Selasa, 27 Desember 2016

Karma Dan Tugas Kelompok



Percaya karma? Untuk beberapa alasan, saya nggak percaya. Pertama, saya bukan Hindu. Jadi, saya nggak memiliki kewajiban untuk percaya sama hal-hal seperti itu. Kedua, entah kenapa saya merasa kalau konsep karma itu sedikit aneh. Ah, atau lebih tepatnya saya nggak terlalu ingin peduli dengan hal-hal seperti itu.

Seenggaknya, itu adalah sesuatu yang saya yakini. Hingga akhirnya datang banyak hal yang membuat saya sedikit ragu terhadap apa yang saya yakini sebelumnya. Sesuatu yang datang secara bertubi-tubi di semester ke-5 saya berkuliah. Sesuatu yang disebut dengan tugas kelompok.

Tugas kelompok?

Ya, tugas kelompok. Semua orang saya rasa juga akan setuju kalau saya bilang tugas yang diberikan oleh dosen di masa kuliah adalah sesuatu yang sangat mengerikan bagi mahasiswa. Emm, mungkin saya sedikit berlebihan. Bukan, bukan mengerikan. Mungkin akan lebih tepat jika disebut menjengkelkan.

Entah tugas itu dibebankan untuk individu atau kelompok, bagi saya keduanya tetap saja sama-sama merepotkan. Dan entah kenapa di semester 5 ini para dosen yang mata kuliahnya saya ambil seolah saling berlomba untuk memberi tugas.

Nggak sedikit dosen yang memberi tugas kelompok. Atau, kayaknya memang lebih banyak dosen yang memberi tugas kelompok daripada untuk yang individu. Dan mungkin kamu akan berpikir tentang bukankah tugas kelompok itu lebih mudah karena dikerjakan bersama? Harusnya sih begitu. Tapi faktanya …
***
MATA KULIAH SISTEM INFORMASI MANAJEMEN

Di awal semester dosen memberi kami tugas kelompok. Satu kelompok berisi 4 orang. Tugas yang diberi oleh dosen itu adalah membuat paper dan presentasi. Dengan kelompok yang diisi oleh 4 orang, harusnya tugas itu terlihat  mudah. Ya, seharusnya sih begitu.

Tapi, dari awal saya sudah merasakan tanda-tanda bahwa ini akan menjadi tugas yang sulit. Ya, saya tergabung dalam kelompok yang isinya cuma 3 orang saja. Memang, saya nggak memiliki cukup daya tarik untuk membuat orang lain mengajak saya untuk masuk ke dalam kelompoknya. Jadi, meski cuman 3 orang, harus disyukuri karena seenggaknya tetap dapat kelompok, lah.

Kayaknya saya harus memperkenalkan anggota kelompok yang hanya 3 orang itu, deh. Yang pertama saya sendiri alias yang punya blog ini. Kedua, teman saya namanya Rendy. Anak perantauan alias anak kos-kosan. Seperti anak kos pada umumnya, Rendy ini punya masalah dengan bangun pagi. Dan yang jadi persoalan adalah … kuliah Sistem Informasi Manajemen jadwalnya pagi! Ah, sebenarnya nggak pagi-pagi banget, sih. Jam 10. Jadi, kalau si Rendy ini nggak bisa bangun pagi, dia nggak akan masuk kuliah.

Terus yang ketiga ada si Dhani. Dia bukan anak kos, sih. Tapi bukan berarti rumahnya dekat. Justru rumahnya cukup jauh. Katanya sih butuh 45 menit perjalanan. Dan karena rumahnya jauh, si Dhani jadi sering nggak masuk kuliah. Katanya sih males.

Berada satu kelompok dengan dua orang yang satunya susah bangun terus kalau kesiangan nggak masuk kuliah dan yang satunya lagi karena rumahnya jauh jadi males terus jarang kuliah. Nah, kebayang kan gimana kerennya kelompok saya? Tebak apa yang terjadi? Yap, tepat! Saya yang kerjain sendirian tugasnya.

Keren, kan? Keren, dong. Tapi ada yang lebih keren. Yang lebih keren adalah si Dhani nggak datang pas kelompok kami presentasi. Jadi saat kelompok lain presentasi dengan formasi 4 orang, saya cuman berdua. Udah mirip kayak homo di depan kelas.
***
MATA KULIAH METODOLOGI PENELITIAN ……… [Saya lupa lanjutannya]

Di mata kuliah ini, lagi-lagi dibagi kelompok. Dan lagi-lagi disuruh presentasi. Setiap kelompok terdiri dari 6 orang. Dan yang keren adalah … saya nggak masuk pas pembagian kelompok. Jadi satu minggu selang hari di mana kelompok dibagi, saya akhirnya berkumpul dengan orang-orang lain yang juga belum dapat kelompok. Dan akhirnya kelompok baru pun tercipta. Entah kenapa bagi saya kelompok ini mirip kayak semacam kelompok orang-orang sisa.

Anggotanya cuman 4 orang. Dari yang normalnya satu kelompok terdiri dari 6 orang, kami cuman 4. Yah, namanya juga orang sisa.

Oh, iya. Pas setiap ada kelompok yang baru terbentuk seperti ini, pasti akan ada satu orang yang sok-sokan jadi leader. Biasanya dia akan minta kontak dari seluruh anggota kelompok. Lalu sok-sokan nanya dengan kalimat “kapan nih ngerjainnya?”. Dan kebetulan dikelompok saya juga ada yang seperti itu. Saya agak lega juga, sih. Karena itu artinya saya nggak akan ngerjain tugas kelompok ini sendirian.

Tapi, namanya juga sok-sokan jadi leader. Terlihat meyakinkan di pertemuan pertama dan kemudian … tebak apa yang terjadi? Dia nggak pernah terlihat lagi di kuliah Metodologi penelitian. Singkatnya, dia nggak pernah berangkat lagi.

Dari sini saya mulai berpikir bahwa nampaknya bencana akan hadir kembali.

Selain si sok leader, kelompok kami anggotanya adalah satu orang kakak tingkat yang nampaknya cukup rajin. Kemudian satu lagi si Rendy, orang yang muncul beberapa paragraph di atas.

Minggu demi minggu terlewati. Sang leader benar-benar nggak pernah berangkat lagi. Dan kelompok kami belum juga segera mengerjakan tugas itu. Meski nggak pernah berangkat dan kayaknya juga nggak bakalan berangkat lagi, tapi nggak tahu kenapa kami yang belum juga mengerjakan tugas itu kayak seolah menantikan hadirnya sang leader kembali.

Waktu terus berjalan dan akhirnya hari presentasi pun semakin mendekat. Kami belum juga mengerjakan tugasnya. Sang leader juga nggak pernah berangkat. Saya pengen ngerjain nggak punya bukunya. Mau ngerjain bareng-bareng nggak punya kontak anggota yang lain karena yang punya kontak anggota kelompok cuman sang leader yang menghilang.

Satu-satunya yang saya punya cuma kontaknya Rendy. Tapi, pas dia saya hubungi mau saya ajak ngerjain dia bilang kalau dia sakit dan posisinya ada di Temanggung –kami kuliah di Solo-. Padahal itu H-3 presentasi. H-2 presentasi saya dia hubungi dan katanya masih sakit. H-1 juga tak ada perubahan. Saat itu, saya pasrah. Mau dapat nilai jelek juga bodo amat, lah.

Dan di hari H, akhirnya si Rendy sembuh dan bisa balik ke Solo lagi. Tapi percuma karena kalau mau ngerjain juga udah terlambat. Udah nggak mungkin sempat. Akhirnya di hari itu saya ketemu sama Rendy dan terjadi percakapan.

Saya: Tugas presentasi gimana, nih?

Rendy: Lha gimana? Apa kita kerjain sekarang? Siapa tahu masih sempat.

Saya: Udah nggak mungkin sempat.

Rendy: Terus gimana?

Saya: Kita pasrah aja.

Rendy: Jangan. Eman-eman. Entar kalau nilainya jelek gimana? Ah, aku punya ide!

Saya: Ide?

Rendy: Entar pas kuliah Metodologi penelitian kita tunggu Mas kakak tingkat di depan kelas. Siapa tahu dia udah ngerjain.

Akhirnya saya menerima usulannya. Dan kami pun akhirnya menunggu mas kakak tingkat. Siapa tahu dia beneran ngerjain. Kalau dia juga nggak ngerjain atau dia nggak datang berarti kami akan pulang.

Waktu yang ditunggu tiba. Kami bertemu dengan mas kakak tingkat di depan kelas. Dan bagai mendapat mukjizat ternyata mas kakak tingkat udah ngerjain. Dramatis!

Akhirnya kami bertiga presentasi. Bertiga. Ya, hanya bertiga. Dari kelompok yang normalnya diisi oleh 6 orang kami cuman bertiga.

Kalau dipikir-pikir, entah kenapa tugas kelompok di semester ini begitu berat.Awalnya saya berpikir mungkin ini hanya kebetulan hingga akhirnya saya ingat bahwa saya dulu pernah …
***
SEMESTER 4, MATA KULIAH PRAKTIKUM KEWIRAUSAHAAN

Saya masih ingat di mata kuliah itu kami disuruh untuk membuat kelompok berisi 5 orang. Akhirnya saya dapat 2 orang hingga jumlah kami akhirnya menjadi 3. Dua orang itu namanya Luthfi dan Rendy (lagi-lagi dia). Karena jumlah kami sudah 3, berarti idealnya kami kurang dua orang lagi.

Dan karena saya adalah tipe orang yang malas kalau repot, saya punya ide bahwa 2 orang yang akan bergabung dalam kelompok kami harus cewek. Soalnya kan cewek biasanya rajin. Akan jadi masalah kalau kelompok kami cowok semua. Si Rendy setuju. Tapi Luthfi kayak nggak begitu setuju. Kata si Luthfi, cewek itu nggak kreatif. Tapi bodo amat sama Luthfi. 2 lawan 1. Jelas 2 yang menang.

Akhirnya karena Rendy punya teman cewek lebih banyak dari yang lain, dia mulai melakukan agresi untuk mencari anggota cewek. Dan akhirnya … nggak dapat. Memang sih Rendy nggak dapat dua anggota cewek. Tapi, bukan berarti dia gagal total. Karena situasinya justru berubah.

Ya, situasinya berubah. Rendy punya teman cewek yang bikin kelompok dan baru dapat 3 anggota yang cewek semua. Dan justru si cewek ini malah ngajakin Rendy buat gabung. Karena mereka udah punya 3 anggota, berarti mereka hanya butuh 2 aja.

Singkat kata, Rendy meminta pendapat saya. Saya sendiri juga sedikit bingung. Kenapa? Karena gini. Kalau saya masuk kelompok cewek itu, hidup saya pasti akan tenang karena tugas pasti udah dihandle sama cewek-cewek. Tapi karena mereka hanya butuh dua orang, jika saya dan Rendy bergabung ke kelompok itu berarti kami akan meninggalkan Luthfi sendirian.

Agak berat, nih. Antara harus milih persahabatan atau kenyamanan hidup karena nggak usah mikirin tugas kelompok. Dan akhirnya keputusan yang saya dan Rendy pilih adalah bergabung dengan kelompok cewek dan meninggalkan Luthfi sendirian. Kejam banget, ya.
***
Saya menduga alasan kenapa di semester 5 ini ketika saya –dan Rendy tentunya- seperti kesulitan ketika mendapat tugas kelompok adalah buah dari apa yang kami lakukan di semester 4. Di semester ini, ketika yang lain presentasi ber-4, kami hanya ber-2. Ketika yang lain presentasi ber-6, kami hanya ber-3. 

Mungkinkah itu adalah balasan dari apa yang pernah saya dan Rendy lakukan terhadap Luthfi? Dan mungkinkah karma itu benar-benar ada? Entahlah.

   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar