Rabu, 05 April 2017

Setelah Nonton Kuzu no Honkai [Review Anime]



Beberapa waktu yang lalu, di parkiran kampus saya bertemu seorang teman yang saya tahu juga sering menonton anime. Kemudian dari pertemuan itu satu pertanyaan keluar dari mulut saya …

“Sekarang lagi nonton apa?” tanya saya.

“Kuzu no Honkai,” jawabnya.

“Bagus nggak?”

“Bagus, kok.”

Kemudian, masih di parkiran bersama teman saya, saya langsung meluncur ke google untuk mengorek informasi tentang anime yang baru saja disebut oleh teman saya. Pasca penelusuran di google, saya jadi tertarik buat menonton anime itu juga. Kuzu no Honkai resmi masuk daftar tunggu anime yang akan saya tonton. Tapi karena saya punya kebiasaan nonton anime yang sudah tamat –kalau masih on going males nunggunya-, jadi Kuzu no Honkai saya tunggu dulu biar tamat baru saya tonton.

Setelah pertemuan di parkiran dengan teman saya waktu itu, beberapa minggu setelahnya saya ketemu lagi dengan teman saya dan lagi-lagi di parkiran. Sebuah percakapan pun terjadi …

“Masih nonton … emm, apa yang kemarin kamu rekomendasiin?” tanya saya, jujur waktu itu agak lupa judulnya.

“Kuzu no Honkai,” jawabnya.

“Ah, iya itu.”

“Udah enggak, bro.”

“Lah, kenapa?”

“Gimana, ya. Ceritanya gitu-gitu aja. Ngebosenin.”

Setelah saya tanya-tanya, teman saya ngomong kalau dia hanya nonton Kuzu no Honkai sampai episode 7 saja. Dia nggak melanjutkan sampai tamat karena katanya ceritanya gitu-gitu aja dan ngebosenin. Dan hal ini, jelas bikin saya bingung. Kuzu no Honkai sudah masuk daftar tunggu yang mau saya tonton. Tapi teman saya bilang katanya animenya ngebosenin. Ini kan bikin bingung. Mau ditonton nggak, nih.

Tapi karena saya bingung mau nonton apa, akhirnya saya tonton juga Kuzu no Honkai. Itung-itung buat refreshing otak yang capek karena tugas kuliah lagi numpak-numpuknya. Sekalian penasaran pengen tahu kenapa teman saya bisa bilang Kuzu no Honkai ngebosenin.

Nah, dan di postingan kali ini saya akan mencoba memberi review setelah kemarin saya menonton anime Kuzu no Honkai.
***
               SINOPSIS               
Awaya Mugi dan Yasuraoka Hanabi terlihat seperti pasangan ideal. Keduanya cukup populer dan tampak cocok satu sama lain. Namun, sebenarnya mereka jadian karena hanya ingin mengurangi rasa kesepian keduanya. Mugi jatuh cinta pada Minagawa Akane, guru privatnya. Begitu pula dengan Hanabi, ia mencintai seorang guru muda yang sejak lama dekat dengan keluarganya. Keduanya saling berbagi tempat untuk meluapkan kesedihan satu sama lain karena tidak dapat memiliki orang yang mereka cintai.
***
Penilaian saya tentang anime  ini …

Emm … sebelumnya saya harus mengatakannya terlebih dahulu. Semoga saya nggak spoiler. Kalau pun nantinya akhirnya spoiler, mohon dimaklumi aja. Hehe.

Awalnya, ketika saya selesai nonton episode 1, saya kira anime ini ceritanya akan sederhana. Saya pikir, ceritanya akan fokus ke masalah percintaan Awaya Mugi dan Yasuraoka Hanabi yang menjalin pacaran palsu untuk mengobati rasa kesepian mereka karena cinta mereka ke masing-masing orang yang ditaksir bertepuk sebelah tangan.

Saya pikir dengan premis yang seperti itu sudah cukup untuk membuat cerita yang menarik. Tapi ternyata, dugaan saya meleset jauh banget. Sangat-sangat jauh. Cerita yang awalnya saya kira hanya akan menampilkan kisah cinta antara Mugi dan Hanabi yang sederhana ternyata nggak sesederhana yang saya kira. Episode demi episode terlewati dan ternyata konfliknya lumayan rumit. Dan akhirnya cinta bertepuk sebelah tangan pun berhamburan di anime ini.

Apa yang saya suka dari anime ini? Hmm … banyak, sih.

Enggak tahu kenapa saya selalu suka banget sama anime yang karakter-karakternya banyak ngomong di dalam hati terus yang diomongin kayak quote-quote gitu yang cukup bikin baper. Terus pas ngomong di dalam hati diiringin sama BGM yang tambah bikin baper. Saya suka banget tuh sama anime yang kayak gitu. Itu adalah alasan kenapa saya suka banget sama anime seperti Tonari no Kaibutsu-kun atau Shigatsu wa Kimi no Uso. Dan tentu saja hal yang sama juga membuat saya suka dengan Kuzu no Honkai.

Pengambilan gambarnya juga saya suka. Emm … sebenarnya saya nggak yakin apakah pengambilan gambar adalah kata yang tepat. Tapi, semoga aja yang baca ngerti. Jadi, saya suka saat terkadang di suatu adegan, kayak ada adegan yang di zoom gitu. Mungkin kalau nggak ngerti apa yang saya maksud, saya kasih contohnya di bawah.

Tentang karakter, nggak ada karakter yang sia-sia. Dengan kata lain, karakter-karakter di anime ini memainkan peran yang baik di posisinya masing-masing. Desain karakternya juga enak ditonton. Kalau karakter favorit, saya paling suka sama Hanabi. Yang bikin saya suka … kayaknya suaranya. Nggak tahu kenapa enak aja gitu di kuping didengernya.

Untuk musik di anime ini, saya nggak ragu buat bilang bagus. Opening sama endingnya keren. BGMnya apalagi. Bagi saya, BGM itu penting. Kalau BGMnya bagus, seenggaknya minat buat nontonnya jadi meningkat.

Terus apalagi, ya? Saya ingat. Ada satu hal yang bikin anime ini terasa benar-benar greget. Apa itu? Subtitle bahasa Indonesianya. Nggak percaya? Bisa dilihat di bawah.



Gimana? greget, kan? Buat yang bikin subtitle, makasih banyak, ya.

Kesimpulannya, menurut saya secara keseluruhan anime Kuzu no Honkai ini bagus, sih. Lalu kemudian sebuah tanya menguap. Kok teman saya bisa nggak suka, ya? Ah, saya baru ingat kalau ternyata dia biasa nonton anime yang bergenre action. Jadi dari awal dia emang udah salah nonton genre. Hmm, nggak heran, sih.

4 komentar:

  1. Gak happy ending mugi sama hanabi😭😭😭

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya sih. tapi mereka kan masih SMA. jadi jalan hidupnya masih panjang. hehe. apaan sih?

      Hapus