Kamis, 20 Juli 2017

Satyawati, Pemicu Sejati Perang Bharatayudha



Dalam cerita epos Mahabharata yang sangat legendaris, seperti yang kita tahu terjadi sebuah bencana besar berupa perang saudara maha dahsyat yang melibatkan dua kubu bersepupu antara Kurawa dan Pandawa yang memperebutkan tahta Hastinapura. Perang besar selama 18 hari yang biasa dikenal dengan sebutan perang Bharatayudha.  

Setiap peristiwa mustahil terjadi tanpa adanya pemicu. Jika seseorang ditanya tentang siapa kira-kira pemicu dari semua kekacauan di Hastinapura tersebut, saya yakin akan muncul beberapa jawaban yang berbeda. Mungkin beberapa akan menjawab Sangkuni si tukang hasut yang berwatak licik. Yang lainnya mungkin akan menjawab Duryudana yang serakah. Atau bahkan mungkin akan ada yang menjawab Destrarastra, raja buta Hastinapura yang tak lain merupakan ayah seratus Kurawa yang selalu memanjakan Duryudana dan tak mampu untuk meredam segala rencana jahat anak tertuanya.

Memang, semua orang boleh berpendapat. Tidak ada yang salah dengan memiliki pendapat yang berbeda. Namun bagi saya, orang yang menjadi sumber dari segala bencana di Hastinapura bukanlah nama-nama yang saya sebut di paragraf sebelumnya. Karena menurut saya, justru Satyawati adalah orangnya. Ya, Satyawati istri raja Santanu yang tidak lain dan tidak bukan merupakan nenek buyut Pandawa dan Kurawa adalah pemicu dari semuanya.

Kenapa bisa Satyawati orangnya? Di postingan kali ini saya akan mencoba untuk menjelaskannnya. Tentunya sesuai dengan kapasitas pengetahuan dan daya berpikir saya yang pastinya terbatas.

Sebenarnya alasannya sangat sederhana, sih. Karena gara-gara Santanu menikah dengan Satyawati, Bisma alias Dewabrata tidak bisa menjadi raja Hastinapura. Udah sebenarnya hanya itu saja alasannya menurut saya.

Nah, karena pertanyaannya sudah terjawab, jadi marilah kita mengakhiri postingan kali ini. Semoga postingan saya membawa manfaat bagi siapa saja yang membacanya.

……

Hah?! Penjelasannya cuma gitu aja?! Kembalikan waktu beberapa menit saya yang terbuang percuma!

Tenang, saya hanya bercanda, kok. Hehe.

Baiklah, saya akan mulai dari awal. Jadi begini ceritanya …

Suatu hari, Santanu raja dari Hastinapura mencium bau yang sangat harum yang berasal dari dekat sungai Yamuna. Karena penasaran dengan bau yang sangat harum tersebut, Santanu ingin mengeceknya sendiri. Dan akhirnya, sang raja menemukan bahwa bau harum tersebut berasal dari diri seorang gadis bernama Satyawati. Dalam dunia wayang Jawa, Satyawati lebih dikenal dengan nama Durgandini.

Jatuh cinta. Ya, itulah reaksi pertama yang ditunjukkan oleh Santanu ketika melihat Satyawati. Dan karena sudah terlanjur terpikat, tanpa membuang waktu, Santanu segera melamar Satyawati untuk menjadi istrinya. Kalau jadi raja enak, ya. Jatuh cinta ya tinggal lamar aja. Coba kalau orang biasa, mau ngelamar pasti mikir ribuan kali.

Meski Santanu adalah raja, tapi nggak serta merta juga Satyawati menerima lamaran Santanu. Satyawati mau, tapi ada syaratnya. Dan syaratnya adalah yang menjadi penerus Santanu sebagai raja di Hastinapura haruslah anak serta keturunan Satyawati.

Syarat itu, meski sederhana tapi adalah sebuah syarat yang sangatlah susah untuk dipenuhi. Kenapa? Karena di saat yang sama, Hastinapura telah memiliki pangeran mahkota bernama Bisma yang tak lain adalah putra Santanu hasil hubungannya dengan Dewi Gangga. Jadi, syarat dari Satyawati yang ingin anak turunnya menjadi penerus tahta Hastinapura hampir mustahil terlaksana karena memang tahta Hastinapura sudah menjadi hak dari Bisma. Karena Santanu sadar syarat dari Satyawati nggak mungkin dia penuhi, akhirnya sang raja pulang ke istana dengan kekecewaan.

Sayangnya, raja Santanu ini bukan tipe orang yang mudah move on. Selama beberapa waktu, sang raja selalu terlihat murung dan galau. Dan kegalauan sang raja, akhirnya disadari juga oleh Bisma sang putra mahkota. Bisma pun mencari tahu penyebab dari kegalauan bapaknya. Singkat cerita, akhirnya Bisma mendapat informasi kalau bapaknya galau karena gagal nikah lagi lantaran nggak mampu untuk memenuhi syarat yang diajukan oleh gadis yang dicintai bapaknya.

Sebagai anak yang berbakti, jelas Bisma nggak bisa diam saja. Akhirnya Bisma mengambil inisiatif. Dia datangi gadis yang menolak bapaknya. Lalu didepan Satyawati, Bisma berjanji bahwa jika Satyawati mau menikah dengan bapaknya, maka dia tidak akan mau menjadi penerus tahta Hastinapura. Bahkan, untuk semakin meyakinkan Satyawati, Bisma sampai bersumpah bahwa dia nggak akan menikah sampai seumur hidupnya. Singkat cerita, akhirnya Satyawati mau menikah dengan Santanu. Semua tentu berkat pengorbanan Bisma.

Nah, di sini sebenarnya awal mula dari segela permasalahan yang terjadi. Masalah sebenarnya kalau menurut saya terjadi karena Bisma tidak menjadi penerus tahta Hastinapura. Padahal menurut saya dia adalah orang yang paling pantas untuk mejadi raja Hastina. Tapi sayangnya hal itu nggak mungkin terjadi karena terbentur janji.

Kenapa saya beranggapan bahwa Bisma adalah yang paling layak untuk menjadi penerus raja Santanu?

Alasannya sederhana. Bisma adalah orang yang bijak, berbudi baik, kuat, sakti, dan bahkan berumur panjang. Jadi dengan kebijakan dan kebaikan budi Bisma, Hastinapura akan tentram. Dan dengan kekuatan serta kesaktian Bisma, Hastinapura akan jadi negeri yang disegani atau bahkan ditakuti negara lain. Lalu dengan berumur panjang, maka dalam jangka waktu yang lama pula Hastina akan tentram dan disegani.

Lalu, apa yang terjadi dengan kerutunan Satyawati?

Secara singkat, bisa dikatakan gagal total. Satyawati memiliki dua anak dari Santanu, Citranggada dan Wicitrawirya. Citranggada meninggal di usia muda di medan perang. Sementara Wicitrawirya meninggal sesaat setelah dinobatkan menjadi raja karena penyakit paru-paru. Citranggada nggak punya anak. Wicitrawirya punya dua, Destrarasta dan Pandu.

Destrarasta yang seharusnya menjadi pangeran mahkota karena merupakan putra tertua malah terlahir buta. Maka dari itu, tahta Hastina diserahkan kepada Pandu. Namun kekuasaan Pandu juga nggak berlangsung lama karena akhirnya dia meninggal karena kutukan dari seorang resi. Oleh sebab itu, tahta akhirnya diberikan kepada Destrarasta.

Masa pemerintahan Destrarasta ini juga nggak beres. Karena buta, tentu pemerintahannya nggak berjalan secara maksimal. Dan akhirnya, Destrarasta seolah disetir oleh saudara iparnya, Sangkuni. Destrarasta ini sangat mencintai anaknya terutama Duryudana dan ingin menjadikan Duryudana sabagai raja Hastina penerus dirinya. Namun, hal itu terhalang oleh fakta bahwa Yudhistira putra Pandu usianya lebih tua dari Duryudana. Dan sesuai tradisi Hastina, yang lebih tua lah yang akan jadi rajanya.

Setelahnya, kita semua tahu apa yang terjadi. Duryudana dengan strategi licik pamannya Sangkuni, berusaha mati-matian untuk menyingkirkan Yudhistira beserta Pandawa. Hingga puncaknya terjadi perang besar Bharatayudha.

Dan tahukah kalian, perang Bharatayudha yang memakan banyak korban dari kedua belah pihak nggak akan pernah terjadi jika saja Satyawati nggak pernah mengajukan syarat kepada Santanu bahwa kelak yang akan memegang tahta Hastinapura adalah keturunannya. Karena faktanya, kedua belah pihak yang bertempur dalam Bharatayudha adalah keturunan Satyawati.

Dan andai saja Satyawati nggak pernah mengajukan persyaratan itu, maka sudah bisa dipastikan Bisma yang akan menjadi pengganti Santanu. Dan seperti yang saya sebut di atas, maka Hastinapura akan tentram, damai, disegani negeri lainnya, dan pastinya terhindar dari perang besar.

Jadi, kurang lebih itulah alasan kenapa saya menyebut bahwa Satyawati adalah pemicu dari bencana besar Hastinapura. Secara tidak langsung, Satyawati adalah penyebab terjadinya perang besar Bharatayudha.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar