Selasa, 17 Januari 2017

Tidak Boleh Ke Toilet Di Waktu Ujian Adalah Peraturan Konyol



Di pertengahan Januari tahun ini, seperti pertengahan Januari di tahun-tahun sebelumnya di kampus saya (UMS) diselenggarakan sebuah event dengan tajuk Ujian Akhir Semester (UAS). Meski UAS sudah menjadi agenda tetap tiap semester, namun saya merasakan ada sesuatu yang berbeda dari UAS kali ini.

Apa yang berbeda di UAS kali ini?

Sebuah aturan baru yang entah kenapa terasa begitu aneh bagi saya. Malahan, menurut saya  sudah bukan aneh lagi, tapi konyol. Aturan yang tidak memperbolehkan peserta ujian untuk meninggalkan kelas bahkan untuk pergi ke toilet.

Sebenarnya saya nggak begitu yakin apakah itu aturan baru atau sebenarnya udah ada dari dulu. Tapi, pada kenyataannya peraturan itu baru benar-benar dipraktekkan di fakultas saya (FEB) di UAS kali ini.

Pertama kali saya tahu tentang aturan itu adalah saat hari pertama UAS. Waktu itu, ada salah satu peserta dari ruangan saya yang berdiri dari kursinya dan berjalan ke depan meminta ijin ke pengawas untuk pergi ke toilet. Namun sang pengawas tidak memperbolehkan si peserta untuk keluar. Katanya ini peraturan. Nggak menyerah begitu saja, si peserta mencoba meyakinkan sang pengawas bahwa dia beneran pengen ke toilet dan nggak akan macam-macam. Tapi sang pengawas tetap pada pendiriannya. Bahkan sang pengawas menjawab dengan kalimat … “Kalau mau ke toilet beneran ya nggak papa. Tapi pekerjaan kamu saya ambil”. Mendapatkan jawaban seperti itu jelas langsung membuat si peserta mengurungkan niatnya dan balik ke kursinya.

Saat pertama kali saya melihat kejadian itu, saya cuman bertanya dalam hati … “loh, kok sekarang gini, ya?”

Awalnya saya pikir kejadian itu terjadi karena kebetulan pengawas di ruangan saya orangnya kaku. Hingga akhirnya, di hari lain, dengan peserta ujian dan pengawas yang berbeda, kejadian yang sama terulang kembali. Saat itulah saya mulai sadar bahwa ini memang peraturan baru. Terlepas dari siapa yang jadi pengawas.

Kemudian saya mencoba untuk berpikir tentang kenapa aturan tidak boleh ke toilet itu harus ada? Dan dugaan yang muncul di otak saya adalah mungkin UMS berusaha untuk meminimalisir potensi kecurangan yang terjadi. Karena memang pada faktanya, nggak semua peserta yang ijin ke toilet benar-benar menggunakan waktunya untuk pergi ke toilet. Beberapa memang ada yang memanfaatkannya untuk berbuat kecurangan.

Memang membuat mereka yang ingin berbuat curang kehilangan kesempatan adalah sesuatu yang bagus. Dan dengan melarang peserta ujian untuk meninggalkan ruangan mungkin cukup efektif. Tapi, bagaimana dengan peserta-peserta yang benar-benar ingin pergi ke toilet karena kebelet? Bagaimana nasib mereka?

Nah, ini yang membuat saya berpikir bahwa aturan ini terasa konyol. Merenggut hak manusia untuk pegi ke toilet adalah tindakan yang menurut saya nggak manusiawi. Karena bagaimana pun juga pergi ke toilet –buang air- adalah kodrat setiap manusia yang terlahir di dunia ini.

Mungkin sang pencetus ide tentang peraturan ini bisa saja berkata … “kalau nggak mau kebelet, sebelum masuk ruangan ke toilet dulu, lah.”

Iya, sih. Ke toilet dulu sebelum masuk ruang ujian bisa jadi ide yang bagus biar nggak kebelet waktu ujian. Tapi, apakah itu benar-benar efektif membuat orang terhindar dari kebelet? Buat beberapa orang, mungkin efektif. Tapi untuk beberapa orang yang lainnya, itu sama sekali nggak efektif.

Karena pada faktanya di dunia ini ada orang-orang yang entah kenapa begitu sering merasa kebelet ingin buang air kecil. Celakanya, saya adalah orang yang sering mengalami itu. Bahkan di hari ini –hari terakhir saya UAS-, sebelum saya memasuki ruangan, saya menyempatkan diri terlebih dahulu untuk pergi ke toilet. Namun, sekitar setengah jam berada di ruang ujian, lagi-lagi saya kebelet. Padahal pekerjaan saya baru selesai seperempat. Kalau saya ijin ke pengawas pasti tidak boleh. Kalau pun boleh pekerjaan saya akan diambil. Alhasil, saya mencoba menahan rasa kebelet ini sambil tetap mengerjakan soal. Ketahuilah, menahan kebelet sambil mengerjakan soal itu benar-benar nggak nyaman.

Selain nggak nyaman, saya sering dengar kalau menahan kebelet itu bisa berbahaya bagi kesehatan. Bahkan, di negara lain, di kampus yang menerapkan peraturan serupa dengan UMS, saya membaca ada seorang peserta ujian yang menahan kebelet sampai harus dilarikan ke rumah sakit. Link berita klik di SINI. Tentu UMS nggak mau yang seperti itu terjadi, kan?

Jadi, jika peraturan nggak boleh ke toilet adalah peraturan yang berbahaya, kenapa tetap harus diterapkan? Untuk meminimalisir kecurangan?

Tunggu, UMS ini kan universitas Islam. Orang Islam percaya sama Allah. Tentang orang yang ijin ke toilet tapi menggunakannya untuk berbuat curang, kenapa tidak menganggap itu sebagai urusan dari orang yang bersangkutan terhadap Allah saja?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar