Minggu, 31 Desember 2017

Selamat Tinggal 2017



Seperti 31 Desember lain di tahun-tahun sebelumnya, seperti yang sudah-sudah, di tanggal ini saya biasa bikin postingan tentang apa aja yang terjadi dalam satu tahun kalender. Meneruskan tradisi itu, tentu kali ini saya bikin lagi. So, selamat datang di “Selamat Tinggal 2017”.

Sejujurnya, tahun 2017 berjalan dengan biasa aja bagi saya. Seperti tahun-tahun sebelumnya, banyak resolusi yang saya canangkan di awal tahun yang pada akhirnya gagal untuk tercapai. Bikin MV adalah salah satunya. Tahun 2018 saya nggak mau tahu pokoknya harus bikin.

Lalu, seperti tahun-tahun sebelumnya, saya gagal memenuhi impian untuk bisa menerbitkan buku. Yang parahnya, nggak tahu kenapa semangat nulis saya di tahun ini menurun sangat drastis. Alhasil novel yang saya tulis bahkan sempat berbulan-bulan nggak kesentuh. Sebenernya menurunnya semangat nulis bukan hanya terjadi pada novel, untuk blog ini pun juga sama. Rasanya males banget. Tapi karena ingat bahwa domain faisalriza.com ini bukan domain gratisan alias domain mbayar, mau nggak mau jadi nulis. Motivasinya biar nggak mubazir aja. Hehe.  

Di tahun ini saya juga udah ambil skripsi. Tapi sayangnya apa yang terjadi di paragraf sebelumnya cukup memberi dampak dalam hal ini. Gara-gara semangat nulis saya menurun, alhasil skripsi saya saat ini baru sampai di … proposal. Haha. Itupun juga belum kelar. Parah memang.

Di tahun ini, untuk pertama kalinya dalam hidup akhirnya saya merasakan yang namanya kena prospek MLM. Sebuah pengalaman yang sungguh absurd. Sebuah pengalaman yang tentunya nggak ingin terulang lagi. Kisah yang lebih lengkap KLIK DI SINI.

Apa lagi, ya? Umm, di tahun ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, saya melewatinya dengan status jomblo. Ya, saya melewati 365 hari dalam satu tahun kalender di 2017 dengan kejombloan. Sebuah hal yang sebenarnya … biasa aja. Wes kulino.

Gagal bikin MV, semangat nulis menurun, kena prospek MLM, dan jomblo seolah menjadi deretan hal nggak mengenakkan yang terjadi di 2017 dalam hidup saya. Lalu apakah hanya hal nggak mengenakkan saja yang terjadi di 2017? Tentu enggak. Ada juga kok hal bagus yang terjadi di tahun ini.

Berat badan saya turun. Yap, di paruh pertama tahun 2017, saya menerapkan diet yang sangat ketat. Berhasil? Entahlah. Tapi yang pasti berat badan saya yang semula 86kg sempat sampai turun di angka 75kg. Sayangnya di paruh kedua saya nggak bisa disiplin. Alhasil berat badan saya naik lagi jadi 78kg. Sangat disayangkan, sih. Tapi, at least saya menutup tahun dengan berat badan di angka 70an.

Di tahun ini, saya memang gagal bikin MV. Tapi at least ada sebuah proses yang mengarah ke sana. Tahun ini, setelah sekitar 3 tahun berlalu, saya akhirnya produksi lagu lagi. Di tahun ini saya juga cukup produktif dalam hal nulis lagu.

Hal bagus lainnya di tahun ini berasal dari kesenian yang sangat-sangat saya cintai, stand up comedy. Tahun ini sangat menyenangkan karena dua kali foto saya terpampang dalam poster acara stand up comedy. Yang pertama jadi openernya Dzawin di IAIN Surakarta dan yang kedua di acara tahunannya stand up UMS yang bertajuk Majelis Tawa Mini Show 3. Di dua penampilan itu, saya merasakan kembali kenikmatan berdiri di atas panggung. Rasanya benar-benar membahagiakan. Di tahun ini pula, saya akhrinya bisa juga menonton secara langsung pertunjukkan stand up comedy dari comic yang saya idolai, Adriano Qalbi.

Lalu juga terjadi di tahun ini, setelah tiga tahun berlalu, saya kembali menginjakkan kaki di stadion. Total ada dua pertandingan Persis Solo yang saya hadiri tahun ini. Pertandingan tandang di Sragen dan pertandingan kandang melawan PSIS Semarang. Oh, iya. Di tahun ini akhirnya saya kesampaian juga bisa nonton pertandingan Persebi Boyolali, klub dari kabupaten saya secara langsung di stadion. Tahun depan nonton bola lagi di stadion? Nggak yakin, sih. Udah agak males kalau boleh jujur. Hehe.

Hal buruk udah. Hal baik udah juga. Terus apalagi, ya? Umm, gimana kalau kita menuju ke resolusi 2018 aja.

Di tahun 2018, saya pengen bisa cari uang sendiri. Saya pengen bisa bekerja untuk membiayai karya. Untuk bikin MV misalnya. Saya juga sangat berharap semangat nulis saya kembali. Dan tentunya di tahun 2018 saya ingin rajin open mic dan lebih disiplin nulis materi stand up. Jujur saya pengen tampil dalam lebih banyak show. Saya pengen lebih sering merasa bahagia.

Terakhir, di 2018 semoga saya bisa wisuda. Kayaknya saya mulai merasa lelah kuliah. Hehe.  

Senin, 25 Desember 2017

Komunitas Stand Up Comedy Boyolali



Sebagai manusia yang mencintai kesenian stand up comedy dan kebetulan tinggal di wilayah Kabupaten Boyolali –meski cukup jauh dari pusat kota-, tentu saya sangat berharap ada sebuah komunitas stand up comedy yang eksis di Kota Susu.

Pengen banget gitu ada sebuah komunitas yang nantinya menelurkan comic-comic berbakat dari Boyolali. Pengen banget gitu ada sebuah komunitas yang nantinya menggelar show-show stand up comedy di Boyolali. Ben Boyolali hiburane ora gur dangdutan karo wayangan terus. Hehe.

Tapi ngomongin komunitas, sebenarnya dulu pernah ada sih komunitas Stand Up Comedy Boyolali. Nggak percaya? Cek aja di Twitter, ada akunnya, @StandUpIndoBYL. Namun sayangnya terakhir kali akun itu ngetweet adalah tanggal 15 Januari 2015. Yang mana itu artinya udah hampir tiga tahun akun itu nggak aktif.

Kalau kita melakukan stalking lebih lanjut ke akun @StandUpIndoBYL, bisa kita lihat sebelum mereka benar-benar vakum, tepatnya tanggal 21 Desember 2014, mereka sempat bikin sebuah show bertajuk Stand Up Nite Boyolali dengan bintang tamu Hifdzi, Yudha Keling, dan Beni. Bikin show sebelum bubar, mungkin ini yang disebut bubar dengan keren. Hehe.   

Tapi saya bisa maklum kenapa stand up Boyolali vakum. Karena pastinya susah nguri-nguri sebuah komunitas stand up comedy di sebuah wilayah yang nggak ada kampusnya. Seperti yang kita ketahui bersama, anggota komunitas stand up comedy yang tersebar di seluruh Indonesia biasanya didominasi oleh mahasiswa. Itulah alasan kenapa komunitas yang kampusnya banyak kayak Jogja, Malang, Bandung komunitasnya cenderung kuat. Namun, meski begitu, saya yakin pasti ada juga komunitas stand up yang masih aktif berdiri meski di wilayahnya nggak ada kampus. Pasti ada, tapi saya nggak tahu di kota mana. Hehe.

Terakhir, saya cuman mau bilang kalau saya sangat berharap akan ada lagi komunitas stand up comedy di Boyolali. Akan ada lagi show-show yang memberi asupan tawa bagi pecinta stand up comedy di Boyolali. Saya sangat berharap. By the way, apakah kamu juga mengharap sesuatu seperti apa yang saya harapkan? Kalau iya, tulis di comment dong.

Sabtu, 16 Desember 2017

Kids Jaman Now? Generasi Micin? Matamu Sempal!



Halo. Pernah dengar kalimat ini belum? Kalimat kayak kids jaman now atau generasi micin gitu? Pernah ya pastinya. Karena kalau belum pernah, rasanya aneh aja kenapa bisa nyasar ke postingan ini.

Ok, tapi sebenarnya kids jaman now itu apa, sih? Umm … secara bahasa, kurang lebih artinya anak jaman sekarang kali, ya. Saya yakin adanya kata berbahasa Inggris di situ berfungsi untuk menambahkan kesan kekinian. Terus, kalau generasi micin? Secara bahasa saya nggak begitu tahu. Generasi yang suka makan micin? Kayaknya bukan, ya. Tapi satu yang pasti, secara penggunaan, generasi micin seolah menjadi sinonim dari kids jaman now.

Lalu siapakah mereka? Kids jaman now itu siapa? Siapa sih generasi micin? Kalau dari pengamatan saya, kids jaman now atau generasi micin adalah sebuah sebutan yang disematkan buat para remaja dan terkadang bahkan juga anak-anak di Indonesia. Mungkin biar lebih gampang menjelaskannya, kira-kira buat anak-anak kelahiran 2000-2010an, lah.

Penggunaan kata kids jaman now dan generasi micin sendiri menurut apa yang saya rasakan, konotasinya sedikit negatif. Seolah digunakan untuk menggambarkan kelakuan nyeleneh anak-anak kelahiran 2000an. Pokoknya yang jelek-jelek. Ngerokok, berantem, pacaran, tawuran, nyontek, sekali lagi pokoknya yang jelek-jelek. Masalah moral.

Gambaran seberapa jelek kids jaman now dan generasi micin diperparah sama viralnya lagu dari rapper Ecko Show yang berjudul Kids Jaman Now. Music video dari lagu tersebut menggambarkan suasana kelas di sebuah SMP yang kesannya parah banget. Yang mana menurut saya MVnya cukup berlebihan. Anak SMP jaman sekarang nggak gitu juga kali. Yang belum tahu lagunya kayak apa bisa klik LINK INI.

Pertanyaannya, ini istilah kids jaman now sama generasi micin siapa yang pakai? Jelas generasi yang bukan berasal dari 2000-2010. Lalu siapa? 2010 ke atas? Jelas bukan. Mereka terlalu muda. Lalu? Tentunya generasi 90an. Kenapa? karena kalau generasi sebelumnnya rasanya nggak mungkin aja. Generasi 80an atau 70an saya yakin udah males ikutan trend beginian. Saya yakin generasi 80an atau sebelumnya udah fokus sama kehidupan yang nyata.

Generasi 90an. Ya, generasi yang nggak tahu kenapa menurut saya seolah selalu berusaha untuk melabeli generasi mereka sebagai generasi terbaik. Pasti sering di internet kita lihat postingan atau meme atau apapun yang tulisannya kurang lebih, “HANYA ANAK 90an YANG TAU” atau “ANAK 90an PASTI TAU”. Kayak seolah pengen ngomong ke dunia kalau generasi mereka paling asik. Paling keren. Berbanding terbalik sama generasi 2000an yang kesannya kelam.

Sebagai bagian dari generasi 90an, tepatnya saya lahir di 94, saya bertanya-tanya. Apakah generasi 90an memang lebih baik –secara moral tepatnya- dari anak 2000an? Sepertinya enggak, ya. Nggak tahu kenapa menurut saya sama aja.

Ok, coba kita kupas. Memang apa aja sih yang bikin citra anak 2000an terlihat buruk?

REFRENSI LAGU
Anak 90an selalu ngomong kalau anak 2000an dari SD tahunya cuman lagu cinta. Pokoknya bukan lagu anak. Mungkin benar. Tapi coba lihat apa yang terjadi pada anak 90an? Dulu pas SD kelas 4 atau 5, saya ingat waktu itu extrakulikuler pramuka. Kami semua duduk melingkar dan bernyanyi. Coba tebak lagu apa yang kami nyanyikan? Saya agak lupa sih lagunya  judulnya apa. Tapi saya masih sangat ingat lagunya siapa yang kami nyanyikan bersama. Ungu dan Peterpan –waktu itu Noah masih Peterpan-, seperti yang kita ketahui bersama, lagunya Ungu dan Peterpan mayoritas bertemakan cinta. Jadi apa bedanya?

Apakah itu aneh? Enggak juga, kok. Karena menurut saya akan lebih aneh kalau saya lihat anak kelas 5 atau 6 SD yang menjelang puber masih menyanyikan lagu anak seperti diobok-obok atau balonku ada lima. Jadi lagu cinta untuk anak seusia itu cukup wajar lah ya.

Biasanya anak 90an akan bilang, “at least kami masih dengerin lagu anak”. Ya, tapi dulu pas masih jaman TK atau bahkan sebelum masuk sekolah. Dan hal itu juga terjadi pada adik saya yang kelahiran 2004, lho. Dia waktu masih playgroup dengerinnya juga lagu anak, kok. Jadi apa bedanya?

ROKOK
90an berkata, “jaman sekarang anak SMP udah pada jadi perokok. Dasar generasi micin!”

Saya jawab aja, “lah, bukannya sama aja?”

Dulu pas SMP, teman saya banyak yang naik bus. Pas pulang sekolah, nungguin bus di terminal, coba tebak apa yang mereka lakukan? Tepat! Nongkrong sambil ngerokok. Jadi apa bedanya?

IKUTAN TINGKAH NEGATIF IDOLA
90an selalu menghujat anak 2000an yang suka banget ngomong kasar gara-gara ikut-ikutan idola masa kini macam Young Lex atau Reza Arap. Parah? Mungkin. Tapi kira-kira bagaimana kondisi anak 90an ketika mereka remaja dulu, ya?

Dulu antara tahun-tahun akhir saya di SD dan tahun-tahun awal saya di SMP, di negeri kita tercinta tayang di TV sebuah acara legendaris bernama SMACKDOWN. Tebak apa yang terjadi? Yap, banyak anak-anak waktu itu berusaha meniru adegan-adegan di smackdown. Jadi dulu rasanya biasa aja pas di dalam kelas lihat dua orang saling banting-bantingan. Parahnya bahkan ada yang sampai meninggal. Jadi apa bedanya?

Tunggu! Saya ralat pertanyaan saya. Jadi siapa yang lebih parah?   

PACARAN
Ya. pacaran. Generasi 90an banyak banget yang menghujat anak 2000an yang masih SD udah pacaran. Kenyataannya, memang ada anak SD yang udah pacaran. Nggak usah jauh-jauh, tetangga saya ada kok masih kelas 6 SD (lahir 2005 atau 2006) dan udah pacaran. Agak bikin iri memang. Saya udah 23 dan belum pernah sekalipun pacaran. #BGST!

Nah, sekarang pertanyaannya, apakah 90an lebih baik? Enggak juga, lho. Dulu pas saya kelas 5 SD, sekitar tahun 2004 atau 2005 saya agak lupa, teman sekelas saya banyak juga lho yang pacaran. Sekitar 5 pasang ada kayaknya. Jadi apa bedanya?

FREE SEX
90’s said, “anak sekarang masih SMP udah gituan.”

Umm … saya mau cerita aja, ya. Jadi dulu pas saya masih kelas dua SMP, tahun 2009 tepatnya, ada kakak kelas saya yang ketahuan lagi gituan di belakang perpustakaan sekolah. Sumpah ini saya nggak bohong. Di era yang sama, di sekolah lain ada siswi yang dikeluarkan dari sekolah karena hamil. Jadi apa bedanya?
 ***
Apa bedanya? Bedanya apa? Bedanya adalah tingkat kemajuan masing-masing era. Sekarang era internet. Apapun bisa tersebar cepat ke penjuru dunia lewat internet. Termasuk kenakalan remaja. Ada apa dikit sedunia bisa tahu. Kalau dulu ada apa-apa paling yang tahu hanya tetangga atau orang-orang terkedat. Lebih dari itu, sebenarnya sama aja.

Jadi buat anak 90an, stop mengklaim diri lebih baik dari anak 2000an. Buat anak 2000an, kalau ada yang ngatain kalian KIDS JAMAN NOW atau GENERASI MICIN, jawab aja: MATAMU SEMPAL!  

Selasa, 28 November 2017

Lo Pikir Lo Keren? Adriano Qalbi Jogjakarta [Review]



Dua hari yang lalu, tepatnya pada hari Sabtu 25 November 2017, untuk yang ketiga kalinya dalam hidup ini saya harus menempuh perjalanan sekitar 2 jam naik motor dari Solo ke Jogja hanya untuk menyaksikan pertunjukkan special show stand up comedy. Kayaknya saya mulai menyadari kalau Kota Solo bukanlah kota yang cukup menarik lagi bagi comic-comic papan atas untuk dijadikan destinasi tour. Pandji Pragiwaksono dengan Juru Bicaranya hanya mampir di Jogja, ½ Jalannya Ernest juga sama, dan tentunya show yang baru saja saya saksikan, Lo Pikir Lo Keren by Adriano Qalbi yang mana akan saya review di postingan kali ini.

Umm, btw saya harus mulai dari mana, ya? Jujur saat nulis blog, pergantian satu paragraf ke paragraf lain itu kadang bikin pusing, lho. Kayak bingung ini harus nulis apa lagi, ya? Sebenarnya tahu arahnya kemana tapi bingung bridgingnya harus kayak apa. Ok, saya harus mulai mikir ………. Ah, saya tahu. Saya akan tulis dari bagaimana saya bisa mengenal nama Adriano Qalbi.

Kalau boleh jujur, Adri bukanlah comic yang cukup terkenal. Pengen bukti? Gampang! Coba deh tanya ke teman kerja/kampus/sekolah dengan pertanyaan “eh, tahu Adriano Qalbi, nggak?”, saya yakin 90% nggak kenal. Dan kayaknya Adriano cukup sadar akan ketidak terkenalannya. Lalu pertanyaannya, dari mana saya bisa tahu kalau di dunia ini ada comic bernama Adriano Qalbi?

Simple! Jawabannya internet. Jujur saya suka banget baca review acara stand up. Suka banget. Nah, nggak jarang di banyak review yang saya baca, di situ nyempil nama Adriano Qalbi. Dari situ rasa penasaran muncul. Kemudian mulailah saya mencari lebih banyak tentang Adri. Dan hasilnya, dari banyak blog yang saya baca, dari banyak event stand up yang di review, semua selalu bilang kalau Adri keren.

Level penasaran pun naik. Saya mulai nyari videonya di YouTube. Hasilnya … nggak banyak! Eh, kayaknya kata “sedikit” lebih tepat, deh. Tapi dari video yang sedikit itu akhirnya timbul rasa kagum. Kayak suka aja gitu sama gaya stand upnya. Saya cari tahu lebih banyak tentang Adri dan entah bagaimana saya menjadi pendengar Podcast Awal Minggu. Lalu, akhirnya semua yang saya tulis di paragraf ini berakhir dengan kalimat … “Pokoknya kalau Adriano Qalbi bikin show, saya harus nonton!”

25 November 2017, akhirnya salah satu tujuan hidup saya tercapai, nonton Adri! Dan daripada berlama-lama, mari segera saya mulai saja reviewnya.

Show malam itu dibuka oleh voice-over yang mana adalah suaranya Adri sendiri. Agak aneh, sih. Biasanya kan kalau voice-over gitu suara panitia, ya? tapi biarkan sajalah. Hehe.

Ada tiga comic opener yang membuka Lo Pikir Lo Keren Jogjakarta. Yusril Fahriza jadi yang pertama. Bercerita tentang pengalamannya bermain film bersama Ernest Prakasa, tentang nggak enaknya jadi pekerja seni di Jogja yang terkadang kurang dihargai secara financial –anjay, ngeMC dibayar bebek goreng, haha-, sampai ngomongin tentang orang-orang yang menganggap semua permasalahan kehidupan akan selesai dengan menikah.

Opener kedua ada Iqbal Kutul. Pembawaannya sangat kalem. Santai banget. Tapi jujur, Iqbal adalah opener favorit saya malam itu. Bit favorit saya adalah tentang panitia pembangunan masjid.

“Ini nanti keran wudhunya harus Onda”

Bangsaaat! Saya ngakak parah tepat sesaat setelah Iqbal menyelesaikan kalimat itu. Lalu tentang Nabi Ibrahim yang pasti kaget kalau bangunan kotak yang dulu dia bikin sekarang jadi logo partai juga lucu parah. By the way, kalau suatu saat Iqbal Kutul bikin special, kayaknya saya pasti nonton.

Kalau dua opener sebelumnya adalah comic local hero dari Stand up Indo Jogja, opener ketiga dibawa Adri dari Jakarta, Fico Fachriza. Bit yang cukup nempel dari Fico malam itu tentu tentang betapa susahnya orang gendut sholat. Tapi kalau yang paling saya ingat dari penampilan Fico malam itu tetep moment di mana Fico melontarkan bit-bit berpunchline wadaw. Yang mana seingat saya ada tiga. Hehe.

Setelah acara cukup panas berkat bit-bit dari para opener, maka itu artinya kini giliran sang pemilik acara untuk menunjukkan aksinya. Tapi sebelum saya menuliskan tentang kesan saya terhadap penampilan Adri, saya mau bilang dulu kalau menonton Adri kemarin itu ibarat membuktikan mitos. Iya, selama ini saya hanya tahu Adriano melalui internet. Jadi ini semacam membuktikan kebenaran. Apakah Adriano Qalbi memang keren, atau sekedar mitos? Jawaban dari pertanyaan ini kayaknya bakal terjawab dengan membaca paragraf-paragraf setelah ini.

Adriano membuka penampilannya malam itu dengan menjelaskan kenapa acaranya terkesan asal-asalan. Seperti nggak nyetak tiket karena nggak bakal ada yang minta tanda tangan di tiket tersebut. Atau tentang nggak ada backdrop karena backdrop yang dikapai untuk show yang di Jakarta dicolong orang.

“Berarti saat ini ada satu orang di dunia yang di kamarnya ada backdrop show gue”

Hahaha. Saya nggak kuasa untuk menahan hasrat untuk tertawa.

Yang menyenangkan dari menonton Adri adalah karena saya merasa memiliki cara berpikir yang hampir sama. Adri sering mengawali pembahasan tentang topik tertentu dengan nyinyir. Tapi setelahnya Adri akan berkata, “tapi gue paham kok kenapa mereka ngelakuin ini”. Hal yang biasa saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari saya. Seringkali saya nyinyir terhadap suatu hal, namun di saat yang sama saya juga berusaha memahami kenapa suatu hal bisa terjadi.

Berbeda dengan kesan menonton Pandji yang orangnya terkesan optimis, Adri terdengar lebih realistis. Bit tentang bully jadi salah satu bit favorit saya malam itu. Membahas tentang bully yang nggak mungkin ilang, mengkritisi tentang iklan coca-cola dalam memerangi bully, meski jujur agak dark, pembahasan tentang itu sumpah lucu banget.

“Sekarang semua orang jadi tahu kalau nama lo Bokri!”

Saya hampir terjungkal dari kursi saya akibat dari ledakan tawa yang hebat. By the way, setalah sampai rumah, saya penasaran sama iklan Coca-cola yang diceritakan Adri. Dan ternyata, anjir iklannya sedih banget. Tapi tetep lebih menyedihkan hal yang terjadi dibalik pembuatan iklan itu, sih. Seenggaknya menurut imajinasi Adri. Hehe.

Apa lagi yang menyenangkan dari nonton Adri? Kayaknya karena satu pemikiran. Relate aja gitu. Tentang mantan gubernur DKI yang sekarang dipenjara misalnya. Jujur saya juga agak sebel sama beliau. Bukan karena saya berbeda ras  atau agama dengan beliau. Tapi karena beliau suka marah-marah aja. Dan penganalogian Adri dengan ketua kelas yang nyebelin dan semua orang nunggu dia kepleset benar-benar lucu banget.

Lalu bit-bit tentang netizen yang sok tahu. Tentang debat calon pemimpin yang sebenarnya nggak ada gunanya. Sumpah satu pemikiran banget. Udah satu pemikiran, ditambah dengan cara mengolah materi yang keren adalah kombinasi sempurna untuk membuat saya nggak ragu untuk bilang Adri sangat lucu.

By the way ngomongin bit netizen, sebenarnya agak ironis juga, lho. Adriano dalam penampilannya menyiratkan ketidaksukaannya terhadap era internet. Tapi, saya yakin semua yang nonton Adri malam itu mengenal Adri awalnya juga dari internet. Jadi kebayang enggak kalau internet nggak pernah ada? Saya yakin nggak akan pernah ada show Lo Pikir Lo Keren. Di rumah, Adri akan ngedumel lengkap dengan istrinya yang menimpali, "Iya-iya. Lucu, kok". Hehe.

Tapi apakah Adriano lucu hanya karena materinya relate dengan saya? Kayaknya enggak juga. Menurut saya Adri lucu karena dia memang lucu. Karena faktanya ada banyak juga materi-materi yang disajikan malam itu yang sejujurnya sama sekali nggak relate sama saya. Tema seperti stalker jaman dulu, perselingkuhan, atau pernikahan misalnya. Dan meski sebenarnya nggak relate, tapi tetap aja lucu.

Setelah show berakhir, saya berani ngomong kalau Adriano Qalbi adalah comic paling lucu di dunia. Dan tentunya Lo Pikir Lo Keren merupakan show terlucu juga di dunia. Selama Adri stand up, entah berapa kali saya hampir terjungkal atau melompat dari kursi saking dahsyatnya ledakan tawa saya. Saya yakin kalau misalnya ada cukup space di depan kursi saya, saya akan ngakak sampai guling-guling dlosoran di lantai. Tapi sayangnya penataan kursinya cukup rapat. Jadi cukup untuk menahan saya agar nggak dlosoran di lantai.

Oh, iya suara saya sampai serak lho gara-gara ketawa mulu. Haus banget rasanya. Dan untuk mengobati rasa haus itu, pas sesi foto bareng saya minta ke Adri Aqua yang dia bawa ke stage yang masih utuh belum dia minum. 
Aqua Yang Saya Minta Dari Adri
By the way, ngomongin foto bareng, Adri ternyata humble, ya. Kalau comic lain biasanya kalau datang rombongan maka fotonya harus barengan, Adri enggak, dia bebas. Foto barengan ok, abis itu sendiri-sendiri juga boleh. Ini sebenarnya antara beneran humble atau emang nggak banyak yang ngantri aja. Hehe.

Jadi, Adriano Qalbi beneran keren atau cuma mitos? Simple, saya hanya akan menjawabnya dengan kalimat …

ADRIANO QALBI ADALAH COMIC TERLUCU DI DUNIA AKHIRAT!