Rabu, 27 September 2017

Ikan Koi Ini Tiba-Tiba Mati, Ketika Perutnya Dibedah Ternyata ......



Senin pagi, 25 September 2017, seorang pemuda di Kabupaten Boyolali mendapati seekor koi peliharannya telah tak bernyawa di kolam rumahnya. Pemuda berusia 20an tahun yang tak lain dan tak bukan adalah saya sendiri tersebut tanpa membuang waktu segera mengangkat koi yang telah tak bernyawa dari dalam kolam. Perasaan sedih menghinggapi ……

Bentar, ini kenapa intronya jadi serius gitu, ya? Padahal mah cuman mau cerita tentang koi saya yang kemarin mati. Hehe. Ok, mari kita berganti gaya bahasa.

Jadi begini. Dua hari yang lalu, seperti kebiasaan saya di pagi-pagi lainnya, saya selalu menyempatkan diri untuk melihat-lihat koi peliharaan saya. Semacam apel pagi gitu, lah. Seperti yang saya sebut di paragraf pertama, saya mendapati ada satu koi saya yang telah tak bernyawa.

Apakah saya terkejut? Jelas saya terkejut. Bahkan menurut saya ini agak sedikit aneh. Karena di hari sebelumnya koi saya yang mati tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda kalau dia sakit. Nggak berdiam diri dipojokan, lah. Pokoknya normal aja gitu. Kan agak aneh kalau koinya tiba-tiba mati.

Lagi-lagi seperti apa yang saya tulis di paragraf pertama, saya segera mengangkat koi tersebut dari kolam. Segera saya cek kondisi seluruh badan koi tersebut. Takutnya kalau ternyata kena penyakit. Kan bahaya tuh. Bisa jadi koi-koi yang lain tertular juga.
Dan setelah menjalani pemeriksaan alakadarnya dari saya, meski saya nggak begitu paham tentang penyakit koi, tapi saya cukup yakin kalau tubuh koi itu nggak kenapa-napa. Nggak ada penyakit jamur, aeromonas, atau apapun itu –yang mana sebenarnya sekali lagi saya juga nggak begitu paham-.

Lalu kalau bukan penyakit, kenapa koi saya mati? Waktu, itu saya berpikir kalau jawabannya adalah takdir. Mungkin terdengar konyol. Tapi, waktu itu saya beneran berpikir bahwa itu adalah takdir. Jadi kenapa koinya mati? Ya karena umurnya udah habis, takdir. Hmm, terdengar begitu cerdas, kan?

Setelah jawaban atas pertanyaan kenapa koinya mati terjawab, meski jawabannya sangat ngawur, kemudian sebuah pertanyaan lain mengambang. Ini koi yang mati mau saya apakan? Buang? Kubur? Atau dimakan? Tapi kalau mau dimakan, beneran nggak papa, nih? Takutnya beracun atau nggak aman. Nah, ditengah kebingungan itu, ibuk saya tiba-tiba bertanya …

“Ikannya udah kaku belum?” tanya ibuk saya.

Saya mencoba menggerak-gerakkan koi itu. “Belum, tuh.”

“Kalau gitu digoreng aja nggak papa.”

Saya menuruti nasihat ibuk saya. Jadi, saya langsung menyuruh karyawan ibuk saya untuk mbeteti … 
Bentar, mbeteti itu bahasa Indonesianya apa, ya? Aa-aah, jadi mbeteti itu singkatnya mengeluarkan isi perut si ikan dari tubuhnya. Pokoknya kayak gambar di atas. Ketika proses mbeteti tengah berlangsung, tanpa diduga terdengar suara …

Kluthuk-klutuhuk!

Saya bertanya-tanya. Suara apa itu? Dan ketika saya cek, ternyata yang barusan adalah suara batu yang jatuh keluar dari tubuh koi saya. Sekali lagi batu. Bukan kerikil. Tapi batu yang bahkan ukurannya lebih besar dari kelereng.
Tunggu! Jadi koi saya mati karena menelan batu? Koi saya mati karena tersedak batu? Aneh banget. Eh, aneh nggak, sih? Bagaimanapun juga kok saya tetap berpikir kalau itu aneh, ya. Saya berungkali mendengar ada balita meninggal karena menelan kelereng, biji rambutan, uang koin, uang rakyat … umm, apaan sih? Lupakan. Tapi, masalahnya ini bukan balita! Ini koi!

Memang sih di dasar kolam saya terdapat banyak batu-batu kecil. Tapi, saya nggak pernah menduga kalau koi saya akan berpikiran untuk menelannya. Aa-aah, tapi kan koi memang nggak punya pikiran. Hehe. Sekarang saya mikir, apa sebaiknya saya singkirin saja ya batu-batu itu? Takutnya kejadian yang sama terulang kembali.

By the way, akhirnya koi tersebut beneran saya goreng.
Rasanya kayak gimana? Saya akan menjawabnya dalam satu kalimat saja. MASIH ENAKAN LELE. Hehe

Tidak ada komentar:

Posting Komentar