Rabu, 09 Agustus 2017

Audisi SUCA 3 Jogjakarta



Pernah nggak sih kamu pergi ke suatu tempat, terus di tempat itu, kamu berkata dalam hati … “Ini ngapain sih aku di sini?” terus kamu mulai berpikir … “Kayaknya mending pulang aja, deh”. Gimana? Pernah nggak ngerasain yang kayak gitu? Kalau saya sih pernah. Tepatnya tiga hari yang lalu. Di Jogja, pas ikutan audisi Stand Up Comedy Academy 3 Indosiar.

Jadi awalnya saya memang nggak berniat untuk ikutan audisi karena faktanya saya sudah lama banget nggak stand up. Terakhir kali saya pegang mic untuk ngelawak itu bulan November 2016. Udah lama banget. Saya pikir, saya sama sekali nggak punya alasan apapun untuk ikutan. Tapi pada akhirnya, saya tetap berangkat.

Pada hari sabtu, 5 Agustus 2017 kemarin, saya pergi ke Jogja bersama teman saya dari komunitas Stand Up UMS, Prince Victory. Kunjungan kami ke Jogja tidak lain dan tidak bukan untuk ikutan audisi SUCA 3. Sebuah audisi yang sekali lagi sebenarnya jujur saja nggak pengen saya ikuti. Kalau bukan karena Prince yang terus-menerus mengajak saya, sumpah saya beneran nggak akan pergi ke Jogja. Ok, itung-itung mengantar teman, lah. Soalnya si Prince ini nggak punya motor. Belakangan saya jadi curiga jangan-jangan dia begitu ngotot ngajakin saya karena butuh tumpangan soalnya nggak punya motor. Tapi nggak papa juga. Sekali-sekali bantuin teman

Beberapa hari sebelum berangkat ke Jogja, saya sempat ngirim WA ke Rilo, teman saya dari komunitas Stand Up UMS juga yang kini sudah lulus dan kerja di Jogja jadi fisioterapis. Meski udah kerja, tapi dia masih aktif stand up dan gabung sama komunitas Stand up Indo Jogja. Saya mengajak Rilo untuk ikutan audisi. Awalnya Rilo menolak. Katanya pengen fokus jadi fisioterapis dan nggak minat jadi comic professional. Tapi akhirnya di hari audisi dia datang juga. Katanya dia datang cuma buat ketemu saya dan Prince. Jadi, SUCA 3 secara nggak langsung bisa juga disebut sebagai momen reunian stand up UMS.

Ok, saya yang nggak punya alasan apapun untuk ikutan audisi kini jadi punya beberapa alasan. Pertama, jadi ojek yang nggak dibayar buat Prince. Dia kayaknya sangat berhasrat dan bahkan sangat yakin bisa lolos ke Jakarta. Kasian kalau bakatnya nggak tercium pihak Indosiar hanya karena nggak ada yang nganterin. Kedua, pengen reunian sama Rilo. Dulu waktu Rilo masih kuliah di Solo, saya sering banget berkunjung ke kosnya. Jadi momen reuni selalu menjadi sesuatu yang menyenangkan. Ketiga, karena di kampus saya sedang berlangsung semester pendek, siapa tahu ikutan yang beginian bisa mengusir penat.

Jadi pada akhirnya saya punya beberapa alasan. Tapi, sama sekali nggak terpikir di benak saya untuk lolos ke Jakarta. Jadi alasannya ya cuma tiga itu tadi. Mengantar teman, reuni sama teman lama, sama refresing. Karena tanpa target, saya sama sekali nggak terbebani.


Eh, hampir ketinggalan. Ada satu alasan lagi yang ternyata belum saya sebut. Saya sangat penasaran sebenarnya audisi SUCA itu seperti apa, sih? Karena sebelumnya saya pernah ikut audisi SUCI Kompas TV dua tahun lalu, saya jadi bertanya-tanya apakah sama antara audisi SUCA dan SUCI yang pernah saya ikuti dulu.

Rasa penasaran saya langsung terjawab ketika saya sampai di lokasi audisi. Dan jawabannya adalah sangat berbeda. Bedanya jauh banget.

Di SUCI, siapa yang datang duluan, maka dia yang akan maju audisi terlebih dulu. Di SUCA beda, ada sesuatu yang disebut fast track. Jadi ada perlakuan khusus untuk orang-orang tertentu. Peserta yang bisa masuk jalur fast track adalah mereka yang tergabung dalam komunitas dan minimal berjumlah 10 orang. Jadi pas kami bertiga pengen masuk fast track ditolak sama panitianya karena jumlahnya nggak memenuhi syarat. Kalau kamu bukan anggota komunitas, apakah ada cara lain buat masuk jalur fast track? Ada, caranya adalah dengan membeli produknya sponsor, Floridina dan … saya lupa yang satunya dengan harga 50.000.

Karena lewat jalur reguler, maka kami bertiga harus nunggu yang lewat jalur fast track audisi dulu. Nunggunya lama banget. Cukup lama untuk bisa bikin saya ngomong dalam hati “ini ngapain sih aku di sini?” sama “kayaknya mending pulang aja, deh”. Antri dari dzuhur, dapat giliran audisi setelah maghrib. Mungkin sekitar setengah tujuh. Sekali lagi, lama banget.
Lanjut ke cerita.

Ok, jadi habis maghrib kami bertiga akhirnya dipanggil sama panitia. Tempat audisinya sangat berbeda dari SUCI. Kalau di SUCI, comic langsung ketemu sama juri dan disaksikan secara langsung sama penonton, di SUCA enggak. Jadi kita masuk ke dalam bilik. Biliknya banyak. Ada 4 kalau nggak salah. Di dalam bilik itu hanya ada satu orang. Saya nggak tahu orang itu siapa. Tapi kayaknya orang penting di Indosiar. Audisi yang dibilik itu disebut audisi tahap 1.

Kalau lolos dari tahap 1, maka akan lolos ke tahap 2. Di sana hanya ada satu ruangan. Belum ada penontonnya. Tapi ada 3 orang. Satu comic pro –waktu itu Awwe-, dan lagi-lagi orang penting di Indosiar. Di tahap 2 ini dicari 30 orang terbaik yang akan lolos ke tahap 3.

Tahap 3 dilaksanakan hari minggu. Kalau yang ini udah disaksikan sama penonton langsung. Lokasinya di café kalau nggak salah. Bahkan denger-denger jurinya adalah Raditya Dika. Kalau di tahap 3 lolos, berarti lolos ke Jakarta.

Tuh, kan. Beda banget sama audisi SUCI yang nggak pakai tahap-tahapan. Pokoknya datang langsung stand up gitu aja. Sekali doang. Jadi, bisa dibilang menurut saya audisi SUCI lebih simple dari audisi SUCA.

Balik ke cerita

Bertanya-tanya nggak sih kira-kira saya sampai tahap mana di audisi kemarin? Ok, saya kasih tahu. Saya bahkan nggak lolos di audisi tahap 1. Hehe. Parah banget emang. Jadi pas masuk bilik di tahap 1, ada seorang ibu-ibu yang udah ada di dalam.

“Langsung aja mas,” kata ibu itu.

“Langsung stand up nih, buk?” tanya saya yang hanya dibalas anggukan sama ibu itu.

Mulailah saya stand up. Tapi, daripada dibilang stand up, menurut saya malah lebih mirip kayak lagi ngebadanin tapi ada yang nonton. Berasa kayak lagi combud sama ibu-ibu. Dan setelah saya selesai …

“Materinya kurang, Mas,” kata ibu itu. Saya agak bingung. Kurangnya di bagian mana?

“Kurang?” tanya saya penasaran.

“Iya, itu tadi belum ada 3 menit. Entar kalau kamu lolos, kamu akan kesusahan bikin materi yang panjang.”

Saya hanya mengangguk merespon ucapan sang ibu.

“Kamu ikut komunitas?” tanya ibu itu.

“Iya,” jawab saya. Padahal saya udah lama nggak aktif. Eh, komunitasnya ding yang lama nggak aktif.

“Mending kamu latihan lagi, ya. Biar bisa nulis materi yang panjang.”

Akhirnya saya keluar dari bilik. Kemudian saya sadar bahwa tadi stand up saya memang kurang panjang. Bahkan saya cuma melempar kurang lebih 5 bit. Di luar, saya ketemu Prince. Katanya dia juga gagal. Alasannya sama seperti saya, kurang panjang. Parahnya, prince mengaku kalau dia cuma melempar 3 bit. Ini mah lebih parah dari saya. Haha. Saya jadi bertanya-tanya dari mana datangnya rasa percaya diri Prince sebelum audisi kalau ternyata pas audisi cuma 3 bit?

Sementara saya dan Prince gagal di tahap pertama, Rilo justru lolos ke tahap kedua. Padahal dia berangkat audisi niatnya hanya karena pengen reuni stand up UMS. Tapi justru malah dia yang lolos. Namun sayang sekali, Rilo gagal masuk tahap 3. Batal punya teman artis, deh. Padahal saya sangat berharap dia bisa lolos Jakarta. Kalau punya teman artis kan bisa mendompleng ketenaran. Hehe.

Terakhir, meski sejak awal udah bilang ke diri sendiri untuk nggak berekspektasi, tetap aja gagal itu ternyata nggak enak, ya. Next time, ikutan audisi lagi? Pikir-pikir dulu, deh.

BACA JUGA:

2 komentar: