Selasa, 06 September 2016

MotoGP Silverstone 2016: Balapan Tegang Di Bawah Gelapnya Awan



Nonton balapan MotoGP yang berlangsung di sirkuit Silverstone dua hari yang lalu itu udah mirip kayak sakit asma, susah napas. Ketegangan yang disuguhkan pada balapan itu membuat saya merasa seperti berada di luar angkasa yang membuat ruang nonton TV seolah memiliki atmosfer yang berbeda dari biasanya. Padahal cuma nonton di depan TV, lho.

Nah, sebenarnya paragraf di atas bisa juga jadi sanggahan buat orang yang berpikir Youtube lebih dari TV. Gini, emangnya Youtube bisa nayangin MotoGP secara live? Nggak, kan. Jadi nggak selamanya TV itu acaranya sampah semua. Mungkin orang yang bilang kayak gitu ngertinya TV cuma nayangin Anak Jalanan sama Mermaid in Love kali, ya.

Eh, sebenarnya artikel kali ini mau bahas apa, sih?

Ok, sebelum artikel ini semakin melebar kemana-mana dan malah membahas tentang sinetron-sinetron kegemaran para remaja masa kini, mari kita kembali ke jalan yang benar. Ijinkan saya untuk menulis semacam review setelah menonton balapan MotoGP Silverstone dua hari yang lalu.

Jika di artikel-artikel sebelumnya saya selalu membahas jalannya balapan di semua kelas, kali ini entah kenapa saya sedikit kehilangan hasrat untuk membahas tentang Moto3 dan Moto2. Tapi pada intinya jalannya balapan di kelas Moto3 berlangsung seperti biasanya. Seru, penuh overtaking bahkan sampai akhir perlombaan. Selalu menyenangkan untuk menonton balapan Moto3. Dan di kelas itu, Brad Binder keluar sebagai juara.

Sementara itu di kelas Moto2, yang paling mencuri perhatian saya adalah finisnya Hafizh Syahrin di posisi 4. Selalu menyenangkan bagi saya ketika melihat pembalap Asia Tenggara dengan gigih bersaing di posisi depan. Dan yang lebih menyenangkan adalah … ketika sampai di paddock, Hafizh Syahrin sujud syukur!

Ok, mari kita beralih ke kelas utama.

Tidak seperti babak kualifikasi di mana hujan mengguyur lintasan dengan sangat deras, cuaca saat balapan justru terasa lebih kering. Meski, tetap terlihat mendung, sih. Hal itu ditandai dengan tidak terlihatnya cahaya matahari yang dapat menembus awan untuk membuat sirkuit menjadi lebih terang.

Satu hal yang membuat saya bertanya-tanya adalah kenapa balapan dimulai jam Sembilan malam lebih? Bahkan mungkin setengah sepuluh. Padahal kan biasanya untuk balapan yang berlangsung di benua Eropa jam tujuh malam juga udah mulai. Sebuah pertanyaan yang bahkan ketika saya mencari jawabannya di Google, saya tidak menemukan apapun. Mungkin anda yang kebetulan membaca artikel ini tahu jawabannya, tolong tulis di kolom komentar, dong.

Kembali ke balapan.

Selepas start, balapan terhenti dengan sangat cepat. Bahkan ketika usia balapan belum mencapai 1 putaran. Red flag dikibarkan menyusul terjadinya kecelakaan yang melibatkan Pol Espargaro dengan Loriz Baz. Dan balapan pun harus diulang.

Di start yang kedua, Maverick Vinales yang memulai balapan dari posisi ketiga langsung melesat dan tak terkejar oleh para pesaingnya yang lain. Kondisi itu berakhir hingga balapan selesai. Maverick Vinales meraih kemenangan pertama sepanjang kariernya di kelas MotoGP. Sekaligus menjadi kemenangan pertama tim Suzuki sejak tahun 2007.

Jika persaingan untuk memperebutkan posisi pertama cenderung membosankan karena Vinales hanya berkendara sendirian tanpa ada rider lain yang mampu mendekat, hal yang berbeda tersaji pada perebutan posisi kedua. Nah, perebutan posisi kedua inilah yang saya sebut di paragraf awal artikel ini sebagai sesuatu yang membuat kita –atau mungkin hanya saya- mengalami kesulitan untuk bernapas.

Ada empat pembalap yang bersaing untuk mengklaim posisi runner up. Cal Cruthclow, Marc Marquez, Andrea Iannone, dan Valentino Rossi seolah tak mau merelakan posisi terbaik kedua itu jatuh kepada orang lain selain dirinya.

Perebutan posisi kedua kemarin itu udah mirip seperti Moto3. Seru dan menegangkan. Dan ketika sedang seru-serunya, Andrea Iannone justru terjatuh. Sepertinya jatuh adalah tradisi tersendiri bagi Iannone, ya.

Oh, iya. Kalau kita mengamati penampilan Marc Marquez kemarin, dia itu mirip kayak anak STM yang baru aja dikasih motor sama bapaknya. Ugal-ugalan …!!!

Tercatat dua kali Marquez keluar dari sirkuit karena bersenggolan sama rider lain. Yang pertama dengan Valentino Rossi. Dan yang kedua dengan Cruthlow. Untungnya pinggir lintasan tempat Marquez keluar di aspal. Kalau itu gravel jatuh deh kayaknya. Atau seenggaknya posisinya melorot jauh.

Tapi sebenarnya kita –atau mungkin hanya saya- patut bersyukur dengan ugal-ugalannya Marquez. Karena kalau Marquez nggak ugal-ugalan, maka balapan nggak akan seseru kemarin. Dan sepertinya Valentino Rossi juga tidak akan finis di podium dan mengakhiri lomba dengan berada di depan Marquez.

Thanks to Marc Marquez karena sudah memberi kami hiburan yang menegangkan. Dan juga terimakasih untuk podium cuma-cumanya untuk Rossi. Lagi-lagi 3 poin terpangkas. Meski masih jauh juga selisihnya. 50 poin. Sekarang pertanyaannya adalah bisakah selisih selebar itu terlampaui? Semoga saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar