Jumat, 20 Oktober 2017

Kenapa Kartun Atau Anime Kena Sensor KPI Sedangkan Sinetron Lolos?



Pernah nggak sih bertanya-tanya kenapa kartun atau anime yang tayang di televisi Indonesia banyak sekali sensornya? Sementara itu, kok justru sinetron-sinetron malah lolos sensor? Dan kemudian ngomong dalam hati, ini KPI kerjanya bener nggak, sih?

Saya rasa, banyak sekali orang di luar sana yang bertanya-tanya tentang apa yang saya tulis di paragraf pertama. Dan kemungkinan kamu yang sedang membaca tulisan ini adalah salah satu di antaranya. Dulu saya juga bingung tentang hal itu. Kenapa kartun di sensor tapi sinetron lolos? Tapi, akhir-akhir ini, kayaknya saya tahu jawabannya.

Dan jawaban dari kenapa kartun kena sensor adalah ... karena kartun-kartun yang disensor tersebut berasal dari luar negeri.

Karena dari luar negeri? Hah? Yang bener aja? Kok alasannya nggak logis gitu?

Ok, sebelum kamu semakin bingung, saya akan coba jelaskan. Disadari atau enggak, kartun yang biasanya kena sensor itu memang selalu dari luar negeri. Sandy tupai dari kartun Spongebob yang kena sensor KPI karena berbikini dari Amerika. Atau Tsunade dari anime Naruto yang disensor belahan dadanya juga dari Jepang. Dan masih banyak lagi kartun atau anime lain yang disensor KPI dan tentunya berasal dari luar negeri.

Lalu? Kenapa kartun-kartun luar negeri ini disensor? Apakah ini bentuk diskriminasi karena mereka berasal dari luar negeri? Jawabannya adalah … enggak juga.

Alasan sebenarnya adalah karena kartun-kartun ini berasal dari luar negeri, maka pihak yang memproduksinya tentu nggak kenal sama yang namanya KPI beserta regulasinya. Maka dari itu ketika kartun-kartun ini dibuat, jelas tidak mengacu berdasarkan aturan KPI yang makin ke sini makin ketat. Atau justru, makin ke sini makin aneh.

Dengan kata lain, tentu kartun-kartun yang berasal dari luar negeri tersebut diproduksi dengan mengacu kepada aturan atau regulasi dari komisi penyiaran dari negara yang bersangkutan. Dan ketika kartun-kartun tersebut masuk ke Indonesia, sudah pasti kalau kartun-kartun tersebut harus menyesuaikan dengan regulasi yang ada di sini. Karena adegannya nggak mungkin dirubah, maka jalan satu-satunya adalah disensor.

Tapi kebayang nggak sih kalau misalkan kartun-kartun yang berasal dari luar negeri tersebut dibuat menyesuaikan dengan regulasi KPI? Mungkin nanti Tsunade yang biasanya menampilkan belahan dada bakalan pakai jilbab syar’i. Asuma Sarutobi yang biasanya ngisep rokok jadi ngisep tutup bolpen. Atau Boku no Pico yang adegannya begituan bakalan dirubah jadi adegan main lompat tali.

Hal yang berbeda terjadi pada kartun-kartun asli Indonesia. Adit Sopo Jarwo misalnya. Atau Riska dan Si Gembul. Mereka cenderung aman-aman aja dari sensor KPI. Kenapa? Ya karena mereka paham sama regulasi KPI. Jadi ketika mereka diproduksi, pihak yang memproduksi udah tahu mana yang bakal kena sensor KPI mana yang enggak. Jadi mereka bisa menghindari itu.

Sebenarnya alasan kenapa sinetron Indonesia banyak yang lolos sensor KPI sama seperti apa yang saya tulis di paragraf sebelumnya. Karena mereka tahu regulasinya. Dan kalau diperhatikan sinetron Indonesia selalu bermain di batas aman.

Batas aman?

Yo’i batas aman. Adegan berantem? Ada. Tapi kok nggak disensor? Simple, nggak ada darah yang keluar akibat dari adegan berantem tersebut. Padahal regulasi KPI yang disensor darah. Maka dari itu Boy anak jalanan bisa berantem bebas karena nggak ada darahnya. Sebaliknya adegan pertarungan di Naruto langsung kena sensor karena biasanya darah yang keluar banyak banget.

Batas aman. Nggak ada tuh kayaknya karakter di sinetron yang belahan dadanya keliatan. Kita juga akan kesulitan menemukan karakter sinetron yang merokok. Ini yang kita omongin sinetron jaman sekarang lho ya. Kalau jaman dulu pas saya masih kecil adegan merokok atau belahan dada banyak tersebar di sinetron. Tapi semenjak KPI mulai memperketat regulasinya, semua mulai berubah.

Jadi kesimpulannya adalah pengetahuan soal regulasi KPI yang tentu saja nggak dimiliki sama orang luar negeri membuat kartun yang berasal dari luar banyak kena sensor. Dan sebaliknya sinetron lolos dari sensor Karena bermain di batas aman.

Terakhir, postingan kali ini nggak bermaksud untuk membela regulasi ketat –atau aneh- KPI. Saya di sini cuman mau mencoba menjelaskan kenapa kartun-kartun banyak kena sensor sementara sinetron malah lolos. 

Jadi kira-kira begitu. Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar