Selasa, 28 November 2017

Lo Pikir Lo Keren? Adriano Qalbi Jogjakarta [Review]



Dua hari yang lalu, tepatnya pada hari Sabtu 25 November 2017, untuk yang ketiga kalinya dalam hidup ini saya harus menempuh perjalanan sekitar 2 jam naik motor dari Solo ke Jogja hanya untuk menyaksikan pertunjukkan special show stand up comedy. Kayaknya saya mulai menyadari kalau Kota Solo bukanlah kota yang cukup menarik lagi bagi comic-comic papan atas untuk dijadikan destinasi tour. Pandji Pragiwaksono dengan Juru Bicaranya hanya mampir di Jogja, ½ Jalannya Ernest juga sama, dan tentunya show yang baru saja saya saksikan, Lo Pikir Lo Keren by Adriano Qalbi yang mana akan saya review di postingan kali ini.

Umm, btw saya harus mulai dari mana, ya? Jujur saat nulis blog, pergantian satu paragraf ke paragraf lain itu kadang bikin pusing, lho. Kayak bingung ini harus nulis apa lagi, ya? Sebenarnya tahu arahnya kemana tapi bingung bridgingnya harus kayak apa. Ok, saya harus mulai mikir ………. Ah, saya tahu. Saya akan tulis dari bagaimana saya bisa mengenal nama Adriano Qalbi.

Kalau boleh jujur, Adri bukanlah comic yang cukup terkenal. Pengen bukti? Gampang! Coba deh tanya ke teman kerja/kampus/sekolah dengan pertanyaan “eh, tahu Adriano Qalbi, nggak?”, saya yakin 90% nggak kenal. Dan kayaknya Adriano cukup sadar akan ketidak terkenalannya. Lalu pertanyaannya, dari mana saya bisa tahu kalau di dunia ini ada comic bernama Adriano Qalbi?

Simple! Jawabannya internet. Jujur saya suka banget baca review acara stand up. Suka banget. Nah, nggak jarang di banyak review yang saya baca, di situ nyempil nama Adriano Qalbi. Dari situ rasa penasaran muncul. Kemudian mulailah saya mencari lebih banyak tentang Adri. Dan hasilnya, dari banyak blog yang saya baca, dari banyak event stand up yang di review, semua selalu bilang kalau Adri keren.

Level penasaran pun naik. Saya mulai nyari videonya di YouTube. Hasilnya … nggak banyak! Eh, kayaknya kata “sedikit” lebih tepat, deh. Tapi dari video yang sedikit itu akhirnya timbul rasa kagum. Kayak suka aja gitu sama gaya stand upnya. Saya cari tahu lebih banyak tentang Adri dan entah bagaimana saya menjadi pendengar Podcast Awal Minggu. Lalu, akhirnya semua yang saya tulis di paragraf ini berakhir dengan kalimat … “Pokoknya kalau Adriano Qalbi bikin show, saya harus nonton!”

25 November 2017, akhirnya salah satu tujuan hidup saya tercapai, nonton Adri! Dan daripada berlama-lama, mari segera saya mulai saja reviewnya.

Show malam itu dibuka oleh voice-over yang mana adalah suaranya Adri sendiri. Agak aneh, sih. Biasanya kan kalau voice-over gitu suara panitia, ya? tapi biarkan sajalah. Hehe.

Ada tiga comic opener yang membuka Lo Pikir Lo Keren Jogjakarta. Yusril Fahriza jadi yang pertama. Bercerita tentang pengalamannya bermain film bersama Ernest Prakasa, tentang nggak enaknya jadi pekerja seni di Jogja yang terkadang kurang dihargai secara financial –anjay, ngeMC dibayar bebek goreng, haha-, sampai ngomongin tentang orang-orang yang menganggap semua permasalahan kehidupan akan selesai dengan menikah.

Opener kedua ada Iqbal Kutul. Pembawaannya sangat kalem. Santai banget. Tapi jujur, Iqbal adalah opener favorit saya malam itu. Bit favorit saya adalah tentang panitia pembangunan masjid.

“Ini nanti keran wudhunya harus Onda”

Bangsaaat! Saya ngakak parah tepat sesaat setelah Iqbal menyelesaikan kalimat itu. Lalu tentang Nabi Ibrahim yang pasti kaget kalau bangunan kotak yang dulu dia bikin sekarang jadi logo partai juga lucu parah. By the way, kalau suatu saat Iqbal Kutul bikin special, kayaknya saya pasti nonton.

Kalau dua opener sebelumnya adalah comic local hero dari Stand up Indo Jogja, opener ketiga dibawa Adri dari Jakarta, Fico Fachriza. Bit yang cukup nempel dari Fico malam itu tentu tentang betapa susahnya orang gendut sholat. Tapi kalau yang paling saya ingat dari penampilan Fico malam itu tetep moment di mana Fico melontarkan bit-bit berpunchline wadaw. Yang mana seingat saya ada tiga. Hehe.

Setelah acara cukup panas berkat bit-bit dari para opener, maka itu artinya kini giliran sang pemilik acara untuk menunjukkan aksinya. Tapi sebelum saya menuliskan tentang kesan saya terhadap penampilan Adri, saya mau bilang dulu kalau menonton Adri kemarin itu ibarat membuktikan mitos. Iya, selama ini saya hanya tahu Adriano melalui internet. Jadi ini semacam membuktikan kebenaran. Apakah Adriano Qalbi memang keren, atau sekedar mitos? Jawaban dari pertanyaan ini kayaknya bakal terjawab dengan membaca paragraf-paragraf setelah ini.

Adriano membuka penampilannya malam itu dengan menjelaskan kenapa acaranya terkesan asal-asalan. Seperti nggak nyetak tiket karena nggak bakal ada yang minta tanda tangan di tiket tersebut. Atau tentang nggak ada backdrop karena backdrop yang dikapai untuk show yang di Jakarta dicolong orang.

“Berarti saat ini ada satu orang di dunia yang di kamarnya ada backdrop show gue”

Hahaha. Saya nggak kuasa untuk menahan hasrat untuk tertawa.

Yang menyenangkan dari menonton Adri adalah karena saya merasa memiliki cara berpikir yang hampir sama. Adri sering mengawali pembahasan tentang topik tertentu dengan nyinyir. Tapi setelahnya Adri akan berkata, “tapi gue paham kok kenapa mereka ngelakuin ini”. Hal yang biasa saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari saya. Seringkali saya nyinyir terhadap suatu hal, namun di saat yang sama saya juga berusaha memahami kenapa suatu hal bisa terjadi.

Berbeda dengan kesan menonton Pandji yang orangnya terkesan optimis, Adri terdengar lebih realistis. Bit tentang bully jadi salah satu bit favorit saya malam itu. Membahas tentang bully yang nggak mungkin ilang, mengkritisi tentang iklan coca-cola dalam memerangi bully, meski jujur agak dark, pembahasan tentang itu sumpah lucu banget.

“Sekarang semua orang jadi tahu kalau nama lo Bokri!”

Saya hampir terjungkal dari kursi saya akibat dari ledakan tawa yang hebat. By the way, setalah sampai rumah, saya penasaran sama iklan Coca-cola yang diceritakan Adri. Dan ternyata, anjir iklannya sedih banget. Tapi tetep lebih menyedihkan hal yang terjadi dibalik pembuatan iklan itu, sih. Seenggaknya menurut imajinasi Adri. Hehe.

Apa lagi yang menyenangkan dari nonton Adri? Kayaknya karena satu pemikiran. Relate aja gitu. Tentang mantan gubernur DKI yang sekarang dipenjara misalnya. Jujur saya juga agak sebel sama beliau. Bukan karena saya berbeda ras  atau agama dengan beliau. Tapi karena beliau suka marah-marah aja. Dan penganalogian Adri dengan ketua kelas yang nyebelin dan semua orang nunggu dia kepleset benar-benar lucu banget.

Lalu bit-bit tentang netizen yang sok tahu. Tentang debat calon pemimpin yang sebenarnya nggak ada gunanya. Sumpah satu pemikiran banget. Udah satu pemikiran, ditambah dengan cara mengolah materi yang keren adalah kombinasi sempurna untuk membuat saya nggak ragu untuk bilang Adri sangat lucu.

By the way ngomongin bit netizen, sebenarnya agak ironis juga, lho. Adriano dalam penampilannya menyiratkan ketidaksukaannya terhadap era internet. Tapi, saya yakin semua yang nonton Adri malam itu mengenal Adri awalnya juga dari internet. Jadi kebayang enggak kalau internet nggak pernah ada? Saya yakin nggak akan pernah ada show Lo Pikir Lo Keren. Di rumah, Adri akan ngedumel lengkap dengan istrinya yang menimpali, "Iya-iya. Lucu, kok". Hehe.

Tapi apakah Adriano lucu hanya karena materinya relate dengan saya? Kayaknya enggak juga. Menurut saya Adri lucu karena dia memang lucu. Karena faktanya ada banyak juga materi-materi yang disajikan malam itu yang sejujurnya sama sekali nggak relate sama saya. Tema seperti stalker jaman dulu, perselingkuhan, atau pernikahan misalnya. Dan meski sebenarnya nggak relate, tapi tetap aja lucu.

Setelah show berakhir, saya berani ngomong kalau Adriano Qalbi adalah comic paling lucu di dunia. Dan tentunya Lo Pikir Lo Keren merupakan show terlucu juga di dunia. Selama Adri stand up, entah berapa kali saya hampir terjungkal atau melompat dari kursi saking dahsyatnya ledakan tawa saya. Saya yakin kalau misalnya ada cukup space di depan kursi saya, saya akan ngakak sampai guling-guling dlosoran di lantai. Tapi sayangnya penataan kursinya cukup rapat. Jadi cukup untuk menahan saya agar nggak dlosoran di lantai.

Oh, iya suara saya sampai serak lho gara-gara ketawa mulu. Haus banget rasanya. Dan untuk mengobati rasa haus itu, pas sesi foto bareng saya minta ke Adri Aqua yang dia bawa ke stage yang masih utuh belum dia minum. 
Aqua Yang Saya Minta Dari Adri
By the way, ngomongin foto bareng, Adri ternyata humble, ya. Kalau comic lain biasanya kalau datang rombongan maka fotonya harus barengan, Adri enggak, dia bebas. Foto barengan ok, abis itu sendiri-sendiri juga boleh. Ini sebenarnya antara beneran humble atau emang nggak banyak yang ngantri aja. Hehe.

Jadi, Adriano Qalbi beneran keren atau cuma mitos? Simple, saya hanya akan menjawabnya dengan kalimat …

ADRIANO QALBI ADALAH COMIC TERLUCU DI DUNIA AKHIRAT!

Minggu, 26 November 2017

Majelis Tawa Mini Show 3, Tentang Panggung!



Selama 3 tahun terakhir, dalam satu tahun kalender, bagi saya selalu ada sebuah hari kamis yang terasa lebih spesial dibanding kamis-kamis lainnya. Sebuah kamis di mana hari itu digelar sebuah pertunjukkan stand up comedy bertajuk Majelis Tawa Mini Show, acara tahunan milik komunitas Stand up UMS.

Kamis 23 November 2017, seperti dua tahun sebelumnya, di hari itu saya kembali tampil dalam acara Majelis Tawa Mini Show yang sudah memasuki tahun ketiganya. Kalau dipikir-pikir keren juga ya saya, bisa tampil di tiga edisi Majelis Tawa Mini Show. Keren? Ah, nggak juga, kok. Itu terjadi semata-mata karena talentnya emang nggak banyak. Jadi yang main ya itu-itu mulu. Jadi sekali lagi bukan karena keren, ya. Tapi pure karena stand up UMS nggak punya cukup banyak talent. Dengan kata lain, regenerasine ora mlaku! Hahaha.

Oh, iya. Di postingan kali ini saya mau ngapain, ya? Cerita tentang jalannya acara? Kayaknya enggak, ya. Karena pastinya juga hampir mirip sama Majelis Tawa di tahun-tahun sebelumnya. Males, kan. Masak tiap tahun nulis blog dengan cerita yang nyaris sama? Enggak, ah.

Terus kalau gitu mau nulis apa? Umm … apa, ya? Ah, saya tahu! Saya akan tulis tentang sesuatu yang baru saja saya sadari setelah Majelis Tawa Mini Show 3 berakhir. Apa itu? Kurang lebih adalah …

Panggung, di satu sisi bisa jadi hal paling menyebalkan di dunia. Tapi di sisi lain, panggung bisa menjadi sebuah kenikmatan yang tiada tara.

Panggung bisa jadi hal paling menyebalkan di dunia?

Iya. Enggak tahu kenapa saya selalu merasa gugup berlebihan ketika akan show. Gugupnya itu bahkan bisa sampai h-1 bulan sebelum show. Bayangkan, satu bulan hidup dalam rasa gugup, rasa cemas, rasa gelisah. Enggak enak banget rasanya. Mau ngapa-ngapain jadi nggak tenang rasanya.

Jadi terkadang saya iri saya teman saya yang bisa menganggap show sebagai party. Enggak tahu kenapa saya sampai sekarang masih merasa kalau show itu perang. Jadi kalau teman saya ada yang bilang “Yes! Besok show!”, saya masih saja bilang “Bangsaaaat! Besok show!”.

Sesuai dengan apa yang saya tulis di paragraf sebelumnya, saya sadar kok kalau saya memang nggak punya mental yang cukup bagus untuk seorang yang harusnya tampil di atas panggung. Gila, tapi tekanannya memang gede banget, sih.

Apakah saya takut gagal? Mungkin. Jujur berhari-hari sebelum show, untuk memotivasi diri sendiri, saya selalu ngomong dalam hati kayak … “Udah, nggak usah takut nggak lucu. Nggak lucu juga nggak papa. Santai, Messi yang berkali-kali jadi pemain terbaik dunia pernah gagal nendang penalty. Rossi yang bahkan legend di MotoGP juga pernah jatuh pas balapan, kok.”

Belum lagi pas hari-H sebelum tampil. Badan rasanya mual-mual. Pengen muntah mulu bawaannya. Tekanan panggung itu emang gede banget. Dan itu yang menurut saya membuat panggung bisa jadi hal paling menyebalkan di dunia.

Tapi sekali lagi, di sisi lain panggung bisa menjadi hal paling menyenangkan di dunia. Dengan tingkat kesenangan yang bahkan kayaknya nggak ada tandingannya. Ya, perasaan bahagia yang luar biasa rasanya setelah menyelesaikan pertunjukkan. Rasanya kayak ada Euforianya gitu. Bahagia banget lah pokoknya.

Lalu, pertanyaannya apakah saya merasakan kebahagiaan after show semacam itu di Majelis Tawa Mini Show 3? Jelas iya. Saya puas banget. Bahagia banget. Memang sih saya sadar penampilan saya nggak sempurna. Ada juga bit yang miss. Tapi bodo amat, lah. Gelandang hebat sekelas Luka Modric pasti pernah salah umpan, kok. Marc Marquez juga pernah melebar pas balapan. Hehe.

Umm, apa lagi, ya? Oh, iya. Makasih banyak buat stand up UMS yang lagi-lagi ngasih kesempatan untuk manggung. Makasih banyak buat sponsor yang mendukung acara Majelis Tawa Mini Show 3. Makasih banyak untuk semua penontom yang hadir di Majelis Tawa Mini Show 3. Karena tanpa tawa kalian, saya akan lupa bagaimana rasanya bahagia. Hehe.

Jumat, 17 November 2017

Sepanggung Dengan Dzawin, Dirgahayu T-MAPS IAIN Surakarta!



Jika saya disuruh memilih satu tanggal paling spesial dalam satu tahun kalender, besar kemungkinan saya akan menyebutkan 10 November sebagai jawabannya. Apakah itu hari ulang tahun saya? Bukan! Lalu, kenapa 10 November? Sebenarnya saya memilih tanggal itu bukan tanpa alasan. Karena dalam empat tahun terakhir, selalu saja ada kejadian yang nggak terlupakan yang terjadi di 10 November.

Di tahun pertama saya kuliah pada 2014, saya melewatkan 10 November dengan untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Pondok Sobron, sebuah tempat yang sangat-sangat legendaris di kalangan mahasiswa UMS. Sementara 10 November 2015, untuk pertama kalinya dalam hidup ini saya menjadi juri dalam lomba stand up comedy. 10 November 2016 berjalan dengan nggak kalah berkesan dari dua 10 November sebelumnya. Di hari itu, saya tampil dalam sebuah show stand up comedy bertajuk Majelis Tawa Mini Show 2.  

Lalu, apa yang terjadi di 10 November 2017?

Jujur awalnya saya nggak tahu apa yang akan terjadi di hari itu. Bahkan awalnya saya pikir yang akan terjadi adalah saya pergi kuliah, setelah kuliah berakhir saya pulang, sampai rumah nonton anime, dan hal-hal tanpa kesan lain seperti yang terjadi dalam hari-hari saya biasanya. Ya, awalnya itu yang saya bayangkan. Hingga akhirnya pada tanggal 21 Oktober 2017, saya diajak ketemuan dengan seseorang dari UKM T-MAPS IAIN Surakarta, sebuah UKM yang bergerak di bidang public speaking.

Di pertemuan itu, perwakilan T-MAPS bilang kalau mereka akan bikin acara besar untuk memperingati ulang tahun mereka yang ke-5. Salah satu acara besar yang akan mereka selenggarakan adalah membuat sebuah pertunjukkan stand up comedy yang mengundang bintang tamu comic nasional, Dzawin. Selain Dzawin, T-MAPS juga mengundang komunitas stand up comedy UMS dan stand up comedy UNS untuk tampil di acara mereka. Pas ditawari untuk ikut terlibat dalam acara itu, jujur saya lumayan exited. Dalam hati saya bilang “kapan lagi bisa sepanggung sama Dzawin?”.

Kemudian masih di pertemuan yang sama, saya tanya ke perwakilan T-MAPS …

“Itu acaranya kapan ya, Mbak?”

Coba tebak apa jawabannya? Ya, tepat!

“10 November 2017, Mas.”

Tepat di saat perwakilan T-MAPS menyelesaikan kalimatnya, segala bayangan tentang 10 November yang akan berjalan dengan biasa saja lenyap. Kemudian dengan cepat digantikan oleh suara yang melintas dalam kepala … “kayaknya bakalan ada sesuatu lagi di 10 November tahun ini”.

Umm, btw rasa exited pas dengar bakal sepanggung sama Dzawin yang saya sebut di atas tadi cuman bertahan sekejap saja. Karena setelahnya justru rasa deg-degan yang lebih dominan menguasai tubuh saya. Bukan sekedar deg-degan, mungkin perasaan ini akan lebih tepat jika disebut gelisah. Kayak mau ngapa-ngapain jadi nggak tenang gitu. Perasaan yang sebenarnya memang biasa saya rasakan ketika mau stand up.

Dan setelah melewati hari-hari dengan rasa gelisah, akhirnya 10 November pun datang juga. Dan Alhamdulillah saya melewatinya dengan lancar. Senang rasanya bisa tampil di IAIN Surakarta. Senang juga rasanya bisa berbagi panggung sama comic sekelas Dzawin. Di backstage saya sempat ngobrol sama Dzawin. By the way, ternyata kalau udah jadi artis auranya beda, ya. Kayak ada hawa-hawa aura kebintangan gitu. Hehe.  
Seposter Sama Dzawin, Cuk!
Oh, iya. Saya mau ngucapin terimakasih sebanyak-banyaknya untuk T-MAPS IAIN Surakarta yang udah ngasih panggung yang keren banget untuk Stand up UMS. Selamat ulang tahun untuk T-MAPS. Semoga kedepannya acara kayak yang kemarin bakalan ada lagi. Soalnya sayang aja kalau acara sekeren kemarin nggak jadi acara tahunan. Bukan bermaksud menjilat lho, ya. Tapi jujur emang keren kok acaranya. Hehe. Semoga tahun depan ada lagi, ya. Amin!

Terakhir, makasih banyak ya T-MAPS, berkat kalian 10 November saya lagi-lagi terlewati dengan kenangan yang nggak akan terlupakan.

Senin, 13 November 2017

Catatan Singkat MotoGP 2017



MotoGP 2017 telah berakhir kemarin. Layaknya tahun-tahun sebelumnya, selalu ada rasa sedih ketika sebuah musim panjang MotoGP akhirnya berakhir. Ya, karena itu artinya untuk menyaksikan sebuah balapan MotoGP lagi, saya harus menunggu sampai Maret 2018.  Sebuah penantian yang nampaknya akan terasa sangat lama. Bukan hanya buat saya, tapi saya yakin juga untuk semua orang yang mencintai balapan motor paling bergengsi di dunia tersebut.

Tapi, daripada galau menantikan datangnya MotoGP 2018 yang masih lama, akan lebih baik kalau kita sejenak melihat kebelakang, tentang apa yang terjadi di MotoGP 2017. Selain menghadirkan kenangan, bagi saya MotoGP 2017 juga tak luput dari kejutan. Setidaknya menurut sudut pandang saya, sih.

ROSSI GAGAL JUARA DUNIA LAGI
Tahun ini, Rossi lagi-lagi gagal juara dunia. Apakah ini mengejutkan? Sejujurnya tidak. Sama sekali tidak. Saya memang sudah mengidolakan The Doctor sejak saya berumur 6 atau 7 tahun -2001-, tapi jujur saja saya akan lebih terkejut jika Rossi bisa keluar sebagai juara dunia di akhir musim.

Absen beberapa seri karena patah kaki dan buruknya performa Yamaha di putaran kedua jelas menjadi 2 hal paling bertanggung jawab terhadap gagalnya Rossi juara dunia musim ini. Lalu apakah jika Rossi fit dan Yamaha baik-baik saja di tahun depan, 2018 Rossi bisa juara dunia? Saya tidak yakin. Saya memang sangat berharap itu terjadi. Tapi, jika harapan itu benar-benar menjadi kenyataan, saya yakin saya akan sangat-sangat terkejut.

MARQUEZ JUARA DUNIA
Seperti yang kita tahu, MotoGP 2017 lagi-lagi dimenangkan oleh Marquez. Apakah ini mengejutkan? Saya akan lebih terkejut kalau Marquez gagal. Sebenarnya ini adalah alasan terbesar saya kenapa saya tidak yakin Rossi bisa juara dunia lagi. Karena ini eranya Marquez. Untuk saat ini, Marquez layaknya Mick Doohan di pertengahan 90an, Rossi di awal 2000an, Michael Schumacher di F1 awal 2000an, dan bahkan Manchester United di bawah tangan dingin Sir Alex Ferguson. Ya, layaknya nama-nama yang saya sebutkan, di eranya masing-masing, mereka tidak bisa dihentikan. Marquez tidak bisa dihentikan!

Aa-aah … umm, mungkin saya sedikit berlebihan. Mungkin bisa dihentikan. Tapi susah. Rasanya hampir mustahil. Dan tahun depan tentu saya tidak berharap Marquez akan juara dunia lagi. Namun, kalau pada akhirnya Marquez akan keluar sebagai juara dunia 2018, saya tidak akan terkejut.

VINALES MELEMPEM
Apakah melempemnya Vinales adalah sebuah kejutan? Bagi saya sedikit mengejutkan. Vinales yang di awal musim digadang-gadang sebagai calon kuat juara dunia justru malah melempem seiring berjalannya musim. Selalu menguasai test pra musim dan menang di 2 seri awal jelas membuat Vinales diunggulkan. Namun, sepertinya memang ada yang tidak beres dengan Yamaha, deh. Seperti yang kita lihat bersama, Movistar Yamaha melalu Rossi dan Vinales terlihat selalu kesulitan untuk berada di depan di putaran kedua musim 2017. Yang aneh justru pembalap satelit Yamaha, Zarco malah bisa bersaing dengan baris terdepan.

DOVIZIOSO
Dovi boleh jadi merasa kecewa setelah gagal menjadi juara dunia meski gelar tersebut sudah begitu dekat. Namun, kalau boleh jujur sebenarnya performa luar biasa yang ditampilkan oleh Dovi sepanjang musim ini terasa mengejutkan bagi saya. Sangat-sangat mengejutkan. Juara 6 seri dalam satu musim, 2 kali mengalahkan Marquez di tikungan terakhir, apakah Dovi memang sebagus ini?

Di musim-musim sebelumnya kira-kira di mana Dovi menyembunyikan semua kemampuannya, ya? Kenapa baru dikeluarkan sekarang? Membalap dengan penuh kepercayaan diri, sesuatu yang tidak mungkin kita lihat pada diri Dovi di musim-musim sebelumnya.

Kira-kira apakah Dovi akan menampilkan performa apik lagi di 2018? Umm … saya berharap, sih.

NICK HARRIS PENSIUN
Pensiunnya Nick Harris tentu menjadi sesuatu yang amat mengejutkan. Bukan hanya untuk saya, tapi jelas seluruh penggemar MotoGP di manapun mereka berada. Saya tumbuh dan mencintai MotoGP dengan latar belakang suara komentar yang terdengar khas yang terlontar dari mulut Nick harris. Dan mulai tahun depan suara khasnya tidak akan pernah terdengar lagi ketika para pembalap beraksi di lintasan.

Lalu kira-kira siapa penggantinya? Tentunya harus seseorang yang punya ke-khas-an tersendiri ketika berkomentar. Di mana kita mencarinya? Tidak perlu jauh-jauh. Di Indonesia kita punya. Siapa orangnya? Valentino “JEBRET!” Simanjuntak.

“Yaaaak, Valentino Rossi menyalip dari sisi dalam! Valentino Rossi! Valentino Rossi! Vale! Vale! Vale! Vale! Vale! Vale! Vale!” (bayangkan seperti saat Valentino Simanjuntak mengomentari Christian Gonzales dengan berteriak: Loco! Loco! Loco! Loco! Loco! Loco! Loco!)

Nah, kurang khas apa lagi dia?