Rabu, 31 Mei 2017

Baru Mulai Kuliah Di Usia 20 Tahun



Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Sebuah kalimat klise yang terkadang ada benarnya juga.

Pernah nggak sih kamu merasa terlalu tua untuk memulai sesuatu? Terus kemudian berpikir bukankah semuanya sudah terlambat? Lalu mulai sedikit ragu apakah akan melangkah maju. kamu pernah merasakannya?

Kalau saya sih pernah. Sekitar 3 tahun lalu. Ketika usia saya masih 20 tahun. Ketika itu saya mengalami sebuah dilema. Apakah saya akan kuliah? Tapi usia saya sudah 20 tahun? Apakah ini adalah pilihan yang tepat? Dan akhirnya, saya pun kuliah. Ya, saya mulai kuliah ketika usia saya sudah menginjak 20 tahun, lebih tua dua tahun dari orang normal yang kebanyakan mulai kuliah di usia 18 tahun.

Awalnya, saya kira cuma saya yang ragu tentang ide memulai kuliah di usia 20. Tapi ternyata dugaan saya salah. Di luar sana ternyata banyak juga orang yang merasakan seperti apa yang saya rasakan. Dari mana saya tahu? Saya mencoba mengetik di google dengan keyword “kuliah usia 20”. Dan hasilnya ada pertanyaan yang terlontar di situs kaskus dan Yahoo Answer yang intinya sama seperti apa yang saya rasakan.

Sebenarnya, postingan saya kali ini bermaksud menjawab pertanyaan apakah kuliah di usia 20 tahun itu sudah terlalu tua atau tidak. Tentu saya akan menuliskannya berdasar pengalaman apa yang pernah saya alami tiga tahun yang lalu.

Ok, sebelum saya memulainya, saya akan bercerita kenapa saya bisa kuliah di usia 20. Sebenarnya, setelah lulus SMA saya tidak langsung kuliah. Apa yang saya lakukan? Kerja? Nggak juga, sih. Saya nggak ngapa-ngapain.

Bagi kebanyakan orang, masa SMA adalah masa-masa terindah dalam hidup. Sayangnya, itu adalah hal yang sama sekali tidak terjadi dalam hidup saya. Nggak tahu kenapa saya sedikit benci dengan masa SMA. Masa-masa yang begitu membosankan. Berangkat pagi dan kemudian pulang sekitar jam 14.00. Terus-menerus begitu setiap harinya. Penuh dengan aturan yang mengikat. Dan hal-hal menyebalkan lainnya.

Waktu itu, saya benar-benar membenci rutinitas. Ingin rasanya untuk keluar dari lingkaran rutinitas itu. Waktu itu saya berpikir, jika setelah lulus SMA saya melanjutkan ke bangku kuliah, bukankah saya akan bertemu dengan rutinitas lagi? Tentu, saya tidak ingin berjumpa dengan rutinitas lagi. Dan akhirnya, saya memutuskan untuk tidak kuliah.

Awalnya saya menjalani masa-masa selepas lulus SMA dengan cukup menyenangkan. Bebas dari rutinitas, tidak ada aturan yang mengikat, dan apalagi ya? Agak lupa. Hehe. Saya tidak kuliah tapi juga tidak bekerja. Hari-hari saya hanya saya habiskan layaknya pengangguran.

Pertamanya sih enak hidup kayak pengangguran. Tidak perlu melakukan apapun. Dan bisa hidup sangat santai. Namun, seiring berjalannya waktu kok saya mulai kehilangan kenikmatan hidup sebagai pengangguran. Rasanya nggak enak aja sama orang tua. Ketika orang tua bekerja saya hanya tiduran di kamar. Kayak ada rasa bersalah gitu.

Beberapa kali orang tua menyarankan untuk kuliah. Di masa-masa awal saya menganggur, tentu saya menolaknya. Namun, seiring berjalannya waktu saya mulai mempertimbangkannya. Lagipula saya tidak kuliah bukan karena alasan ekonomi atau lainnya, ya hanya karena benci rutinitas saja.

Akhirnya saya mulai berpikir untuk kuliah. Namun, karena sudah menganggur terlalu lama, ketika saya akan mendaftar tentu saya harus menunggu angkatan berikutnya. Dengan kata lain, saya rugi setahun. Dan dalam tempo setahun itu, umur saya pun berubah menjadi kepala dua. Ya, 20 tahun.

Awalnya saya agak ragu juga. Apa nggak terlalu tua, nih? Tapi setelah dipikir-pikir, saya nggak bisa hidup seperti itu terus. Menganggur dan tidak melakukan apapun sementara di waktu yang sama orang tua bekerja mencari nafkah.

Singkat cerita akhirnya saya kuliah. Ternyata kehidupan kuliah benar-benar berbeda dengan kehidupan di SMA. Ya, kuliah jauh lebih menyenangkan. Tidak ada rutinitas dengan waktu yang mengikat. Karena setiap hari jam dan waktu masuknya tidak sama. Tidak ada aturan yang menyebalkan.

Lalu tentang terlalu tua, ternyata di bangku kuliah saya menemukan juga orang di angkatan saya yang usianya sama atau bahkan jauh lebih tua. Meski memang hanya minoritas, sih. Karena kebanyakan ya tentu yang lebih muda. Tapi kan yang penting ada.

Kemudian jika dipikir kembali selisih usia sekitar dua tahun itu juga bukan jarak yang jauh, kok. Jadi jangan ragu untuk berbaur sama teman seangkatan yang rata-rata lebih muda. Ok, kalau kamu nggak setuju tentang dua tahun itu bukan jarak yang jauh, coba lihat ke lingkungan sekelilingmu. Tempat tongkrongan kamu misalnya. Ada nggak anak yang sering nongkrong di tongkrongan kamu yang usianya lebih muda dua tahun atau lebih? Ada pasti. Akrab nggak? Akrab pasti. Kan teman tongkrongan. Jadi, jangan ragu untuk berbaur.

Dan terakhir, sebenarnya terlalu tua atau terlalu muda itu adalah hal yang relatif dan fleksibel. Bukan sesuatu yang kaku. Status terlalu tua atau terlalu muda jelas akan berbeda tergantung situasi, kondisi, dan sudut pandang mana kita melihatnya. Apakah 20 tahun itu terlalu tua? Ya, jika kamu ingin mendaftar lomba mewarnai tingkat TK. Apakah 20 tahun itu terlalu tua? Tidak, jika kamu ingin mencoba untuk melakukan sesuatu yang berguna. Dan kuliah, tentu adalah sesuatu yang sangat berguna.

Ah, memang benar rasanya. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Sebuah kalimat klise yang terkadang ada benarnya juga.

Senin, 22 Mei 2017

Tottenham Hotspur 2016/2017: Musim Yang Tak Terlupakan



Akhir-akhir ini, waktu rasanya berjalan dengan begitu cepat, ya. Seperti baru kemarin Premier League musim 2016/2017 dimulai, tahu-tahu sudah berakhir saja. Sebagai orang yang ngefans dengan Tottenham Hotspur, rasanya musim 2016/2017 adalah musim yang fantastis. Dan tentu saja, tak boleh dilupakan begitu saja.

Apa saja yang membuat musim ini menjadi tak terlupakan? Saya rasa, bagi saya pribadi jawabannya adalah …

86 Poin   
Jika kamu adalah fans Spurs, atau setidaknya mengikuti perkembangan Premier League, pernahkah kamu melihat Spurs mengumpulkan poin lebih banyak dari musim ini? Ya, ini adalah rekor poin terbanyak yang pernah dikumpulkan Spurs dalam satu musim kompetisi. Melebihi rekor sebelumnya di musim 2012/2013 dengan 72 poin ketika masih diperkuat oleh Gareth Bale.

Posisi 2
Banyak fans Spurs yang merasa kecewa setelah Tottenham kalah di laga tandang menghadapi West Ham United. Sebuah laga yang turut menghapus peluang Spurs untuk menjadi juara Premier League di musim ini. Ya, Spurs memang gagal juara. Tapi, bukankah posisi 2 itu bukanlah hasil yang buruk? Bahkan ini adalah posisi terbaik yang pernah di dapat Spurs di era Premier League, kan. Lagipula, setidaknya Spurs menunjukkan peningkatan sejak dilatih Pochettiono. Peringkat 5, kemudian 3, lalu sekarang 2, selanjutnya? Kamu bisa menebaknya sendiri.

St. Totteringham’s Day
Sejak sangat lama, saya selalu yakin bahwa Spurs akan selalu bisa mengalahkan Arsenal dalam North London Derby. Terutama ketika pertandingan itu akan digelar di White Hart Lane. Memang, pada akhirnya Spurs memang beberapa kali mengalahkan Arsenal dalam pertandingan tersebut. Namun, tahun demi tahun saya mendukung Spurs, belum pernah sekalipun saya melihat Spurs berhasil mengakhiri musim di atas Arsenal. Bahkan di musim 15/16 ketika Spurs hampir finis di atas The Gunners, secara tragis Tottenham hancur di kandang Newcastle dan membuat Arsenal berhasil menyalip dan mengambil alih posisi kedua. Dan setelah penantian panjang, akhirnya musim ini Spurs benar-benar finis di atas Arsenal. Bahkan dengan jarak yang lumayan jauh, 11 poin. Yang lebih istimewanya lagi, Arsenal hanya finis di urutan 5. Hmm, selamat datang di LIGA MALAM JUMAT.

Kutukan Wembley
Sebenarnya agak tidak masuk akal. Tapi, faktanya memang itu yang terjadi. Ya, kutukan Wembley. Secara misterius, di musim 16/17 ketika Spurs bermain di Wembley, kekecewaan selalu hadir. Tersingkir di babak group Liga Champions, lalu di Europa League juga, dan yang paling anyar kalah di semi final FA Cup melawan Chelsea. Ah, semoga kutukan Wembley tidak lagi terjadi musim depan. Karena … musim depan Spurs akan memainkan semua partai kandangnya di Wembley.

White Hart Lane
Bukankah perpisahan itu selalu menyedihkan? Berpisah dengan sebuah tempat yang kita anggap sebagai rumah sendiri. Sebuah rumah yang sudah memberi kenangan, pahit dan manis. Sebuah rumah yang telah kita tinggali lebih dari 100 tahun lamanya. Tapi, seperti ungkapan yang sudah sangat klise, bukankah pertemuan selalu berakhir dengan perpisahan?


Son Heung-min
Sebelumnya, saya selalu menganggap Son adalah pemain Asia yang bisa berlari cepat. Ya, hanya sekedar itu. Selebihnya, bagi saya Son itu egois, terlalu lama membawa bola, memaksakan melakukan shot meski tidak ada ruang yang cukup terbuka, terlalu bernafsu mencetak gol, dan hal-hal negatif lainnya. Meski terlihat begitu bernafsu mencetak gol, namun faktanya dia hanya mencetak 4 gol di liga di musim 15/16.

Namun, musim 16/17 sepenuhnya berjalan dengan sangat berbeda bagi Son. Pria Korea Selatan itu tampil dengan sangat luar biasa. 14 gol berhasil dicetak di ajang Liga Premier. Lalu, dua kali membawa pulang penghargaan Premier League Player of the Month tentu adalah bukti nyata kehebatan Son Heung-min.

Top Score Harry Kane
Gila! Ya, gila –tentunya dalam arti positif- adalah satu-satunya kata yang bisa saya katakan untuk mendiskripsikan bagaimana Harry Kane bermain sepakbola. Bermain kurang meyakinkan di awal musim, cidera dua kali dalam semusim, bahkan ketika mendekati akhir musim jumlah golnya masih kalah dari Lukaku. Namun pada akhirnya Kane melakukan sesuatu yang sulit dipercaya, mencetak 7 gol dalam 2 pertandingan, membuatnya keluar sebagai pencetak gol terbanyak di akhir musim. Yang seperti itu, bukankah itu gila?

29 gol dari 30 pertandingan yang dilaluinya. Bagi saya, Kane seperti jaminan akan terciptanya sebuah gol. Di mata saya, Kane terlihat begitu mudah membuat bola bersarang ke dalam gawang lawan. Sentuhan sederhana di dalam kotak penalti, mengubah arah bola dengan kepalanya, sampai tendangan spektakuler dari jarak yang sangat jauh, semua berakhir dengan gol. Dan lagi-lagi, di mata saya Kane seperti melakukan semua itu dengan sangat mudah.

Lalu, apalagi, ya? Ah, sepertinya saya sudah berada di tahap di mana saya tidak tahu lagi tentang apa yang harus saya tulis. Jadi, terimakasih sudah membaca.  

Senin, 08 Mei 2017

Mentoring FEB UMS 16/17: Tahu Gini, Mending Nggak Usah AJa

“Tahu gini, mending nggak usah aja.”

Belum pernah bikin survey, sih. Tapi, cukup yakin kalau semua manusia yang pernah hidup di alam semesta pasti pernah merasakannya. Dan tentunya, saya juga.

Mentoring FEB tahun ajaran 2016/2017 menjadi tahun ke-3 saya terlibat dalam kegiatan mentoring di UMS. Sama seperti tahun lalu, kali ini saya lagi-lagi menjadi pementor. Dan kali ini, ada sebuah kalimat “tahu gini, mending nggak usah aja” yang berulang kali berputar di dalam kepala saya.

Di akhir tahun ajaran 2015/2016, saya bertemu dengan salah seorang pengurus mentoring. Waktu itu, beliau menawari saya untuk menjadi pementor lagi. Dan waktu itu pula, saya menjawab dengan kalimat yang kurang lebih …

“InsyaAllah, Mas. Kalau bisa, saya dikasih kelompok yang isinya Mahasiswa baru aja, Mas.”

Waktu pun berlalu. Tahun ajaran 2016/2017 datang. Mentoring tahun ajaran itu pun dimulai. Saya kembali menjalani rutinitas sabtu pagi sebagai pementor. Ketika sampai di hall FEB, saya mulai mengecek absen kelompok saya. Dan saya sedikit terkejut ketika menyadari bahwa kelompok saya terdiri dari mahasiswa-mahasiswa angkatan 2015, atau dengan kata lain semester 3. Itu artinya di kelompok saya nggak ada mahasiswa barunya.

Saya menduga, alasan kenapa saya mendapat kelompok yang isinya mahasiswa lama adalah karena tahun 2016/2017 akan menjadi tahun kedua saya menjadi pementor. Dengan kata lain, saya bisa disebut pementor senior. Hehe, apaan sih? Saya cukup yakin kelompok yang isinya mahasiswa baru dipegang oleh pementor yang baru tahun pertama menjadi pementor.

Sebenarnya bukannya saya nggak mau berada dalam kelompok yang isinya mahasiswa lama, tapi kalau bisa milih tetep milih yang isinya mahasiswa baru. Nggak tahu kenapa perasaan saya nggak enak kalau kelompok saya anggotanya mahasiswa lama. Dalam mindset saya, saya masih cukup yakin bahwa mahasiswa baru lebih mudah diatur.

Perasaan nggak enak itu kayaknya jadi kenyataan. Dari 12 orang yang terdaftar menjadi anggota kelompok saya, belakangan bertambah 3 orang menjadi 15 orang, nggak pernah sekalipun di sebuah sabtu pagi ke-15 orang itu hadir bersama. Jangankan hadir semua, hadir setengahnya aja nggak pernah. Haha.

Yang paling parah ada yang cuma masuk sekali di awal pertemuan dan setelah itu nggak pernah kembali lagi. Setiap sabtu paling yang hadir hanya dua atau tiga orang. Paling pol rekor terbanyak hanya lima orang. Pernah dalam suatu sabtu, sama sekali nggak ada yang berangkat. Haha.

Awalnya, ketika hanya sedikit yang berangkat dan bahkan pernah nggak ada yang berangkat sama sekali, saya berkata dalam hati “TAHU GINI, MENDING NGGAK USAH AJA” jadi pementor. Tapi seiring waktu berjalan, kalau nggak ada yang berangkat, santai, nggak usah terlalu dipikirin. Mending ditinggal pulang aja.

Tahun ajaran yang akan datang, masihkah saya akan menjadi pementor untuk tiga tahun beruntun? Nggak tahu juga, sih. Tapi, enggak tahu kenapa kayaknya libur di hari sabtu itu terlihat sedikit menyenangkan.

Selasa, 02 Mei 2017

Awayday Sragen, Akhirnya Kembali Ke Tribun



22 Oktober 2014, masih sangat jelas terekam dalam ingatan saya. Kala itu, di Stadion Manahan berlangsung pertandingan 8 besar Divisi Utama yang mempertemukan antara tuan rumah Persis Solo melawan sang tamu Martapura FC.

Bagi banyak orang, satu hal yang paling tak terlupakan dari laga yang berakhir dengan skor 1-1 itu adalah tentang apa yang terjadi setelah pertandingan berakhir. Ya, sebuah kerusuhan yang mencekam terjadi. Bahkan saking mencekamnya, satu orang supporter ditemukan meninggal dunia.

Bagi banyak orang, mungkin kejadian itu adalah satu hal yang paling tak kan pernah terlupakan dari pertandingan tersebut. Tapi, apa itu juga berlaku bagi saya? Rasanya tidak. Karena ada hal lain yang lebih tak terlupakan. Ya, sebuah fakta bahwa pertandingan itu adalah pertandingan terakhir di mana saya menghadirinya secara langsung di stadion. Pertandingan terakhir di mana saya memberikan dukungan secara langsung untuk Persis Solo, berdiri di tribun kemudian bernyanyi.

Setelahnya, saya sama sekali tak pernah menginjakkan kaki di stadion lagi. Alasannya? Saya tidak terlalu yakin. Namun, sepertinya saya mulai sedikit kehilangan minat terhadap sepakbola. Hehe.  

Seingat saya, dulu di awal 2015 ada pemboikotan laga Persis Solo dari teman-teman Pasoepati. Dengan cara tidak masuk ke stadion di kala Persis Solo bertanding. Jujur saya lupa kenapa pemboikotan itu sampai terjadi. Tapi satu yang pasti, saya termasuk orang yang ikut dalam pemboikotan. Dan sepertinya saya sedikit kebablasan dalam pemboikotan itu. Jadi, ketika teman-teman yang lain sudah kembali ke stadion, saya masih mengabaikan Persis Solo dengan dalih boikot. Hehe.

Entah mengapa saya cukup yakin bahwa pemboikotan itu sedikit banyak memiliki pengaruh kenapa saya tak pernah pergi ke stadion lagi. Seperti layaknya dua orang yang lama terpisah, selalu ada dua kemungkinan, rindu atau justru lupa. Dan sepertinya, lupa adalah hal yang terjadi kepada saya.

Jika saja ada orang yang berkata bahwa saya tidak setia, saya sama sekali tidak peduli. Setidaknya di masa lalu ketika banyak orang meninggalkan Persis Solo yang terus menerus kalah dan mengalihkan dukungan ke Solo FC, saya masih pergi ke stadion untuk memberikan dukungan untuk Laskar Sambernyawa.

Ah, kenapa saya jadi bernostalgia? Lagipula, memangnya siapa yang peduli dengan kesetiaan saya terhadap Persis Solo di masa lalu? Haha.

By the way,  dua setengah tahun berselang dari tanggal 22 Oktober 2014, saya akhirnya kembali datang ke stadion. Pada tanggal 30 April 2017, atau tepatnya 921 hari sejak pertandingan antara Persis Solo melawan Martapura FC, saya kembali menginjakkan kaki di atas tribun.

Memang, bukan Stadion Manahan yang saya kunjungi. Melainkan Stadion Taruna Sragen. Dalam sebuah partai di mana Persis Solo bertandang untuk menerima jamuan dari sang tuan rumah Sragen United. Kalau dipikir-pikir agak gila juga, ya. Setelah hampir tiga tahun tidak pergi ke stadion, sekalinya ke stadion pas pertandingan away. Yah, meski awaynya cuma ke Sragen, sih. Hehe. Tapi, away tetaplah away.

Setelah pertandingan antara Sragen United melawan Persis Solo di mana klub yang disebut terakhir keluar sebagai pemenang usai, ada sebuah pertanyaan yang datang menghampiri saya. Apakah saya akan kembali rutin untuk datang ke stadion? Jawabnya, saya tidak tahu.

Lagipula, saya hanya kembali ke tribun. Bukan benar-benar kembali ke Stadion Manahan. Mengacu pada beberapa paragraf di atas, sudah 921 hari sejak saya terakhir kali datang ke Manahan. Mungkin, ada baiknya digenapkan sekalian menjadi 1.000 hari. Hehe.