Selasa, 02 Mei 2017

Awayday Sragen, Akhirnya Kembali Ke Tribun



22 Oktober 2014, masih sangat jelas terekam dalam ingatan saya. Kala itu, di Stadion Manahan berlangsung pertandingan 8 besar Divisi Utama yang mempertemukan antara tuan rumah Persis Solo melawan sang tamu Martapura FC.

Bagi banyak orang, satu hal yang paling tak terlupakan dari laga yang berakhir dengan skor 1-1 itu adalah tentang apa yang terjadi setelah pertandingan berakhir. Ya, sebuah kerusuhan yang mencekam terjadi. Bahkan saking mencekamnya, satu orang supporter ditemukan meninggal dunia.

Bagi banyak orang, mungkin kejadian itu adalah satu hal yang paling tak kan pernah terlupakan dari pertandingan tersebut. Tapi, apa itu juga berlaku bagi saya? Rasanya tidak. Karena ada hal lain yang lebih tak terlupakan. Ya, sebuah fakta bahwa pertandingan itu adalah pertandingan terakhir di mana saya menghadirinya secara langsung di stadion. Pertandingan terakhir di mana saya memberikan dukungan secara langsung untuk Persis Solo, berdiri di tribun kemudian bernyanyi.

Setelahnya, saya sama sekali tak pernah menginjakkan kaki di stadion lagi. Alasannya? Saya tidak terlalu yakin. Namun, sepertinya saya mulai sedikit kehilangan minat terhadap sepakbola. Hehe.  

Seingat saya, dulu di awal 2015 ada pemboikotan laga Persis Solo dari teman-teman Pasoepati. Dengan cara tidak masuk ke stadion di kala Persis Solo bertanding. Jujur saya lupa kenapa pemboikotan itu sampai terjadi. Tapi satu yang pasti, saya termasuk orang yang ikut dalam pemboikotan. Dan sepertinya saya sedikit kebablasan dalam pemboikotan itu. Jadi, ketika teman-teman yang lain sudah kembali ke stadion, saya masih mengabaikan Persis Solo dengan dalih boikot. Hehe.

Entah mengapa saya cukup yakin bahwa pemboikotan itu sedikit banyak memiliki pengaruh kenapa saya tak pernah pergi ke stadion lagi. Seperti layaknya dua orang yang lama terpisah, selalu ada dua kemungkinan, rindu atau justru lupa. Dan sepertinya, lupa adalah hal yang terjadi kepada saya.

Jika saja ada orang yang berkata bahwa saya tidak setia, saya sama sekali tidak peduli. Setidaknya di masa lalu ketika banyak orang meninggalkan Persis Solo yang terus menerus kalah dan mengalihkan dukungan ke Solo FC, saya masih pergi ke stadion untuk memberikan dukungan untuk Laskar Sambernyawa.

Ah, kenapa saya jadi bernostalgia? Lagipula, memangnya siapa yang peduli dengan kesetiaan saya terhadap Persis Solo di masa lalu? Haha.

By the way,  dua setengah tahun berselang dari tanggal 22 Oktober 2014, saya akhirnya kembali datang ke stadion. Pada tanggal 30 April 2017, atau tepatnya 921 hari sejak pertandingan antara Persis Solo melawan Martapura FC, saya kembali menginjakkan kaki di atas tribun.

Memang, bukan Stadion Manahan yang saya kunjungi. Melainkan Stadion Taruna Sragen. Dalam sebuah partai di mana Persis Solo bertandang untuk menerima jamuan dari sang tuan rumah Sragen United. Kalau dipikir-pikir agak gila juga, ya. Setelah hampir tiga tahun tidak pergi ke stadion, sekalinya ke stadion pas pertandingan away. Yah, meski awaynya cuma ke Sragen, sih. Hehe. Tapi, away tetaplah away.

Setelah pertandingan antara Sragen United melawan Persis Solo di mana klub yang disebut terakhir keluar sebagai pemenang usai, ada sebuah pertanyaan yang datang menghampiri saya. Apakah saya akan kembali rutin untuk datang ke stadion? Jawabnya, saya tidak tahu.

Lagipula, saya hanya kembali ke tribun. Bukan benar-benar kembali ke Stadion Manahan. Mengacu pada beberapa paragraf di atas, sudah 921 hari sejak saya terakhir kali datang ke Manahan. Mungkin, ada baiknya digenapkan sekalian menjadi 1.000 hari. Hehe.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar