Rabu, 30 Agustus 2017

Mulai Dipanggil Pak, Apakah Usia 23 Sudah Tua?



Umur 23 itu udah tua belum, sih?

Pertanyaan di atas adalah sebuah pertanyaan sederhana yang akhir-akhir ini sering menggema di dalam kepala saya. Dan misalkan ada seseorang yang datang kepada saya lalu menanyakan pertanyaan persis seperti apa yang saya tulis di paragraf pertama, maka saya rasa saya akan menjawab dengan cepat, BELUM. Alasannya cukup simple. Saat ini saya berusia 23 tahun dan belum merasa tua.

Ya, setidaknya hingga beberapa saat yang lalu. Sampai akhirnya saya menyadari jika akhir-akhir ini banyak yang memanggil saya dengan sebutan PAK! Ya, tepat sekali … PAK! Sebuah kata yang sering kali digunakan untuk menyingkat kata BAPAK. Masalahnya kata PAK atau BAPAK ini biasanya digunakan untuk memanggil pria tua. Nah, jadi sebenarnya usia 23 itu udah tua belum?

Sebelum menyimpulkan apakah umur 23 itu udah tua atau belum, ada baiknya saya menganalisa dulu kenapa saya bisa dipanggil pak. Saya curiga hal itu terjadi karena penampilan saya. Bagi seseorang yang memiliki bentuk badan yang gemuk, adalah hal yang wajar jika saya terlihat beberapa tahun lebih tua. Lalu kulit saya yang sawo matang cenderung gelap saya rasa juga berpengaruh cukup banyak. Ditambah lagi, dalam dua tahun terakhir saya cukup malas untuk mencukur jenggot dan kumis. Hmm, sebuah kombinasi sempurna untuk membuat saya terlihat seperti bapak-bapak gemuk berkulit gelap yang brewokan.

Sebenarnya, nggak semua orang juga sih yang memanggil saya pak. Paling cuma orang-orang yang kerja di tempat di mana mereka dituntut untuk terlihat seramah dan sesopan mungkin. Meskipun, kalau saya perhatikan keramahan dan kesopanan mereka terkesan sangat-sangat palsu. Sekedar memenuhi tuntutan pekerjaan karena itu termasuk dalam standar operasional prosedur tempat mereka bekerja.

Yang saya maksud adalah pegawai bank dan kasir minimarket. Kan mereka biasanya ramah banget, tuh. Tapi keramahannya nggak pernah alami. Dan akhir-akhir ini, ketika saya masuk ke bank, tak jarang dengan ramahnya teller bank tersebut akan berkata …

“Dengan Pak Faisal, ya. Ada yang bisa saya bantu?”

Atau ketika pergi ke minimarket …

“Isi pulsanya sekalian, pak?”

Tebak bagaimana perasaan saya? Jujur awalnya saya bingung. Maksud saya … hah?! Pak?! Bapak?! Ini si teller beneran ngomong sama saya? Kenapa dia bisa berpikir saya adalah seorang bapak-bapak?   

Sekali lagi, jujur awalnya saya bingung. Pengen marah tapi kok aneh ya kalau harus marah. Tapi jujur, pas dipanggil pak sama mbak teller, saya pengen banget teriak ke mbaknya …

“Mbak! Kok mbak panggil saya pak, sih? Saya belum punya anak, lho! Bahkan saya belum punya istri! Bahkan saya belum punya pacar! Bahkan saya … umm, belum pernah pacaran sejak lahir!”


Terkadang saya juga pengen banget ngasih tahu ke mbak teller kalau saya ini bahkan belum lulus kuliah. Artinya apa? Artinya, kalau kerja di bank dan jadi teller, bukannya minimal S1, ya? Itu artinya si mbak teller harusnya lebih tua dong dari saya. Kok saya dipanggil pak, sih? Why? Kenapa? Harusnya kan dipanggil dek. Soalnya dia lebih tua. Kan enak gitu …

“Dengan Dek Faisal, ya? Ada yang bisa kakak bantu?”

Nah, kan enak kalau kayak gitu.

Tapi, sekali lagi nggak semua orang memanggil saya pak. Terutama mereka yang beramah tamah tanpa tuntutan dari perusahaan. Tukang tambal ban misalnya. Pegawai pom bensin juga. Bahkan tadi pagi saat petugas Telkom datang ke rumah saya untuk memperbaiki wifi di rumah, dia juga memanggil saya MAS. Sekali lagi MAS! Bukan PAK!

Kemudian pertanyaan itu lagi-lagi muncul. Jadi ini sebenarnya umur 23 itu udah tua belum? Kalau saya sih sekali lagi masih merasa kalau saya belum tua. Ahh, saya punya jawaban yang lebih baik …

Umur 23 itu masih muda, kok. Hanya saja sudah terlalu tua untuk bersikap kekanakan.

Rabu, 23 Agustus 2017

Setelah Nonton N.H.K ni Youkuso [Review Anime]



Kemarin saya nonton anime jadul. Judulnya N.H.K ni Youkuso. Anime yang setelah saya cari infonya di internet, ternyata tayang pada tahun 2006. Jadul banget, kan?

Saya nemuin anime itu juga nggak sengaja. Jadi beberapa waktu yang lalu, saya pernah diajak ketemuan sama teman lama yang udah lama banget nggak ketemu. Saya kira waktu itu dia pengen ngajakin nostalgia aja. Semacam mengenang kisah-kisah masa lalu. Tapi ternyata, saya malah diajak gabung MLM.

Karena jengkel sama MLM, saya langsung meluncur ke google. Mencari tulisan-tulisan di blog-blog orang yang sebel juga sama MLM. Di tengah pencarian itu, nggak sengaja saya nemu sebuah video di Youtube. Judulnya, MASIH BELUM PERCAYA MLM PENIPU? TONTON ANIME INI. Tanpa membuang waktu saya langsung klik video itu.

Hal pertama yang terlintas di benak saya pas nonton video itu, saya bertanya-tanya, ini anime judulnya apa, ya? Saya coba scroll ke bawah siapa tahu ada orang yang ngasih info tentang judul anime itu di kolom komentar. Dan ternyata, dari kolom komentar saya benar-benar mendapatkan info tentang judul anime di video itu. Singkat cerita, saya akhirnya menonton anime yang punya nama lain Welcome to N.H.K ini.

Ngomong-ngomong kisah tentang saya yang pernah ditawari gabung MLM sama teman saya pernah saya ceritakan di SINI.
***
SINOPSIS
Bercerita tentang seorang pemuda hikikomori berusia 22 tahun bernama Sato Tatsuhiro yang berusaha lepas dari belenggu hikikomorinya.
***
Kesan saya tentang anime ini …

KELAM
Nggak tahu kenapa, menurut saya anime ini penuh dengan aura yang sangat kelam. Bukan tentang kejahatan atau pembunuhan, sih. Tapi keputusasaan. Ya, anime ini penuh dengan nuansa keputusasaan, kegagalan. Mulai dari ketipu MLM sampai dengan pengen bunuh diri. Sekali lagi, kelam!

LUCU
Tapi meski kelam, anime ini tetap mampu memancing tawa. Jadi meski kelam tapi tetap lucu. Buat yang belum tahu, ini adalah sesuatu yang disebut dengan dark/black comedy. Jadi mencari kelucuan dari sebuah tragedi.

By the way, bagian terlucu menurut saya adalah saat sang karakter utama terjebak dalam sebuah kelompok yang ingin bunuh diri di pulau terpencil. Sumpah, menurut saya bagian itu lucu banget.

KARAKTER YANG MENYEDIHKAN
Saya sangat suka dengan anime yang karakternya hanya sedikit tapi efektif. Daripada banyak tapi nggak tergali semuanya. Dan untungnya, karakter-karakter yang muncul di anime ini sukses membuat N.H.K ni Youkuso semakin terasa kelam.

Tatsuhiro Sato sang hikikomori, Nakahara Misaki yang punya kenangan masa lalu yang buruk dengan ayah tirinya, Yamazaki Kaoru otaku garis keras yang ingin membuktikan kalau dirinya bukan pecundang –meski gagal-, Kashiwa Hitomi yang berpikir kalau dunia penuh konspirasi dan pernah mencoba untuk bunuh diri, serta Kobayashi Megumi yang terjebak sangat jauh dalam bisnis MLM untuk membiayai kakaknya yang hikikomori. Mereka semua sukses membuat N.H.K ni Youkuso semakin terasa kelam.

MUSIK YANG KELAM
Semua musik yang ada di anime ini, entah itu opening, ending, atau BGMnya, menurut saya memancarkan aura kesedihan yang sangat kental. Saya suka dengan BGM di anime ini. BGM yang paling kental dengan aura kesedihan menurut saya adalah yang permainan gitar akustik terus ada suara harmonikanya.
***
Kesan lain selain kelam yang saya dapat dari anime ini adalah banyak pesan moralnya. Tapi tetap, pesan moralnya disampaikan dengan cara yang kelam. Setidaknya, ada dua pesan moral dari anime N.H.K ni Youkuso yang sampai sekarang masih nempel di otak saya.

BERDAMAI DENGAN KEADAAN
Yamazaki yang otaku parah itu sebenarnya adalah pewaris peternakan milik orang tuanya. Jadi singkatnya, kelak suatu saat peternakan milik orang tua Yamazaki akan menjadi hak dari Yamazaki. Tapi, daripada mengurus ternak, Yamazaki lebih memilih untuk mengejar passionnya di bidang perotakuan.

Yamazaki nekat merantau ke Tokyo meski nggak didukung orang tuanya. Kuliah di jurusan pembuatan game. Kemudian bersama Sato membuat sebuah galge. Semua itu semata untuk mengejar passion. Tapi apa yang diharapkan nggak berjalan sesuai rencana. Kesedihan dan kegagalan lebih dominan di dalam perjalanan hidupnya semasa di Tokyo.

Suatu saat, Yamazaki ditelpon sama ibunya. Ayahnya sakit keras dan nggak bisa lagi mengurus peternakan. Jadi, mau nggak mau ibunya minta Yamazaki untuk mengurus ternak. Karena, kalau nggak ada yang mengurus ternak, maka keluarga Yamazaki sama sekali nggak punya pendapatan. Jangankan untuk berobat ayah Yamazaki, untuk hidup sehari-hari aja nggak ada kalau ternaknya nggak jalan.

Maka, dengan berat hati Yamazaki akhirnya berdamai dengan keadaan dan balik ke kampung halamannya. Meninggalkan Tokyo serta semua passion di bidang otakunya. Dan apa yang terjadi? Di kampung, ternyata Yamazaki mendapatkan kebahagiaan. Sesuatu yang nggak pernah dia dapat pas di Tokyo.

MALAS KARENA NYAMAN
Anime ini seolah ngasih tahu saya kalau kenyamanan membuat kita merasa malas. Sato bisa hidup sebagai hikikomori, nggak kerja atau apapun karena masih diberi kiriman uang dari keluarganya. Jadi meski nggak kerja dia masih bisa hidup. Selain itu dia juga bertetangga sama Yamazaki. Jadi kalau ada apa-apa masih ada orang yang bisa diandalkan.

Ketika Sato yang hikikomori nggak dikasih kiriman uang lagi dari keluarganya dan Yamazaki pulang kampung, itu adalah bencana besar untuk Sato. Sempat berhari-hari nggak makan dan nggak tahu tentang apa yang harus dia lakukan. Tapi Sato sadar, kalau terus seperti itu, dia akan mati. Dan secara ajaib, dengan memaksakan diri dia sembuh dari hikikomorinya dan mulai bekerja.

Tuh kan. Kenyamanan membuat kita merasa malas. Sebaliknya, manusia akan mulai bergerak ketika merasa dirinya berada dalam situasi terdesak. Hmm … insting manusia.  

Rabu, 16 Agustus 2017

Setelah Nonton Saekano Season 2 [Review Anime]



Jika dipikir-pikir, ternyata saya udah cukup lama nggak nonton anime. Saya menyadari itu belum terlalu lama. Jadi, beberapa minggu yang lalu, saya ketemu saya teman yang juga suka nonton anime di parkiran kampus. Waktu lagi asik ngobrol, nggak sengaja saya melihat HP teman saya yang memasang gambar wallpaper karakter cewek anime. Saya tanya dong …

“Siapa itu, bro?” tanya saya.

“Kato Megumi,” jawab teman saya.

Kato Megumi? Kayak pernah dengar namanya.

“Dari anime apa, ya?” tanya saya lagi.

“Saekano,”

Oh, iya. Baru ingat saya kalau Kato Megumi itu dari anime Saekano. Tapi, tunggu! Saekano kan anime yang udah rilis beberapa tahun yang lalu? Kenapa teman saya memasang wallpaper dengan gambar karakter dari anime lawas? Tunggu! Atau jangan-jangan … Saekano udah ada season 2nya?

Beberapa saat setelahnya, saya mulai sadar bahwa ternyata Saekano benar-benar udah ada season 2nya. Selain itu, saya juga mulai sadar kalau ternyata saya udah cukup lama nggak nonton anime. Hehe.

Singkat cerita, saya akhirnya nonton Saekano season 2. Dan karena udah ditonton, nggak afdhol rasanya kalau nggak diriview sekalian. Meski udah tamat dua bulan yang lalu, nggak papa juga kan kalau baru ngeriview sekarang? Ah, nggak papa, lah.

Ok, jadi begini …

Saekano season 2 atau yang sebenarnya memiliki nama asli Saenai Heroine no Sodatekata flat adalah sebuah anime adaptasi dari light novel berjudul sama karangan Fumiaki Maruto. Anime yang dalam Bahasa Inggris juga dikenal sebagai How to Raise a Boring Girlfriend adalah lanjutan dari anime season satunya yang tayang dua tahun lalu.
***
SINOPSIS
Musim kedua anime Saekano atau Saenai Heroine no Sodatekata yang ceritanya berfokus pada Aki Tomoya, seorang otaku yang ingin membuat game dengan menjadikan teman sekelasnya, Katou Megumi sebagai heroine (aktor utama perempuan). Aki Tomoya juga mengajak dua gadis lainnya, Sawamura Spencer Eriri dan Kasumigaoka Utaha sebagai seorang ilustrator dan penulis skenario.
***
Jujur saya suka anime ini. Saya memang bukan orang yang ahli dalam menilai sebuah kisah atau cerita. Tapi, sebagai orang awam, bagi saya bagus nggaknya suatu anime itu sangat simple. Kalau saya suka berarti menurut saya bagus. Dan sekali lagi, jujur saya suka anime Saekano season 2.

Setidaknya, ada beberapa hal yang membuat saya suka sama anime ini. Di antaranya adalah …

MUSIK
Bagi telinga awam saya, musik di anime ini cukup bagus. Opening sama endingnya bagus. Tapi kalau saya suruh memilih, kayaknya saya akan pilih ending songnya. Dari mana saya bisa berkata bagus? Sederhana saja. Setiap kali saya menonton Saekano season 2, saya nggak pernah men-skip lagunya. Saya dengerin sampai habis. Atau at least, saya tinggal ke toilet. Hehe.

Saya juga suka BGMnya. Menurut saya BGMnya bagus. Bahkan jika dibandingkan dengan BGM di Saekano season 1 sekalipun. Saya sering bilang di review-review anime sebelumnya, bagi saya BGM adalah salah satu kunci penting agar anime menarik ditonton.

MENDEBARKAN
Saya nggak yakin apakah mendebarkan adalah kata yang tepat. Hanya saja, yang saya rasakan adalah saya sedikit deg-degan ketika menonton Saekano season 2. Konfliknya saya suka. Lebih rumit jika dibandingkan dengan yang season 1. Jadi, bisa dibilang season 2 ini lebih mendebarkan daripada Saekano yang season 1.

Selain itu, ketika satu episode berakhir, biasanya saya akan sangat nggak sabar untuk segera nonton episode berikutnya. Kayak seolah pengen cepetan tahu kelanjutan ceritanya. By the way, yang seperti itu, cocok nggak sih disebut mendebarkan?

REALISTIS
Meskipun ini cerita fiksi, yang bahkan karakternya hanya hasil gambaran manusia belaka, tapi menurut saya ada satu momen di Saekano season 2 yang membuat saya berpikir bahwa anime ini cukup realistis.

Momen itu terjadi di episode-episode akhir menjelang anime ini tamat. Lebih tepatnya, ketika Sawamura Eriri dan Kasumigaoka Utaha setuju bergabung sama perusahaan game yang gede dan meninggalkan timnya Aki Tomoya. Menurut saya ini sangat realistis dan logis.

Kenapa? Karena gini. Dua gadis itu rela meninggalkan cinta yang masih belum jelas kedepannya dan tim yang udah nyaman tapi kemungkinan jika terus berada di tim itu, kemampuan mereka nggak akan berkembang. Ya, dua gadis itu lebih memilih pilihan yang realistis. Bergabung dengan perusahaan gede yang di situ potensi mereka kemungkinan bisa terasah dengan baik. Sekali lagi realistis. Saya suka.

SAWAMURA ERIRI
Apa yang saya suka dari Eriri? Saya suka momen-momen ketika Eriri tampil dengan rambut panjang pirangnya yang terurai, dengan mengenakan kacamata sedang terlihat fokus menggambar. Sebagai pecinta gadis berkacamata, tentu melihat momen seperti itu rasanya kayak dapat kado terindah. Dan yang saya suka, di season 2 ini Eriri sering terlihat seperti itu.
Eriri...!!!!
KATO MEGUMI
Banyak hal keren di anime ini. Tapi bagi saya, nggak ada yang lebih menakjubkan dari Kato Megumi yang berambut panjang. Hanya ada satu kata yang tepat untuk menggambarkan Megumi berambut panjang, sempurna!

Jujur, sejak season 1 Megumi adalah karakter cewek favorit saya. Jadi, jika harus memilih tentang siapa yang akan saya dukung untuk jadian sama Aki Tomoya, jawaban saya jelas Megumi. Tapi setelah lihat Megumi berambut panjang, saya jadi males dukung Megumi sama Tomoya. Karena megumi, mending sama saya. Hehe.
Megumi...!!!!
Udah, kira-kira itu hal-hal yang saya suka dari Saekano season 2. Sebenarnya saya sedang mencari-cari di mana kurangnya anime ini. Sempat kesulitan, tapi akhirnya saya sadar. Ternyata Saekano season 2 nggak selucu Saekano season 1. Seenggaknya itu yang saya rasakan, sih.

Tapi, bodo amat tentang Saekano season 1 lebih lucu. Seenggaknya, Saekano season 2 punya Kato Megumi berambut panjang. Kalau udah gitu, semua perdebatan langsung kelar. Hehe.

Terakhir, saya berharap kalau Saekano bakalan ada season 3nya. Meski saya nggak terlalu yakin kalau itu akan terjadi. Tapi, apa salahnya berharap?  

Rabu, 09 Agustus 2017

Audisi SUCA 3 Jogjakarta



Pernah nggak sih kamu pergi ke suatu tempat, terus di tempat itu, kamu berkata dalam hati … “Ini ngapain sih aku di sini?” terus kamu mulai berpikir … “Kayaknya mending pulang aja, deh”. Gimana? Pernah nggak ngerasain yang kayak gitu? Kalau saya sih pernah. Tepatnya tiga hari yang lalu. Di Jogja, pas ikutan audisi Stand Up Comedy Academy 3 Indosiar.

Jadi awalnya saya memang nggak berniat untuk ikutan audisi karena faktanya saya sudah lama banget nggak stand up. Terakhir kali saya pegang mic untuk ngelawak itu bulan November 2016. Udah lama banget. Saya pikir, saya sama sekali nggak punya alasan apapun untuk ikutan. Tapi pada akhirnya, saya tetap berangkat.

Pada hari sabtu, 5 Agustus 2017 kemarin, saya pergi ke Jogja bersama teman saya dari komunitas Stand Up UMS, Prince Victory. Kunjungan kami ke Jogja tidak lain dan tidak bukan untuk ikutan audisi SUCA 3. Sebuah audisi yang sekali lagi sebenarnya jujur saja nggak pengen saya ikuti. Kalau bukan karena Prince yang terus-menerus mengajak saya, sumpah saya beneran nggak akan pergi ke Jogja. Ok, itung-itung mengantar teman, lah. Soalnya si Prince ini nggak punya motor. Belakangan saya jadi curiga jangan-jangan dia begitu ngotot ngajakin saya karena butuh tumpangan soalnya nggak punya motor. Tapi nggak papa juga. Sekali-sekali bantuin teman

Beberapa hari sebelum berangkat ke Jogja, saya sempat ngirim WA ke Rilo, teman saya dari komunitas Stand Up UMS juga yang kini sudah lulus dan kerja di Jogja jadi fisioterapis. Meski udah kerja, tapi dia masih aktif stand up dan gabung sama komunitas Stand up Indo Jogja. Saya mengajak Rilo untuk ikutan audisi. Awalnya Rilo menolak. Katanya pengen fokus jadi fisioterapis dan nggak minat jadi comic professional. Tapi akhirnya di hari audisi dia datang juga. Katanya dia datang cuma buat ketemu saya dan Prince. Jadi, SUCA 3 secara nggak langsung bisa juga disebut sebagai momen reunian stand up UMS.

Ok, saya yang nggak punya alasan apapun untuk ikutan audisi kini jadi punya beberapa alasan. Pertama, jadi ojek yang nggak dibayar buat Prince. Dia kayaknya sangat berhasrat dan bahkan sangat yakin bisa lolos ke Jakarta. Kasian kalau bakatnya nggak tercium pihak Indosiar hanya karena nggak ada yang nganterin. Kedua, pengen reunian sama Rilo. Dulu waktu Rilo masih kuliah di Solo, saya sering banget berkunjung ke kosnya. Jadi momen reuni selalu menjadi sesuatu yang menyenangkan. Ketiga, karena di kampus saya sedang berlangsung semester pendek, siapa tahu ikutan yang beginian bisa mengusir penat.

Jadi pada akhirnya saya punya beberapa alasan. Tapi, sama sekali nggak terpikir di benak saya untuk lolos ke Jakarta. Jadi alasannya ya cuma tiga itu tadi. Mengantar teman, reuni sama teman lama, sama refresing. Karena tanpa target, saya sama sekali nggak terbebani.


Eh, hampir ketinggalan. Ada satu alasan lagi yang ternyata belum saya sebut. Saya sangat penasaran sebenarnya audisi SUCA itu seperti apa, sih? Karena sebelumnya saya pernah ikut audisi SUCI Kompas TV dua tahun lalu, saya jadi bertanya-tanya apakah sama antara audisi SUCA dan SUCI yang pernah saya ikuti dulu.

Rasa penasaran saya langsung terjawab ketika saya sampai di lokasi audisi. Dan jawabannya adalah sangat berbeda. Bedanya jauh banget.

Di SUCI, siapa yang datang duluan, maka dia yang akan maju audisi terlebih dulu. Di SUCA beda, ada sesuatu yang disebut fast track. Jadi ada perlakuan khusus untuk orang-orang tertentu. Peserta yang bisa masuk jalur fast track adalah mereka yang tergabung dalam komunitas dan minimal berjumlah 10 orang. Jadi pas kami bertiga pengen masuk fast track ditolak sama panitianya karena jumlahnya nggak memenuhi syarat. Kalau kamu bukan anggota komunitas, apakah ada cara lain buat masuk jalur fast track? Ada, caranya adalah dengan membeli produknya sponsor, Floridina dan … saya lupa yang satunya dengan harga 50.000.

Karena lewat jalur reguler, maka kami bertiga harus nunggu yang lewat jalur fast track audisi dulu. Nunggunya lama banget. Cukup lama untuk bisa bikin saya ngomong dalam hati “ini ngapain sih aku di sini?” sama “kayaknya mending pulang aja, deh”. Antri dari dzuhur, dapat giliran audisi setelah maghrib. Mungkin sekitar setengah tujuh. Sekali lagi, lama banget.
Lanjut ke cerita.

Ok, jadi habis maghrib kami bertiga akhirnya dipanggil sama panitia. Tempat audisinya sangat berbeda dari SUCI. Kalau di SUCI, comic langsung ketemu sama juri dan disaksikan secara langsung sama penonton, di SUCA enggak. Jadi kita masuk ke dalam bilik. Biliknya banyak. Ada 4 kalau nggak salah. Di dalam bilik itu hanya ada satu orang. Saya nggak tahu orang itu siapa. Tapi kayaknya orang penting di Indosiar. Audisi yang dibilik itu disebut audisi tahap 1.

Kalau lolos dari tahap 1, maka akan lolos ke tahap 2. Di sana hanya ada satu ruangan. Belum ada penontonnya. Tapi ada 3 orang. Satu comic pro –waktu itu Awwe-, dan lagi-lagi orang penting di Indosiar. Di tahap 2 ini dicari 30 orang terbaik yang akan lolos ke tahap 3.

Tahap 3 dilaksanakan hari minggu. Kalau yang ini udah disaksikan sama penonton langsung. Lokasinya di café kalau nggak salah. Bahkan denger-denger jurinya adalah Raditya Dika. Kalau di tahap 3 lolos, berarti lolos ke Jakarta.

Tuh, kan. Beda banget sama audisi SUCI yang nggak pakai tahap-tahapan. Pokoknya datang langsung stand up gitu aja. Sekali doang. Jadi, bisa dibilang menurut saya audisi SUCI lebih simple dari audisi SUCA.

Balik ke cerita

Bertanya-tanya nggak sih kira-kira saya sampai tahap mana di audisi kemarin? Ok, saya kasih tahu. Saya bahkan nggak lolos di audisi tahap 1. Hehe. Parah banget emang. Jadi pas masuk bilik di tahap 1, ada seorang ibu-ibu yang udah ada di dalam.

“Langsung aja mas,” kata ibu itu.

“Langsung stand up nih, buk?” tanya saya yang hanya dibalas anggukan sama ibu itu.

Mulailah saya stand up. Tapi, daripada dibilang stand up, menurut saya malah lebih mirip kayak lagi ngebadanin tapi ada yang nonton. Berasa kayak lagi combud sama ibu-ibu. Dan setelah saya selesai …

“Materinya kurang, Mas,” kata ibu itu. Saya agak bingung. Kurangnya di bagian mana?

“Kurang?” tanya saya penasaran.

“Iya, itu tadi belum ada 3 menit. Entar kalau kamu lolos, kamu akan kesusahan bikin materi yang panjang.”

Saya hanya mengangguk merespon ucapan sang ibu.

“Kamu ikut komunitas?” tanya ibu itu.

“Iya,” jawab saya. Padahal saya udah lama nggak aktif. Eh, komunitasnya ding yang lama nggak aktif.

“Mending kamu latihan lagi, ya. Biar bisa nulis materi yang panjang.”

Akhirnya saya keluar dari bilik. Kemudian saya sadar bahwa tadi stand up saya memang kurang panjang. Bahkan saya cuma melempar kurang lebih 5 bit. Di luar, saya ketemu Prince. Katanya dia juga gagal. Alasannya sama seperti saya, kurang panjang. Parahnya, prince mengaku kalau dia cuma melempar 3 bit. Ini mah lebih parah dari saya. Haha. Saya jadi bertanya-tanya dari mana datangnya rasa percaya diri Prince sebelum audisi kalau ternyata pas audisi cuma 3 bit?

Sementara saya dan Prince gagal di tahap pertama, Rilo justru lolos ke tahap kedua. Padahal dia berangkat audisi niatnya hanya karena pengen reuni stand up UMS. Tapi justru malah dia yang lolos. Namun sayang sekali, Rilo gagal masuk tahap 3. Batal punya teman artis, deh. Padahal saya sangat berharap dia bisa lolos Jakarta. Kalau punya teman artis kan bisa mendompleng ketenaran. Hehe.

Terakhir, meski sejak awal udah bilang ke diri sendiri untuk nggak berekspektasi, tetap aja gagal itu ternyata nggak enak, ya. Next time, ikutan audisi lagi? Pikir-pikir dulu, deh.

BACA JUGA: