Senin, 22 Mei 2017

Tottenham Hotspur 2016/2017: Musim Yang Tak Terlupakan



Akhir-akhir ini, waktu rasanya berjalan dengan begitu cepat, ya. Seperti baru kemarin Premier League musim 2016/2017 dimulai, tahu-tahu sudah berakhir saja. Sebagai orang yang ngefans dengan Tottenham Hotspur, rasanya musim 2016/2017 adalah musim yang fantastis. Dan tentu saja, tak boleh dilupakan begitu saja.

Apa saja yang membuat musim ini menjadi tak terlupakan? Saya rasa, bagi saya pribadi jawabannya adalah …

86 Poin   
Jika kamu adalah fans Spurs, atau setidaknya mengikuti perkembangan Premier League, pernahkah kamu melihat Spurs mengumpulkan poin lebih banyak dari musim ini? Ya, ini adalah rekor poin terbanyak yang pernah dikumpulkan Spurs dalam satu musim kompetisi. Melebihi rekor sebelumnya di musim 2012/2013 dengan 72 poin ketika masih diperkuat oleh Gareth Bale.

Posisi 2
Banyak fans Spurs yang merasa kecewa setelah Tottenham kalah di laga tandang menghadapi West Ham United. Sebuah laga yang turut menghapus peluang Spurs untuk menjadi juara Premier League di musim ini. Ya, Spurs memang gagal juara. Tapi, bukankah posisi 2 itu bukanlah hasil yang buruk? Bahkan ini adalah posisi terbaik yang pernah di dapat Spurs di era Premier League, kan. Lagipula, setidaknya Spurs menunjukkan peningkatan sejak dilatih Pochettiono. Peringkat 5, kemudian 3, lalu sekarang 2, selanjutnya? Kamu bisa menebaknya sendiri.

St. Totteringham’s Day
Sejak sangat lama, saya selalu yakin bahwa Spurs akan selalu bisa mengalahkan Arsenal dalam North London Derby. Terutama ketika pertandingan itu akan digelar di White Hart Lane. Memang, pada akhirnya Spurs memang beberapa kali mengalahkan Arsenal dalam pertandingan tersebut. Namun, tahun demi tahun saya mendukung Spurs, belum pernah sekalipun saya melihat Spurs berhasil mengakhiri musim di atas Arsenal. Bahkan di musim 15/16 ketika Spurs hampir finis di atas The Gunners, secara tragis Tottenham hancur di kandang Newcastle dan membuat Arsenal berhasil menyalip dan mengambil alih posisi kedua. Dan setelah penantian panjang, akhirnya musim ini Spurs benar-benar finis di atas Arsenal. Bahkan dengan jarak yang lumayan jauh, 11 poin. Yang lebih istimewanya lagi, Arsenal hanya finis di urutan 5. Hmm, selamat datang di LIGA MALAM JUMAT.

Kutukan Wembley
Sebenarnya agak tidak masuk akal. Tapi, faktanya memang itu yang terjadi. Ya, kutukan Wembley. Secara misterius, di musim 16/17 ketika Spurs bermain di Wembley, kekecewaan selalu hadir. Tersingkir di babak group Liga Champions, lalu di Europa League juga, dan yang paling anyar kalah di semi final FA Cup melawan Chelsea. Ah, semoga kutukan Wembley tidak lagi terjadi musim depan. Karena … musim depan Spurs akan memainkan semua partai kandangnya di Wembley.

White Hart Lane
Bukankah perpisahan itu selalu menyedihkan? Berpisah dengan sebuah tempat yang kita anggap sebagai rumah sendiri. Sebuah rumah yang sudah memberi kenangan, pahit dan manis. Sebuah rumah yang telah kita tinggali lebih dari 100 tahun lamanya. Tapi, seperti ungkapan yang sudah sangat klise, bukankah pertemuan selalu berakhir dengan perpisahan?


Son Heung-min
Sebelumnya, saya selalu menganggap Son adalah pemain Asia yang bisa berlari cepat. Ya, hanya sekedar itu. Selebihnya, bagi saya Son itu egois, terlalu lama membawa bola, memaksakan melakukan shot meski tidak ada ruang yang cukup terbuka, terlalu bernafsu mencetak gol, dan hal-hal negatif lainnya. Meski terlihat begitu bernafsu mencetak gol, namun faktanya dia hanya mencetak 4 gol di liga di musim 15/16.

Namun, musim 16/17 sepenuhnya berjalan dengan sangat berbeda bagi Son. Pria Korea Selatan itu tampil dengan sangat luar biasa. 14 gol berhasil dicetak di ajang Liga Premier. Lalu, dua kali membawa pulang penghargaan Premier League Player of the Month tentu adalah bukti nyata kehebatan Son Heung-min.

Top Score Harry Kane
Gila! Ya, gila –tentunya dalam arti positif- adalah satu-satunya kata yang bisa saya katakan untuk mendiskripsikan bagaimana Harry Kane bermain sepakbola. Bermain kurang meyakinkan di awal musim, cidera dua kali dalam semusim, bahkan ketika mendekati akhir musim jumlah golnya masih kalah dari Lukaku. Namun pada akhirnya Kane melakukan sesuatu yang sulit dipercaya, mencetak 7 gol dalam 2 pertandingan, membuatnya keluar sebagai pencetak gol terbanyak di akhir musim. Yang seperti itu, bukankah itu gila?

29 gol dari 30 pertandingan yang dilaluinya. Bagi saya, Kane seperti jaminan akan terciptanya sebuah gol. Di mata saya, Kane terlihat begitu mudah membuat bola bersarang ke dalam gawang lawan. Sentuhan sederhana di dalam kotak penalti, mengubah arah bola dengan kepalanya, sampai tendangan spektakuler dari jarak yang sangat jauh, semua berakhir dengan gol. Dan lagi-lagi, di mata saya Kane seperti melakukan semua itu dengan sangat mudah.

Lalu, apalagi, ya? Ah, sepertinya saya sudah berada di tahap di mana saya tidak tahu lagi tentang apa yang harus saya tulis. Jadi, terimakasih sudah membaca.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar