Jumat, 30 Juni 2017

Setelah Nonton Train to Busan [Review Film]


 
Apa yang biasa dilakukan orang-orang ketika hari raya Idul fitri tiba? Setidaknya ada 3 hal yang saya rasa hampir tidak bisa dipisahkan dari hari Lebaran. Pertama, saling maaf-maafan. Kedua, makan ketupat. Ketiga, nonton film jadul. Dan tentu saja saya melakukan ketiganya.

Tentang nonton film jadul, nggak tahu kenapa saya kok pengen banget nulis sesuatu tentang film yang saya tonton di blog ini. Itung-itung nambah postingan. Soalnya udah hari terakhir di bulan Juni tapi postingan baru satu. Hehe.

Sebenarnya film yang saya tonton bukan film yang jadul-jadul amat, kok. Bukan film Warkop DKI atau Suzanna. Tapi Train To Busan, sebuah film yang dirilis tahun 2016. Sekarang pertanyaannya, kalau udah lewat satu tahun itu udah masuk kategori jadul belum, ya?

Buat yang belum tahu tentang Train To Busan, saya akan kasih info singkatnya.

Jadi, Train to Busan (Hangul: 부산행; RR: Busanhaeng) adalah film thriller bertema Zombie asal Korea Selatan. Dirilis pada tanggal 20 Juli 2016. Kabarnya, Train to Busan merupakan film pertama Korea Selatan yang berhasil meraih 10 juta penonton.

Ok, sebelum melangkah ke review, saya mau bikin disclaimer dulu. Jadi sebenarnya saya ini nggak ngerti apa-apa tentang film. Jadi akan menjadi sesuatu yang tidak mengherankan kalau review di postingan kali ini akan terlihat aneh dan terkesan asal-asalan.
***
SINOPSIS
Awal cerita Train to Busan adalah ketika sebuah truk pembawa barang diizinkan melewati sebuah daerah yang mengalami kebocoran. Ketika itu, pengendara truk tidak melihat seekor rusa melintas di tengah jalan sehingga rusa yang mati itu berubah menjadi rusa zombie.

Seok-Woo, seorang manajer keuangan sebuah perusahaan, berangkat ke Busan bersama anaknya, Su-an, untuk bertemu dengan ibunya sebagai hadiah ulang tahun anak perempuannya. Seok-Woo, yang baru bercerai dengan istrinya, berangkat dengan KTX (kereta api cepat Korea) dari Seoul bersama para penumpang lain. Ketika kereta akan berangkat, seorang wanita dengan luka di kakinya masuk ke dalam kereta tersebut. Wanita tersebut mencoba menyerang pramugari kereta yang ingin mencoba menolongnya. Sejak itu, wanita zombie itu telah menginfeksi sejumlah besar penumpang kereta.
***
Baiklah, jadi menurut saya, film Train to Busan ini keren. Seru, menegangkan, dan … udah gitu aja, sih. Pokoknya nggak nyesel nontonnya. Tuh kan, reviewnya aneh banget. Hehe. Intinya, saya suka filmnya. 

Dalam setengah jam pertama setelah nonton film itu, perasaan tegang masih terbayang dalam benak saya. Namun setelahnya, semua perasaan tegang itu perlahan berganti dengan datangnya pertanyaan demi pertanyaan. Bagi saya yang jujur aja sangat awam tentang film, Train to Busan meninggalkan banyak sekali pertanyaan.

Pertanyaan-pertanyaan sederhana sebenarnya. Pertanyaan-pertanyaan tentang zombie di film itu. Entah kenapa saya agak merasa informasi tentang zombie di film Train to Busan itu kurang. Jadi saya cukup penasaran tentang kenapa tiba-tiba bisa ada Zombie? Apa penyebabnya? Bagaimana cara mengatasinya atau membunuhnya?

Informasi yang saya dapat tentang zombie di Train to Busan hanya zombie-zombie itu nggak terlalu cerdas bahkan untuk sekedar membuka pintu. Lalu mereka juga sangat mengandalkan indera pengelihatan. Ketika berada di ruang gelap, praktis mereka kebingungan. Sepintas, agak mirip seperti rabun ayam, sih.

Ada satu adegan di mana tokoh orang kaya di film itu mendapat telepon dari anak buahnya. Sang anak buah seperti ketakutan dan berkata bahwa perusahaan mereka adalah penyebab dari semua kekacauan yang terjadi. Saya kira hal itu akan menjelaskan tentang bagaimana monster-monster itu tercipta. Namun sayangnya, sama sekali tidak. 

Saya juga telah mencoba menonton film animasi Seoul Station yang dikatakan di internet bahwa itu adalah prekuel dari Train to Busan dengan harapan bisa menjawab rasa penasaran saya. Tapi lagi-lagi hasilnya nihil.

Tapi, bagaimanapun itu bagi saya Train to Busan tetaplah film yang menegangkan dan keren. Dan terakhir, Train to Busan sukses membuat saya ingin menonton lebih banyak lagi film Korea.

Minggu, 18 Juni 2017

Pengalaman Puasa Tanpa Sahur



Pernah nggak makan apa-apa selama kira-kira 24 jam? Saya sih pernah. Kemarin tepatnya. Tanggal 17 Juni 2017. Kenapa itu bisa terjadi? Apakah saya sedang mengetes ketahanan tubuh saya? Tentu tidak. Apakah saya sedang menjalankan diet OCD? Bukan juga. Alasannya sederhana sebenarnya. Ya, saya bangun kesiangan dan otomatis melewatkan makan sahur.

Dan melewatkan sahut membuat saya nggak makan apa-apa selama 24 jam. Terakhir saya makan adalah sehabis sholat magrib tanggal 16. Lalu kalau saya nggak sahur maka saya baru boleh makan sehabis sholat magrib tanggal 17. Tuh kan beneran 24 jam. Sebenarnya bisa aja sih saya memilih untuk nggak puasa di tanggal 17. Tapi kan ini udah lewat lebih dari 20 hari. Masak iya mau bolong. Rasanya eman-eman aja gitu.

Sebenarnya saya sadar kok kalau postingan ini akan jadi postingan yang nggak penting-penting amat. Yang mana seperti postingan saya yang lainnya. Tapi nggak tahu kenapa saya tetap pengen nulis tentang ini. Karena bagi saya nggak makan selama 24 jam itu prestasi, lho. Saya belum pernah mengalami itu sebelumnya. Dan tentu saya juga nggak mau mengalaminya lagi. Hehe.

Alasan lain kenapa saya menulis ini selain karena saya menganggap ini sebagai prestasi adalah karena saya berharap ada orang lain di luar sana yang melewatkan sahurnya lalu berpikir untuk nggak puasa baca tulisan ini dan kemudian meneladani perjuangan saya dalam nggak makan selama 24 jam dan kemudian memantapkan dirinya untuk tetap berpuasa. Alasan yang sangat luar biasa, kan?

Ok, daripada muter lama-lama, mending saya langsung cerita tentang bagaimana hari saya berlangsung kemarin.

06:00 Saya bangun tidur. Bangun kesiangan dan otomatis nggak sahur.

06:00-09:00 Nggak ngerasain apa-apa. Badan masih fit. Tapi tubuh sama sekali nggak beranjak dari sahur. Rasanya mager aja gitu.

09:00-12:00 Mulai lemes. Haus dan lapar? Sama sekali nggak kerasa. Cuman lemes aja. Lagi-lagi cuman bisa berbaring di atas kasur.

12:00 sholat dzuhur ke masjid dengan mengerahkan seluruh kekuatan yang tersisa.

12:00-15:00 Berbaring di atas kasur dan kemudian tertidur sampai asar.

15:00 sholat asar ke masjid dengan mengerahkan seluruh kekuatan yang tersisa.

15:00-16:30 berbaring di atas kasur sambil mainan hp. Buat berdiri rasanya agak sempoyongan.

16:30-16:40 mandi persiapan berangkat bukber

16:40-17:20 perjalanan ke tempat bukber. Jalanan macet banget.

17:20-17:32 ngobrol bentar sama teman tahu-tahu udah adzan magrib aja.

Jadi begitulah kira-kira apa yang saya lakukan agar kuat puasa meski nggak sahur. Memang sih banyakan berbaring di atas kasurnya. Hehe. By the way, itu bukan cara yang bagus ya. Tapi, at least itu lebih baik daripada nggak puasa, sih.