Kamis, 26 Oktober 2017

Akhirnya Ada Bangjo Di Sambi Boyolali



Hari ini, tanggal 26 Oktober 2017, ada sebuah kejadian yang menurut saya cukup sulit untuk dipercaya. Akhirnya, di tempat tinggal saya, di Sambi Boyolali ada juga yang namanya lampu lalu lintas. Sebuah benda yang dalam bahasa Jawa disebut bangjo itu memang dalam beberapa hari terakhir sudah terlihat menampakkan dirinya di perempatan Sambi. Meski begitu, bangjo tersebut belum benar-benar beroperasi. Baru hari ini akhirnya bangjo tersebut bekerja sesuai dengan fungsinya.

Saya memang telah terbiasa melihat bangjo. Hampir tiap hari malah. Tapi, melihat lampu berwarna hijau, kuning, dan merah yang saling bergantian menyala di dekat rumah saya rasanya sekali lagi benar-benar sulit dipercaya. Mungkin lebih tepatnya saya sama sekali nggak pernah membayangkan hal ini akan terjadi. Di Sambi ada bangjo? Wow! Sama sekali nggak pernah terlintas dalam benak saya. hahaha.

Aa-aah, saya tahu kok kalau saya mungkin terlihat sedikit lebay dengan adanya bangjo di Sambi. Tapi, boleh percaya boleh nggak saya dulu pernah dibully gara-gara di Sambi nggak ada bangjo, lho. Eh, sebenarnya bukan dibully juga, sih. Lebih tepatnya diledekin. Tapi, bukannya diledekin itu juga merupakan bentuk pembullian secara verbal, ya?

Jadi begini ceritanya. Dulu ketika saya SMP-SMA, saya bersekolah di Simo, sebuah wilayah yang bertetangga dengan Sambi dan kebetulan memang terlihat sedikit lebih maju. Nah, layaknya remaja pada umumnya, di sekolah kami biasa terjadi ledek-ledekan. Kalau biasanya remaja suka banget menjadikan nama orang tua untuk dijadikan sasaran ledekan, di sekolah saya nggak begitu. Objek ledekannya justru tempat tinggal.

Sambi selalu menjadi sasaran empuk untuk diledekin habis-habisan. Orang Simo sering ngatain Sambi ndeso. Mereka selalu bilang Simo punya Pom Bensin Sambi enggak. Simo punya waterboom Sambi enggak. Dan tentunya Simo punya bangjo Sambi enggak. Nah, dibagian Sambi nggak punya bangjo ini yang biasanya serangannya paling telak. Masih teringat jelas di ingatan saya ketika teman saya ngomong …

“Ning Sambi ki ora ono bangjo. Wong Sambi nek ning Simo weruh bangjo mesthi dijogeti, dikirone lampu disco.”

Yang artinya kira-kira …

“Di Sambi itu nggak ada bangjo. Orang Sambi kalau ke Simo lihat bangjo pasti dijogetin, dikira lampu disco.”

Hahahahaha. Setiap ingat sama kalimat itu, saya pasti ketawa. Kampret emang. Tapi lucu banget. Ah, sekerang seenggaknya di Sambi udah ada bangjo sendiri. Jadi kalau orang Sambi mau joget nggak usah jauh-jauh ke Simo. Hehe.

By the way, semoga dengan adanya bangjo di Sambi semakin membuat warga Sambi tertib dalam berlalu lintas. Semoga nggak ada lagi orang ugal-ugalan dalam berkendara di Sambi. Amin!  

Jumat, 20 Oktober 2017

Kenapa Kartun Atau Anime Kena Sensor KPI Sedangkan Sinetron Lolos?



Pernah nggak sih bertanya-tanya kenapa kartun atau anime yang tayang di televisi Indonesia banyak sekali sensornya? Sementara itu, kok justru sinetron-sinetron malah lolos sensor? Dan kemudian ngomong dalam hati, ini KPI kerjanya bener nggak, sih?

Saya rasa, banyak sekali orang di luar sana yang bertanya-tanya tentang apa yang saya tulis di paragraf pertama. Dan kemungkinan kamu yang sedang membaca tulisan ini adalah salah satu di antaranya. Dulu saya juga bingung tentang hal itu. Kenapa kartun di sensor tapi sinetron lolos? Tapi, akhir-akhir ini, kayaknya saya tahu jawabannya.

Dan jawaban dari kenapa kartun kena sensor adalah ... karena kartun-kartun yang disensor tersebut berasal dari luar negeri.

Karena dari luar negeri? Hah? Yang bener aja? Kok alasannya nggak logis gitu?

Ok, sebelum kamu semakin bingung, saya akan coba jelaskan. Disadari atau enggak, kartun yang biasanya kena sensor itu memang selalu dari luar negeri. Sandy tupai dari kartun Spongebob yang kena sensor KPI karena berbikini dari Amerika. Atau Tsunade dari anime Naruto yang disensor belahan dadanya juga dari Jepang. Dan masih banyak lagi kartun atau anime lain yang disensor KPI dan tentunya berasal dari luar negeri.

Lalu? Kenapa kartun-kartun luar negeri ini disensor? Apakah ini bentuk diskriminasi karena mereka berasal dari luar negeri? Jawabannya adalah … enggak juga.

Alasan sebenarnya adalah karena kartun-kartun ini berasal dari luar negeri, maka pihak yang memproduksinya tentu nggak kenal sama yang namanya KPI beserta regulasinya. Maka dari itu ketika kartun-kartun ini dibuat, jelas tidak mengacu berdasarkan aturan KPI yang makin ke sini makin ketat. Atau justru, makin ke sini makin aneh.

Dengan kata lain, tentu kartun-kartun yang berasal dari luar negeri tersebut diproduksi dengan mengacu kepada aturan atau regulasi dari komisi penyiaran dari negara yang bersangkutan. Dan ketika kartun-kartun tersebut masuk ke Indonesia, sudah pasti kalau kartun-kartun tersebut harus menyesuaikan dengan regulasi yang ada di sini. Karena adegannya nggak mungkin dirubah, maka jalan satu-satunya adalah disensor.

Tapi kebayang nggak sih kalau misalkan kartun-kartun yang berasal dari luar negeri tersebut dibuat menyesuaikan dengan regulasi KPI? Mungkin nanti Tsunade yang biasanya menampilkan belahan dada bakalan pakai jilbab syar’i. Asuma Sarutobi yang biasanya ngisep rokok jadi ngisep tutup bolpen. Atau Boku no Pico yang adegannya begituan bakalan dirubah jadi adegan main lompat tali.

Hal yang berbeda terjadi pada kartun-kartun asli Indonesia. Adit Sopo Jarwo misalnya. Atau Riska dan Si Gembul. Mereka cenderung aman-aman aja dari sensor KPI. Kenapa? Ya karena mereka paham sama regulasi KPI. Jadi ketika mereka diproduksi, pihak yang memproduksi udah tahu mana yang bakal kena sensor KPI mana yang enggak. Jadi mereka bisa menghindari itu.

Sebenarnya alasan kenapa sinetron Indonesia banyak yang lolos sensor KPI sama seperti apa yang saya tulis di paragraf sebelumnya. Karena mereka tahu regulasinya. Dan kalau diperhatikan sinetron Indonesia selalu bermain di batas aman.

Batas aman?

Yo’i batas aman. Adegan berantem? Ada. Tapi kok nggak disensor? Simple, nggak ada darah yang keluar akibat dari adegan berantem tersebut. Padahal regulasi KPI yang disensor darah. Maka dari itu Boy anak jalanan bisa berantem bebas karena nggak ada darahnya. Sebaliknya adegan pertarungan di Naruto langsung kena sensor karena biasanya darah yang keluar banyak banget.

Batas aman. Nggak ada tuh kayaknya karakter di sinetron yang belahan dadanya keliatan. Kita juga akan kesulitan menemukan karakter sinetron yang merokok. Ini yang kita omongin sinetron jaman sekarang lho ya. Kalau jaman dulu pas saya masih kecil adegan merokok atau belahan dada banyak tersebar di sinetron. Tapi semenjak KPI mulai memperketat regulasinya, semua mulai berubah.

Jadi kesimpulannya adalah pengetahuan soal regulasi KPI yang tentu saja nggak dimiliki sama orang luar negeri membuat kartun yang berasal dari luar banyak kena sensor. Dan sebaliknya sinetron lolos dari sensor Karena bermain di batas aman.

Terakhir, postingan kali ini nggak bermaksud untuk membela regulasi ketat –atau aneh- KPI. Saya di sini cuman mau mencoba menjelaskan kenapa kartun-kartun banyak kena sensor sementara sinetron malah lolos. 

Jadi kira-kira begitu. Semoga bermanfaat.

Senin, 16 Oktober 2017

Setelah Nonton Koi to Uso [Review Anime]



Pernah nonton anime yang keadaan di dalam anime itu bikin kamu iri? Kalau saya sih pernah. Belum lama terjadi, kok. Tepatnya ketika saya menonton anime Koi to Uso. Apa yang bikin saya iri? Nanti akan saya jelaskan.
***
SINOPSIS
Cinta dan Kebohongan adalah dua hal yang terlarang. Dalam waktu dekat, ketika remaja Jepang menginjak usia enam belas tahun, mereka akan ditentukan pasangan hidupnya oleh pemerintah. Orang-orang tidak perlu lagi bersusah payah mencari pasangannya. Semua orang pun menerima hal itu dan percaya bahwa pemerintah dapat mencarikan pasangan paling ideal untuk mereka. Nejima Yukari, remaja berusia lima belas tahun yang tinggal di sudut kecil Jepang. Tak ada hal yang menonjol dari dirinya. Kemampuan akademis dan kemampuan atletisnya di bawah rata-rata. Namun, apa jadinya kalau remaja yang menyembunyikan perasaannya ini merasakan jatuh cinta di tempat tinggalnya yang mengharamkan cinta?

Sumber: otakotaku.com
***
Kesan saya ketika menonton anime ini …

BIKIN IRI
Seperti mengulang pertanyaan di paragraf pertama, apa yang bikin saya iri? Satu hal sih sebenarnya. Di anime Koi to Uso, orang-orang nggak perlu susah-susah mencari jodoh. Karena pasangan yang akan kita nikahi sudah ditentukan oleh pemerintah. Dan ini sumpah membuat saya sangat iri.

Mungkin beberapa dari kamu akan bertanya-tanya dengan pertanyaan seperti …

“Loh, apa enaknya jodoh yang sudah ditentukan? Bukannya malah nggak enak ya nggak bisa milih pasangan sesuai dengan keinginan kita sendiri?”

Mungkin beberapa di antara kamu akan menanyakan itu. Tapi, kalau kamu nggak pernah ngerasain yang namanya jomblo dari lahir kayaknya mending diem aja, deh. Kalau saja program perjodohan itu beneran ada di dunia nyata, pasti nggak akan ada jomblo yang berkeliaran di muka bumi ini. Dan kalau saja program perjodohan itu beneran ada di dunia nyata, pasti saya nggak akan jadi jomblo abadi. Hehe.

BGM YANG BAGUS
Saya selalu suka anime yang BGMnya bagus. Koi to Uso tampil dengan BGM yang kesannya mengharukan. Dan saya sangat menyukai itu. BGMnya bisa bikin saya semakin hanyut dalam cerita.

MENGOCOK EMOSI
Yang keren dari Koi to Uso adalah ceritanya mampu untuk mengocok emosi saya. Biasanya ketika menonton anime bergenre romance, saya akan mendukung salah satu karakter cewek untuk bisa jadian dengan karakter utama. Nah, di anime ini saya nggak bisa melakukannya. Saya bingung harus mendukung Ririna atau Misaki untuk jadian sama Yukari. Nggak tahu kenapa saya merasa nggak tega kalau salah satu di antara Ririna atau Misaki merasa tersakiti. Benar-benar sukses mengocok emosi saya.
***
Kira-kira itu kesan saya ketika menonton Koi to Uso. Meski secara keseluruhan saya menganggap anime ini cukup keren, tapi menurut saya ada beberapa hal yang entah mengapa masih terasa sedikit mengganjal.

ENDING YANG KURANG GREGET
Nggak tahu kenapa menurut saya endingnya kurang greget aja. Jujur saya pengen banget lihat Yukari memutuskan memilih siapa gadis yang akan bersamanya. Tapi yang terjadi malah terkesan menggantung endingnya. Yukari terkesan plin-plan. Memang sih saya nggak tega melihat salah satu di antara Ririna atau Misaki merasa tersakiti. Tapi, jujur saya sangat penasaran tentang siapa gadis yang akan dipilih Yukari. 

Ah, semoga anime ini ada season 2nya. Seenggaknya untuk menjawab rasa penasaran saya. Saya berharap banget, sih. Lagipula manganya kan juga masih on going.

CIUMAN NISAKA KE YUKARI
Kira-kira ciuman Nisaka ke Yukari itu maksudnya apa, ya? Seorang cowok mencium cowok lain ketika sedang tidur, kira-kira apa maksud dari ciuman itu? Nisaka homo? Atau apa? Sayangnya sampai episode terakhir dari anime ini sama sekali nggak dijelaskan tentang maksud dari ciuman itu. Sekali lagi semoga akan hadir season 2 yang akan menjawab rasa penasaran saya.

Sabtu, 07 Oktober 2017

Setelah Nonton Gamers! [Review Anime]



Umm … langsung aja, ya. Kebetulan saya lagi nggak punya ide tentang bagaimana saya harus menulis intro di postingan ini. Jadi sekali lagi langsung aja. Intinya, kali ini saya pengen ngeriview anime yang baru saja saya tamatkan, Gamers!
***
SINOPSIS
Bercerita mengenai kehidupan seorang siswa SMA yang menghabiskan waktunya dengan bermain game. Amano Keita, seorang remaja seperti pada umumnya yang suka bermain game. Suatu hari ia diajak bergabung ke Klub Game oleh Tendou Karen, ketua klub yang dikenal sebagai gadis paling cantik di sekolahnya. Mungkinkah ini awal dari cerita harem bersama para gadis cantik di sekolahnya?

Sumber: otakotaku.com
***
Untuk review anime kali ini, saya nggak akan berbelit-belit. Saya hanya akan memberikan penilaian saya dari satu aspek saja, kenikmatan menonton. Ya, hanya kenikmatan ketika saya menonton anime ini yang akan saya jadikan satu-satunya aspek dalam review kali ini.

Oh, iya. Sekedar pemberitahuan, saya tahu Gamers! berkat rekomendasi dari teman saya. Mereka bilang kalau Gamers! recommended. Kenapa di kalimat sebelumnya saya menulis “mereka” dan bukan “dia”? Alasannya tidak lain dan tidak bukan karena ada lebih dari satu orang yang bilang langsung ke saya kalau Gamers! bagus. Karena banyak yang bilang bagus, saya jadi penasaran. Dan kesan pertama saya …

Biasa aja.

Ya, biasa aja. Di episode awal memang terasa biasa aja. Sekali lagi ini penilaian saya berdasarkan kenikmatan menonton saya lho, ya. Komedinya berasa kurang. Saya curiga mungkin karena saya baru saja menonton Aho-Girl, jadi standar lucu saya lagi tinggi-tingginya. Tapi kok kayaknya enggak ngaruh, ya. Kayaknya Gamers! di episode awal-awal emang kurang lucu aja.

Situasi mulai berubah di episode pertengahan. Tepatnya ketika anime ini sudah memperkenalkan semua karakter-karakternya. Kelucuan mulai muncul. Selama bertahun-tahun saya menjadi penikmat anime/manga bergenre romance comedy, saya mengamati bahwa kelucuan romance comedy selalu dibangun dari kesalah pahaman. Jadi misalkan ada sebuah peristiwa, karakter A berpikir kalau yang terjadi adalah X, sedangkan karakter B yakin kalau yang terjadi adalah Y, tapi karakter C sangat percaya bahwa yang dia lihat adalah kejadian Z. Nah, dari perbedaan persepsi itu akan timbul kesalah pahaman. Dan kesalah pahaman adalah pemicu kelucuan yang efektif di anime romantic comedy. Dan sepertinya Gamers! sangat sukses memanfaatkan itu.

Sayangnya, anime ini terus menerus menggunakan format kesalah pahaman dalam usaha untuk menciptakan kelucuan. Yang mana, menurut saya membosankan. Awalnya kesalah pahaman emang lucu, tapi kalau senjatanya cuman kesalah pahaman mulu, lama-lama bosan juga. Itu sebenarnya sama kayak nonton show stand up comedy yang durasinya cuman 5 menitan, terus sepanjang set si comic pakai teknik rule of three terus, kan bosen. Jadi ketebak aja gitu mau diarahin kemana.

Tapi ketika kebosanan saya hampir berada di puncak, episode terakhir dari anime ini menyelamatkan segalanya.

Saya merasa episode terakhir anime ini benar-benar menepis kebosanan yang terjadi akibat menonton episode-episode sebelumnya. Cerita di episode terakhir tidak lagi bersumber dari kesalah pahaman, tapi perdebatan yang terjadi karena Aguri berpikir bahwa pemain game itu aneh. Mereka rela mengeluarkan uang yang sangat mahal untuk sebuah game. Aguri berpikir game-game sekarang harganya sangat mahal. Menurut saya dari premis ini justru lucu sekali. Karena saya merasa relate aja gitu. Soalnya sebagai orang yang nggak begitu suka game, saya juga sering berpikir kalau harga game itu terlalu mahal.

Udah gitu aja review saya. Kalau ada yang nggak setuju dengan pendapat saya, nggak papa, kok. Kalau bisa tulis aja pendapat kamu di comment. Meski, saya nggak begitu yakin bakal ada yang komentar juga, sih.