Kamis, 17 November 2016

Ternyata Hip Hop Itu Seru Juga



Akhir-akhir ini saya baru tahu kalau ternyata hip hop di Indonesia itu seru juga.

Hingga beberapa bulan yang lalu, jika saya ditanya tentang siapa saja musisi hip hop yang saya ketahui, saya pasti hanya akan menyebutkan nama-nama seperti Iwa K, Saykoji, Jogja Hiphop Foundation, dan Pandji Pragiwaksono. Kenapa? Karena faktanya memang hanya nama-nama itu saja yang saya ketahui.

Iwa K. Karena seperti yang kita tahu bahwa beliau adalah legenda hip hop Indonesia. Meski belakangan ada seorang rapper muda yang berpendapat bahwa Iwa K belum layak disebut legend, tapi sepertinya pendapat rapper muda itu belum cukup mampu untuk membuat masyarakat Indonesia mencopot begitu saja predikat legendnya. Ada dua karya Iwa K yang begitu nempel di benak saya. Dua lagu berjudul “Bebas” dan “Malam Ini Indah” terkadang tanpa sadar berputar begitu saja di kepala saya.

Saykoji. Ada satu masa di mana lagunya selalu diputar di berbagai media. Jika saya ingat kembali, mungkin waktu itu saya masih SMP. Saya cukup ingat bahwa lagunya yang berjudul “On Line” sempat menjadi jingle iklan di televisi kala itu. Dan intensitas yang begitu sering dalam mendengarkan lagu “On Line” di iklan televisi itu membuat nama Saykoji secara tanpa sadar mulai terpahat dalam ingatan saya.

Jogja Hiphop Foundation. Menurut saya kelompok yang satu ini benar-benar terasa seperti tagline kota dari mana mereka berasal, ISTIMEWA. Lagu-lagu mereka yang bernuansa Jawa entah kenapa selalu sukses membuat kecintaan saya terhadap budaya Jawa tiba-tiba muncul dan bahkan seolah memuncak.

Pandji Pragiwaksono. Jika JHF bisa membuat semangat Kejawaan saya meledak, hal berbeda saya rasakan ketika mendengar lagu-lagu dari Pandji Pragiwaksono. Lagu-lagu Pandji selalu mengantarkan saya kepada semangat cinta Indonesia. Pada awalnya saya hanya suka terhadap karya Pandji dalam format stand up comedy. Tapi ketika saya semakin mengagumi beliau, saya mencoba untuk mencari info lebih banyak tentangnya. Dari situ secara aneh saya mulai menyukai semua karya yang ditelurkan oleh Pandji. Apapun formatnya. Entah itu buku, rap, dan lain sebagainya.

Dulu dalam hip hop saya memang hanya mengenal nama-nama itu. Saya nggak akan mengelak juga kalau misalnya ada yang berkata bahwa refrensi saya tentang hip hop sangat minim. Karena faktanya memang hanya itu yang saya tahu.

Hingga beberapa bulan yang lalu karena banyaknya orang-orang yang membicarakannya, akhirnya saya tahu siapa itu Young Lex. Berkat lagu kontroversialnya berjudul GGS yang menggemparkan dunia perinternetan Indonesia. Ketika perbincangan tentang GGS mulai reda, Young Lex kembali menjadi buah bibir lewat lagunya yang berjudul Bad.

Memang segala kontroversi yang diciptakan Young Lex lewat lagu GGS dan Bad pada akhirnya sukses membuat refrensi saya terhadap musisi hip hop Indonesia bertambah. Namun jujur saja hal itu belum cukup untuk membuat saya berpikir bahwa ternyata hip hop itu menarik. Ada beberapa momen yang akhirnya membua saya berubah pikiran dan kemudian berkata dalam hati dengan kalimat … “ternyata hip hop itu seru juga, ya”.  

Momen itu diawali ketika tanpa sengaja saya membaca sebuah berita di media online yang mengatakan bahwa Young Lex menganggap bahwa Iwa K tak cukup pantas untuk disebut legenda. Kemudian muncul berita tentang tanggapan Iwa K terkait hal itu. Para pengguna internet banyak yang ikut berkomentar. Young Lex lagi-lagi banyak mendapat hujatan.

Ketika saya kira hawa panas terkait perseteruan antara Young Lex dan Iwa K akan segera mendingin, tiba-tiba internet kembali digegerkan oleh sebuah lagu berjudul “Reject Respect” yang dilantunkan oleh rapper bernama 8 Ball. Dalam lagu itu secara terang-terangan 8 Ball menyerang Young Lex. Usut punya ternyata 8 Ball membuat lagu itu sebagai bentuk respon terhadap sebuah video yang di situ Young Lex menyebut nama 8 Ball. Ah, jujur saja sebenarnya saya baru tahu kalau ada rapper yang namanya 8 Ball juga Karena kasus ini.

Setelahnya, bagai hujan deras di bulan Desember, entah datang dari mana lagu-lagu rap dengan lirik yang secara terang-terangan menghina Young Lex bermunculan. Dari lagu yang digarap beneran sampai asal-asalan. Semua seolah seragam berisi cibiran yang ditujukan kepada Young Lex. Belakangan saya baru tahu kalau lagu-lagu yang seperti itu disebutnya diss track.

Gara-gara semua itu akhirnya saya mencari info lebih tentang hip hop. Dan akhirnya saya menemukan fakta bahwa ternyata di Amerika sana diss track dalam hip hop adalah hal yang biasa. Bahkan konon katanya ada seorang rapper yang sampai dibunuh gara-gara diss track.

Pada akhirnya, berkat semua kegaduhan yang diciptakan Young Lex, respon-respon yang bermunculan, ditambah dengan info yang saya dapat tentang hip hop di internet membuat saya berkata dalam hati …

“Ternyata hip hop itu seru juga, ya.”

Sabtu, 12 November 2016

Majelis Tawa Mini Show 2, Pertunjukan Yang Gila!



Tahun ini, ada tiga pertunjukan stand up comedy yang saya saksikan secara langsung. Yang pertama adalah show bertajuk Stand Up Comedy Smansa Surakarta Surakarta 2016, sebuah hajatan milik OSIS SMA 1 Solo yang menghadirkan Kemal dan Abdur sebagai bintang tamu. Kemudian di bulan Agustus saya pergi jauh-jauh ke Jogja untuk menjadi bagian dari show bersejarah milik Pandji Pragiwaksono yang berjudul Juru Bicara World Tour. Lalu dua bulan yang lalu saya menyempatkan diri untuk menonton pertunjukan bertajuk Men Of Honour.

Selalu ada satu pertanyaan yang selalu sama yang entah kenapa selalu hadir di benak saya pasca menyaksikan ketiga show tersebut. Dan pertanyaan tersebut adalah … “kira-kira saya masih bisa nggak ya tampil lagi di show stand up comedy kayak gitu?”

Saya sadar itu adalah pertanyaan yang sedikit gila. Dan membayangkan hal tersebut benar-benar terwujud rasanya menjadi sesuatu yang tak kalah gila dari itu. Tapi anehnya berawal dari ide gila, seperti mimpi dua hari yang lalu tanggal 10 November 2016 bertepatan dengan Hari Pahlawan saya akhirnya bisa benar-benar kembali berdiri di panggung show stand up comedy lagi. Di sebuah acara bertajuk Majelis Tawa Mini Show 2, acara yang bagi saya juga sangat-sangat gila.

Banyaknya kata gila di paragraf sebelumnya bukan tanpa alasan. Saya sengaja meletakkan banyak kata gila karena semua itu memang terasa sangat gila. Mulai dari ide show itu sendiri, persiapan saya untuk show ini, hingga penampilan saya di atas panggung. Saya merasa semua itu benar-benar gila.

Dari ide show dulu. Kenapa saya menyebut itu gila? Alasannya adalah karena di tahun ini, sebenenarnya komunitas tempat saya bernaung, Stand Up Comedy Kampus UMS tidak pernah benar-benar aktif. Bahkan bisa dibilang mati suri. Karena seingat saya komunitas kami terakhir kali melakukan open mic adalah di bulan November tahun lalu. Benar-benar mati suri, kan?

Sebenarnya di sekitar pertengahan tahun ini sempat ada wacana untuk kembali menghidupkan komunitas dengan cara aktif menggelar open mic lagi. Namun sayangnya wacana itu hilang dan menguap begitu saja. Hingga akhirnya wacana itu tetap bertahan sebagai wacana saja. Tidak lebih dari itu.

Lalu pada tanggal 17 September 2016, atau tepatnya setahun setelah komunitas kami menggelar show stand up bertajuk Majelis Tawa Mini Show saya mengupload gambar pamflet show tersebut di Instagram saya. Foto itu akhirnya diramaikan dengan comment oleh anggota-anggota komunitas yang lain. Berawal dari comment-comment itu lahirlah ide untuk membuat show lagi. Majelis Tawa Mini Show 2. Pertunjukan yang bisa juga dibilang sebagai pertanda bahwa komunitas kami telah bangun dari tidur panjangnya. Gila!

Setelah ide, pembahasan beralih ke persiapan saya yang menurut saya sendiri cukup gila. Persiapan yang gila bukan berarti saya mempersiapkan itu dengan mati-matian. Karena makna sesungguhnya justru adalah kebalikan dari itu. Ya, persiapan saya benar-benar minim.

Selama tahun 2016 ini, terhitung saya hanya dua kali open mic. Yang pertama adalah pada akhir April di open mic rutinnya komunitas Stand Up Solo. Yang kedua di akhir Oktober ketika komunitas kami mulai bersiap untuk acara Majelis Tawa Mini Show 2. Dua kali open mic dalam setahun dan kemudian nekat tampil dalam sebuah show. Gila!

Lalu tentang penampilan saya sendiri, saya merasa itu juga cukup gila. Mulai dari materi yang saya bawakan hingga perasaan yang seolah mengatakan bahwa ternyata saya masih bisa melakukannya meski persiapan saya sangat minim, semua benar-benar terasa gila. 

Soal penampilan, saya mungkin memang belum tentu menjadi yang terlucu malam itu. Tapi untuk kategori yang tergila, saya rasa itu jatuh pada saya. Dan mungkin penonton pun pasti akan berpikir demikian. Ingat sekali bukan terlucu. Tapi tergila!
 
Minum dari sepatu. Bukti bahwa saya cukup gila malam itu!
Oh, iya. Hampir lupa. Saya ingin mengucapkan terimakasih banyak untuk sponsor yang mendukung acara komunitas kami. Dan untuk penonton yang hadir, saya agak bingung bagaimana saya harus mengucapkannya. Karena saya yakin sekedar kata terimakasih saja tidak akan pernah cukup untuk itu.
Setelah Pertunjukan berakhir dan berfoto bersama penonton.
Setelah show itu berakhir, lagi-lagi ada satu pertanyaan yang muncul di benak saya. Dan pertanyaan tersebut adalah … “kira-kira saya masih bisa nggak ya tampil lagi di show stand up comedy kayak gitu?”

Minggu, 06 November 2016

Tottenham Dalam Masalah



Tottenham dalam masalah. Ah, tidak. Maksud saya, Spurs dalam masalah yang sangat-sangat besar. Enam pertandingan tanpa kemenangan, ada yang lebih buruk dari itu? Enam pertandingan tanpa kemenangan. Jika itu menimpa tim yang berada di zona degradasi mungkin terasa wajar. Namun sayangnya Spurs adalah tim yang nampaknya mengincar sesuatu. Dan sekali lagi, enam pertandingan tanpa kemenangan adalah masalah yang sangat-sangat besar.

West Bromwich Albion 1-1 Tottenham Hotspur

Bayer Leverkusen 0-0 Tottenham Hotspur

AFC Bournemouth 0-0 Tottenham Hotspur

Liverpool 2-1 Tottenham Hotspur

Tottenham Hotspur 1-1 Leicester City

Tottenham Hotspur 0-1 Bayer Leverkusen


Apa yang terjadi pada Spurs? Di pertandingan-pertandingan itu seperti biasa mereka masih cukup kuat di lini tengah. Ditandai dengan presentasi penguasaan bola yang kerap kali unggul. Dari barisan pertahanan pun sepertinya juga tidak begitu bermasalah. Yang saya yakini hingga detik ini, masalah ada di lini serang.

Sejak Harry Kane tidak bisa ikut berpartisipasi dalam pertandingan-pertandingan Spurs karena cidera, nampaknya Spurs begitu kesulitan untuk tampil garang di depan gawang lawan. Kemenangan terakhir yang di dapat Spurs pasca cideranya Kane adalah kala mengandaskan perlawanan Manchester City 2-0 di White Hart Lane. Setelah itu, Spurs seperti lupa cara untuk menciptakan gol.

Kane sepertinya masih jadi sosok kunci. Vincent Janssen yang diharapkan bisa menjadi pengganti Kane ternyata masih belum mampu untuk menunjukkan taringnya. Son Heung Min nampaknya juga telah kehilangan keajaibannya. Memang terkadang lini tengah Spurs tampil sebagai penyelamat dari seretnya gol. Namun Spurs tetap tak bisa berharap lebih dari lini tengah. Karena bagaimanapun, gelandang tetaplah gelandang. Mereka tidak pernah benar-benar bertugas untuk mencetak gol.

Dan malam ini, Spurs akan kembali bertarung. Bukan pertarungan sembarangan. Sebuah pertempuran klasik bertajuk North London Derby menghadapi rival sekota Arsenal. Saya rasa ini adalah momen terbaik bagi Spurs untuk bangkit. Setelah gagal menang di enam pertandingan, kemenangan atas Arsenal di Emirates pasti akan benar-benar terasa spesial.

Semoga saja. 
***
Pertandingan berakhir. Arsenal 1-1 Tottenham Hotspur. Tujuh pertandingan tanpa kemenangan bagi Spurs. Sepertinya kembalinya Kane belum benar-benar bisa menyingkirkan masalah itu. 

Selasa, 01 November 2016

MotoGP Sepang 2016: Dovi...!!!



Kalau misalnya saya bertanya dan anda harus menjawabnya tanpa google dan meminta bantuan orang lain dengan pertanyaan … sebelum GP Malaysia di Sepang 2 hari yang lalu, kapan terakhir kali Andrea Dovizioso memenangi balapan di kelas MotoGP? bisakah anda menjawabnya?

Sekedar informasi untuk yang belum tahu, terakhir kali Dovi memenangi balapan di kelas MotoGP sebelum berlangsungnya balapan di Malaysia 2 hari yang lalu adalah di GP Inggris pada tahun 2009. Memang susah jika harus menjawab pertanyaan itu tanpa google dan bantuan teman. Karena faktanya, saya tahu itu juga dari google. Atau lebih tepatnya, Wikipedia.

Sedikit aneh memang. Kenapa saya bisa sampai melupakannya, ya? Padahal seharusnya musim balap 2009 adalah musim yang paling spesial bagi saya. Waktu itu saya masih kelas 8 atau 9 SMP. Dan waktu itu pula, dua pembalap yang saya jagokan di dua kelas yang berbeda berhasil menjadi juara dunia. Valentino Rossi di MotoGP dan Hiroshi Aoyama di GP 250.

Harusnya 2009 adalah musim yang spesial. Karena di tahun itu, untuk terakhir kali Rossi juara dunia. Karena di tahun itu, untuk pertama dan terakhir kalinya saya menyaksikan pembalap Asia berhasil menjadi juara dunia. Karena di tahun itu, adalah tahun terakhir kelas 250 cc ada. Dan yang lebih spesial, juaranya adalah pembalap yang saya dukung, Hiroshi Aoyama. Dan bahkan seri yang dimenangi Dovi juga harusnya spesial. Karena di tahun itu, untuk terakhir kalinya GP Inggris digelar di sirkuit Donington Park. Setelahnya, GP Inggris selalu diselenggarakan di Silverstone. Tapi, kenapa saya bisa lupa?

Ah, tapi setelah saya pikir kembali sepertinya memang tidak begitu penting mengetahui kenapa saya bisa lupa tentang kemenangan terakhir Dovi di tahun 2009. Karena sebenarnya hal yang lebih penting adalah fakta bahwa dia baru saja memenangi balapan 2 hari yang lalu. Kemenangan yang sekaligus menjadikannya pemenang ke-9 musim ini.

Setelah Lorenzo, Marquez, Rossi, Miller, Vinales, Cruthclow, Iannone, dan Pedrosa, dengan kemenangan di Sepang Dovi sukses membuat namanya tercatat dalam daftar itu. Daftar pemenang kelas MotoGP musim ini.

Sembilan pemenang dalam satu musim. Luar biasa, kan? Bahkan musim ini lebih gila dari musim 2000 yang memiliki 8 pemenang –tentu saya tahu itu dari internet-. Waktu itu Garry McCoy, Kenny Roberts jr, Norick Abe, Alex Criville, Loris Capirossi, Valentino Rossi, Alex Barros, dan Max Biaggi sukses membuat GP 500 yang kala itu masih menjadi kelas tertinggi terlihat begitu meriah.

Sembilan pemenang dalam satu musim. Mungkinkah akan bertambah? Dengan menyisakan satu seri lagi, tentu semua masih bisa terjadi. Pemenang kesepuluh? Saya rasa semua orang juga ingin melihatnya.

Terakhir, terimakasih Dovi karena kemenanganmu telah membuat MotoGP musim ini semakin berwarna.