Rabu, 30 Agustus 2017

Mulai Dipanggil Pak, Apakah Usia 23 Sudah Tua?



Umur 23 itu udah tua belum, sih?

Pertanyaan di atas adalah sebuah pertanyaan sederhana yang akhir-akhir ini sering menggema di dalam kepala saya. Dan misalkan ada seseorang yang datang kepada saya lalu menanyakan pertanyaan persis seperti apa yang saya tulis di paragraf pertama, maka saya rasa saya akan menjawab dengan cepat, BELUM. Alasannya cukup simple. Saat ini saya berusia 23 tahun dan belum merasa tua.

Ya, setidaknya hingga beberapa saat yang lalu. Sampai akhirnya saya menyadari jika akhir-akhir ini banyak yang memanggil saya dengan sebutan PAK! Ya, tepat sekali … PAK! Sebuah kata yang sering kali digunakan untuk menyingkat kata BAPAK. Masalahnya kata PAK atau BAPAK ini biasanya digunakan untuk memanggil pria tua. Nah, jadi sebenarnya usia 23 itu udah tua belum?

Sebelum menyimpulkan apakah umur 23 itu udah tua atau belum, ada baiknya saya menganalisa dulu kenapa saya bisa dipanggil pak. Saya curiga hal itu terjadi karena penampilan saya. Bagi seseorang yang memiliki bentuk badan yang gemuk, adalah hal yang wajar jika saya terlihat beberapa tahun lebih tua. Lalu kulit saya yang sawo matang cenderung gelap saya rasa juga berpengaruh cukup banyak. Ditambah lagi, dalam dua tahun terakhir saya cukup malas untuk mencukur jenggot dan kumis. Hmm, sebuah kombinasi sempurna untuk membuat saya terlihat seperti bapak-bapak gemuk berkulit gelap yang brewokan.

Sebenarnya, nggak semua orang juga sih yang memanggil saya pak. Paling cuma orang-orang yang kerja di tempat di mana mereka dituntut untuk terlihat seramah dan sesopan mungkin. Meskipun, kalau saya perhatikan keramahan dan kesopanan mereka terkesan sangat-sangat palsu. Sekedar memenuhi tuntutan pekerjaan karena itu termasuk dalam standar operasional prosedur tempat mereka bekerja.

Yang saya maksud adalah pegawai bank dan kasir minimarket. Kan mereka biasanya ramah banget, tuh. Tapi keramahannya nggak pernah alami. Dan akhir-akhir ini, ketika saya masuk ke bank, tak jarang dengan ramahnya teller bank tersebut akan berkata …

“Dengan Pak Faisal, ya. Ada yang bisa saya bantu?”

Atau ketika pergi ke minimarket …

“Isi pulsanya sekalian, pak?”

Tebak bagaimana perasaan saya? Jujur awalnya saya bingung. Maksud saya … hah?! Pak?! Bapak?! Ini si teller beneran ngomong sama saya? Kenapa dia bisa berpikir saya adalah seorang bapak-bapak?   

Sekali lagi, jujur awalnya saya bingung. Pengen marah tapi kok aneh ya kalau harus marah. Tapi jujur, pas dipanggil pak sama mbak teller, saya pengen banget teriak ke mbaknya …

“Mbak! Kok mbak panggil saya pak, sih? Saya belum punya anak, lho! Bahkan saya belum punya istri! Bahkan saya belum punya pacar! Bahkan saya … umm, belum pernah pacaran sejak lahir!”


Terkadang saya juga pengen banget ngasih tahu ke mbak teller kalau saya ini bahkan belum lulus kuliah. Artinya apa? Artinya, kalau kerja di bank dan jadi teller, bukannya minimal S1, ya? Itu artinya si mbak teller harusnya lebih tua dong dari saya. Kok saya dipanggil pak, sih? Why? Kenapa? Harusnya kan dipanggil dek. Soalnya dia lebih tua. Kan enak gitu …

“Dengan Dek Faisal, ya? Ada yang bisa kakak bantu?”

Nah, kan enak kalau kayak gitu.

Tapi, sekali lagi nggak semua orang memanggil saya pak. Terutama mereka yang beramah tamah tanpa tuntutan dari perusahaan. Tukang tambal ban misalnya. Pegawai pom bensin juga. Bahkan tadi pagi saat petugas Telkom datang ke rumah saya untuk memperbaiki wifi di rumah, dia juga memanggil saya MAS. Sekali lagi MAS! Bukan PAK!

Kemudian pertanyaan itu lagi-lagi muncul. Jadi ini sebenarnya umur 23 itu udah tua belum? Kalau saya sih sekali lagi masih merasa kalau saya belum tua. Ahh, saya punya jawaban yang lebih baik …

Umur 23 itu masih muda, kok. Hanya saja sudah terlalu tua untuk bersikap kekanakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar