Senin, 13 November 2017

Catatan Singkat MotoGP 2017



MotoGP 2017 telah berakhir kemarin. Layaknya tahun-tahun sebelumnya, selalu ada rasa sedih ketika sebuah musim panjang MotoGP akhirnya berakhir. Ya, karena itu artinya untuk menyaksikan sebuah balapan MotoGP lagi, saya harus menunggu sampai Maret 2018.  Sebuah penantian yang nampaknya akan terasa sangat lama. Bukan hanya buat saya, tapi saya yakin juga untuk semua orang yang mencintai balapan motor paling bergengsi di dunia tersebut.

Tapi, daripada galau menantikan datangnya MotoGP 2018 yang masih lama, akan lebih baik kalau kita sejenak melihat kebelakang, tentang apa yang terjadi di MotoGP 2017. Selain menghadirkan kenangan, bagi saya MotoGP 2017 juga tak luput dari kejutan. Setidaknya menurut sudut pandang saya, sih.

ROSSI GAGAL JUARA DUNIA LAGI
Tahun ini, Rossi lagi-lagi gagal juara dunia. Apakah ini mengejutkan? Sejujurnya tidak. Sama sekali tidak. Saya memang sudah mengidolakan The Doctor sejak saya berumur 6 atau 7 tahun -2001-, tapi jujur saja saya akan lebih terkejut jika Rossi bisa keluar sebagai juara dunia di akhir musim.

Absen beberapa seri karena patah kaki dan buruknya performa Yamaha di putaran kedua jelas menjadi 2 hal paling bertanggung jawab terhadap gagalnya Rossi juara dunia musim ini. Lalu apakah jika Rossi fit dan Yamaha baik-baik saja di tahun depan, 2018 Rossi bisa juara dunia? Saya tidak yakin. Saya memang sangat berharap itu terjadi. Tapi, jika harapan itu benar-benar menjadi kenyataan, saya yakin saya akan sangat-sangat terkejut.

MARQUEZ JUARA DUNIA
Seperti yang kita tahu, MotoGP 2017 lagi-lagi dimenangkan oleh Marquez. Apakah ini mengejutkan? Saya akan lebih terkejut kalau Marquez gagal. Sebenarnya ini adalah alasan terbesar saya kenapa saya tidak yakin Rossi bisa juara dunia lagi. Karena ini eranya Marquez. Untuk saat ini, Marquez layaknya Mick Doohan di pertengahan 90an, Rossi di awal 2000an, Michael Schumacher di F1 awal 2000an, dan bahkan Manchester United di bawah tangan dingin Sir Alex Ferguson. Ya, layaknya nama-nama yang saya sebutkan, di eranya masing-masing, mereka tidak bisa dihentikan. Marquez tidak bisa dihentikan!

Aa-aah … umm, mungkin saya sedikit berlebihan. Mungkin bisa dihentikan. Tapi susah. Rasanya hampir mustahil. Dan tahun depan tentu saya tidak berharap Marquez akan juara dunia lagi. Namun, kalau pada akhirnya Marquez akan keluar sebagai juara dunia 2018, saya tidak akan terkejut.

VINALES MELEMPEM
Apakah melempemnya Vinales adalah sebuah kejutan? Bagi saya sedikit mengejutkan. Vinales yang di awal musim digadang-gadang sebagai calon kuat juara dunia justru malah melempem seiring berjalannya musim. Selalu menguasai test pra musim dan menang di 2 seri awal jelas membuat Vinales diunggulkan. Namun, sepertinya memang ada yang tidak beres dengan Yamaha, deh. Seperti yang kita lihat bersama, Movistar Yamaha melalu Rossi dan Vinales terlihat selalu kesulitan untuk berada di depan di putaran kedua musim 2017. Yang aneh justru pembalap satelit Yamaha, Zarco malah bisa bersaing dengan baris terdepan.

DOVIZIOSO
Dovi boleh jadi merasa kecewa setelah gagal menjadi juara dunia meski gelar tersebut sudah begitu dekat. Namun, kalau boleh jujur sebenarnya performa luar biasa yang ditampilkan oleh Dovi sepanjang musim ini terasa mengejutkan bagi saya. Sangat-sangat mengejutkan. Juara 6 seri dalam satu musim, 2 kali mengalahkan Marquez di tikungan terakhir, apakah Dovi memang sebagus ini?

Di musim-musim sebelumnya kira-kira di mana Dovi menyembunyikan semua kemampuannya, ya? Kenapa baru dikeluarkan sekarang? Membalap dengan penuh kepercayaan diri, sesuatu yang tidak mungkin kita lihat pada diri Dovi di musim-musim sebelumnya.

Kira-kira apakah Dovi akan menampilkan performa apik lagi di 2018? Umm … saya berharap, sih.

NICK HARRIS PENSIUN
Pensiunnya Nick Harris tentu menjadi sesuatu yang amat mengejutkan. Bukan hanya untuk saya, tapi jelas seluruh penggemar MotoGP di manapun mereka berada. Saya tumbuh dan mencintai MotoGP dengan latar belakang suara komentar yang terdengar khas yang terlontar dari mulut Nick harris. Dan mulai tahun depan suara khasnya tidak akan pernah terdengar lagi ketika para pembalap beraksi di lintasan.

Lalu kira-kira siapa penggantinya? Tentunya harus seseorang yang punya ke-khas-an tersendiri ketika berkomentar. Di mana kita mencarinya? Tidak perlu jauh-jauh. Di Indonesia kita punya. Siapa orangnya? Valentino “JEBRET!” Simanjuntak.

“Yaaaak, Valentino Rossi menyalip dari sisi dalam! Valentino Rossi! Valentino Rossi! Vale! Vale! Vale! Vale! Vale! Vale! Vale!” (bayangkan seperti saat Valentino Simanjuntak mengomentari Christian Gonzales dengan berteriak: Loco! Loco! Loco! Loco! Loco! Loco! Loco!)

Nah, kurang khas apa lagi dia?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar