Senin, 08 Mei 2017

Mentoring FEB UMS 16/17: Tahu Gini, Mending Nggak Usah AJa

“Tahu gini, mending nggak usah aja.”

Belum pernah bikin survey, sih. Tapi, cukup yakin kalau semua manusia yang pernah hidup di alam semesta pasti pernah merasakannya. Dan tentunya, saya juga.

Mentoring FEB tahun ajaran 2016/2017 menjadi tahun ke-3 saya terlibat dalam kegiatan mentoring di UMS. Sama seperti tahun lalu, kali ini saya lagi-lagi menjadi pementor. Dan kali ini, ada sebuah kalimat “tahu gini, mending nggak usah aja” yang berulang kali berputar di dalam kepala saya.

Di akhir tahun ajaran 2015/2016, saya bertemu dengan salah seorang pengurus mentoring. Waktu itu, beliau menawari saya untuk menjadi pementor lagi. Dan waktu itu pula, saya menjawab dengan kalimat yang kurang lebih …

“InsyaAllah, Mas. Kalau bisa, saya dikasih kelompok yang isinya Mahasiswa baru aja, Mas.”

Waktu pun berlalu. Tahun ajaran 2016/2017 datang. Mentoring tahun ajaran itu pun dimulai. Saya kembali menjalani rutinitas sabtu pagi sebagai pementor. Ketika sampai di hall FEB, saya mulai mengecek absen kelompok saya. Dan saya sedikit terkejut ketika menyadari bahwa kelompok saya terdiri dari mahasiswa-mahasiswa angkatan 2015, atau dengan kata lain semester 3. Itu artinya di kelompok saya nggak ada mahasiswa barunya.

Saya menduga, alasan kenapa saya mendapat kelompok yang isinya mahasiswa lama adalah karena tahun 2016/2017 akan menjadi tahun kedua saya menjadi pementor. Dengan kata lain, saya bisa disebut pementor senior. Hehe, apaan sih? Saya cukup yakin kelompok yang isinya mahasiswa baru dipegang oleh pementor yang baru tahun pertama menjadi pementor.

Sebenarnya bukannya saya nggak mau berada dalam kelompok yang isinya mahasiswa lama, tapi kalau bisa milih tetep milih yang isinya mahasiswa baru. Nggak tahu kenapa perasaan saya nggak enak kalau kelompok saya anggotanya mahasiswa lama. Dalam mindset saya, saya masih cukup yakin bahwa mahasiswa baru lebih mudah diatur.

Perasaan nggak enak itu kayaknya jadi kenyataan. Dari 12 orang yang terdaftar menjadi anggota kelompok saya, belakangan bertambah 3 orang menjadi 15 orang, nggak pernah sekalipun di sebuah sabtu pagi ke-15 orang itu hadir bersama. Jangankan hadir semua, hadir setengahnya aja nggak pernah. Haha.

Yang paling parah ada yang cuma masuk sekali di awal pertemuan dan setelah itu nggak pernah kembali lagi. Setiap sabtu paling yang hadir hanya dua atau tiga orang. Paling pol rekor terbanyak hanya lima orang. Pernah dalam suatu sabtu, sama sekali nggak ada yang berangkat. Haha.

Awalnya, ketika hanya sedikit yang berangkat dan bahkan pernah nggak ada yang berangkat sama sekali, saya berkata dalam hati “TAHU GINI, MENDING NGGAK USAH AJA” jadi pementor. Tapi seiring waktu berjalan, kalau nggak ada yang berangkat, santai, nggak usah terlalu dipikirin. Mending ditinggal pulang aja.

Tahun ajaran yang akan datang, masihkah saya akan menjadi pementor untuk tiga tahun beruntun? Nggak tahu juga, sih. Tapi, enggak tahu kenapa kayaknya libur di hari sabtu itu terlihat sedikit menyenangkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar