Kamis, 21 September 2017

Adipati Karna, Tokoh Paling Kasihan Di Mahabharata



Apabila kita dihadapkan dengan pertanyaan yang berbunyi siapa tokoh paling perkasa di Mahabharata, dengan mudah kita akan menyebut nama Bima. Tokoh paling tampan? Tentu Arjuna. Kalau tokoh paling licik? Sudah pasti Sangkuni. Tapi, bagaimana jika pertanyaannya adalah siapa tokoh paling kasihan, anda tahu jawabannya? Kalau saya, tanpa ragu akan menjawab Karna.

Karna Raja Angga atau dalam pewayangan Jawa biasa disebut Adipati Karna adalah tokoh yang menurut saya paling kasihan di cerita epos Mahabharata. Berikut adalah alasan saya …

BARU LAHIR LANGSUNG DIBUANG
Nasib tragis langsung menghampiri Karna begitu dia lahir. Alkisah, ibu kandung Karna, Kunti memiliki anugerah untuk meminta anak dari dewa. Suatu hari karena iseng, Kunti mencoba mengetes kemampuan yang dia miliki. Tak lama setelah itu, Dewa Surya muncul dan memberi Kunti anak. Tentu Kunti bingung. Soalnya waktu itu dia belum punya suami. Akan aneh kalau punya anak tapi nggak punya suami. Maka dari itu tepat setelah Karna lahir, Kunti membuang bayi Karna dan merahasiakan segalanya perihal kelahiran Karna.

Karna dibuang di sungai lalu ditemukan dan dirawat oleh seorang kusir kuda bernama Adiratha. Maka dari itu secara teknis Karna tergolong dalam kasta Sudra, sesuai dengan kasta ayah angkatnya, Adiratha.

DITOLAK RESI DORNA KARENA KASTA
Karna sangat tertarik dengan ilmu memanah. Dia mendengar jika Resi Dorna adalah guru memanah terbaik yang ada di dunia. Maka, tanpa membuang waktu, Karna segera mendatangi Resi Dorna. Tapi, bukannya diterima dengan baik, Dorna justru mengusir Karna. Usut punya usut, itu terjadi karena Karna berasal dari kasta sudra. Padahal, Dorna hanya mau mengajar bagi pangeran-pangeran Hastinapura.

DIKUTUK RESI PARASURAMA
Karena ditolak oleh Dorna, Karna mencoba mencari guru yang levelnya lebih tinggi dari Dorna. Pilihannya tertuju kepada resi legendaris bernama Parasurama. Tapi karena Parasurama hanya menerima murid dari kalangan Brahmana, maka Karna pun menyamar sebagai brahmana.

Singkat cerita, Karna diterima jadi murid oleh Parasurama. Karna menjadi murid kesayangan Parasurama karena ketangkasannya. Namun sayangnya, suatu hari penyamaran Karna terbongkar. Suatu hari Karna melindungi Parasurama yang sedang tidur dari gigitan kalajengking. Nah, saat itulah Parasurama sadar jika Karna bukan seorang Brahmana. Karena tidak ada seorang brahmana pun yang mampu tahan terhadap sengatan kalajengking. Sementara Karna, dia tetap woles tanpa berteriak sedikitpun. Dari situ Parasurama sadar jika kekuatan semacam itu hanya dimiliki oleh ksatria.

Karena merasa tertipu, Parasurama mengutuk Karna. Isi kutukannya adalah Karna akan lupa terhadap semua ilmu yang diajarkan Parasurama ketika Karna menghadapi pertempuran penting. Duh, kasihan banget. Padahal niatnya melindungi sang guru. Tapi malah dikutuk.

DITOLAK IKUT UJI KETANGKASAN
Setelah berguru dari Parasurama, Karna ingin mengetes kemampuannya. Kebetulan waktu itu di Hastinapura sedang diadakan uji ketangkasan antar pangeran-pangeran Hastinapura. Tak disangka Karna hadir dalam event itu dan menantang Arjuna untuk adu kemampuan memanah.

Apakah adu kemampuan memanah antara Karna dan Arjuna benar-benar terlaksana? Tentu tidak. Karena tepat setelah Karna melontarkan tantangannya kepada Arjuna, Karna diberi pertanyaan tentang asal usulnya. Setelah Karna mengaku bahwa dia adalah anak Adiratha yang seorang kusir, tentu pertandingan Karna melawan Arjuna ditolak karena perbedaan kasta. Bahkan lebih parah, Karna menjadi bahan hinaan.

DITOLAK DRUPADI
Raja Drupada dari kerajaan Panchala mengadakan sayembara untuk mendapatkan putrinya, Drupadi. Semua pangeran dan raja dari segala penjuru arah mencoba peruntungan dengan mengikuti sayembara tersebut. Tapi tak ada seorang pun yang mampu menaklukkan sayembara. Hanya Karna yang bisa melakukannya. Karena Karna berhasil menaklukkan sayembara, jadi seharusnya Drupadi menikah dengan Karna. Tapi sayangnya Drupadi menolak. Alasannya, lagi-lagi karena urusan kasta.

PERAMPASAN PERISAI DAN ANTING OLEH DEWA INDRA
Menjelang perang Bharata Yudha, Dewa Indra khawatir jika Arjuna anaknya akan terbunuh ditangan Karna. Maka dari itu Dewa Indra menyamar sebagai brahmana dan mendatangi Karna. Di situ Karna berjanji akan memberikan apapun yang diminta oleh sang Brahmana jelmaan Indra. Nah, brahmana itu meminta perisai dan anting yang melekat pada tubuh Karna. Padahal perisai dan anting itu adalah anugerah dari Dewa Surya yang memang sudah melekat pada tubuh Karna semenjak lahir. Intinya, demi kemenangan Arjuna, Dewa Indra turun tangan langsung untuk mengurangi beberapa persen kekuatan Karna.

TERBUNUH SECARA CURANG
Dalam pertempuran bharatayudha hari ke 17, pertempuran antara Karna dan Arjuna terjadi. Ketika pertempuran sedang seru-serunya, roda kereta kuda Karna terperosok ke dalam lumpur. Karna meminta raja Salya untuk membantunya menarik roda itu keluar dari lumpur. Namun, Salya menolak. Karena Salya merasa seorang raja tak pantas ikut-ikutan menarik roda kereta. Apalagi yang memerintahkannya hanya anak seorang kusir. Singkat cerita Karna berusaha menarik roda itu sendirian. Di saat Karna tidak dalam posisi siap karena menarik roda, tanpa ampun panah Arjuna melesat memenggal kepalanya.

Lahir langsung dibuang, ketika besar mendapat diskriminasi, dan terbunuh secara curang di medan perang cukup membuat saya menetapkan tokoh Adipati Karna sebagai karakter paling kasihan di Mahabharata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar