Senin, 24 Oktober 2016

MotoGP Phillip Island 2016: Sepertinya Memang Hanya Karena Kurang Beruntung Saja



Entah kenapa, balapan di Phillip Island selalu saja menjadi balapan yang menyenangkan untuk dinikmati. Mulai dari letak sirkuitnya yang berada di dekat pantai sehingga membuat semuanya terlihat lebih memikat. Burung camar yang beterbangan kesana-kemari menambah keindahan layaknya kunang-kunang di sebuah malam di musim kemarau yang cerah. Dan tentu saja, balapan itu sendiri. Semua faktor itu seolah saling melengkapi untuk membuat balapan yang berlangsung sehari yang lalu menjadi sebuah balapan yang luar biasa.

“Santai kayak di pantai.”

Nampaknya para pembalap MotoGP dari semua kelas tidak mengenal istilah itu. Ya, meski balapan berlangsung di –dekat- pantai, tetap saja lomba berlangsung dalam suasana yang seru dan menegangkan.

Di Moto3, alih-alih ingin bersantai, para rider dari kelas ini seperti biasa justru terlihat sangat ngotot. Terbukti dengan banyaknya pembalap yang berguguran karena crash. Bersenggolan dan kemudian terjatuh menjadi pemandangan biasa di balapan kemarin. Bahkan ketika usia balapan belum genap satu lap, atau tepatnya di tikungan kedua lap pertama, beberapa pembalap terjatuh karena saling bersenggolan. Puncaknya ketika balapan menyisakan 18 lap, lomba harus dihentikan karena tabrakan domino kembali terjadi. John McPhee terkapar dan kelihatannya cukup parah. Semoga dia baik-baik saja. Aamiin.

Di Moto2, memang di kelas ini tak ada kecelakaan ekstrim yang terjadi seperti di Moto3. Namun meski begitu, tidak ada kata santai. Karena balapan juga berlangsung dengan tak kalah seru. Adalah persaingan antara Luthi, Morbidelli dan Pasini yang membuat itu terjadi. Mendebarkan, saya rasa itu adalah kata paling tepat untuk menggambarkan persaingan antara mereka bertiga guna memperebutkan tempat di podium tertinggi.

Meski kemudian Pasini terjatuh, hal itu tidak serta merta membuat keseruan balapan seketika menghilang. Karena persaingan antara Luthi dan Morbidelli berlangsung hingga lap terakhir. Ah, tidak. Maksud saya lintasan lurus terakhir. Morbidelli yang keluar dari tikungan terakhir lebih dulu harus rela menerima kenyataan bahwa Luthi menyalipnya ketika dirinya hampir menyentuh garis finis.

Sementara itu di MotoGP, hasil dari balapan di Phillip Island kemarin membuat saya menyadari sesuatu. Saya akhirnya sadar bahwa apa yang membuat Valentino Rossi gagal juara dunia musim ini adalah karena ketidak beruntungan. Setidaknya ada dua alasan yang membuat saya berkata demikian.

Pertama, Rossi yang start dari posisi ke-15 dan akhirnya bisa finis ke-2. Itu menunjukkan bahwa sebenarnya The Doctor masih cukup kuat. Meski usianya kini telah menginjak 37 tahun, namun dalam balapan kemarin kita dapat melihat betapa agresifnya Vale ketika menyalip pembalap-pembalap yang secara usia lebih muda darinya. Andai saja musim ini Vale bisa meminimalisir kesalahan yang dia buat dan lebih banyak mendapat keberuntungan, segalanya pasti akan berjalan lebih baik.

Kedua, Marquez yang terjatuh. Itu menunjukkan bahwa Marquez tetap saja manusia yang tak luput dari ketidak beruntungan. Itu artinya sekuat apapun Marquez, sebenarnya dia tetap masih bisa dikalahkan. Dan alasan kenapa baby alien menjadi juara dunia musim ini saya rasa adalah karena dia tidak membuat kesalahan lebih banyak dari para pesaingnya. Atau dengan kata lain, dia lebih beruntung.

Ah, rasanya saya ingin cepat-cepat meluncur ke tahun 2017. Menyongsong musim baru MotoGP. Dan kemudian berharap kali ini Valentino Rossi tak membuat banyak kesalahan dan mendapat lebih banyak keberuntungan.

Oh, iya. Saya hampir lupa. Ternyata saya belum mengucapkan kalimat itu. Baiklah, saya akan mencucapkannya sekarang. SELAMAT UNTUK CAL CRUTCHLOW ATAS KEMENANGAN KEDUANYA DI MUSIM INI.

 



Selasa, 18 Oktober 2016

MotoGP Twin Ring Motegi 2016: Berakhir!



Jika ada satu kata yang ingin saya ucapkan setelah menyaksikan balapan MotoGP yang berlangsung di sirkuit Twin Ring Motegi dua hari yang lalu, tidak akan ada kata lain yang akan saya ucapkan selain kata itu. Berakhir!

Pada faktanya, musim balap 2016 sebenarnya memang belum benar-benar berakhir. Namun, setelah Marc Marquez mengunci gelar juara dunianya yang ke-5 dua hari yang lalu, bukankah itu artinya sama saja dengan semua telah berakhir?

Tahun ini, sebagai fans Valentino Rossi sekali lagi saya menjadi saksi akan kegagalan The Doctor meraih gelar juara dunia. Kemudian melihat Marc Marquez merengkuh gelar dengan sangat sempurna. Bagaimana tidak, Marquez meraihnya di sebuah seri di mana dua pesaing utamanya terjatuh dan di akhir lomba, dia finis pertama. Cara memastikan gelar yang sangat keren tentunya.

Ketika Marquez memastikan gelarnya, apakah saya kecewa? Entahlah. Satu hal yang pasti saya tahu dan yakini adalah tahun lalu terasa lebih mengecewakan. Ya, saat Jorge Lorenzo menyegel gelar 2015 di Valencia, itu terasa sedikit menyakitkan. Kalau tahun ini, anehnya tahun ini saya rasa saya tidak begitu merasa kecewa. Ah, mungkin lebih tepat jika saya berkata bahwa saya justru merasa lega.

Lega?

Ya, saya merasa lega. Kenapa? Karena seperti yang kita tahu musim ini tidak berjalan bagus bagi Rossi. Sebelum berlaga di Motegi, The Doctor sudah tiga kali gagal finis. Dua kali jatuh dan sekali kerusakan mesin. Hal itu membuat gap poinnya dengan Marquez dan Lorenzo terpaut cukup jauh. Untungnya di pertengahan musim Lorenzo kerap membuat kesalahan ketika hujan. Jadi jarak poin Rossi dan Lorenzo pun menipis. Sayangnya itu tak terjadi pada Marquez. Marquez terus tampil konsisten.

Beberapa saat yang lalu, saya menyadari bahwa untuk mendekati poin Marquez adalah sesuatu yang sangat berat. Ditambah dengan sisa balapan yang seiring waktu berjalan semakin berkurang tentunya. Tapi di tengah ketidak mungkinan itu, entah kenapa selama hitungan secara matematis masih berkata bahwa ada sedikit peluang, susah bagi saya untuk berhenti berharap.

Dan tahukah kalian apa hal yang paling menyakitkan di dalam hidup ini?

Itu adalah terus berharap meski kita tahu bahwa sebenarnya sejak awal kita tidak pernah benar-benar punya peluang. Dan ketika peluang itu akhirnya benar-benar tertutup, entah kenapa semua terasa begitu lega karena akhirnya kita tahu kapan saat yang tepat untuk berhenti berharap.

Selamat untuk Marc Marquez!


Senin, 10 Oktober 2016

Setelah Nonton Kono Bijutsubu ni wa Mondai ga Aru! [Review Anime]



Jika waktu bisa diputar kembali, saya ingin kembali ke periode itu. Mundur satu langkah dari tahap kehidupan yang saya lalui saat ini. Sebuah tahap kehidupan di mana saat itu saya tak mengenal apa itu titip absen, IPK, dan yang lebih menyenangkan adalah … saya tak mengenal apa itu yang disebut dengan tugas dari dosen.

Ya, tepat. Jika waktu bisa diputar kembali, saya ingin kembali ke masa SMA. Kemudian mencoba memperbaiki semuanya. Atau setidaknya, mencoba menaburkan sedikit warna pada kehidupan SMA saya yang biasa saja.

Dengan cara? Mungkin dengan bergabung dengan sebuah ekstrakulikuler/klub. *Eh?

Hah … dramatis banget ya intro postingan kali ini. Padahal cuma mau review anime doang. Hehe. Tapi memang anime yang mau saya review kali ini membuat saya sedikit menyesali masa-masa SMA saya. Kemudian saya berpikir jika saja waktu itu saya ikut dalam sebuah ekstrakulikuer/klub, bukan tidak mungkin kehidupan SMA saya akan sedikit lebih seru. Dan anime itu adalah … Kono Bijutsubu ni wa Mondai ga Aru!

Ok, sebelum saya melangkah lebih jauh saya akan terlebih dahulu memberikan sedikit info dasar tentang anime ini.

Kono Bijutsubu ni wa Mondai ga Aru! Atau yang biasa disingkat menjadi Konobi adalah sebuah anime adaptasi dari manga berjudul sama karangan Imigi Muru. Anime bergenre romantic comedy ini mulai tayang pada 8 Juli 2016 dan berakhir pada 23 September di tahun yang sama.
***
SINOPSIS
Kono Bijutsubu ni wa Mondai ga Aru! bercerita tentang klub seni. Anggota klub itu adalah Uchimaki Subadrun, seorang yang mahir menggambar wajah, tapi dia hanya ingin menggambar waifu 2D. Collette, gadis pengacau yang tak pernah berhenti mengganggu. Ketua klub, yang kerjaannya hanya tidur saja. Dan terakhir Usami Mizuki, satu-satunya anggota klub yang benar-benar ingin melakukan kegiatan klub dan selalu berjuang untuk melakukannya.
***
PREMIS
Sebuah cerita nggak akan menarik kalau premis atau ide utamanya nggak menarik. Karena premis adalah pondasi dari segalanya. Dan menurut saya Konobi memiliki premis yang cukup menarik. Tentang klub seni yang isinya orang-orang nggak beres. Dari premis awal itu, kelucuan-kelucuan ditimbulkan.

KESAN MENONTON
Cukup menyenangkan. Sebagai anime comedy, menurut saja lucunya dapet. Terus romancenya juga dapet. Walaupun pas adegan romance pasti endingnya comedy juga, sih. Pokoknya tidak mengecewakan, lah.

KARAKTER
Karakter-karakter yang ada di anime ini seolah saling bahu-membahu mendukung untuk bersama-sama menimbulkan kelucuan. Mulai dari Uchimaki Subaru yang pengennya cuman menggambar waifu, Usami Mizuki yang sebenernya suka sama Subaru tapi seolah bertepuk sebelah tangak, Ketua Klub tukang tidur, guru pembimbing yang grogian, Colette sang pengacau, terus ada cewek otaku garis keras –lupa namanya- yang deket sama Subaru sampai akhirnya bikin Usami cemburu, terus ada cucunya guru tua yang polos dan imut bernama Moeka. Ya, dari kombinasi karakter-karakter ini kelucuan tercipta.


Kalau ditanya siapa karakter favorit, mungkin Colette. Kenapa? Soalnya dia lucu. Udah gitu aja, sih. Atau mungkin juga Moeka. Kenapa? Soalnya dia kawaii. Udah gitu aja.

MUSIK
BGMnya bagus. Enak aja dengerinnya. Kalau opening sama endingnya ... saya lupa lagunya kayak gimana. hehe. Dengan kata lain, lagunya nggak begitu nempel di kuping dan ingatan saya.

GAMBAR
Mungkin kalau orang lain nyebutnya graphic dan art kali, ya. Menurut saya graphic dari anime ini biasa aja. Bukan berarti jelek. Biasa aja itu maksudnya enggak istimewa. Tapi tetap enak buat ditonton. Nah, yang penting kan itu. Enak buat ditonton. Tapi kalau artnya lumayan bagus.

PESAN MORAL
Kalau ingin kehidupan SMA kamu berjalan dengan sedikit menarik, kenapa enggak coba untuk gabung dengan sebuah ekstrakulikuler?


APA LAGI, YA?
Oh, ini. Anime ini recommended alias saya rekomendasikan bagi kamu terutama yang lagi banyak beban dan pengen meredakan itu dengan cara tertawa.