Minggu, 16 Juli 2017

Berubah Berkat MLM


Kalau kamu punya teman lama yang udah lama banget nggak ketemu dan kemudian tiba-tiba seolah berhasrat banget pengen ketemu kamu, jangan senang dulu. Karena ada dua kemungkinan. Pertama, teman kamu emang pengen ketemu untuk bernostalgia, mengenang masa lalu, atau seenggaknya saling berbagi kabar. Kedua, teman kamu pengen nawarin kamu buat gabung MLM. Dan sialnya, kemungkinan yang kedua belum lama ini terjadi sama saya.

Dan di postingan kali ini, saya pengen berbagi pengalaman absurd terjebak dalam presentasi MLM. Sebuah pengalaman yang sukses membuat saya berkata dalam hati … uhh, saya nggak mau lagi, deh.

Semua berawal ketika saya tanpa sengaja bertemu teman lama saya yang kini tinggal di luar kota –tepatnya Jogja- beberapa hari setelah lebaran. Sebenarnya agak nggak tepat kalau disebut teman lama. Karena faktanya lebih dari itu. Dia adalah teman masa kecil saya. Pertemuan itu nggak berlangsung lama. Sangat singkat. Bahkan saya yakin nggak sampai 10 menit.

Di pertemuan yang singkat itu, nggak banyak yang kami obralkan. Paling sekedar berbasa-basi. Dan karena saya tahu dari facebooknya kalau teman saya ini jualan produk obat, saya iseng aja nanya.

“Bro, punya obat pelangsing?”

“Oh, ada. Tapi aku lagi nggak bawa produknya.”

“Emm, nggak papa. Cuman nanya aja, kok.”

“Lain kali aku bawakan produknya. Nanti aku tunjukin ke kamu.”

Tentu, saya hanya menganggap percakapan singkat itu sebagai basa-basi belaka. Setelah percakapan tentang obat pelangsing itu berakhir, seolah terburu-buru karena ada suatu acara, teman saya itu pamit. Tapi tepat sebelum teman saya meninggalkan saya, dia meminta nomor HP saya. Tentu sebagai manusia normal, ketika dimintai nomor kontak oleh teman masa kecil yang sudah lama nggak ketemu, jelas saya menyebutkan nomor HP saya dengan senang hati.

Beberapa hari berselang. Dan teman saya pun menghubungi saya ngajakin saya ketemu. Karena saya lagi males banget keluar rumah –anak rumahan mah biasa-, saya bilang aja kalau lagi nggak bisa. Lalu beberapa hari berselang, lagi-lagi teman saya ini menghubungi saya dan lagi-lagi ngajakin saya ketemu. Karena sebelumnya pernah nolak ajakannya, nggak enak dong kalau saya nolak ajakan keduanya. Jadi saya iyain aja. Itung-itung niatnya menjalin silaturahmi yang telah lama terputus.

Singkat cerita kami pun ketemu. Ketemuannya sebenarnya di tempat yang agak nggak lazim. Tepatnya di balai desa. Mungkin kamu akan mikir tentang apa yang salah sama balai desa. Tapi, ketemuan jam setengah sembilan malam di balai desa yang kondisinya agak gelap dan sepi banget, emang kayak gitu nggak aneh, ya?

Karena merasa kalau balai desa adalah tempat yang terlalu aneh untuk ketemuan antara teman yang udah nggak pernah berjumpa, saya sempat nanya ke dia …   

“Ini beneran mau di sini, bro?”

“Iya di sini aja.”

“Nggak pengen ke HIK/Angkringan atau ke mana gitu?”

“Nggak usah. Di HIK nggak enak.”

Dalam hati saya, lah kalau mau ngobrol bukannya malah enak kalau di HIK? Tapi karena kayaknya dia lebih nyaman di balai desa, akhirnya saya pun menuruti apa kemauannya.   

Untuk mengawali perbincangan kami di malam itu, saya pun berbasa-basi. Biar ngobrolnya nyambung, saya sengaja pilih topik yang menurut saya bisa menghubungkan antara kami berdua. Jadi, saya ngomong ke dia …

“Akhir-akhir ini, aku sering ke Jogja.”

“Ngapain?” teman saya nanya.

“Nonton stand up comedy.”

Sekali lagi saya sengaja pilih topik yang menurut saya bisa menghubungkan kami berdua. Bukan tentang stand up comedy yang saya harap bisa mencairkan suasana. Tapi Jogjanya. Karena satu-satunya info yang saya tahu tentang dia saat ini hanyalah fakta kalau dia tinggal di Jogja. Dan harapan saya meleset. Dia sama sekali nggak tertarik sama topik  yang saya lempar. Kemudian malah ngomong tentang sesuatu yang agak membingungkan. Tapi sebelum dia ngomong tentang sesuatu yang berbelit-belit, saya nggak akan lupa kalau dia sempat ngomong …

“Eh, kemarin kamu tanya tentang obat pelangsing, tho? Wah, aku lupa bawa produknya. Tapi nggak papa, aku bawa brosurnya. Sekalian aku jelasin tentang bisnisku.”

Dalam hati jujur saya agak heran, ternyata teman saya masih ingat tentang obat pelangsing itu. Saya udah lupa, lho. Karena sejak awal percakapan tentang obat pelangsing kan niat saya cuman buat basa-basi aja. Dan ternyata dia nanggepinnya serius.

Kemudian yang terjadi adalah, teman saya pun mulai cerita. Cerita tentang banyak hal. Dia mulai cerita tentang bisnis yang dia jalani, penghasilan yang dia dapat, reward, hadiah liburan ke luar negeri, ngajakin orang buat gabung dan hal-hal lain yang akhirnya membuat saya curiga kalau jangan-jangan teman saya ini ikutan MLM. Wadaw, berarti saya sedang berada dalam presentasi MLM? Karena penasaran, saya tanya dong …

“Bro, kamu ikutan MLM, tho?

“Iya,” jawabnya mantap. Penuh keyakinan. Tepat di detik di mana teman saya mengaku kalau dia ikutan MLM, saat itu juga saya sadar kenapa dia lebih memilih untuk ngobrol di balai desa yang sepi. Bukankah tempat sepi adalah tempat paling cocok buat presentasi MLM?

By the way, saya hanya terdiam. Agak kaget juga, sih. Saya tahu dari facebook kalau dia jualan obat herbal gitu. Tapi saya sama sekali nggak tahu kalau itu ternyata MLM. Dan layaknya orang awam lain, jelas respon saya agak negatif. Saya emang belum pernah berurusan sama MLM, sih. Tapi saya sering dengar kalau MLM itu nggak beres.

Sadar kalau raut muka saya berubah, teman saya langsung ngomong …

“MLM yang aku ikuti ini udah resmi, bro. Ada sertifikat halal MUI, syariah.”

Wow! MLM syariah? MLM berbasis syariah? Saya pikir obrolan mulai menarik, nih. Saya emang udah ngomong ke diri sendiri kalau saya nggak akan gabung sama yang gituan. Tapi nggak ada salahnya mendengarkan penjelasan teman saya. Ngobrol tentang sesuatu yang baru selalu menarik.

Dia lanjut cerita. Pokoknya teman saya ngomong kalau MLMnya ini resmi dan bukan penipuan. Dia juga menambahkan kalau di Indonesia cuman ada 70 berapa gitu MLM yang resmi. Dia sebutin beberapa. Dan yang membuat saya agak terkejut, ternyata Tupperware itu juga MLM. Kemudian saya pikir, pantes toples aja harganya mahal.

Kemudian dia lanjut cerita. Kali ini ngomongin tentang teman-temannya yang udah sukses. Katanya ada yang beli apartemen berapa ratus juta, mobil, dan hal-hal menakjubkan lainnya. Lalu, saya penasaran. Duit teman saya ini kira-kira buat apa, ya? Karena dia ketemu saya naik motor, saya mengambil kesimpulan kalau duitnya nggak mungkin buat beli mobil. Daripada terus menerus dilanda rasa penasaran, saya tanya aja sekalian …

“Lha terus duitmu udah kamu pakai buat apa aja?”

Jawabannya cukup mencengangkan.

“Ditabung, bro. Tapi aku nabungnya nabung emas. Soalnya kalau uang bisa kena inflasi.”

Wadaw, nabung emas! Tapi benar juga, sih. Uang kan bisa kena inflasi. Saya pikir, kayaknya next time saya mau nabung batu apung. Saya cukup yakin batu apung nggak akan kena inflasi atau apapun itu.

Lalu dia cerita lagi. Tapi saya nggak bisa fokus ke ceritanya karena saya dari tadi melihat ke arah kantong plastik yang di bawa teman saya yang dia letakkan di atas meja. Jujur saya bukan pendengar yang baik. Terus-terusan mendengarkan orang ngomong bisa membuat saya bosan. Saya lebih suka percapakan dua arah. Jadi saya lagi-lagi tanya tentang apa yang ada dalam plastik itu.

“Bro, yang di plastik itu apa?” tanya saya sambil menyerobot plastik itu.

“Pesanan dari klienku. Buat menghilangkan jerawat. Jadi wajahnya tu berminyak parah. Jadi entar mau aku kasih itu.”

Karena penasaran, saya keluarin aja produk itu dari plastik yang membungkusnya. Dan sumpah, saya benar-benar kaget pas produk itu keluar dari plastik dan menunjukkan jati dirinya.

“Bro, tapi ini bukannya pasta gigi, ya?”

Saya nggak bohong, di produk itu tertera dengan jelas tulisan TOOTHBRUSH, yang mana itu artinya pasta gigi. Pasta gigi mau dikasih ke wajah? Emang wajahnya kena knalpot?

“Iya, itu emang pasta gigi,” jawab teman saya mantap. “Tapi kandungannya bisa buat menghilangkan minyak di wajah sama jerawat.”

Hah?! What the … ok, saya berusaha menenangkan diri. Bersiap untuk menanyakan pertanyaan selanjutnya.

“Harganya berapa?” tanya saya.

Kemudian dia menyebut sebuah angka. Saya lupa, apakah itu 190an atau 90an. Yang pasti, ada kata sembilan di situ. Dan yang pasti lagi, harganya sangat nggak masuk akal untuk sebuah pasta gigi. Sadar saya sedikit kaget dengan angka yang dia sebut, teman saya langsung membuat pembelaan.

“Harganya emang mahal. Jangan disamakan dengan sabun muka yang biasa kamu pakai. Soalnya kandungannya beda.”

Gimana mau menyamakan dengan sabun muka yang biasa saya pakai?! Bahkan ini bukan sabun muka! Ini pasta gigi, bro! Pasta gigi! Ini adalah odol!

Dan lagi, wajar lah harganya mahal. Saya maklum, kok. Tapi apakah karena kualitas? Saya rasa belum tentu. Satu hal yang pasti, kayaknya harganya mahal karena labanya dipakai buat ngasih bonus ke uplinenya yang mungkin udah panjang banget jalurnya di atas.

Kemudian dia lanjut cerita. Tapi seperti yang saya sebut di atas, saya bukan pendengar yang baik. Saya gampang bosan kalau dengerin orang ngomong. Jadi yang terjadi adalah, kalau dia ngomong sesuatu yang saya nggak ngerti, maka saya stop dan saya pertanyakan. Kalau ada sesuatu yang menurut saya nggak sesuai dengan apa yang saya yakini, maka saya stop dan saya memaparkan argument saya. Sekali lagi saya lebih menyukai percakapan dua arah. Tapi jelas dia nggak suka, karena percakapan dua arah jelas akan menghambat presentasinya. Hingga akhirnya saya agak lupa tentang apa pemicunya tapi tiba-tiba dia nanya ke saya …

“Kamu suka baca nggak?”

Belum sempat saya menjawab dia langsung menebak.

“Pasti nggak suka, kan. Kayaknya kamu harus banyak baca buku biar pemikirannya nggak sempit.”

Hah?! Kenapa hanya dari obrolan yang terjadi di antara kami dia bisa menyimpulkan kalau saya nggak suka baca? Saya emang nggak suka baca buku tentang motivasi, pelajaran, filsafat, dan semacamnya. Tapi bukan berarti saya sama sekali nggak suka baca. Saya suka kok baca novel atau komik. Saya juga suka baca berita, sejarah, dan bahkan saya suka nulis blog. Bagaimana saya bisa suka nulis blog kalau saya nggak suka baca?!

Dan lagi. Pemikiran sempit? Sekali lagi saya nggak tahu apa pemicunya hingga dia mengucapkan kalimat itu. Apakah merasa frustasi karena saya memaksanya berkomunikasi dua arah sehingga bikin presentasinya agak kacau? Nggak yakin, sih.

Setelahnya, percakapan berubah menjadi sangat nggak menyenangkan. Merendahkan orang lain yang kerja kantoran atau sekedar menjadi karyawan. Perkataannya terkesan agak mendewakan uang. Seolah sumber semua kebahagian adalah tentang uang. Semua kegiatan yang nggak berkaitan sama uang adalah kesia-siaan. Bahkan dia sempat ngomong ke saya …

“Emangnya sampai kapan mau nonton stand up terus? Emang apa yang kamu dapat? Kamu harus mulai berpikir untuk masa depan.”

Hah?! Ok, saya tahu dia ngomong kayak gitu karena di awal saya bilang kalau saya beberapa kali ke Jogja buat nonton stand up. Tapi, ini aneh banget sumpah. Stand up kan hiburan. Emang dikiranya tiap hari saya nonton stand up kali, ya? Bahkan saya nonton stand up juga belum tentu sebulan sekali. Karena faktanya, show stand up emang nggak digelar sesering itu. Dan lagi, stand up comedy bagi saya adalah sebuah refreshing. Itu cara saya untuk menyegarkan pikiran. Dan tentu cara orang beda-beda. Ada yang ke pantai, gunung, atau dufan. Rasanya saya nggak bisa membayangkan teman saya ini mengajak orang buat gabung MLM sambil bilang …“Emangnya sampai kapan kamu mau ke dufan terus?” ke orang yang bilang sama teman saya kalau dia pernah beberapa kali ke dufan.

Oh, iya. Teman saya ini ternyata sangat pintar tentang psikologi. Berkat ikut MLM? Kemungkinan besar iya. Ada sebuah percakapan yang nggak mungkin saya lupakan …

“Kamu ini kalau aku perhatikan masuk kategori sanguin,” ucap teman saya.

“Sanguin? Apaan, tuh?” jujur saya benaran nggak paham sama yang begituan.

“Salah satu cirinya nggak suka mendengarkan dan lebih suka didengar.”

Saya mengangguk tanda setuju dengan apa yang disebut sama teman saya.

“Pasti kamu juga nggak betah di rumah dan gampang bergaul.”

Kali ini saya nggak setuju. Karena faktanya, saya anak rumahan dan nggak punya banyak teman. Karena saya nggak setuju, udah pasti saya sangkal, dong.

“Nggak juga tuh. Malah aku lebih suka di rumah. Aku juga nggak punya banyak teman.”

Apa tanggapannya? Apakah dia merasa malu karena perkiraannya salah? Ternyata enggak. Seolah tanpa dosa dia hanya berkata …

“Oh, berarti kamu sanguin tipe yang ortodoks.”

Saya hanya mengerutkan dahi. Rasanya mulai males kalau terus-terusan ditanggepin. Karena rasa males ini udah mulai memuncak, saya akhirnya pamit pulang. Dan sebelum pertemuan kami usai, dia berkata …

“Bro, dua hari lagi ada seminar MLM di Solo. Kamu hadir, ya.”

“Eh???”

“Tenang aja. Nanti berangkat berdua boncengan sama aku.”

“Nggak bisa kayaknya, bro,” seperti yang saya bilang di awal, saya nggak minat gabung yang begituan.

“Diusahakan lah, bro. Soalnya aku lihat, kamu ini punya potensi.”

Apa? Punya potensi? Itu artinya saya punya kemampuan untuk mengajak orang lain ikut MLM? Itu artinya saya punya kemampuan komunikasi yang bagus? Kalau saya emang punya kemampuan berkomunikasi sebaik itu, kayaknya saya nggak mungkin jomblo dari lahir, deh.

Terakhir …

Pertemuan yang benar-benar nggak terduga. Diajak ketemuan sama teman lama, saya pikir bakalan bernostalgia tentang masa lalu atau seenggaknya berbagi kabar terkini kondisi masing-masing. Tapi, ternyata malah mendapat presentasi MLM.

Kayaknya saya harus berterimakasih sama MLM. Karena tanpa MLM, saya nggak akan pernah kepikiran buat nulis artikel ini. Yang mana, ini adalah artikel terpanjang yang pernah saya tulis di blog saya ini. Saya juga harus berterimakasih sama MLM karena berkat MLM, sekarang teman saya berubah menjadi seorang penabung emas.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar