Selasa, 10 Januari 2017

Gadis Berkacamata



Di sebuah ruang di mana ada banyak kursi yang tertata rapi, dengan dinding berwarna putih dan sebuah papan tulis besar di depan ruangan. Di sebuah ruang, di mana banyak di antara kita menyebut ruang itu dengan sebutan kelas, di tempat itu tak sengaja aku melihat dirimu.

Seperti kebanyakan manusia lain yang berada di dalam ruangan itu, aku pun merasa bosan. Memang, terkadang mendengarkan penjelasan dosen yang mengajar di depan kelas bisa terasa sangat melelahkan. Dan tak jarang, aku berharap agar kelas segera berakhir.

Ketika kebosanan mulai memuncak, salah satu solusi terbaik untuk mengusirnya adalah dengan mengedarkan pandangan. Mencoba mengamati apa yang sedang terjadi disekitarku. Memandang ke kejauhan melalui jendela, mencoba mengintip keluar kelas melalui celah pintu yang sedikit terbuka, atau sekedar melihat sekilas apa yang terjadi pada manusia-manusia lain yang juga berada di ruangan itu.

Dan saat itu, pandanganku terhenti pada sebuah titik. Ya, di titik itu aku melihat kamu. Duduk sendirian di barisan kursi paling belakang ruangan ini. Duduk begitu tenang dengan pandangan tertuju ke depan seolah memerhatikan apa yang sedang dijelaskan oleh sang dosen yang beberapa saat sebelumnya sukses membuatku merasa begitu bosan.

Setelahnya, aku tidak benar-benar mengerti tentang apa yang sebenarnya terjadi. Hanya saja entah kenapa secara aneh semua fokusku seolah tersita untuk memerhatikan kamu. Dan secara aneh pula, kebosanan yang sebelumnya kurasakan seketika menghilang.

Meski aku hanya memandangi dari kejauhan, tapi entah kenapa dalam sekejap seolah aku mulai hapal semua gerak-gerikmu. Mencatat ketika dosen baru saja mengatakan sebuah poin yang cukup penting, bermain kuku –aku cukup yakin itu cara kamu untuk mengusir kebosanan-, merapikan jilbab, dan tentu saja yang tak kan pernah terlupa, ketika kamu membetulkan posisi kacamatamu.

“Cukup sekian pertemuan kita hari ini.”

Terdengar suara yang berasal dari depan ruangan. Suara yang seolah menjadi penanda bahwa kelas telah usai. Seperti manusia-manusia lain yang berada di ruangan itu, kamu pun berdiri dari tempat dudukmu dan kemudian keluar meninggalkan ruangan itu.

Sementara kamu telah keluar, aku tetap berada di atas kursiku. Aku memang sengaja untuk menunggu suasana ruangan menjadi sedikit lebih sepi. Kemudian ketika ruangan mulai sepi, aku melangkahkan kakiku menuju pintu keluar ruangan itu. Meninggalkan ruangan itu dengan sebuah pertanyaan …

Mungkinkah suatu saat aku bisa berada diruangan yang sama denganmu lagi?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar