Senin, 27 Februari 2017

Komunitas Penderita Inkontinensia



“Lagi sibuk apa?”


“Lagi sibuk ngelatih”


“Ngelatih apa? Gajah lampung?”


“Bukan. Kandung kemih.”

Haaaaah, percakapan di atas memang bukanlah percakapan yang nyata. Namun, jika saja saya ketemu teman lama yang kemudian secara tiba-tiba tanya saya sedang sibuk apa saya saat ini, pasti percakapan yang akan terjadi adalah seperti yang saya tulis di atas. Ya, saat ini, saya sedang sibuk melatih kandung kemih.

Melatih kandung kemih?

Ok, saya sangat sadar bahwa untuk beberapa alasan, kalimat melatih kandung kemih pasti benar-benar terdengar sangat aneh. Tapi, mau bagaimana lagi? Saya hanya mencoba untuk berkata jujur.

Ah, sebenarnya beberapa hari yang lalu, saya baru menyadari bahwa saya ini ternyata mengidap sebuah penyakit yang disebut dengan inkontinensia. Beberapa menyebutnya secara lengkap sebagai inkontinensia urine.

Mungkin, masih banyak orang yang cukup asing dengan kata inkontinensia. Ok, saya akan mencoba untuk menjelaskannya. Inkontinensia adalah ketidak mampuan menahan air kencing. Jadi, secara lebih sederhananya, penderita inkontinensia gampang banget merasa kebelet pipis. Bahkan, kalau si penderita baru saja keluar dari toilet untuk kencing lima menit yang lalu sekalipun.

Nah, jadi penyakit semacam itu yang saya rasakan. Sebenarnya saya sudah lama menyadari bahwa ada sesuatu yang nggak beres dengan pola pipis saya. Hanya saja, baru beberapa hari yang lalu akhirnya saya tahu bahwa yang seperti itu namanya inkontinensia.

Kalau pengen tahu seenggak beres apa pola pipis saya, saya akan coba tuliskan. Jadi dalam satu jam, saya bisa ke toilet sampai 5 atau 6 kali. Jadi singkatnya, dalam setiap 10 menit saya kebelet pipis. Jujur saja, itu sangat nggak nyaman dan melelahkan.

Setiap kali saya mengeluhkan masalah ini ke orang lain, biasanya mereka akan berkata bahwa itu cukup wajar. Karena faktanya saya mengkonsumsi air putih dengan jumlah yang cukup banyak. Bahkan lebih banyak dari orang-orang kebanyakan.

Tapi meski begitu, bagi saya ini tetap nggak wajar. Maksud saya, ke toilet setiap 10 menit? Bagaimana bisa yang seperti itu dapat disebut wajar?

Tentang pipis lebih sering dari orang lain, pertama kali saya menyadari itu adalah ketika saya masih SMA. Dulu saat saya masih SMA, setiap kali pergantian guru, saya selalu ijin ke toilet. Dan dulu, saya masih menganggap itu normal-normal saja. Tapi seiring waktu berjalan kok rasanya jadi makin aneh. Jujur agak takut juga kalau jangan-jangan ini adalah penyakit yang parah.

Kita balik lagi ke beberapa hari yang lalu.

Nah, jadi beberapa hari yang lalu, setelah saya tahu bahwa yang saya alami ini namanya inkontinensia, saya mulai mencoba untuk mencari di internet tentang bagaimana cara penyembuhannya. Dari beberapa cara yang saya baca, saya cuman ingat tiga hal. Pertama, melatih kandung kemih. Kedua, senam kegel. Ketiga, kurangi konsumsi air.

Meski saya ingat tiga cara, tapi yang saya praktekkan cuma dua. Melatih kandung kemih sama kurangi konsumsi air. Kenapa senam kegel enggak dipraktekin? Simple, soalnya saya nggak tahu senam kegel itu apa. Hehe.

Tentang melatih kandung kemih, jadi gini. Itu sebenarnya latihan untuk menahan pipis lebih lama. Jadi kalau biasanya setiap 10 menit saya menuruti keinginan kandung kemih saya yang meminta saya untuk pipis, ini ditahan lebih lama. Jadi kayak semacam membiasakan kandung kemih untuk menahan pipis.

Dan sementara ini, saya mencoba menahannya selama minimal satu jam. Jadi kalau belum satu jam, saya nggak akan menuruti keinginan kandung kemih saya untuk pipis. Entar kalau udah terbiasa dengan minimal satu jam, secara bertahap durasinya akan saya tambah. Hingga sejauh ini, cara ini cukup efektif. Sebagai contoh, kemarin -26 Februari 2017-, selama sehari penuh saya hanya buang air kecil 13 kali.

Kok saya bisa tahu dengan pasti bahwa kemarin saya hanya ke toilet 13 kali?

Sebenarnya saya mencatatnya. Setiap kali saya ke toilet, saya mencatatnya. Detail dengan jam dan menitnya. Selain mencatat aktivitas pipis saya, saya juga mencatat aktivitas minum saya. Jadi saya minum apa, jam berapa, menit berapa, seberapa banyak, saya mencatat semua itu.

Kenapa saya mencatatnya?

Alasannya simple. Jadi kalau misalkan apa yang saya lakukan itu belum cukup untuk membuat saya sembuh, saya akan pergi ke dokter. Dan ketika saya menemui dokter tersebut, saya akan menyerahkan print-print’an dari catatan saya. Biar gampang aja si dokter menganalisanya.

Saat ini, nggak tahu kenapa saya jadi berkhayal. Andai saja komunitas penderita inkontinensia itu ada, tentu saya akan bergabung ke dalamnya. Sebuah komunitas yang berisikan para penderita inkontinensia. Tempat di mana para penderita inkontinensia berbagi pengalaman, atau saling mendukung satu sama lain untuk sembuh.

Andaikan komunitas penderita inkontinensia benar-benar ada, kamu mau bergabung?

Rabu, 22 Februari 2017

Alasan Kenapa Makanan Di Rumah Sakit Tidak Pernah Enak



Sebagai manusia dengan kondisi tubuh yang nggak terlalu kuat, rasanya diopname di rumah sakit bukan menjadi sesuatu yang asing buat saya. Jarum suntik, kunjungan dokter, ganti infus, atau cleaning service yang selalu datang ke kamar setiap pagi menjadi sesuatu yang terasa akrab dengan diri saya. Ah, tentu saja nggak ketinggalan tentang makanan dengan rasa nggak enak yang disajikan oleh rumah sakit tiga kali dalam sehari, saya juga akrab dengan itu.

Tapi, ngomong-ngomong tentang makanan rumah sakit, pernah nggak sih kepikiran tentang kenapa makanan di rumah sakit itu nggak pernah enak? Saya sih dari dulu selalu kepikiran. Dan baru beberapa hari yang lalu saya mendapatkan jawabannya.

Nah, daripada berlama-lama, lebih baik segera kita mulai penjelasan kenapa makanan di rumah sakit itu nggak pernah enak.

Sebenarnya daripada nggak enak, akan lebih tepat jika makanan di rumah sakit itu disebut hambar. Iya, kayak nggak ada rasanya gitu. Padahal secara visual makanan di rumah sakit itu udah OK banget. Penataannya juga bagus. Ada ayam, sayur, bubur, dan kadang buah yang ditata terpisah dengan rapi dan indah. Kalau misal makanan rumah sakit itu difoto dan kemudian fotonya di upload di instagram, saya cukup yakin kalau bakal dapat banyak likes.

Namun, sayangnya makanan tetaplah makanan. Makanan itu dinilai berdasarkan rasanya. Bukan visualnya. Tampilan menggiurkan tapi kalau pas dimakan hambar sama aja nggak ada gunanya.

Ok, kita balik ke beberapa paragraf di atas yang menyebutkan bahwa daripada nggak enak, akan lebih tepat jika makanan di rumah sakit itu disebut hambar. Semacam tanpa rasa. Udah mirip kayak makanan yang lupa dikasih bumbu. Dan sebenarnya itu dia jawaban kenapa makanan di rumah sakit biasanya nggak enak. Karena kayaknya emang beneran nggak dikasih bumbu. Atau kalau pun dikasih, cuman dikit.

Lalu kenapa makanan di rumah sakit nggak dikasih bumbu?

Alasan terkuat yang bisa saya pikirkan adalah, kayaknya pihak rumah sakit sadar kalau misalkan makanannya dikasih bumbu, maka akan percuma.

Percuma? Maksudnya?

Pernah sakit, kan? Pernah lah pastinya. Pas sakit rasanya gimana, nafsu makan nggak? Enggak lah pastinya. Makan apapun rasanya jadi nggak nafsu. Bahkan apabila yang dihidangkan adalah makanan favorit kita sekalipun. Karena nggak nafsu, kita makannya jadi hanya sedikit dan nggak dihabisin.

Nah, itu dia maksudnya percuma. Ngapain repot-repot ngasih bumbu kalau pada akhirnya makanan yang dihidangkan paling juga nggak dihabisin?

Belum lagi kan pas sakit biasanya mual. Akan semakin percuma lagi, tuh. Udah makanannya nggak dihabisin, eh terus malah dikeluarin lagi. Kan kalau seperti itu mending nggak usah dikasih bumbu sekalian.

Dan kemudian, karena makanannya nggak dikasih bumbu, rumah sakit bisa berhemat. Jadi uang yang harusnya dikeluarkan untuk keperluan beli bumbu bisa digunakan untuk kulakan obat, jarum suntik, selang infus, dan lain sebagainya.

Jadi itu dia alasan kenapa makanan di rumah sakit nggak pernah enak. Ah, sebenarnya saya juga nggak terlalu yakin, sih.

Senin, 13 Februari 2017

Setelah Nonton Udon no Kuni no Kiniro Kemari [Review Anime]



Pagi tadi, setelah sekian lama akhirnya saya merasakan juga sesuatu yang biasa disebut orang-orang dengan sebutan menangis. Bahkan kalau saya ingat-ingat, tadi pagi adalah pertama kalinya saya menangis di tahun 2017.

Alasan kenapa menangis?

Ah, bukan. Bukan karena diputusin pacar, kok. Lagian saya juga nggak punya yang kayak begituan. Sebenarnya agak memalukan untuk mengakuinya. Saya nangis hanya karena nonton anime. Ya, sebuah anime berjudul Udon no Kuni no Kiniro Kemari.

Karena anime Udon no Kuni no Kiniro Kemari telah sukses membuat saya menangis, kemudian saya berpikir kalau kayaknya akan enak kalau saya review saja anime ini. Ok, daripada kelamaan, kayaknya mending kita langsung saja masuk ke informasi dasar tentang anime ini.

Udon no Kuni no Kiniro Kemari  (うどんの国の金色毛) atau yang dalam bahasa Inggris lebih dikenal dengan judul Poco’s Udon World adalah anime hasil adaptasi dari manga berjudul sama karangan Nodoka Shinomaru. Anime dengan 12 episode ini mulai tayang pada 9 Oktober 2016 dan berakhir pada tanggal 25 Desember tahun yang sama.
***
SINOPSIS
Tawara Souta seorang pria yang berprofesi sebagai desainer web di Tokyo. Ketika ia kembali ke rumahnya di Kagawa untuk berlibur, Souta menemukan seorang anak aneh di Kedai Udon milik keluarganya. Setelah memikirkan bermacam hal, Souta pun memutuskan untuk merawat anak itu. Dimulailah kisah keluarga unik yang menghangatkan dari Kagawa, "Negeri Udon".
***
Jujur saja sejak awal saya tidak menaruh ekspektasi tinggi terhadap anime ini. Karena memang faktanya genre anime ini bukanlah genre yang biasa saya tonton. Biasanya anime yang saya tonton itu kalau nggak romantic comedy paling juga mystery. Jadi wajar kalau saya nggak menaruh ekspektasi yang tinggi.

Lalu, kalau tahu jika ini bukan genre yang biasa saya tonton, kenapa tetap ditonton?

Alasan yang paling jujur adalah … karena saya nggak punya kerjaan. Dan kebetulan anime Udon no Kuni no Kiniro Kemari ini adalah satu dari banyak anime musim fall 2016 yang belum saya tonton. Jadi ketika saya bingung mau nonton apa, saya lihat daftar anime musim fall 2016. Dan dari banyak daftar anime yang belum saya tonton, Udon no Kuni no Kiniro Kemari memiliki poster yang paling menarik di mata saya.

Jadi, sekali lagi intinya saya nonton anime karena saya nggak punya kerjaan. Hehe.

Ketika awal-awal menonton anime ini, seperti dugaan saya anime ini emang nggak seru-seru amat. Untungnya sejak awal saya nggak memasang ekspektasi tinggi. Jadi meski nggak seru, saya nggak merasa dikecewakan.

Sebenarnya tentang anime ini yang saya rasa di awal nggak seru-seru amat, saya pikir itu terjadi bukan karena anime ini jelek. Tapi sekali lagi karena genre. Saya nggak biasa nonton anime dengan genre yang seperti ini.

Tapi meski begitu, saya tetap hanyut kok pas nonton anime ini. Meski bukan anime comedy, tapi joke-jokenya yang walau pun sangat jarang muncul, tetap mampu membuat saya tertawa. Dramanya juga bikin saya sedih. Puncaknya di episode terakhir, saya sampai nangis. Beneran nangis. Bukan yang cuma menitikkan air mata. Ini menangis yang benar-benar mengalir air matanya.

Air mata yang mengalir saat saya menyaksikan episode terakhir dari anime juga seolah menghapus anggapan saya di awal jika anime ini nggak seru-seru amat. Dan nggak tahu kenapa setelah nonton anime ini rasanya saya jadi pengen lebih dekat sama orang tua. Pengen bikin orang tua bahagia. Terutama ayah.

Terakhir, anime ini juga membuat saya paham. Bahwa ternyata nggak cuma di Indonesia aja. Di Jepang juga sama. Kalau ada cowok yang udah berusia 30 tahun dan belum menikah, maka ibunya bakalan sering-sering mendesak si anak buat cepet-cepet nikah. Hehe.
   


Kamis, 09 Februari 2017

Ketika Membayar SKS Berubah Menjadi Sesuatu Yang Mengerikan



Kalau boleh jujur, sebenarnya kuliah di Universitas Muhammadiyah Surakarta itu asik-asik aja, sih. Namun, meski begitu ada satu momen kurang menyenangkan atau bahkan menyebalkan yang hanya terjadi sekali tiap semesternya. Apa itu? Ya, membayar SKS di awal semester.

Saya rasa tentang hal ini bukan hanya saya saja yang merasakan. Saya cukup yakin jika mahasiswa-mahasiswa UMS yang lain pasti juga setuju dengan apa yang saya sebutkan di atas.

Membayar SKS atau yang oleh beberapa orang disebut dengan membayar SPP, sebenarnya saya sendiri juga nggak tahu mana yang lebih tepat. Hanya saja, saya pribadi lebih sering menyebut itu sebagai membayar SKS. Sebenarnya membayar SKS ini adalah kegiatan yang wajib untuk dilakukan oleh mahasiswa. Karena kalau mahasiswa nggak bayar SKS maka si mahasiswa nggak bisa kuliah. Ya, iya, lah. Itu sama kayak kita ke KFC tapi nggak bayar. Ya nggak dapat makanan.

Meski wajib dilakukan, sekali lagi bagi saya dan mungkin mahasiswa UMS lain membayar SKS di awal semester adalah sesuatu yang menyebalkan dan bikin males. Kenapa?

Bukan! Bukan karena kita harus merelakan uang berjuta-juta berpindah tangan dengan mudahnya dari genggaman kita ke bank. Bukan itu. Meski UMS sering diejek memilik kepanjangan Universitas Mahal Sekali, tapi jelas bukan karena itu saya malas untuk membayar SKS di awal semester.

Kalau bukan itu, terus alasannya apa?

Ok, alasan sebenarnya adalah … karena antriannya nggak manusiawi. Ah, sebenarnya saya bahkan ragu itu bisa disebut antrian apa bukan. Maksud saya, coba perhatikan gambar di bawah ini. Mengerikan, kan?
Yang seperti itu bisa disebut antrian nggak, sih? Dalam KBBI disebutkan bahwa antri –sebenarnya ditulis antre- adalah berdiri berderet-deret memanjang untuk menunggu giliran. Nah, kalau seperti gambar di atas? Kayaknya akan lebih tepat untuk disebut sebagai kerumunan. Kerumunan orang yang saling berdesakan untuk mendapat giliran.

Selama ini jujur saja saya juga bingung kenapa pihak bank yang bersangkutan nggak bisa mengkondisikan supaya mahasiswa yang membayar antri dengan rapi. Tapi, apakah itu benar-benar salah bank? Nggak tahu juga, sih. Ada beberapa orang yang bilang bahwa itu salah pihak kampus. Atau jangan-jangan, itu salah mahasiswanya yang memang nggak mau berbaris dengan rapi dan memilih untuk berjubel saling mendorong di dekat pintu bank?

Apapun itu, yang pasti ini bukan kondisi yang bagus.  
Kayak Antri Sembako
Di UMS, pembayaran SKS dilakukan dua kali dalam satu semester. 10 SKS di awal semester dan sisanya di pertengahan semester. Meski dilakukan dua kali, tapi anehnya yang berdesakan dan saling berebutan hanya terjadi ketika di awal semester saja. Pas di pertengahan semester malah relatif aman terkendali.

Kenapa itu bisa terjadi?

Saya menduga karena durasi kesempatan membayarnya yang berbeda. Di awal semester, kesempatan membayarnya hanya beberapa hari saja. Pokoknya di akhir liburan setiap semesternya ketika sudah mendekati KRS-an. Dan katanya pembayaran di awal semester ini adalah syarat agar mahasiswa bisa KRS-an. Jadi nggak heran kalau para mahasiswa saling berbondong-bondong ke bank untuk membayar di waktu yang hampir berbarengan.

Sementara itu, pembayaran yang untuk melunasi sisanya relatif lebih aman karena waktunya juga longgar. Karena pembayaran sisa berfungsi sebagai syarat untuk mengikuti UAS, jadi asalkan bayarnya sebelum UAS maka semua akan baik-baik saja.

Kemudian saya berpikir. Mungkin agar pembayaran di awal semester ini nggak lagi menjadi sesuatu yang mengerikan, kayaknya sistemnya memang harus diganti. Mungkin bukan lagi dijadikan sebagai syarat KRS-an. Tapi syarat UTS. Jadi nanti waktu membayarnya bisa lebih longgar. Pokoknya asalkan sebelum UTS. Jadi kalau waktu membayarnya lebih longgar mungkin nggak akan ada lagi yang namanya berdesak-desakan hanya untuk membayar SKS.

Atau mungkin perubahan memang harus dimulai dari mahasiswanya sendiri. Maksud saya, jika saja para mahasiswa yang ingin membayar SKS memiliki kesadaran untuk berbaris berderet memanjang dengan rapi menunggu giliran seperti pemandangan yang sering kita lihat di POM bensin dan menolak untuk berdesakan di depan pintu bank, saya kira pasti semua akan berjalan dengan lebih baik.

Ah, apapun itu, saya harap kedepannya akan ada sesuatu yang berubah.