo. Di perjalanan saya lewat Colomadu, Karanganyar. Gila ya, pagi-pagi sudah menyeberangi empat wilayah kabupaten. Kalau membayangkan gimana rasanya menyebrangi empat wilayah kabupaten pasti mikirnya jauh banget perjalanannya. Padahal mah cuman deket. Memang, batas kota/kabupaten di Solo Raya terkadang terasa sedikit aneh.

Nah, sebenarnya perjalanan saya pagi itu berjalan dengan sangat normal. Bersimpangan dengan anak-anak yang bersepeda ke sekolah dengan memasang wajah ceria mereka, melewati pasar-pasar tradisional dengan segala hiruk pikuknya, sampai dengan melewati jalanan dengan kondisi padat yang walaupun memang belum cukup padat untuk membuat jalanan menjadi macet. Sekali lagi, perjalanan saya pagi itu berjalan dengan sangat normal.

Ya, sampai pada akhirnya di perjalanan pulang, ketika saya sampai di perbatasan Kartasura-Banyudono, laju saya terhenti karena ternyata sedang ada mokmen. Umm … mokmen itu bahasa Indonesianya apa, ya? Bentar, saya ingat-ingat dulu. Aah, razia. Nah, itu dia. Razia. Tapi, daripada razia, kayaknya saya lebih suka untuk menyebutnya sebagai mokmen, deh. Sama seperti saya lebih suka menyebut mati lampu sebagai oglangan. Maka dari itu, mulai sekarang, di postingan ini saya akan memakai kata ‘mokmen’.

Sebagai orang yang memiliki surat-surat lengkap, tentu saya sangat santai ketika perjalanan saya harus terhenti secara tiba-tiba karena ada mokmen. Kenapa harus panik? Wong saya punya suratnya, kok. Di tengah-tengah aktivitas saya menunggu giliran untuk dicek surat-suratnya oleh pak polisi, nggak tahu kenapa tiba-tiba saya ingat kata-kata yang bapak saya ucapkan beberapa hari yang lalu. Waktu itu, beliau ngendikan …

“Sal, pajekmu kui wes telat rong sasi, lho.”

“Nopo enggih, tho? Wah, kesupen kulo,” jawab saya.

Ya, memang. Pajak saya ternyata sudah telat dua bulan. Harusnya bulan desember kemarin motor saya minta dipajeki. Nah, setelah ingat percapakan saya dengan bapak saya, jujur saya yang tadinya tenang jadi agak gimana gitu. Tapi saya tetap mencoba untuk terlihat tenang. Siapa tahu benar apa yang orang bilang kalau polisi memang nggak punya wewenang untuk menilang motor yang pajaknya telat.

Beberapa menit berlalu dan akhirnya tiba juga giliran saya. Dengan sangat santai, saya menyerahkan surat-surat saya kepada pak polisi. Polisi tersebut mulai mengecek dengan seksama surat-surat yang saya berikan. Dan kemudian berkata …

“Mas, silahkan ke sana,” kata sang polisi sambil menunjuk sebuah meja yang di sana ada beberapa polisi lainnya.

Saat itu di dalam batin, saya langsung berteriak: JIANGKRIIIK!!! SURATKU RA DIBALEKKE!!! KENO TILANG TENAN KI!!!

Saya pun berjalan menuju meja yang ditunjuk oleh pak polisi yang tadi. Sampai di sana, saya ditanya oleh polisi lainnya…

“Anda tahu salah anda apa?” sebuah pertanyaan yang sangat klise. Jujur awalnya saya kira pertanyaan itu hanya akan muncul di film atau drama saja. Ternyata di kehidupan nyata juga.

“Telat bayar pajak,” jawab saya.

“Anda salah,” sanggah pak polisi. “Sebenarnya bukan telat bayar pajak. Tapi karena STNK anda belum disahkan. Jadi, bla-bla-bla.”

Saya lupa tentang apa yang diucapkan oleh polisi itu secara persis. Tapi intinya, berdasarkan penjelasan beliau, STNK harus disahkan setiap tahun. Pengesahannya dilakukan ketika membayar pajak. Jadi, kalau belum atau telat bayar pajak, otomatis STNKnya belum disahkan. Dan itu ternyata bisa berdampak kena tilang.

Tapi kalau dipikir-pikir, sebenarnya polisinya njlimet juga, ya. Katanya kesalahan saya bukan terletak kepada terlambatnya saya membayar pajak. Tapi karena belum disahkan STNKnya. Padahal kalau mau disahkan ya harus bayar pajak dulu. Jadi pada intinya, tetap aja saya ditilang karena telat bayar pajak! Wah, digaye ruwet pancenan!

Setelah itu, dengan tangan gesitnya pak polisi membuatkan surat tilang untuk saya. Saat itu saya sama sekali nggak mendebat atau membuat pembelaan. Ada dua alasan. Pertama, saya sadar saya nggak terlalu pandai dalam bersilat lidah. Kedua, saya pikir itu juga salah saya sendiri kenapa saya bisa lupa bayar pajak.

Selesai membuatkan surat tilang, pak polisi kemudian menyerahkan surat tilangnya ke saya. STNK saya dikembalikan tapi SIM ditahan. Lalu pak polisi berkata dengan suara datar …

“Sidang tanggal 22 Februari di Pengadilan Negeri Sukoharjo.”

Wah, sangat jauh. Rumah saya di Sambi, Boyolali mau ambil SIM harus ke Sukoharjo Kota. Jauh sekali. Tapi, seenggaknya saya jadi tahu jawaban dari pertanyaan itu. Jawaban dari pertanyaan apakah telat bayar pajak itu kena tilang? Dan jawabannya adalah, 100% kena. Sumber pengalaman saya pribadi.

Sebenarnya, kalau dipikir-pikir agak ironis juga, sih. Ketika teman-teman saya dikampus sudah banyak yang kelar sidang skripsi, saya malah harus berjibaku sama sidang tilang. Nggak papa, seengaknya sama-sama sidang. Hehe.