Minggu, 26 November 2017

Majelis Tawa Mini Show 3, Tentang Panggung!



Selama 3 tahun terakhir, dalam satu tahun kalender, bagi saya selalu ada sebuah hari kamis yang terasa lebih spesial dibanding kamis-kamis lainnya. Sebuah kamis di mana hari itu digelar sebuah pertunjukkan stand up comedy bertajuk Majelis Tawa Mini Show, acara tahunan milik komunitas Stand up UMS.

Kamis 23 November 2017, seperti dua tahun sebelumnya, di hari itu saya kembali tampil dalam acara Majelis Tawa Mini Show yang sudah memasuki tahun ketiganya. Kalau dipikir-pikir keren juga ya saya, bisa tampil di tiga edisi Majelis Tawa Mini Show. Keren? Ah, nggak juga, kok. Itu terjadi semata-mata karena talentnya emang nggak banyak. Jadi yang main ya itu-itu mulu. Jadi sekali lagi bukan karena keren, ya. Tapi pure karena stand up UMS nggak punya cukup banyak talent. Dengan kata lain, regenerasine ora mlaku! Hahaha.

Oh, iya. Di postingan kali ini saya mau ngapain, ya? Cerita tentang jalannya acara? Kayaknya enggak, ya. Karena pastinya juga hampir mirip sama Majelis Tawa di tahun-tahun sebelumnya. Males, kan. Masak tiap tahun nulis blog dengan cerita yang nyaris sama? Enggak, ah.

Terus kalau gitu mau nulis apa? Umm … apa, ya? Ah, saya tahu! Saya akan tulis tentang sesuatu yang baru saja saya sadari setelah Majelis Tawa Mini Show 3 berakhir. Apa itu? Kurang lebih adalah …

Panggung, di satu sisi bisa jadi hal paling menyebalkan di dunia. Tapi di sisi lain, panggung bisa menjadi sebuah kenikmatan yang tiada tara.

Panggung bisa jadi hal paling menyebalkan di dunia?

Iya. Enggak tahu kenapa saya selalu merasa gugup berlebihan ketika akan show. Gugupnya itu bahkan bisa sampai h-1 bulan sebelum show. Bayangkan, satu bulan hidup dalam rasa gugup, rasa cemas, rasa gelisah. Enggak enak banget rasanya. Mau ngapa-ngapain jadi nggak tenang rasanya.

Jadi terkadang saya iri saya teman saya yang bisa menganggap show sebagai party. Enggak tahu kenapa saya sampai sekarang masih merasa kalau show itu perang. Jadi kalau teman saya ada yang bilang “Yes! Besok show!”, saya masih saja bilang “Bangsaaaat! Besok show!”.

Sesuai dengan apa yang saya tulis di paragraf sebelumnya, saya sadar kok kalau saya memang nggak punya mental yang cukup bagus untuk seorang yang harusnya tampil di atas panggung. Gila, tapi tekanannya memang gede banget, sih.

Apakah saya takut gagal? Mungkin. Jujur berhari-hari sebelum show, untuk memotivasi diri sendiri, saya selalu ngomong dalam hati kayak … “Udah, nggak usah takut nggak lucu. Nggak lucu juga nggak papa. Santai, Messi yang berkali-kali jadi pemain terbaik dunia pernah gagal nendang penalty. Rossi yang bahkan legend di MotoGP juga pernah jatuh pas balapan, kok.”

Belum lagi pas hari-H sebelum tampil. Badan rasanya mual-mual. Pengen muntah mulu bawaannya. Tekanan panggung itu emang gede banget. Dan itu yang menurut saya membuat panggung bisa jadi hal paling menyebalkan di dunia.

Tapi sekali lagi, di sisi lain panggung bisa menjadi hal paling menyenangkan di dunia. Dengan tingkat kesenangan yang bahkan kayaknya nggak ada tandingannya. Ya, perasaan bahagia yang luar biasa rasanya setelah menyelesaikan pertunjukkan. Rasanya kayak ada Euforianya gitu. Bahagia banget lah pokoknya.

Lalu, pertanyaannya apakah saya merasakan kebahagiaan after show semacam itu di Majelis Tawa Mini Show 3? Jelas iya. Saya puas banget. Bahagia banget. Memang sih saya sadar penampilan saya nggak sempurna. Ada juga bit yang miss. Tapi bodo amat, lah. Gelandang hebat sekelas Luka Modric pasti pernah salah umpan, kok. Marc Marquez juga pernah melebar pas balapan. Hehe.

Umm, apa lagi, ya? Oh, iya. Makasih banyak buat stand up UMS yang lagi-lagi ngasih kesempatan untuk manggung. Makasih banyak buat sponsor yang mendukung acara Majelis Tawa Mini Show 3. Makasih banyak untuk semua penontom yang hadir di Majelis Tawa Mini Show 3. Karena tanpa tawa kalian, saya akan lupa bagaimana rasanya bahagia. Hehe.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar