Selasa, 18 Oktober 2016

MotoGP Twin Ring Motegi 2016: Berakhir!



Jika ada satu kata yang ingin saya ucapkan setelah menyaksikan balapan MotoGP yang berlangsung di sirkuit Twin Ring Motegi dua hari yang lalu, tidak akan ada kata lain yang akan saya ucapkan selain kata itu. Berakhir!

Pada faktanya, musim balap 2016 sebenarnya memang belum benar-benar berakhir. Namun, setelah Marc Marquez mengunci gelar juara dunianya yang ke-5 dua hari yang lalu, bukankah itu artinya sama saja dengan semua telah berakhir?

Tahun ini, sebagai fans Valentino Rossi sekali lagi saya menjadi saksi akan kegagalan The Doctor meraih gelar juara dunia. Kemudian melihat Marc Marquez merengkuh gelar dengan sangat sempurna. Bagaimana tidak, Marquez meraihnya di sebuah seri di mana dua pesaing utamanya terjatuh dan di akhir lomba, dia finis pertama. Cara memastikan gelar yang sangat keren tentunya.

Ketika Marquez memastikan gelarnya, apakah saya kecewa? Entahlah. Satu hal yang pasti saya tahu dan yakini adalah tahun lalu terasa lebih mengecewakan. Ya, saat Jorge Lorenzo menyegel gelar 2015 di Valencia, itu terasa sedikit menyakitkan. Kalau tahun ini, anehnya tahun ini saya rasa saya tidak begitu merasa kecewa. Ah, mungkin lebih tepat jika saya berkata bahwa saya justru merasa lega.

Lega?

Ya, saya merasa lega. Kenapa? Karena seperti yang kita tahu musim ini tidak berjalan bagus bagi Rossi. Sebelum berlaga di Motegi, The Doctor sudah tiga kali gagal finis. Dua kali jatuh dan sekali kerusakan mesin. Hal itu membuat gap poinnya dengan Marquez dan Lorenzo terpaut cukup jauh. Untungnya di pertengahan musim Lorenzo kerap membuat kesalahan ketika hujan. Jadi jarak poin Rossi dan Lorenzo pun menipis. Sayangnya itu tak terjadi pada Marquez. Marquez terus tampil konsisten.

Beberapa saat yang lalu, saya menyadari bahwa untuk mendekati poin Marquez adalah sesuatu yang sangat berat. Ditambah dengan sisa balapan yang seiring waktu berjalan semakin berkurang tentunya. Tapi di tengah ketidak mungkinan itu, entah kenapa selama hitungan secara matematis masih berkata bahwa ada sedikit peluang, susah bagi saya untuk berhenti berharap.

Dan tahukah kalian apa hal yang paling menyakitkan di dalam hidup ini?

Itu adalah terus berharap meski kita tahu bahwa sebenarnya sejak awal kita tidak pernah benar-benar punya peluang. Dan ketika peluang itu akhirnya benar-benar tertutup, entah kenapa semua terasa begitu lega karena akhirnya kita tahu kapan saat yang tepat untuk berhenti berharap.

Selamat untuk Marc Marquez!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar