Minggu, 21 Januari 2018

Burung Kecil Di Gerimis Pagi



Pagi ini, gerimis rintik-rintik turun membasahi bumi. Sesuatu yang terasa cukup normal terjadi di bulan Januari. Layaknya pagi-pagi lain yang saya lewati di hari-hari sebelumnya, saya melewatinya dengan melakukan jogging. Sesuatu yang memang rutin saya lakukan setiap pagi.

Jujur saya lumayan suka jogging dibawah guyuran gerimis. Saya suka udaranya, sejuk. Atau mungkin malah cenderung dingin. Setiap kali saya jogging di sebuah pagi yang diguyur gerimis, saya selalu ngomong dalam hati, “mungkin begini kali ya rasanya jogging di Inggris”.

Meski saya memang belum pernah pergi ke Inggris, tapi saya sering dengar kalau katanya udara di Inggris itu dingin. Jadi setiap kali saya jogging pas gerimis, bagi saya kayak berasa lagi jogging di Inggris. Hehe. Semoga suatu saat saya bisa beneran jogging di Inggris. Amin!

Pagi ini, seperti biasa saya jogging muter mengelilingi kampung. Lewat jalan raya, masuk gang, keluar gang, kembali ke jalan raya dan begitu terus sampai jumlah putaran saya genap menjadi enam. Kenapa enam? Karena setelah saya ukur dengan speedometer yang ada di motor saya, enam putaram adalah angka yang dibutuhkan untuk mencapai jarak tempuh 2km.

Di putaran pertama, ketika saya melintas di jalan raya, saya melihat seekor burung kecil yang dalam bahasa Jawa biasa dikenal dengan sebutan manuk emprit terbang sangat rendah. Ngomong-ngomong, manuk emprit bahasa Indonesianya apa, ya? Burung pipit? Saya nggak yakin, sih. Karena nggak yakin, maka kita sebut saja makhluk itu burung kecil.

Burung kecil itu terbang sangat rendah di atas jalan aspal. Dari arah utara, yang mana adalah arah yang berlawanan dari arah saya jogging, saya melihat sebuah motor melaju dengan kecepatan sedang. Dengan mata kepala sendiri saya melihatnya. Ya, saya melihat si burung kecil tersambar motor dari arah utara. Tubuh burung kecil itu terpelanting di atas aspal. Memantul dua tau tiga kali dan kemudian berhenti. Burung kecil itu sama sekali tidak bergerak. Dia tergeletak begitu saja di atas aspal lengkap dengan guyuran gerimis di pagi hari. Waktu itu terlintas tanya di kepala saya, “apakah burung itu mati?”

Di putaran kedua, ketika laju saya kembali berada di jalan raya, dari kejauhan saya masih melihat burung kecil itu tergeletak di tengah jalan. Sepertinya benar-benar mati. Ketika laju saya semakin dekat dengan posisi si burung kecil, melintas mobil dari arah utara. Roda bagian kanan mobil itu melindas tubuh si burung kecil. Tubuhnya tidak hancur. Namun, saya melihat darah bercucuran dari tubuh mungilnya.

Di putaran berikutnya, ketika melintas di tempat di mana burung kecil itu berada, tubuhnya telah hancur. Tidak lagi terlihat seperti burung. Saya tidak tahu apa yang terjadi karena waktu itu jalanan cukup sepi ketika saya melintasinya. Mungkinkah si burung kecil terlindas lagi ketika saya melaju di gang? Entahlah.

Kemudian, putaran demi putaran saya lewati. Gerimis pun juga belum berhenti. Kondisi burung kecil itu semakin parah di setiap putarannya. Hingga pada akhirnya, di putaran terakhir, saya melihat burung kecil itu telah menyatu dengan aspal yang basah.
***     
Pesan moral yang bisa kita ambil dari cerita ini adalah …… saya nggak tahu. Mungkin malah nggak ada. Lalu kenapa saya menulisnya di blog? Saya pikir karena saya nggak ingin melupakan kisah burung kecil yang menyatu dengan aspal itu dari ingatan saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar