Rabu, 26 Juli 2017

Benarkah Persis Solo Selalu Dirugikan PSSI?



Akhir-akhir ini, sering kali di media sosial saya menemukan postingan-postingan dari teman-teman supporter Persis Solo yang menyiratkan rasa kekecewaannya terhadap federasi sepakbola negeri ini, PSSI. Mulai dari denda yang dijatuhkan kepada klub, hingga wasit pengadil pertandingan yang dirasa sering kali membuat keputusan konyol nan aneh yang merugikan Laskar Sambernyawa.

Hasil dari kekecewaan-kekecewaan itu tentu memunculkan kalimat seperti “Persis Solo kalahe gur karo wasit,” atau "PSSI Sehat?" dan semacamnya. Bahkan mungkin tidak sedikit yang beranggapan bahwa PSSI selalu merugikan Persis Solo. Lalu, sebuah pertanyaan sederhana pun muncul di benak saya. Benarkah Persis Solo memang selalu dirugikan PSSI?

Tidak. Saya rasa jawabannya adalah tidak. Persis Solo mungkin memang pernah dirugikan oleh PSSI. Tapi, pernah dirugikan bukan berarti selalu dirugikan. Ada saat juga di mana Persis diuntungkan. Dan di postingan kali ini saya pengen mengenang saat-saat di mana tim kebanggaan wong Solo Raya ini diuntungkan sama PSSI. Itung-itung nostalgia jaman-jaman jadi supporter dulu.

Pertama …

Saat ini, Persis Solo berlaga di Liga 2, kompetisi sepakbola level dua di negeri tercinta ini. Tapi, apakah Persis memang benar-benar berhak untuk tampil di Liga 2? Kayaknya sih nggak. Karena pada tahun 2011, ketika Liga 2 masih bernama Divisi Utama, Persis seharusnya degradasi ke kasta ketiga yang waktu itu masih bernama Divisi 1.

Bagaimana nggak degradasi. Persis Solo yang waktu itu krisis keuangan menjalani musim kompetisi dengan sangat memprihatinkan. Kemenangan terasa sangat langka. Hanya terjadi sekali dalam satu musim. Lima pertandingan berakhir imbang dan sisanya kalah. Hasilnya, Persis menjadi juru kunci di klasemen akhir.

Setelah menjadi juru kunci di musim 2011, coba tebak di manakah kira-kira Persis Solo berlaga di musim 2012? Apakah Divisi 1? Salah! Secara ajaib Persis Solo tetap bertahan di Divisi Utama hingga sekarang.

Terkejut? Sebaiknya jangan. Karena Bukan hanya sekali Persis Solo lolos dari jeratan degradasi padahal jadi tim urutan terbawah klasemen dengan poin paling sedikit. Pada tahun 2010, Persis juga jadi juru kunci dan tidak terdegradasi.

Jadi intinya, Persis Solo pernah mendekam di dasar klasemen akhir selama dua musim beruntun, 2010 dan 2011. Di dua musim beruntun itu pula, secara ajaib Laskar Sambernyawa lolos dari jeratan degradasi. Haruskah kita sebagai simpatisan Persis Solo berterimakasih kepada PSSI? Sebaiknya jangan dulu. Karena masih ada lagi.

Kedua …

Dulu, ketika Persis Solo masih terlilit krisis keungan parah, ketika Persis Solo harus bertandang ke markas tim yang berasal dari Indonesia timur, tidak jarang Persis Solo memilih untuk tidak menghadiri pertandingan itu karena masalah biaya. Dengan kata lain, Persis sengaja untuk kalah WO.

Tapi dengan memilih untuk tidak menghadiri laga karena masalah biaya adalah pilihan terbaik? Apakah memilih WO tidak memiliki konsekuensi? Jawabannya, konsekuensi jelas ada. Selain mungkin hasil pertandingan otomatis kalah, jelas akan ada denda berpuluh-puluh juta ketika sebuah tim memutuskan untuk WO.

Tentu saja Persis Solo juga didenda. Tapi kerennya, waktu itu Persis Solo sama sekali tidak pernah membayar denda terkait masalah WO kepada PSSI. Keputusan denda sudah keluar tapi nggak dibayar. Jadi mirip kayak orang ditilang polisi tapi nggak mau bayar. Dan Persis Solo woles aja, tuh. Tetap menjalani hari seperti biasa seolah tidak pernah terjadi apapun.

Bahkan di tahun 2013, karena sudah berpengalaman dengan tidak membayar denda lantaran WO, Walikota Solo, Hadi Rudyatmo pernah menyarankan Persis Solo agar tidak perlu berangkat ke kandang Persifa Fak-fak di Papua kalau memang tidak punya dana.

“Ya nggak perlu berangkat, jangan dipaksakan kalau memang nggak punya uang. Seperti Persis (musim 2008) dulu kan juga nggak berangkat kalau main di Indonesia timur. Seperti dulu kalaupun kena denda ya nggak perlu mbayar.”

Paragraf di atas adalah kutipan kalimat yang di ucapkan Pak Rudy terkait WOnya Persis lawan Persifa Fak-fak di tahun 2013. Tuh kan, kalau kena denda ya nggak perlu mbayar. Dan nampaknya PSSI juga tidak pernah mempermasalahkan atau mengungkit tentang denda Persis Solo karena kasus WO ini.

Ketiga …

Saya mulai bingung mau nulis apa. Lagipula jam di laptop saya sudah menunjukkan pukul 01:00 malam. Kayaknya sudah waktunya untuk istirahat. Kalau ada yang ingat kebaikan apalagi yang pernah dilakukan PSSI kepada Persis Solo, mungkin bisa ditulis di comment. Hehe

Ahh, kalau dipikir-pikir, sebenarnya saya juga nggak tahu kenapa saya harus menulis artikel ini. Tapi setidaknya sebuah pertanyaan sederhana di benak saya akhirnya terjawab. Benarkah Persis Solo selalu dirugikan PSSI? Sekali lagi, jawabannya jelas tidak.

Kamis, 20 Juli 2017

Satyawati, Pemicu Sejati Perang Bharatayudha



Dalam cerita epos Mahabharata yang sangat legendaris, seperti yang kita tahu terjadi sebuah bencana besar berupa perang saudara maha dahsyat yang melibatkan dua kubu bersepupu antara Kurawa dan Pandawa yang memperebutkan tahta Hastinapura. Perang besar selama 18 hari yang biasa dikenal dengan sebutan perang Bharatayudha.  

Setiap peristiwa mustahil terjadi tanpa adanya pemicu. Jika seseorang ditanya tentang siapa kira-kira pemicu dari semua kekacauan di Hastinapura tersebut, saya yakin akan muncul beberapa jawaban yang berbeda. Mungkin beberapa akan menjawab Sangkuni si tukang hasut yang berwatak licik. Yang lainnya mungkin akan menjawab Duryudana yang serakah. Atau bahkan mungkin akan ada yang menjawab Destrarastra, raja buta Hastinapura yang tak lain merupakan ayah seratus Kurawa yang selalu memanjakan Duryudana dan tak mampu untuk meredam segala rencana jahat anak tertuanya.

Memang, semua orang boleh berpendapat. Tidak ada yang salah dengan memiliki pendapat yang berbeda. Namun bagi saya, orang yang menjadi sumber dari segala bencana di Hastinapura bukanlah nama-nama yang saya sebut di paragraf sebelumnya. Karena menurut saya, justru Satyawati adalah orangnya. Ya, Satyawati istri raja Santanu yang tidak lain dan tidak bukan merupakan nenek buyut Pandawa dan Kurawa adalah pemicu dari semuanya.

Kenapa bisa Satyawati orangnya? Di postingan kali ini saya akan mencoba untuk menjelaskannnya. Tentunya sesuai dengan kapasitas pengetahuan dan daya berpikir saya yang pastinya terbatas.

Sebenarnya alasannya sangat sederhana, sih. Karena gara-gara Santanu menikah dengan Satyawati, Bisma alias Dewabrata tidak bisa menjadi raja Hastinapura. Udah sebenarnya hanya itu saja alasannya menurut saya.

Nah, karena pertanyaannya sudah terjawab, jadi marilah kita mengakhiri postingan kali ini. Semoga postingan saya membawa manfaat bagi siapa saja yang membacanya.

……

Hah?! Penjelasannya cuma gitu aja?! Kembalikan waktu beberapa menit saya yang terbuang percuma!

Tenang, saya hanya bercanda, kok. Hehe.

Baiklah, saya akan mulai dari awal. Jadi begini ceritanya …

Suatu hari, Santanu raja dari Hastinapura mencium bau yang sangat harum yang berasal dari dekat sungai Yamuna. Karena penasaran dengan bau yang sangat harum tersebut, Santanu ingin mengeceknya sendiri. Dan akhirnya, sang raja menemukan bahwa bau harum tersebut berasal dari diri seorang gadis bernama Satyawati. Dalam dunia wayang Jawa, Satyawati lebih dikenal dengan nama Durgandini.

Jatuh cinta. Ya, itulah reaksi pertama yang ditunjukkan oleh Santanu ketika melihat Satyawati. Dan karena sudah terlanjur terpikat, tanpa membuang waktu, Santanu segera melamar Satyawati untuk menjadi istrinya. Kalau jadi raja enak, ya. Jatuh cinta ya tinggal lamar aja. Coba kalau orang biasa, mau ngelamar pasti mikir ribuan kali.

Meski Santanu adalah raja, tapi nggak serta merta juga Satyawati menerima lamaran Santanu. Satyawati mau, tapi ada syaratnya. Dan syaratnya adalah yang menjadi penerus Santanu sebagai raja di Hastinapura haruslah anak serta keturunan Satyawati.

Syarat itu, meski sederhana tapi adalah sebuah syarat yang sangatlah susah untuk dipenuhi. Kenapa? Karena di saat yang sama, Hastinapura telah memiliki pangeran mahkota bernama Bisma yang tak lain adalah putra Santanu hasil hubungannya dengan Dewi Gangga. Jadi, syarat dari Satyawati yang ingin anak turunnya menjadi penerus tahta Hastinapura hampir mustahil terlaksana karena memang tahta Hastinapura sudah menjadi hak dari Bisma. Karena Santanu sadar syarat dari Satyawati nggak mungkin dia penuhi, akhirnya sang raja pulang ke istana dengan kekecewaan.

Sayangnya, raja Santanu ini bukan tipe orang yang mudah move on. Selama beberapa waktu, sang raja selalu terlihat murung dan galau. Dan kegalauan sang raja, akhirnya disadari juga oleh Bisma sang putra mahkota. Bisma pun mencari tahu penyebab dari kegalauan bapaknya. Singkat cerita, akhirnya Bisma mendapat informasi kalau bapaknya galau karena gagal nikah lagi lantaran nggak mampu untuk memenuhi syarat yang diajukan oleh gadis yang dicintai bapaknya.

Sebagai anak yang berbakti, jelas Bisma nggak bisa diam saja. Akhirnya Bisma mengambil inisiatif. Dia datangi gadis yang menolak bapaknya. Lalu didepan Satyawati, Bisma berjanji bahwa jika Satyawati mau menikah dengan bapaknya, maka dia tidak akan mau menjadi penerus tahta Hastinapura. Bahkan, untuk semakin meyakinkan Satyawati, Bisma sampai bersumpah bahwa dia nggak akan menikah sampai seumur hidupnya. Singkat cerita, akhirnya Satyawati mau menikah dengan Santanu. Semua tentu berkat pengorbanan Bisma.

Nah, di sini sebenarnya awal mula dari segela permasalahan yang terjadi. Masalah sebenarnya kalau menurut saya terjadi karena Bisma tidak menjadi penerus tahta Hastinapura. Padahal menurut saya dia adalah orang yang paling pantas untuk mejadi raja Hastina. Tapi sayangnya hal itu nggak mungkin terjadi karena terbentur janji.

Kenapa saya beranggapan bahwa Bisma adalah yang paling layak untuk menjadi penerus raja Santanu?

Alasannya sederhana. Bisma adalah orang yang bijak, berbudi baik, kuat, sakti, dan bahkan berumur panjang. Jadi dengan kebijakan dan kebaikan budi Bisma, Hastinapura akan tentram. Dan dengan kekuatan serta kesaktian Bisma, Hastinapura akan jadi negeri yang disegani atau bahkan ditakuti negara lain. Lalu dengan berumur panjang, maka dalam jangka waktu yang lama pula Hastina akan tentram dan disegani.

Lalu, apa yang terjadi dengan kerutunan Satyawati?

Secara singkat, bisa dikatakan gagal total. Satyawati memiliki dua anak dari Santanu, Citranggada dan Wicitrawirya. Citranggada meninggal di usia muda di medan perang. Sementara Wicitrawirya meninggal sesaat setelah dinobatkan menjadi raja karena penyakit paru-paru. Citranggada nggak punya anak. Wicitrawirya punya dua, Destrarasta dan Pandu.

Destrarasta yang seharusnya menjadi pangeran mahkota karena merupakan putra tertua malah terlahir buta. Maka dari itu, tahta Hastina diserahkan kepada Pandu. Namun kekuasaan Pandu juga nggak berlangsung lama karena akhirnya dia meninggal karena kutukan dari seorang resi. Oleh sebab itu, tahta akhirnya diberikan kepada Destrarasta.

Masa pemerintahan Destrarasta ini juga nggak beres. Karena buta, tentu pemerintahannya nggak berjalan secara maksimal. Dan akhirnya, Destrarasta seolah disetir oleh saudara iparnya, Sangkuni. Destrarasta ini sangat mencintai anaknya terutama Duryudana dan ingin menjadikan Duryudana sabagai raja Hastina penerus dirinya. Namun, hal itu terhalang oleh fakta bahwa Yudhistira putra Pandu usianya lebih tua dari Duryudana. Dan sesuai tradisi Hastina, yang lebih tua lah yang akan jadi rajanya.

Setelahnya, kita semua tahu apa yang terjadi. Duryudana dengan strategi licik pamannya Sangkuni, berusaha mati-matian untuk menyingkirkan Yudhistira beserta Pandawa. Hingga puncaknya terjadi perang besar Bharatayudha.

Dan tahukah kalian, perang Bharatayudha yang memakan banyak korban dari kedua belah pihak nggak akan pernah terjadi jika saja Satyawati nggak pernah mengajukan syarat kepada Santanu bahwa kelak yang akan memegang tahta Hastinapura adalah keturunannya. Karena faktanya, kedua belah pihak yang bertempur dalam Bharatayudha adalah keturunan Satyawati.

Dan andai saja Satyawati nggak pernah mengajukan persyaratan itu, maka sudah bisa dipastikan Bisma yang akan menjadi pengganti Santanu. Dan seperti yang saya sebut di atas, maka Hastinapura akan tentram, damai, disegani negeri lainnya, dan pastinya terhindar dari perang besar.

Jadi, kurang lebih itulah alasan kenapa saya menyebut bahwa Satyawati adalah pemicu dari bencana besar Hastinapura. Secara tidak langsung, Satyawati adalah penyebab terjadinya perang besar Bharatayudha.

Minggu, 16 Juli 2017

Berubah Berkat MLM


Kalau kamu punya teman lama yang udah lama banget nggak ketemu dan kemudian tiba-tiba seolah berhasrat banget pengen ketemu kamu, jangan senang dulu. Karena ada dua kemungkinan. Pertama, teman kamu emang pengen ketemu untuk bernostalgia, mengenang masa lalu, atau seenggaknya saling berbagi kabar. Kedua, teman kamu pengen nawarin kamu buat gabung MLM. Dan sialnya, kemungkinan yang kedua belum lama ini terjadi sama saya.

Dan di postingan kali ini, saya pengen berbagi pengalaman absurd terjebak dalam presentasi MLM. Sebuah pengalaman yang sukses membuat saya berkata dalam hati … uhh, saya nggak mau lagi, deh.

Semua berawal ketika saya tanpa sengaja bertemu teman lama saya yang kini tinggal di luar kota –tepatnya Jogja- beberapa hari setelah lebaran. Sebenarnya agak nggak tepat kalau disebut teman lama. Karena faktanya lebih dari itu. Dia adalah teman masa kecil saya. Pertemuan itu nggak berlangsung lama. Sangat singkat. Bahkan saya yakin nggak sampai 10 menit.

Di pertemuan yang singkat itu, nggak banyak yang kami obralkan. Paling sekedar berbasa-basi. Dan karena saya tahu dari facebooknya kalau teman saya ini jualan produk obat, saya iseng aja nanya.

“Bro, punya obat pelangsing?”

“Oh, ada. Tapi aku lagi nggak bawa produknya.”

“Emm, nggak papa. Cuman nanya aja, kok.”

“Lain kali aku bawakan produknya. Nanti aku tunjukin ke kamu.”

Tentu, saya hanya menganggap percakapan singkat itu sebagai basa-basi belaka. Setelah percakapan tentang obat pelangsing itu berakhir, seolah terburu-buru karena ada suatu acara, teman saya itu pamit. Tapi tepat sebelum teman saya meninggalkan saya, dia meminta nomor HP saya. Tentu sebagai manusia normal, ketika dimintai nomor kontak oleh teman masa kecil yang sudah lama nggak ketemu, jelas saya menyebutkan nomor HP saya dengan senang hati.

Beberapa hari berselang. Dan teman saya pun menghubungi saya ngajakin saya ketemu. Karena saya lagi males banget keluar rumah –anak rumahan mah biasa-, saya bilang aja kalau lagi nggak bisa. Lalu beberapa hari berselang, lagi-lagi teman saya ini menghubungi saya dan lagi-lagi ngajakin saya ketemu. Karena sebelumnya pernah nolak ajakannya, nggak enak dong kalau saya nolak ajakan keduanya. Jadi saya iyain aja. Itung-itung niatnya menjalin silaturahmi yang telah lama terputus.

Singkat cerita kami pun ketemu. Ketemuannya sebenarnya di tempat yang agak nggak lazim. Tepatnya di balai desa. Mungkin kamu akan mikir tentang apa yang salah sama balai desa. Tapi, ketemuan jam setengah sembilan malam di balai desa yang kondisinya agak gelap dan sepi banget, emang kayak gitu nggak aneh, ya?

Karena merasa kalau balai desa adalah tempat yang terlalu aneh untuk ketemuan antara teman yang udah nggak pernah berjumpa, saya sempat nanya ke dia …   

“Ini beneran mau di sini, bro?”

“Iya di sini aja.”

“Nggak pengen ke HIK/Angkringan atau ke mana gitu?”

“Nggak usah. Di HIK nggak enak.”

Dalam hati saya, lah kalau mau ngobrol bukannya malah enak kalau di HIK? Tapi karena kayaknya dia lebih nyaman di balai desa, akhirnya saya pun menuruti apa kemauannya.   

Untuk mengawali perbincangan kami di malam itu, saya pun berbasa-basi. Biar ngobrolnya nyambung, saya sengaja pilih topik yang menurut saya bisa menghubungkan antara kami berdua. Jadi, saya ngomong ke dia …

“Akhir-akhir ini, aku sering ke Jogja.”

“Ngapain?” teman saya nanya.

“Nonton stand up comedy.”

Sekali lagi saya sengaja pilih topik yang menurut saya bisa menghubungkan kami berdua. Bukan tentang stand up comedy yang saya harap bisa mencairkan suasana. Tapi Jogjanya. Karena satu-satunya info yang saya tahu tentang dia saat ini hanyalah fakta kalau dia tinggal di Jogja. Dan harapan saya meleset. Dia sama sekali nggak tertarik sama topik  yang saya lempar. Kemudian malah ngomong tentang sesuatu yang agak membingungkan. Tapi sebelum dia ngomong tentang sesuatu yang berbelit-belit, saya nggak akan lupa kalau dia sempat ngomong …

“Eh, kemarin kamu tanya tentang obat pelangsing, tho? Wah, aku lupa bawa produknya. Tapi nggak papa, aku bawa brosurnya. Sekalian aku jelasin tentang bisnisku.”

Dalam hati jujur saya agak heran, ternyata teman saya masih ingat tentang obat pelangsing itu. Saya udah lupa, lho. Karena sejak awal percakapan tentang obat pelangsing kan niat saya cuman buat basa-basi aja. Dan ternyata dia nanggepinnya serius.

Kemudian yang terjadi adalah, teman saya pun mulai cerita. Cerita tentang banyak hal. Dia mulai cerita tentang bisnis yang dia jalani, penghasilan yang dia dapat, reward, hadiah liburan ke luar negeri, ngajakin orang buat gabung dan hal-hal lain yang akhirnya membuat saya curiga kalau jangan-jangan teman saya ini ikutan MLM. Wadaw, berarti saya sedang berada dalam presentasi MLM? Karena penasaran, saya tanya dong …

“Bro, kamu ikutan MLM, tho?

“Iya,” jawabnya mantap. Penuh keyakinan. Tepat di detik di mana teman saya mengaku kalau dia ikutan MLM, saat itu juga saya sadar kenapa dia lebih memilih untuk ngobrol di balai desa yang sepi. Bukankah tempat sepi adalah tempat paling cocok buat presentasi MLM?

By the way, saya hanya terdiam. Agak kaget juga, sih. Saya tahu dari facebook kalau dia jualan obat herbal gitu. Tapi saya sama sekali nggak tahu kalau itu ternyata MLM. Dan layaknya orang awam lain, jelas respon saya agak negatif. Saya emang belum pernah berurusan sama MLM, sih. Tapi saya sering dengar kalau MLM itu nggak beres.

Sadar kalau raut muka saya berubah, teman saya langsung ngomong …

“MLM yang aku ikuti ini udah resmi, bro. Ada sertifikat halal MUI, syariah.”

Wow! MLM syariah? MLM berbasis syariah? Saya pikir obrolan mulai menarik, nih. Saya emang udah ngomong ke diri sendiri kalau saya nggak akan gabung sama yang gituan. Tapi nggak ada salahnya mendengarkan penjelasan teman saya. Ngobrol tentang sesuatu yang baru selalu menarik.

Dia lanjut cerita. Pokoknya teman saya ngomong kalau MLMnya ini resmi dan bukan penipuan. Dia juga menambahkan kalau di Indonesia cuman ada 70 berapa gitu MLM yang resmi. Dia sebutin beberapa. Dan yang membuat saya agak terkejut, ternyata Tupperware itu juga MLM. Kemudian saya pikir, pantes toples aja harganya mahal.

Kemudian dia lanjut cerita. Kali ini ngomongin tentang teman-temannya yang udah sukses. Katanya ada yang beli apartemen berapa ratus juta, mobil, dan hal-hal menakjubkan lainnya. Lalu, saya penasaran. Duit teman saya ini kira-kira buat apa, ya? Karena dia ketemu saya naik motor, saya mengambil kesimpulan kalau duitnya nggak mungkin buat beli mobil. Daripada terus menerus dilanda rasa penasaran, saya tanya aja sekalian …

“Lha terus duitmu udah kamu pakai buat apa aja?”

Jawabannya cukup mencengangkan.

“Ditabung, bro. Tapi aku nabungnya nabung emas. Soalnya kalau uang bisa kena inflasi.”

Wadaw, nabung emas! Tapi benar juga, sih. Uang kan bisa kena inflasi. Saya pikir, kayaknya next time saya mau nabung batu apung. Saya cukup yakin batu apung nggak akan kena inflasi atau apapun itu.

Lalu dia cerita lagi. Tapi saya nggak bisa fokus ke ceritanya karena saya dari tadi melihat ke arah kantong plastik yang di bawa teman saya yang dia letakkan di atas meja. Jujur saya bukan pendengar yang baik. Terus-terusan mendengarkan orang ngomong bisa membuat saya bosan. Saya lebih suka percapakan dua arah. Jadi saya lagi-lagi tanya tentang apa yang ada dalam plastik itu.

“Bro, yang di plastik itu apa?” tanya saya sambil menyerobot plastik itu.

“Pesanan dari klienku. Buat menghilangkan jerawat. Jadi wajahnya tu berminyak parah. Jadi entar mau aku kasih itu.”

Karena penasaran, saya keluarin aja produk itu dari plastik yang membungkusnya. Dan sumpah, saya benar-benar kaget pas produk itu keluar dari plastik dan menunjukkan jati dirinya.

“Bro, tapi ini bukannya pasta gigi, ya?”

Saya nggak bohong, di produk itu tertera dengan jelas tulisan TOOTHBRUSH, yang mana itu artinya pasta gigi. Pasta gigi mau dikasih ke wajah? Emang wajahnya kena knalpot?

“Iya, itu emang pasta gigi,” jawab teman saya mantap. “Tapi kandungannya bisa buat menghilangkan minyak di wajah sama jerawat.”

Hah?! What the … ok, saya berusaha menenangkan diri. Bersiap untuk menanyakan pertanyaan selanjutnya.

“Harganya berapa?” tanya saya.

Kemudian dia menyebut sebuah angka. Saya lupa, apakah itu 190an atau 90an. Yang pasti, ada kata sembilan di situ. Dan yang pasti lagi, harganya sangat nggak masuk akal untuk sebuah pasta gigi. Sadar saya sedikit kaget dengan angka yang dia sebut, teman saya langsung membuat pembelaan.

“Harganya emang mahal. Jangan disamakan dengan sabun muka yang biasa kamu pakai. Soalnya kandungannya beda.”

Gimana mau menyamakan dengan sabun muka yang biasa saya pakai?! Bahkan ini bukan sabun muka! Ini pasta gigi, bro! Pasta gigi! Ini adalah odol!

Dan lagi, wajar lah harganya mahal. Saya maklum, kok. Tapi apakah karena kualitas? Saya rasa belum tentu. Satu hal yang pasti, kayaknya harganya mahal karena labanya dipakai buat ngasih bonus ke uplinenya yang mungkin udah panjang banget jalurnya di atas.

Kemudian dia lanjut cerita. Tapi seperti yang saya sebut di atas, saya bukan pendengar yang baik. Saya gampang bosan kalau dengerin orang ngomong. Jadi yang terjadi adalah, kalau dia ngomong sesuatu yang saya nggak ngerti, maka saya stop dan saya pertanyakan. Kalau ada sesuatu yang menurut saya nggak sesuai dengan apa yang saya yakini, maka saya stop dan saya memaparkan argument saya. Sekali lagi saya lebih menyukai percakapan dua arah. Tapi jelas dia nggak suka, karena percakapan dua arah jelas akan menghambat presentasinya. Hingga akhirnya saya agak lupa tentang apa pemicunya tapi tiba-tiba dia nanya ke saya …

“Kamu suka baca nggak?”

Belum sempat saya menjawab dia langsung menebak.

“Pasti nggak suka, kan. Kayaknya kamu harus banyak baca buku biar pemikirannya nggak sempit.”

Hah?! Kenapa hanya dari obrolan yang terjadi di antara kami dia bisa menyimpulkan kalau saya nggak suka baca? Saya emang nggak suka baca buku tentang motivasi, pelajaran, filsafat, dan semacamnya. Tapi bukan berarti saya sama sekali nggak suka baca. Saya suka kok baca novel atau komik. Saya juga suka baca berita, sejarah, dan bahkan saya suka nulis blog. Bagaimana saya bisa suka nulis blog kalau saya nggak suka baca?!

Dan lagi. Pemikiran sempit? Sekali lagi saya nggak tahu apa pemicunya hingga dia mengucapkan kalimat itu. Apakah merasa frustasi karena saya memaksanya berkomunikasi dua arah sehingga bikin presentasinya agak kacau? Nggak yakin, sih.

Setelahnya, percakapan berubah menjadi sangat nggak menyenangkan. Merendahkan orang lain yang kerja kantoran atau sekedar menjadi karyawan. Perkataannya terkesan agak mendewakan uang. Seolah sumber semua kebahagian adalah tentang uang. Semua kegiatan yang nggak berkaitan sama uang adalah kesia-siaan. Bahkan dia sempat ngomong ke saya …

“Emangnya sampai kapan mau nonton stand up terus? Emang apa yang kamu dapat? Kamu harus mulai berpikir untuk masa depan.”

Hah?! Ok, saya tahu dia ngomong kayak gitu karena di awal saya bilang kalau saya beberapa kali ke Jogja buat nonton stand up. Tapi, ini aneh banget sumpah. Stand up kan hiburan. Emang dikiranya tiap hari saya nonton stand up kali, ya? Bahkan saya nonton stand up juga belum tentu sebulan sekali. Karena faktanya, show stand up emang nggak digelar sesering itu. Dan lagi, stand up comedy bagi saya adalah sebuah refreshing. Itu cara saya untuk menyegarkan pikiran. Dan tentu cara orang beda-beda. Ada yang ke pantai, gunung, atau dufan. Rasanya saya nggak bisa membayangkan teman saya ini mengajak orang buat gabung MLM sambil bilang …“Emangnya sampai kapan kamu mau ke dufan terus?” ke orang yang bilang sama teman saya kalau dia pernah beberapa kali ke dufan.

Oh, iya. Teman saya ini ternyata sangat pintar tentang psikologi. Berkat ikut MLM? Kemungkinan besar iya. Ada sebuah percakapan yang nggak mungkin saya lupakan …

“Kamu ini kalau aku perhatikan masuk kategori sanguin,” ucap teman saya.

“Sanguin? Apaan, tuh?” jujur saya benaran nggak paham sama yang begituan.

“Salah satu cirinya nggak suka mendengarkan dan lebih suka didengar.”

Saya mengangguk tanda setuju dengan apa yang disebut sama teman saya.

“Pasti kamu juga nggak betah di rumah dan gampang bergaul.”

Kali ini saya nggak setuju. Karena faktanya, saya anak rumahan dan nggak punya banyak teman. Karena saya nggak setuju, udah pasti saya sangkal, dong.

“Nggak juga tuh. Malah aku lebih suka di rumah. Aku juga nggak punya banyak teman.”

Apa tanggapannya? Apakah dia merasa malu karena perkiraannya salah? Ternyata enggak. Seolah tanpa dosa dia hanya berkata …

“Oh, berarti kamu sanguin tipe yang ortodoks.”

Saya hanya mengerutkan dahi. Rasanya mulai males kalau terus-terusan ditanggepin. Karena rasa males ini udah mulai memuncak, saya akhirnya pamit pulang. Dan sebelum pertemuan kami usai, dia berkata …

“Bro, dua hari lagi ada seminar MLM di Solo. Kamu hadir, ya.”

“Eh???”

“Tenang aja. Nanti berangkat berdua boncengan sama aku.”

“Nggak bisa kayaknya, bro,” seperti yang saya bilang di awal, saya nggak minat gabung yang begituan.

“Diusahakan lah, bro. Soalnya aku lihat, kamu ini punya potensi.”

Apa? Punya potensi? Itu artinya saya punya kemampuan untuk mengajak orang lain ikut MLM? Itu artinya saya punya kemampuan komunikasi yang bagus? Kalau saya emang punya kemampuan berkomunikasi sebaik itu, kayaknya saya nggak mungkin jomblo dari lahir, deh.

Terakhir …

Pertemuan yang benar-benar nggak terduga. Diajak ketemuan sama teman lama, saya pikir bakalan bernostalgia tentang masa lalu atau seenggaknya berbagi kabar terkini kondisi masing-masing. Tapi, ternyata malah mendapat presentasi MLM.

Kayaknya saya harus berterimakasih sama MLM. Karena tanpa MLM, saya nggak akan pernah kepikiran buat nulis artikel ini. Yang mana, ini adalah artikel terpanjang yang pernah saya tulis di blog saya ini. Saya juga harus berterimakasih sama MLM karena berkat MLM, sekarang teman saya berubah menjadi seorang penabung emas.