Kamis, 26 Januari 2017

Bunuh!



Gasai Yuno
Ramayana, Mahabharata, dan bahkan dalam cerita nabi seperti Daud sekalipun, bukankah terkadang untuk mendapatkan akhir yang bahagia, kita harus saling membunuh?

Senin, 23 Januari 2017

Apa Itu PPK UMS?



Hari ini, iseng-iseng saya membuka blog ini. Kemudian iseng-iseng pula saya melihat statistic blog saya. Lalu masih dengan iseng-iseng saya mencoba melihat penulusuran kata kunci yang nyasar ke blog saya. Pas saya lihat penulusaran kata kunci, sebenarnya nggak ada yang mengejutkan. Masih kata-kata itu saja yang masuk. Namun setelah saya cermati lebih lanjut, ternyata ada satu yang membuat saya tertarik. Sebuah kalimat berbunyi …

“Apa itu PPK UMS”

Entah kenapa, kalimat itu membuat saya bertanya-tanya. Seenggaknya ada dua pertanyaan yang berputar di kepala saya ketika membaca kalimat itu.

Pertama, kenapa mengetik “apa itu PPK UMS” di mesin pencari google bisa nyasar ke blog saya?

Memang sih saya sering menulis banyak hal tentang pengalaman saya selama kuliah di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Tapi seingat saya, saya nggak pernah mengulas apapun tentang PPK di blog ini. Terus, kenapa bisa nyasar ke sini? Ah, tapi nggak papa, ding. Itung-itung nambah pengunjung. Hehe.

Kedua, kenapa ada anak UMS yang nggak tahu apa itu PPK?

Ini aneh, nih. Kenapa bisa ada anak UMS yang nggak tahu apa itu PPK? Kemungkinan paling besar adalah, dia mahasiswa baru. Karena kalau udah lama, nggak mungkin dia nggak tahu apa itu PPK.

Eh, tapi belum tentu hanya mahasiswa baru aja yang nggak tahu apa itu PPK, ding. Karena faktanya nggak semua fakultas di UMS ada PPKnya. Dan kebetulan, FEB tempat saya menuntut ilmu ada PPK. Selain FEB jujur saya nggak tahu fakultas mana lagi di UMS yang ada PPKnya. Atau jangan-jangan, cuman FEB doang?

Entah kenapa, setelah tahu bahwa ternyata ada anak UMS yang nggak tahu apa itu PPK, rasanya saya jadi agak kasihan. Dan karena hal itu, di artikel ini saya pengen membahas tentang apa itu PPK.

Jadi gini, PPK itu kepanjangan dari Program Pemantapan Kompetensi. Meski pun punya nama yang keren dan cukup terdengar intelek, tapi pada kehidupan sehari-hari anak-anak UMS sering menyebut PPK sebagai SP. Singkatan dari Semester Pendek.

Terus, itu kegiatan apa?

Sesuai namanya, Program Pemantapan Kompetensi. Jadi itu adalah program yang diselenggarakan untuk memantapkan kompetensi. Atau dalam bahasa yang lebih sederhana, PPK adalah sebuah program yang berfungsi untuk memperbaiki nilai. Semacam remidi lah kalau anak sekolah. Cuman, yang ini bayar.

Pelaksanaannya kapan?              

Setiap liburan. Jadi setelah UAS di setiap semesternya, kami para mahasiswa yang kurang pinter harus merelakan liburan kami pergi dengan begitu saja guna memperbaiki nilai-nilai yang terasa nggak sedap dipandang mata di transkip nilai.  

Berapa lama?

Dua minggu. Sebenarnya itu kayak kuliah biasa, kok. Cuman waktunya singkat. Kalau kuliah biasa satu semesternya ada 14 pertemuan yang digelar selama 14 minggu, maka di PPK 14 pertemuan itu dipersingkat menjadi hanya dua minggu. Jadi itulah alasan kenapa PPK juga disebut semester pendek.

Semua mata kuliah bisa diambil?

Nggak, lah. Hanya mata kuliah yang pernah diambil aja yang bisa diambil di PPK. Selain itu, sama kayak kuliah biasa di mana mata kuliah semester ganjil hanya bisa diambil di semester ganjil dan mata kuliah semester genap hanya bisa diambil  di semester genap. Jadi di PPK, ketika liburan transisi dari semester ganjil ke semester genap, mata kuliah yang bisa diambil adalah mata kuliah semester genap. Dan begitu pula sebaliknya. Ketika liburan transisi dari semester genap ke semester ganjil, mata kuliah yang bisa diambil adalah mata kuliah semester ganjil.

Dengan penjelasan di atas, maka bisa disimpulkan bahwa mahasiswa baru belum bisa ikut PPK di liburan pertamanya di bangku kuliah.

Kenapa? Karena liburan pertama mahasiswa baru di bangku kuliah itu kan transisi dari semester ganjil ke semester genap (semester satu ke semester dua), jadi mata kuliah yang bisa diambil di periode itu adalah mata kuliah semester genap. Dan jelas mahasiswa baru belum bisa mengikuti PPK karena belum pernah merasakan yang namanya kuliah di semester genap.

Jadi, kayaknya cuman itu aja yang bisa saya tulis tentang PPK di artikel kali ini. Kalau misal ada yang mau ditanyakan, tulis aja di kolom komentar.

Selasa, 17 Januari 2017

Tidak Boleh Ke Toilet Di Waktu Ujian Adalah Peraturan Konyol



Di pertengahan Januari tahun ini, seperti pertengahan Januari di tahun-tahun sebelumnya di kampus saya (UMS) diselenggarakan sebuah event dengan tajuk Ujian Akhir Semester (UAS). Meski UAS sudah menjadi agenda tetap tiap semester, namun saya merasakan ada sesuatu yang berbeda dari UAS kali ini.

Apa yang berbeda di UAS kali ini?

Sebuah aturan baru yang entah kenapa terasa begitu aneh bagi saya. Malahan, menurut saya  sudah bukan aneh lagi, tapi konyol. Aturan yang tidak memperbolehkan peserta ujian untuk meninggalkan kelas bahkan untuk pergi ke toilet.

Sebenarnya saya nggak begitu yakin apakah itu aturan baru atau sebenarnya udah ada dari dulu. Tapi, pada kenyataannya peraturan itu baru benar-benar dipraktekkan di fakultas saya (FEB) di UAS kali ini.

Pertama kali saya tahu tentang aturan itu adalah saat hari pertama UAS. Waktu itu, ada salah satu peserta dari ruangan saya yang berdiri dari kursinya dan berjalan ke depan meminta ijin ke pengawas untuk pergi ke toilet. Namun sang pengawas tidak memperbolehkan si peserta untuk keluar. Katanya ini peraturan. Nggak menyerah begitu saja, si peserta mencoba meyakinkan sang pengawas bahwa dia beneran pengen ke toilet dan nggak akan macam-macam. Tapi sang pengawas tetap pada pendiriannya. Bahkan sang pengawas menjawab dengan kalimat … “Kalau mau ke toilet beneran ya nggak papa. Tapi pekerjaan kamu saya ambil”. Mendapatkan jawaban seperti itu jelas langsung membuat si peserta mengurungkan niatnya dan balik ke kursinya.

Saat pertama kali saya melihat kejadian itu, saya cuman bertanya dalam hati … “loh, kok sekarang gini, ya?”

Awalnya saya pikir kejadian itu terjadi karena kebetulan pengawas di ruangan saya orangnya kaku. Hingga akhirnya, di hari lain, dengan peserta ujian dan pengawas yang berbeda, kejadian yang sama terulang kembali. Saat itulah saya mulai sadar bahwa ini memang peraturan baru. Terlepas dari siapa yang jadi pengawas.

Kemudian saya mencoba untuk berpikir tentang kenapa aturan tidak boleh ke toilet itu harus ada? Dan dugaan yang muncul di otak saya adalah mungkin UMS berusaha untuk meminimalisir potensi kecurangan yang terjadi. Karena memang pada faktanya, nggak semua peserta yang ijin ke toilet benar-benar menggunakan waktunya untuk pergi ke toilet. Beberapa memang ada yang memanfaatkannya untuk berbuat kecurangan.

Memang membuat mereka yang ingin berbuat curang kehilangan kesempatan adalah sesuatu yang bagus. Dan dengan melarang peserta ujian untuk meninggalkan ruangan mungkin cukup efektif. Tapi, bagaimana dengan peserta-peserta yang benar-benar ingin pergi ke toilet karena kebelet? Bagaimana nasib mereka?

Nah, ini yang membuat saya berpikir bahwa aturan ini terasa konyol. Merenggut hak manusia untuk pegi ke toilet adalah tindakan yang menurut saya nggak manusiawi. Karena bagaimana pun juga pergi ke toilet –buang air- adalah kodrat setiap manusia yang terlahir di dunia ini.

Mungkin sang pencetus ide tentang peraturan ini bisa saja berkata … “kalau nggak mau kebelet, sebelum masuk ruangan ke toilet dulu, lah.”

Iya, sih. Ke toilet dulu sebelum masuk ruang ujian bisa jadi ide yang bagus biar nggak kebelet waktu ujian. Tapi, apakah itu benar-benar efektif membuat orang terhindar dari kebelet? Buat beberapa orang, mungkin efektif. Tapi untuk beberapa orang yang lainnya, itu sama sekali nggak efektif.

Karena pada faktanya di dunia ini ada orang-orang yang entah kenapa begitu sering merasa kebelet ingin buang air kecil. Celakanya, saya adalah orang yang sering mengalami itu. Bahkan di hari ini –hari terakhir saya UAS-, sebelum saya memasuki ruangan, saya menyempatkan diri terlebih dahulu untuk pergi ke toilet. Namun, sekitar setengah jam berada di ruang ujian, lagi-lagi saya kebelet. Padahal pekerjaan saya baru selesai seperempat. Kalau saya ijin ke pengawas pasti tidak boleh. Kalau pun boleh pekerjaan saya akan diambil. Alhasil, saya mencoba menahan rasa kebelet ini sambil tetap mengerjakan soal. Ketahuilah, menahan kebelet sambil mengerjakan soal itu benar-benar nggak nyaman.

Selain nggak nyaman, saya sering dengar kalau menahan kebelet itu bisa berbahaya bagi kesehatan. Bahkan, di negara lain, di kampus yang menerapkan peraturan serupa dengan UMS, saya membaca ada seorang peserta ujian yang menahan kebelet sampai harus dilarikan ke rumah sakit. Link berita klik di SINI. Tentu UMS nggak mau yang seperti itu terjadi, kan?

Jadi, jika peraturan nggak boleh ke toilet adalah peraturan yang berbahaya, kenapa tetap harus diterapkan? Untuk meminimalisir kecurangan?

Tunggu, UMS ini kan universitas Islam. Orang Islam percaya sama Allah. Tentang orang yang ijin ke toilet tapi menggunakannya untuk berbuat curang, kenapa tidak menganggap itu sebagai urusan dari orang yang bersangkutan terhadap Allah saja?

Selasa, 10 Januari 2017

Gadis Berkacamata



Di sebuah ruang di mana ada banyak kursi yang tertata rapi, dengan dinding berwarna putih dan sebuah papan tulis besar di depan ruangan. Di sebuah ruang, di mana banyak di antara kita menyebut ruang itu dengan sebutan kelas, di tempat itu tak sengaja aku melihat dirimu.

Seperti kebanyakan manusia lain yang berada di dalam ruangan itu, aku pun merasa bosan. Memang, terkadang mendengarkan penjelasan dosen yang mengajar di depan kelas bisa terasa sangat melelahkan. Dan tak jarang, aku berharap agar kelas segera berakhir.

Ketika kebosanan mulai memuncak, salah satu solusi terbaik untuk mengusirnya adalah dengan mengedarkan pandangan. Mencoba mengamati apa yang sedang terjadi disekitarku. Memandang ke kejauhan melalui jendela, mencoba mengintip keluar kelas melalui celah pintu yang sedikit terbuka, atau sekedar melihat sekilas apa yang terjadi pada manusia-manusia lain yang juga berada di ruangan itu.

Dan saat itu, pandanganku terhenti pada sebuah titik. Ya, di titik itu aku melihat kamu. Duduk sendirian di barisan kursi paling belakang ruangan ini. Duduk begitu tenang dengan pandangan tertuju ke depan seolah memerhatikan apa yang sedang dijelaskan oleh sang dosen yang beberapa saat sebelumnya sukses membuatku merasa begitu bosan.

Setelahnya, aku tidak benar-benar mengerti tentang apa yang sebenarnya terjadi. Hanya saja entah kenapa secara aneh semua fokusku seolah tersita untuk memerhatikan kamu. Dan secara aneh pula, kebosanan yang sebelumnya kurasakan seketika menghilang.

Meski aku hanya memandangi dari kejauhan, tapi entah kenapa dalam sekejap seolah aku mulai hapal semua gerak-gerikmu. Mencatat ketika dosen baru saja mengatakan sebuah poin yang cukup penting, bermain kuku –aku cukup yakin itu cara kamu untuk mengusir kebosanan-, merapikan jilbab, dan tentu saja yang tak kan pernah terlupa, ketika kamu membetulkan posisi kacamatamu.

“Cukup sekian pertemuan kita hari ini.”

Terdengar suara yang berasal dari depan ruangan. Suara yang seolah menjadi penanda bahwa kelas telah usai. Seperti manusia-manusia lain yang berada di ruangan itu, kamu pun berdiri dari tempat dudukmu dan kemudian keluar meninggalkan ruangan itu.

Sementara kamu telah keluar, aku tetap berada di atas kursiku. Aku memang sengaja untuk menunggu suasana ruangan menjadi sedikit lebih sepi. Kemudian ketika ruangan mulai sepi, aku melangkahkan kakiku menuju pintu keluar ruangan itu. Meninggalkan ruangan itu dengan sebuah pertanyaan …

Mungkinkah suatu saat aku bisa berada diruangan yang sama denganmu lagi?