Kamis, 09 Februari 2017

Ketika Membayar SKS Berubah Menjadi Sesuatu Yang Mengerikan



Kalau boleh jujur, sebenarnya kuliah di Universitas Muhammadiyah Surakarta itu asik-asik aja, sih. Namun, meski begitu ada satu momen kurang menyenangkan atau bahkan menyebalkan yang hanya terjadi sekali tiap semesternya. Apa itu? Ya, membayar SKS di awal semester.

Saya rasa tentang hal ini bukan hanya saya saja yang merasakan. Saya cukup yakin jika mahasiswa-mahasiswa UMS yang lain pasti juga setuju dengan apa yang saya sebutkan di atas.

Membayar SKS atau yang oleh beberapa orang disebut dengan membayar SPP, sebenarnya saya sendiri juga nggak tahu mana yang lebih tepat. Hanya saja, saya pribadi lebih sering menyebut itu sebagai membayar SKS. Sebenarnya membayar SKS ini adalah kegiatan yang wajib untuk dilakukan oleh mahasiswa. Karena kalau mahasiswa nggak bayar SKS maka si mahasiswa nggak bisa kuliah. Ya, iya, lah. Itu sama kayak kita ke KFC tapi nggak bayar. Ya nggak dapat makanan.

Meski wajib dilakukan, sekali lagi bagi saya dan mungkin mahasiswa UMS lain membayar SKS di awal semester adalah sesuatu yang menyebalkan dan bikin males. Kenapa?

Bukan! Bukan karena kita harus merelakan uang berjuta-juta berpindah tangan dengan mudahnya dari genggaman kita ke bank. Bukan itu. Meski UMS sering diejek memilik kepanjangan Universitas Mahal Sekali, tapi jelas bukan karena itu saya malas untuk membayar SKS di awal semester.

Kalau bukan itu, terus alasannya apa?

Ok, alasan sebenarnya adalah … karena antriannya nggak manusiawi. Ah, sebenarnya saya bahkan ragu itu bisa disebut antrian apa bukan. Maksud saya, coba perhatikan gambar di bawah ini. Mengerikan, kan?
Yang seperti itu bisa disebut antrian nggak, sih? Dalam KBBI disebutkan bahwa antri –sebenarnya ditulis antre- adalah berdiri berderet-deret memanjang untuk menunggu giliran. Nah, kalau seperti gambar di atas? Kayaknya akan lebih tepat untuk disebut sebagai kerumunan. Kerumunan orang yang saling berdesakan untuk mendapat giliran.

Selama ini jujur saja saya juga bingung kenapa pihak bank yang bersangkutan nggak bisa mengkondisikan supaya mahasiswa yang membayar antri dengan rapi. Tapi, apakah itu benar-benar salah bank? Nggak tahu juga, sih. Ada beberapa orang yang bilang bahwa itu salah pihak kampus. Atau jangan-jangan, itu salah mahasiswanya yang memang nggak mau berbaris dengan rapi dan memilih untuk berjubel saling mendorong di dekat pintu bank?

Apapun itu, yang pasti ini bukan kondisi yang bagus.  
Kayak Antri Sembako
Di UMS, pembayaran SKS dilakukan dua kali dalam satu semester. 10 SKS di awal semester dan sisanya di pertengahan semester. Meski dilakukan dua kali, tapi anehnya yang berdesakan dan saling berebutan hanya terjadi ketika di awal semester saja. Pas di pertengahan semester malah relatif aman terkendali.

Kenapa itu bisa terjadi?

Saya menduga karena durasi kesempatan membayarnya yang berbeda. Di awal semester, kesempatan membayarnya hanya beberapa hari saja. Pokoknya di akhir liburan setiap semesternya ketika sudah mendekati KRS-an. Dan katanya pembayaran di awal semester ini adalah syarat agar mahasiswa bisa KRS-an. Jadi nggak heran kalau para mahasiswa saling berbondong-bondong ke bank untuk membayar di waktu yang hampir berbarengan.

Sementara itu, pembayaran yang untuk melunasi sisanya relatif lebih aman karena waktunya juga longgar. Karena pembayaran sisa berfungsi sebagai syarat untuk mengikuti UAS, jadi asalkan bayarnya sebelum UAS maka semua akan baik-baik saja.

Kemudian saya berpikir. Mungkin agar pembayaran di awal semester ini nggak lagi menjadi sesuatu yang mengerikan, kayaknya sistemnya memang harus diganti. Mungkin bukan lagi dijadikan sebagai syarat KRS-an. Tapi syarat UTS. Jadi nanti waktu membayarnya bisa lebih longgar. Pokoknya asalkan sebelum UTS. Jadi kalau waktu membayarnya lebih longgar mungkin nggak akan ada lagi yang namanya berdesak-desakan hanya untuk membayar SKS.

Atau mungkin perubahan memang harus dimulai dari mahasiswanya sendiri. Maksud saya, jika saja para mahasiswa yang ingin membayar SKS memiliki kesadaran untuk berbaris berderet memanjang dengan rapi menunggu giliran seperti pemandangan yang sering kita lihat di POM bensin dan menolak untuk berdesakan di depan pintu bank, saya kira pasti semua akan berjalan dengan lebih baik.

Ah, apapun itu, saya harap kedepannya akan ada sesuatu yang berubah.

24 komentar:

  1. Dulu sering banget ngebatin masalah kaya gini. Dan akhirnya ada yang mengutarakan lewat tulisan.

    BalasHapus
  2. Masukan anda sangat bagus, tidak menghakimi, tdk menuduh, sangat bersahaya, pertahankan sikap spt ini, insya Alloh anda sukses dan barokah

    BalasHapus
    Balasan
    1. udah pernah bayar di bank jateng mas? kalobelom monggo dicoba, udah 2 semester ini udah gak bayar di bukopin lagi.

      Hapus
  3. Masukan anda sangat bagus, tidak menghakimi, tdk menuduh, sangat bersahaya, pertahankan sikap spt ini, insya Alloh anda sukses dan barokah

    BalasHapus
  4. Atau mungkin, pembayaran bisa via atm ya agar bisa lebih cepat & pembayaran bisa dilakukan dimana mana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bs kok pakek ATM, saya area sragen, pembayaran sering melalui ATM bukopin sragen. G tau kl daerah lain.

      Hapus
  5. Itu yg jg sya rsakan, jumlah mhsiswa smkin bnyk, problem pembyaran jg mkin banyak, tp MOU dg bank msh bank yg sulit ditemui n sedikit.

    BalasHapus
  6. Setahu saya system pembayaran diUMS it menumpuk kartu mahasiswa untuk antrian. Jd g perlu deret lg, cukup nunggu giliran pangilan. G tau kl sekarang systemny gmn?

    BalasHapus
  7. Itu yg jg sya rsakan, jumlah mhsiswa smkin bnyk, problem pembyaran jg mkin banyak, tp MOU dg bank msh bank yg sulit ditemui n sedikit.

    BalasHapus
  8. Dulu pernah merasakan itu.. Tapi alhamdulillah solusinya ke bank yang lain bisaa... ���� mislnya bank jateng yang dekat manahan atau yang di Slamet riyadi... Dari Sragen juga bisa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. baru tau dari sepupu ternyata sekarang di bank jateng bisa. kalo tau gitu saya nggak usah repot antri hehe

      Hapus
  9. sedih melihatnya, jaman masih kuliah disitu dulu mahasiswa nya mau antri berbaris rapi sesuai loket yg buka, lha sekarang kok awut2an gitu. apa karena mental generasi nya berbeda ya??

    BalasHapus
  10. iya ...saya juga suda sekian lama ngalamin... yang berat buat antrinya ...kayak antri yg gratis aja...sebenarnya bisa juga ke cab bank yg lain tempat.. tapi hanya sebagian jurusan saja.. hmm.. salah siapa ya kira kira.. mahasiswa yg pengin tertib apa bank yang kurang manusiawi apa kampus yang kurang piknik ?? haha

    BalasHapus
  11. Maaf sebelume, mau ngasih tambahan saja, buat bayar bisa dilakukan di bank daerah masing-masing kok. Seperti kawan saya bayar di bank jateng kudus. Ndak masalah ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mas. saya juga baru tau kalo ternyata bisa bayar di bank jateng terdekat. saya taunya dari sepupu saya. mungkin banyak yang seperti saya kalo belum tau tentang hal itu

      Hapus
  12. untuk di solo, bank jateng syariah ada lumayan banyak juga lho... saya pernah bayar di bank jateng di Gentan, Manahan, Slamet Riyadi, Citra Medika antrinya malah dikit. mungkin mereka belum tahu pembayaran bisa dilakukan di bank serupa di lokasi lain

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bener. banyak yang belum tau. termasuk saya juga baru tau belum lama. hehe. semoga kedepan banyak yang tau biar nggak untek untekan lagi

      Hapus
  13. Bukankah sudah ada fasilitas auto debit dari pihak bank mengenai pembayaran sks? Setahu saya Bukopin Syariah sudah menyediakan layanan auto debit sejak 2014 silam

    BalasHapus
  14. Saya kuliah di ums pertengahan 90an, saya kalo bayar selalu di bank yang deket rumah, antrinya sedikit.

    BalasHapus
    Balasan
    1. masalahnya kemarin ada yang bilang bahwa bayarnya cuma bisa di bank bukopin yang di kampus dan sriwedari. kayaknya banyak yang nggak tau kalo bayar di bank jateng terdekat ternyata bisa (termasuk saya, hehe)

      Hapus
  15. saya bayar di bank jateng tapi pas proses cetak kartu spp blm lunas .
    apa emng prosesnya lebih lama ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. waduh, kebetulan saya belum pernah bayar di bank jateng mbak. selama ini di bukopin syariah terus saya

      Hapus