Kamis, 25 Januari 2018

Catatan Kuliah Semester 7: Jangan Ambil Skripsi Kalau Belum Siap



Beberapa waktu yang lalu, saya baru saja menyelesaikan masa perkuliahan saya di semester 7. Di semester kali ini, ada sebuah pelajaran yang rasanya nggak akan pernah saya lupakan untuk selamanya. Ya, JANGAN PERNAH AMBIL SKRIPSI KALAU KAMU BELUM BENAR-BENAR SIAP.

Jadi ceritanya …

Baiklah, mari kita mulai dengan sebuah rahasia umum. Ketika mahasiswa memasuki semester ke-7 masa perkuliahannya, selalu terjadi pengelompokkan kelas sosial yang terbagi dalam dua kelompok besar. Yang udah ambil skripsi dan belum. Tentunya yang sudah adalah mereka-mereka yang telah memenuhi syarat untuk ambil skripsi. Syarat paling standar misalnya seenggaknya udah ambil 123 sks.

Layaknya mahasiswa-mahasiswa ber-IP lumayan lainnya, di semester 7 ini saya mengambil skripsi. Sebuah langkah yang sangat sok-sokan. Sebenarnya saya awalnya enggak yakin dengan itu. Tapi karena ada seorang teman yang terus menerus mengajak, saya akhirnya ambil juga. Saya pikir udah 123 sks juga, kok.

Tapi meski begitu, sebenarnya saya tetap belum yakin untuk skripsi. Dan seiring waktu berjalan, sepertinya ketidak yakinan saya benar-benar terbukti. Ya, karena faktanya, saya enggak pernah ngerjain. Rasanya males banget. Bahkan meski satu semester udah lewat, skripsi saya masih ada di tahap proposal. Total selama satu semester saya hanya konsul dua kali. Pas awal-awal ketika mengajukan judul sama tadi pagi, dan itupun banyak banget coretannya. Jadi tambah males. Parah banget, ya. Kayaknya saya emang belum siap.

Apakah saya menyesali keputusan saya terkait ambil skripsi?

Karena satu alasan yang cukup kuat, maka saya akan berkata IYA. Saya menyesalinya. Satu alasan kuat yang bikin saya menyesal ambil skripsi terkait sama financial. Maksud saya, skripsi itu nilainya 6 sks. Sedangkan harga 1 sks di jurusan yang saya ambil adalah Rp. 162.000. Jadi untuk ambil skripsi dibutuhkan biaya Rp. 972.000. Gila, bisa dibayangkan, kan. Saya membuang duit hampir sejuta untuk sesuatu yang sia-sia.

Jadi, buat siapapun yang baca tulisan ini, kalau kamu berencana untuk ambil skripsi di semester 7, pastikan kamu benar-benar siap. Karena sejuta itu nggak sedikit. Kalau kamu nggak yakin bisa berkomitmen sama skripsimu, akan lebih baik kalau diambil pas semester 8 aja. 

BACA JUGA
Catatan Kuliah Semester 1

Catatan Kuliah Semester 2

Catatan Kuliah Semester 3

Catatan Kuliah Semester 5, Karma Dan Tugas Kelompok

Minggu, 21 Januari 2018

Burung Kecil Di Gerimis Pagi



Pagi ini, gerimis rintik-rintik turun membasahi bumi. Sesuatu yang terasa cukup normal terjadi di bulan Januari. Layaknya pagi-pagi lain yang saya lewati di hari-hari sebelumnya, saya melewatinya dengan melakukan jogging. Sesuatu yang memang rutin saya lakukan setiap pagi.

Jujur saya lumayan suka jogging dibawah guyuran gerimis. Saya suka udaranya, sejuk. Atau mungkin malah cenderung dingin. Setiap kali saya jogging di sebuah pagi yang diguyur gerimis, saya selalu ngomong dalam hati, “mungkin begini kali ya rasanya jogging di Inggris”.

Meski saya memang belum pernah pergi ke Inggris, tapi saya sering dengar kalau katanya udara di Inggris itu dingin. Jadi setiap kali saya jogging pas gerimis, bagi saya kayak berasa lagi jogging di Inggris. Hehe. Semoga suatu saat saya bisa beneran jogging di Inggris. Amin!

Pagi ini, seperti biasa saya jogging muter mengelilingi kampung. Lewat jalan raya, masuk gang, keluar gang, kembali ke jalan raya dan begitu terus sampai jumlah putaran saya genap menjadi enam. Kenapa enam? Karena setelah saya ukur dengan speedometer yang ada di motor saya, enam putaram adalah angka yang dibutuhkan untuk mencapai jarak tempuh 2km.

Di putaran pertama, ketika saya melintas di jalan raya, saya melihat seekor burung kecil yang dalam bahasa Jawa biasa dikenal dengan sebutan manuk emprit terbang sangat rendah. Ngomong-ngomong, manuk emprit bahasa Indonesianya apa, ya? Burung pipit? Saya nggak yakin, sih. Karena nggak yakin, maka kita sebut saja makhluk itu burung kecil.

Burung kecil itu terbang sangat rendah di atas jalan aspal. Dari arah utara, yang mana adalah arah yang berlawanan dari arah saya jogging, saya melihat sebuah motor melaju dengan kecepatan sedang. Dengan mata kepala sendiri saya melihatnya. Ya, saya melihat si burung kecil tersambar motor dari arah utara. Tubuh burung kecil itu terpelanting di atas aspal. Memantul dua tau tiga kali dan kemudian berhenti. Burung kecil itu sama sekali tidak bergerak. Dia tergeletak begitu saja di atas aspal lengkap dengan guyuran gerimis di pagi hari. Waktu itu terlintas tanya di kepala saya, “apakah burung itu mati?”

Di putaran kedua, ketika laju saya kembali berada di jalan raya, dari kejauhan saya masih melihat burung kecil itu tergeletak di tengah jalan. Sepertinya benar-benar mati. Ketika laju saya semakin dekat dengan posisi si burung kecil, melintas mobil dari arah utara. Roda bagian kanan mobil itu melindas tubuh si burung kecil. Tubuhnya tidak hancur. Namun, saya melihat darah bercucuran dari tubuh mungilnya.

Di putaran berikutnya, ketika melintas di tempat di mana burung kecil itu berada, tubuhnya telah hancur. Tidak lagi terlihat seperti burung. Saya tidak tahu apa yang terjadi karena waktu itu jalanan cukup sepi ketika saya melintasinya. Mungkinkah si burung kecil terlindas lagi ketika saya melaju di gang? Entahlah.

Kemudian, putaran demi putaran saya lewati. Gerimis pun juga belum berhenti. Kondisi burung kecil itu semakin parah di setiap putarannya. Hingga pada akhirnya, di putaran terakhir, saya melihat burung kecil itu telah menyatu dengan aspal yang basah.
***     
Pesan moral yang bisa kita ambil dari cerita ini adalah …… saya nggak tahu. Mungkin malah nggak ada. Lalu kenapa saya menulisnya di blog? Saya pikir karena saya nggak ingin melupakan kisah burung kecil yang menyatu dengan aspal itu dari ingatan saya.

Rabu, 17 Januari 2018

Setelah Nonton Imouto Sae Ireba Ii [Review Anime]

Beberapa hari yang lalu, saya baru saja rampung menonton sebuah anime yang saya yakin akan mampu membuat siapapun yang menontonnya terkekeh-kekeh. Sebuah anime yang memiliki judul Imouto Sae Ireba Ii.
***
SINOPSIS
Menceritakan keseharian seorang siscon sekaligus penulis novel remaja, Hashima Itsuki bersama adiknya, Chihiro yang sempurna. Hari-harinya dikelilingi oleh berbagai karakter menarik lainnya, seperti Kani Nayuta yang juga seorang novelis, sahabat baiknya Shirakawa Miyako dan teman-temannya dari penerbit yang sama dengannya.


***
Kesan saya setelah menonton anime ini …

LUCU
Kalau boleh jujur, Imouto Sae Ireba Ii memang bukanlah anime terlucu yang pernah saya tonton. Masih banyak yang lebih lucu. Namun, meski begitu saya juga nggak bisa berbohong dengan berkata bahwa anime ini membosankan. Tidak sama sekali.

Meski titik tawa anime ini nggak begitu rapat, tapi justru titik tawa yang renggang itu bikin sekalinya ada titik tawa, maka jadilah tawa yang meledak. Banyak adegan-adegan lucu dari anime ini yang sampai sekarang masih menempel di otak saya. Dan kalau saya mengingat-ingat adegan itu kembali, saya pasti akan tertawa sendiri.

Beberapa adegan terlucu menurut saya:

Mari kita mulai dengan sebuah adegan yang menjadi pembuka dari anime ini. Adegan pertama di episode pertama di mana Itsuki mempresentasikan naskahnya kepada editornya yang mana naskahnya menceritakan tentang adik perempuan yang bisa bertelur. Sumpah, adegan ini lucu banget.

Adegan-adegan lain yang nggak kalah lucu adalah saat Nayuta menunjukkan foto-foto biji hewan ke Itsuki. Atau saat Itsuki dan Puriketsu berendam di pemandian campuran yang isinya nenek-nenek. Saat Itsuki, Puriketsu, dan Mikuniyama debat soal pakaian dalam atau telanjang juga lucu banget, tuh.

KARAKTER

Menurut saya semua karakter menjalankan porsinya masing-masing dengan sangat baik. Meski, sebagai anime comedy, kalau kita cermati sang mesin punchline utamanya tetaplah Nayuta dan Puriketsu. Nayuta dengan blue comedinya dan Puriketsu dengan … umm, saya bingung tentang bagaimana saya harus melabeli Puriketsu, soalnya absurd banget karakternya. Saya sangat yakin anime ini pasti akan sangat berbeda kalau saja dua karakter tersebut tidak pernah ada.

By the way, soal karakter, favorit saya jelas Ena Setsuna alias Puriketsu. Meski kemunculan enggak begitu sering, tapi menurut saya Puriketsu adalah jaminan tawa. Setiap dia muncul, pasti ada aja kelucuan yang muncul. Tingkat kelucuan yang bahkan nggak bisa ditandingi oleh karakter-karakter lain.
Ena Setsuna a.k.a Puriketsu si Karakter Super Ngehe
MEMOTIVASI
Mungkin kalian akan bingung kenapa saya menulis kata memotivasi di sebuah postingan tentang kesan saya terhadap sebuah anime comedy. Tapi beneran, termotivasi adalah kesan yang saya rasakan setelah menonton anime ini. Perjuangan para novelis muda ini benar-benar membuat saya teringat pada kalimat yang dulu pernah saya yakini.

“Terkadang usaha memang mengkhianati hasil. Namun, tak ada hasil yang didapat tanpa kerja keras”

Sebuah tamparan yang cukup keras.

Btw, sepertinya saya juga merasakan apa yang dirasakan sama Miyako. Di usianya yang menginjak kepala dua, dia sering merasa belum melakukan apapun dan merasa tertinggal jauh dari orang-orang di sekelilingnya yang sudah melangkah jauh.

Lagi-lagi sebuah tamparan yang cukup keras.
***
Btw, saya mau kerja keras dulu. Biar nggak semakin tertinggal. Hehe. Oh, iya. Semoga anime ini ada season 2nya. Amin!

Kamis, 11 Januari 2018

Saya Pikir Rubah Itu Musang, Ternyata Beda!


Baru-baru ini, saya baru tahu kalau ternyata Rubah dan Musang adalah hewan yang berbeda. Mungkin akan ada beberapa orang yang setelah membaca kalimat sebelumnya akan berkata, “Lah, kan emang beda. Jauh banget malah”. Tapi jujur, saya beneran belum lama tahu kalau ternyata beda.

Dulu saya kalau ditanya dengan pertanyaan apa nama hewan yang ada di gambar yang jadi thumbnile postingan ini, saya akan jawab itu Musang. Terus kalau rubah yang kayak gimana? Sepertinya saya akan menjawab dengan menunjuk gambar yang sama. Tapi nggak tahu kenapa saya lebih prefer buat menyebut itu sebagai Musang. Jadi daripada nggak bisa membedakan, mungkin lebih tepat kalau disebut saya mengira kalau Rubah itu Musang. Hingga pada akhirnya ada sebuah kejadian di akhir tahun 2017 yang membuat saya menyadari semuanya.

Jadi begini, di akhir tahun 2017, seperti layaknya akhir tahun yang normal, saat itu tentu sedang musim liburan. Dan untuk mengisi waktu liburannya, adik saya di rumah nonton kartun Zootopia. Saya yang kebetulan lewat ruang keluarga tanpa sengaja nonton sekilas kartun tersebut. Karena merasa kalau kayaknya kartunnya seru, akhirnya saya ikutan nonton. Dan benar, ternyata emang seru.

Dari keseluruhan film yang menurut saya memang seru, ada satu moment yang benar-benar sukses menyedot perhatian saya, menempel kuat dalam memori saya. Sebuah moment di mana ketika dari speaker televisi terdengar kata ‘FOX’ untuk menyebut Nick Wilde, ditulis oleh subtitle sebagai ‘RUBAH’.
Nick Wilde the Fox dalam Zootopia
Saat itu saya langsung bertanya-tanya …

“Loh, kok rubah? Bukannya itu musang?”

Tanpa membuang waktu, saya langsung membuka google. Saya mengetik kata rubah. Dan yang muncul adalah gambar-gambar seperti ini …
Sebuah tanya kembali muncul …

“Kalau yang itu namanya rubah, terus musang itu yang kayak gimana, dong?”

Lagi-lagi saya memaksa google untuk memuaskan hasrat saya akan rasa penasaran yang terasa memuncak. Yang muncul adalah gambar-gambar seperti ini …
Gambar-gambar yang keluar sungguh berbeda dengan apa yang sebelumnya saya bayangkan. Ternyata musang dan rubah memang berbeda. Jauh banget malah. Bukan hanya dari penampakan fisik, dari klasifikasi ilmiahnya juga berbeda sangat jauh. Rubah itu familinya canidae, sebangsa anjing. Pantes agak mirip sama serigala. Sedangkan musang berasal dari famili Viverridae. Jauh sekali memang perbedaan antara rubah dan musang.

By the way, karena penasaran apakah hanya saya satu-satunya orang di dunia ini yang berkipir kalau rubah itu musang, saya memutuskan untuk nanya di beberapa group whatsapp yang saya ikuti. Jadi, saya share gambar rubah dan bertanya dengan kalimat “hewan apakah ini?”. Jujur saya berharap bakalan ada yang jawab musang. Tapi ternyata semuanya menjawab rubah. Nah, di sini saya sadar kalau ternyata cuman saya yang bego. Haha.

Tapi saya menduga kenapa saya bisa menyangka kalau rubah itu musang mungkin karena ada banyak orang kampret di luar sana yang dengan santai bilang kalau Naruto itu Siluman MUSANG Ekor Sembilan. Padahal Rubah Ekor Sembilan. Kampret memang orang-orang kayak gitu. Bikin kecerdasan saya di bidang biologi sedikit banyak terciderai.
Terakhir, nggak tahu kenapa gara-gara kasus rubah ini, saya jadi pengen memelihara rubah di rumah. Bentuknya lucu gitu soalnya. Hehe.