Selasa, 18 April 2017

1/2 Jalan Ernest Prakasa Jogjakarta [Review]



Sebenarnya, saya sedikit bingung tentang bagaimana cara mengawali artikel saya kali ini. Emm … ah, saya tahu. Jadi begini, dua hari yang lalu, saya pergi ke Jogja untuk menonton pertunjukkan stand up comedy special milik Ernest Prakasa bertajuk 1/2 Jalan.

Kalau diingat-ingat, ini kedua kalinya saya pergi ke Jogja hanya untuk menonton stand up comedy. Tentunya setelah tahun lalu di acara Juru Bicara World Tournya Pandji Pragiwaksono. Ya beginilah resiko tinggal di kota yang nggak gede-gede amat. Comic papan atas kalau bikin tour nggak ada yang mampir. Alhasil harus jauh-jauh dari Solo ke Jogja sekedar buat bisa nonton comic papan atas.

Hari minggu siang, sekitar jam setengah dua saya berangkat dari rumah menuju Jogja. Di Jogja, saya sudah ditunggu oleh kawan saya. Jadi, setibanya saya di Jogja saya langsung beristirahat di kos teman saya. By the way, saya sampai Jogja sekitar jam setengah empat. Dua jam perjalanan lah kira-kira.

Hanya sekitar satu setengah jam saja saya beristirahat di kosan teman saya. Karena ternyata shownya Ernest open gate jam setengah enam dan show dimulai jam setengah tujuh. Jadi, mau nggak mau saya dan teman saya harus berangkat lebih awal ke venue acara. Ngomong-ngomong, kalau saya pikir lagi ini adalah show stand up dengan waktu mulai acara terawal yang pernah saya datangi. Biasanya habis isya baru mulai. Ini habis magrib.

Karena perjalanan dari kos teman saya ke venue acara butuh waktu beberapa menit, akhirnya kami sampai di sana sekitar magrib. Waktu itu sayup-sayup terdengar suara adzan. Jadi, saya asumsikan kami sampai tepat saat magrib. Begitu sampai, kami berdua langsung mencari tempat untuk sholat. Dan karena show dimulai jam setengah tujuh, setelah sholat kami langsung masuk ke venue, nggak sempat cari makan!

Mungkin kalian akan berpikir kalau kalimat nggak sempat cari makan yang saya tulis untuk menutup paragraf sebelumnya terdengar sepele. Namun, kenyataannya enggak seperti itu. Karena faktanya itu sangat buruk. Sepanjang pertunjukkan saya terpaksa harus menahan rasa lapar.

Ada sedikit ketakutan, bisa nggak ya saya fokus acaranya?

Dan ternyata, ketakutan saya menjadi kenyataan. Bukti shahihnya, ada dua opener lokal dari komunitas Stand Up Indo Jogja yang tampil untuk membuka acara malam itu. Opener pertama saya masih bisa nangkep. Namanya kalau nggak salah Ali Akbar, mahasiswa perantauan dari Ternate. Nah, opener kedua saya mulai blank. Jangankan materinya, namanya saja saya nggak ingat. Efek lapar.

Kemudian setelah dua opener lokal, naiklah Aci Resti, sang juara SUCA 2 yang juga jadi opener tetap sepanjang perjalanan tour 1/2 jalan. Kali ini, saya mencoba sekuat tenaga untuk bisa fokus. Mungkin itu terjadi karena yang naik udah masuk kategori artis kali, ya. Jadi kayak nggak rela kalau ketinggalan.

Meski susah untuk membagi tenaga untuk menahan lapar dan memperhatikan comic yang tampil, seenggaknya saya masih bisa menangkap dan menikmati apa yang Aci sajikan malam itu. Tentang bapaknya yang berubah pasca Aci juara SUCA, pengalaman main film, serta payudaranya yang kecil menjadi pembahasan sang juara SUCA malam itu.

Setelah Aci merampungkan penampilannya, tibalah waktu bagi sang pemilik acara untuk tampil. Seperti layaknya special show lainnya, penonton bersorai ketika Ernest menampakkan dirinya. Ya, istilahnya, dia nggak ngomong apa-apa juga udah pecah suasananya.

“Pernah nggak sih kalian mikir pengen mati kapan?”                                                 

Sebuah kalimat yang digunakan Ernest untuk membuka shownya. Agak ngeri juga sih pertama dengernya. Tapi kemudian Ernest membuat topik seberapa lama manusia hidup menjadi sesuatu yang jenaka. Nggak ngeri lagi. Justru lucu.

Banyak hal dibahas oleh Ernest malam itu. Dari tentang betapa sumpeknya twitter saat ini, yang isinya kebanyakan orang marah-marah, tentang betapa ribetnya jadi cewek, sampai tentang ngajarin anaknya pipis.

Topik favorit saya malam itu tentu saja ketika Ernest membahas Young Lex. Apalagi pas ada anak 14 tahun yang bilang kalau dia benci Young Lex karena alay, tapi pas ditanya biasanya di youtube nonton siapa dia jawabnya Raditya Dika. Parah! Radit mah alay juga. Hahaha.

Ernest menutup penampilannya setelah sekitar satu setengah jam berdiri di atas panggung. Tepuk tangan riuh terdengar ketika momen itu terjadi.

Oh, iya. Hampir lupa. Awalnya saya takut kalau acara tour 1/2 jalan di Jogja kemarin batal. Alasannya karena di minggu sebelumnya di Makassar acaranya batal karena di demo sama ormas. Dan untungnya hal itu nggak terjadi di Jogja. Semoga di kota-kota yang tersisa dari tour ini semuanya juga bisa berjalan lancar.

Emm, apa lagi, ya? Ah, saya tahu. Sebaiknya, kalau mau nonton acara stand up, apapun yang terjadi, usahakan untuk makan dulu. Pokonya jangan biarkan kamu berada dalam kondisi lapar.

Rabu, 05 April 2017

Setelah Nonton Kuzu no Honkai [Review Anime]



Beberapa waktu yang lalu, di parkiran kampus saya bertemu seorang teman yang saya tahu juga sering menonton anime. Kemudian dari pertemuan itu satu pertanyaan keluar dari mulut saya …

“Sekarang lagi nonton apa?” tanya saya.

“Kuzu no Honkai,” jawabnya.

“Bagus nggak?”

“Bagus, kok.”

Kemudian, masih di parkiran bersama teman saya, saya langsung meluncur ke google untuk mengorek informasi tentang anime yang baru saja disebut oleh teman saya. Pasca penelusuran di google, saya jadi tertarik buat menonton anime itu juga. Kuzu no Honkai resmi masuk daftar tunggu anime yang akan saya tonton. Tapi karena saya punya kebiasaan nonton anime yang sudah tamat –kalau masih on going males nunggunya-, jadi Kuzu no Honkai saya tunggu dulu biar tamat baru saya tonton.

Setelah pertemuan di parkiran dengan teman saya waktu itu, beberapa minggu setelahnya saya ketemu lagi dengan teman saya dan lagi-lagi di parkiran. Sebuah percakapan pun terjadi …

“Masih nonton … emm, apa yang kemarin kamu rekomendasiin?” tanya saya, jujur waktu itu agak lupa judulnya.

“Kuzu no Honkai,” jawabnya.

“Ah, iya itu.”

“Udah enggak, bro.”

“Lah, kenapa?”

“Gimana, ya. Ceritanya gitu-gitu aja. Ngebosenin.”

Setelah saya tanya-tanya, teman saya ngomong kalau dia hanya nonton Kuzu no Honkai sampai episode 7 saja. Dia nggak melanjutkan sampai tamat karena katanya ceritanya gitu-gitu aja dan ngebosenin. Dan hal ini, jelas bikin saya bingung. Kuzu no Honkai sudah masuk daftar tunggu yang mau saya tonton. Tapi teman saya bilang katanya animenya ngebosenin. Ini kan bikin bingung. Mau ditonton nggak, nih.

Tapi karena saya bingung mau nonton apa, akhirnya saya tonton juga Kuzu no Honkai. Itung-itung buat refreshing otak yang capek karena tugas kuliah lagi numpak-numpuknya. Sekalian penasaran pengen tahu kenapa teman saya bisa bilang Kuzu no Honkai ngebosenin.

Nah, dan di postingan kali ini saya akan mencoba memberi review setelah kemarin saya menonton anime Kuzu no Honkai.
***
               SINOPSIS               
Awaya Mugi dan Yasuraoka Hanabi terlihat seperti pasangan ideal. Keduanya cukup populer dan tampak cocok satu sama lain. Namun, sebenarnya mereka jadian karena hanya ingin mengurangi rasa kesepian keduanya. Mugi jatuh cinta pada Minagawa Akane, guru privatnya. Begitu pula dengan Hanabi, ia mencintai seorang guru muda yang sejak lama dekat dengan keluarganya. Keduanya saling berbagi tempat untuk meluapkan kesedihan satu sama lain karena tidak dapat memiliki orang yang mereka cintai.
***
Penilaian saya tentang anime  ini …

Emm … sebelumnya saya harus mengatakannya terlebih dahulu. Semoga saya nggak spoiler. Kalau pun nantinya akhirnya spoiler, mohon dimaklumi aja. Hehe.

Awalnya, ketika saya selesai nonton episode 1, saya kira anime ini ceritanya akan sederhana. Saya pikir, ceritanya akan fokus ke masalah percintaan Awaya Mugi dan Yasuraoka Hanabi yang menjalin pacaran palsu untuk mengobati rasa kesepian mereka karena cinta mereka ke masing-masing orang yang ditaksir bertepuk sebelah tangan.

Saya pikir dengan premis yang seperti itu sudah cukup untuk membuat cerita yang menarik. Tapi ternyata, dugaan saya meleset jauh banget. Sangat-sangat jauh. Cerita yang awalnya saya kira hanya akan menampilkan kisah cinta antara Mugi dan Hanabi yang sederhana ternyata nggak sesederhana yang saya kira. Episode demi episode terlewati dan ternyata konfliknya lumayan rumit. Dan akhirnya cinta bertepuk sebelah tangan pun berhamburan di anime ini.

Apa yang saya suka dari anime ini? Hmm … banyak, sih.

Enggak tahu kenapa saya selalu suka banget sama anime yang karakter-karakternya banyak ngomong di dalam hati terus yang diomongin kayak quote-quote gitu yang cukup bikin baper. Terus pas ngomong di dalam hati diiringin sama BGM yang tambah bikin baper. Saya suka banget tuh sama anime yang kayak gitu. Itu adalah alasan kenapa saya suka banget sama anime seperti Tonari no Kaibutsu-kun atau Shigatsu wa Kimi no Uso. Dan tentu saja hal yang sama juga membuat saya suka dengan Kuzu no Honkai.

Pengambilan gambarnya juga saya suka. Emm … sebenarnya saya nggak yakin apakah pengambilan gambar adalah kata yang tepat. Tapi, semoga aja yang baca ngerti. Jadi, saya suka saat terkadang di suatu adegan, kayak ada adegan yang di zoom gitu. Mungkin kalau nggak ngerti apa yang saya maksud, saya kasih contohnya di bawah.

Tentang karakter, nggak ada karakter yang sia-sia. Dengan kata lain, karakter-karakter di anime ini memainkan peran yang baik di posisinya masing-masing. Desain karakternya juga enak ditonton. Kalau karakter favorit, saya paling suka sama Hanabi. Yang bikin saya suka … kayaknya suaranya. Nggak tahu kenapa enak aja gitu di kuping didengernya.

Untuk musik di anime ini, saya nggak ragu buat bilang bagus. Opening sama endingnya keren. BGMnya apalagi. Bagi saya, BGM itu penting. Kalau BGMnya bagus, seenggaknya minat buat nontonnya jadi meningkat.

Terus apalagi, ya? Saya ingat. Ada satu hal yang bikin anime ini terasa benar-benar greget. Apa itu? Subtitle bahasa Indonesianya. Nggak percaya? Bisa dilihat di bawah.



Gimana? greget, kan? Buat yang bikin subtitle, makasih banyak, ya.

Kesimpulannya, menurut saya secara keseluruhan anime Kuzu no Honkai ini bagus, sih. Lalu kemudian sebuah tanya menguap. Kok teman saya bisa nggak suka, ya? Ah, saya baru ingat kalau ternyata dia biasa nonton anime yang bergenre action. Jadi dari awal dia emang udah salah nonton genre. Hmm, nggak heran, sih.

Sabtu, 01 April 2017

Setelah Nonton Masamune-kun no Revenge [Review Anime]



“Jika kau tak tampan, berarti kau bukan manusia~”

Kalau saya ditanya tentang quote tersangar yang pernah saya dengar dari sebuah anime, mungkin kalimat di paragraf di atas adalah kalimat yang akan menjadi jawaban saya. Quote gila! Apaan coba? Kalau kamu nggak ganteng, kamu bukan manusia? Terlalu frontal. Haha.

Ah, sebenarnya di tulisan kali ini saya pengen bahas tentang anime di mana quote gila itu berasal. Ya, kali ini saya pengen bikin review tentang anime Masamune-kun no Revenge.

Masamune-kun no Revenge atau yang dalam bahasa Indonesia mungkin bisa diartikan sebagai Pembalasan dendam Masamune (?) adalah anime adaptasi dari manga dengan judul sama karangan Hazuki Takeoka yang diilustrasikan oleh Tiv. Anime bergenre romantic comedy yang memiliki 12 episode ini tayang mulai 5 Januari 2017 dan berakhir pada 23 Maret 2017.
***
SINOPSIS
Makabe Masamune, anak gendut yang sering diejek oleh gadis cantik bernama Adagaki Aki. Kesal karena selalu diejek, Masamune mulai memperbaiki dirinya agar jadi laki-laki baru yang dapat membalas perlakuan buruk Aki.
 
Setelah beberapa tahun, Masamune berhasil bertransformasi jadi laki-laki populer dengan nilai sempurna dan terampil dalam olahraga. Namun ketika Masamune mencoba masuk ke kehidupan Aki untuk melancarkan serangan balasannya, keadaan justru jadi lebih rumit.
***
KESAN MENONTON

Cukup menarik sih menurut saya. Premisnya juga unik. Tentang cowok gendut yang karena sering dibully lalu bertransformasi menjadi cowok berotot nan rupawan. Lalu pengen balas dendam sama cewek yang dulu pernah menolaknya ketika tubuhnya masih gendut.

Tapi selain karena premis yang unik, yang bikin saya tertarik untuk menonton anime ini tentu saja karena quote gila yang muncul di episode pertama dari Makabe Masamune sang karakter utama.

“Jika kau tak tampan, berarti kau bukan manusia.”
Saya cukup yakin, siapa pun yang pernah menonton anime ini, pasti quote itu menjadi salah satu quote paling nempel di kepala masing-masing.

Sebagai anime romantic comedy, anime jelas merupakan anime yang cukup ngehe. Cukup banyak sih adegan/percakapan absurd yang terjadi di anime ini. Namun sayang, sebagai anime romantic comedy, kok saya nontonnya nggak berdebar, ya? Saya nggak tahu sih ini saya yang salah apa gimana, tapi yang saya rasakan adalah emosi dari romancenya nggak tersampaikan ke saya. Jadi nggak begitu mengocok emosi.

Untuk desain karakter, saya sih suka. Karakter-karakternya enak buat ditonton. Kayaknya ini adalah salah satu nilai plus dari anime ini.

Ngomongin tentang karakter, nggak tahu kenapa saya jadi kasihan sama Fujinomiya Neko. Udah sering sakit, cintanya bertepuk sebelah tangan. Jadi pengen meluk buat nenangin.

Oh, iya. Awalnya saya agak nggak suka sama karakter Koiwai Yoshino yang nggak tahu kenapa kayak sok ikut campur urusan Makabe Masamune sama Adagaki Aki. Tapi seiring berjalannya episode, akhirnya saya paham kenapa Koiwai Yoshino suka campur. Dan alasannya adalah karena … ah, nggak enak kalau saya tulis di sini. Jadinya entar malah spoiler parah.

Untuk soundtrack, saya suka ending songnya. Sebuah lagu berjudul Elemental World yang dinyanyikan oleh Choucho. Untuk lagu openingnya, saya sih nggak begitu terkesan.

Emm … apa lagi, ya? Ah, ini aja, deh. Semoga anime ini akan ada season duanya.