Senin, 26 September 2016

Alasan Kenapa Penampilan Bersama Tim Nasional Disebut Caps



Kenapa sih penampilan seorang pemain sepakbola bersama Tim Nasional negaranya biasa disebut dengan caps? Padahal kan caps itu topi? Apa hubungannya topi sama sepakbola?

Mungkin beberapa orang akan berkata bahwa beberapa pertanyaan yang barusan adalah pertanyaan yang nggak begitu penting. Namun, sebagai pecinta bola, sering kali saya bertanya-tanya kenapa hal itu bisa terjadi. Dan mungkin saja yang penasaran akan jawaban dari pertanyaan itu bukan hanya saya seorang.

Nah, setelah sekian lama hidup dalam rasa penasaran, beberapa hari yang lalu akhirnya saya menemukan jawabannya. Bermula dari iseng-iseng buka instagram, nggak sengaja saya melihat foto yang diupload oleh seorang pemain bola legendaris yang kebetulan saya follow, David Beckham.

Di dalam foto yang terakhir kali saya lihat sudah dilike lebih dari setengah juta orang itu, nampak banyak sekali topi yang tertata rapi di atas sebuah sofa. Lalu di depan sofa itu ada dua orang anak yang saya cukup yakin adalah anak dari David Beckham. Yang perempuan di sebelah kiri kalau nggak salah namanya Harper. Yang kanan pakai topi warna emas, kakaknya namanya Cruz.

Nah, Foto yang diupload oleh David Beckham itu yang menjadi kunci jawaban dari pertanyaan kenapa penampilan seorang pemain sepakbola bersama Tim Nasional negaranya disebut dengan caps. Jawabannya adalah … ya karena beneran dikasih topi.

Nggak percaya? Coba deh diperhatikan lagi. Di setiap topi yang tertata rapi di atas sofa itu ada lambang dari timnas Inggris dan kemudian di bawahnya ada tulisan kecil. Tulisan kecil di setiap topi itu bertuliskan pertandingan yang di jalani David Beckham lengkap dengan tahunnya.

Bahkan di topi yang dipakai oleh Harper kita bisa melihat dengan jelas tulisan …

International Match
England v Slovakia
2009

Jadi kesimpulannya adalah … penampilan bersama timnas disebut caps karena memang beneran dikasih topi. Udah itu aja yang bisa saya tulis kali ini. Semoga artikel ini bermanfaat.

Senin, 19 September 2016

Setelah Nonton Kimi no Na Wa/Your Name [Review Anime]



Kamu pernah bermimpi? Di mana di dalam mimpi itu semua terasa aneh. Bukan aneh sih sebenarnya. Hanya saja, mimpi itu terasa begitu nyata. Atau bahkan sebuah mimpi yang membuat kamu ragu dan berpikir tentang mana yang lebih tepat. Mimpi yang terasa begitu nyata? Atau kenyataan yang terasa seperti mimpi?

Kamu pernah bermimpi? Bertemu dengan seseorang yang kamu nggak kenal. Dan tanpa kamu pahami, ketika kamu sadar kamu sudah jatuh cinta dengannya. Dengan seseorang yang hanya bisa kamu lihat di dalam mimpi. Seseorang yang bahkan nggak kamu ketahui namanya. Seseorang yang bahkan mungkin saja nggak nyata dan nggak benar-benar ada. Ya, hanya di dalam mimpi.

Kamu pernah bermimpi? Mimpi tentang hal-hal yang saya sebutkan di dua paragraf di atas? Kalau saya sih pernah. Kalau penasaran tentang bagaimana mimpi itu bercerita, pernah saya post juga di blog ini, kok. Klik aja DI SINI untuk membacanya.  

Lah, kok malah promosi postingan lawas? Padahal intronya udah keren gitu, lho. Hehe.

Ok, kita serius lagi. Sebenarnya saya dari tadi menulis tentang mimpi-mimpi gitu karena kali ini saya akan membahas tentang film anime yang baru saja saya tonton. Biar agak berhubungan dikit gitu intro postingan ini yang tentang mimpi-mimpi sama anime yang mau saya review kali ini. Dan judul dari anime itu adalah Kimi no Na Wa.

Informasi dasar tentang anime ini …

Kimi no Na Wa  (君の名)  atau yang dalam Bahasa Inggris juga dikenal sebagai Your Name adalah film anime karya Makoto Shinkai. Rilis pada tanggal 3 Juli 2016 di Anime Expo. Dan rilis secara nasional di Jepang tanggal 26 Agustus 2016.
***
SINOPSIS

Mengisahkan dua orang remaja yang lahir dan hidup di tempat yang berbeda. Mitsuha adalah seorang gadis SMA yang tinggal di daerah pedesaan di pegunungan. Ayahnya yang jarang pulang ke rumah membuat Mitsuha hanya hidup bersama nenek dan adiknya yang masih SD. Mitsuha sering berkeinginan untuk pergi ke Tokyo, karena bosan hidup di pedesaan. Sementara itu, Taki adalah seorang siswa SMA di kota Tokyo. Dalam kesehariannya, ia menghabiskan waktu untuk bermain dengan teman-temannya dan bekerja paruh waktu di restoran Italia. Dia juga tertarik dengan kesenian dan arsitektur.
 
Suatu hari mereka mengalami pengalaman aneh di mana Mitsuha bermimpi dirinya menjadi seorang laki-laki. Dan sebaliknya, Taki bermimpi dirinya menjadi perempuan yang tinggal di daerah pegunungan yang tak perah ia datangi.
***
JALAN CERITA
Tentang poin jalan cerita, saya nggak mau menulis tentang bagaimana cerita itu berjalan. Kenapa? Soalnya spoiler. Kasian yang belum nonton. Entar nggak penasaran lagi. Lalu apa yang akan saya tulis? Ah, saya tahu. Saya akan membandingkan saja dengan karya dari Makoto Shinkai lain yang sempat saya tonton. Saya akan bandingkan Kimi no Na Wa dengan 5cm per Second.

Jujur saja jika saya ditanya tentang mana yang lebih menarik bagi saya di antara dua anime tersebut, tentu tanpa ragu saya akan menyebut nama Kimi no Na Wa. Kenapa? Karena entah kenapa bagi saya 5cm per second sama sekali nggak ada gregetnya. Membosankan dan justru malah bikin capek. Dan pas nonton nggak jarang saya sering berharap supaya filmya cepet-cepet selesai aja.

Berbekal pengalaman buruk waktu menonton karya Makoto Shinkai sebelumnya, jujur awalnya agak pesimis juga sama film Kimi no Na Wa. Tapi ternyata ketika menit demi menit mulai berjalan dan gambar-gambar bergerak itu mulai banyak bercerita, saya mulai sadar bahwa anggapan awal saya keliru.

Saya hanyut dalam cerita. Ikut merasakan emosi para karakternya. Ada banyak perasaan yang muncul di benak saya saat menyaksikan anime itu. Mulai dari deg-degan, penasaran, dan lain sebagainya.

Jadi menurut saya jalan cerita dari anime Kimi no Na Wa sangat menarik. Udah itu aja sih intinya.

PREMIS
Sebuah cerita nggak akan menarik kalau premis atau ide utamanya nggak menarik. Karena premis adalah pondasi dari segalanya. Dan menurut saya Kimi no Na Wa memiliki premis yang sangat menarik. Tentang kisah cinta dua anak manusia yang sama sekali nggak saling kenal. Nggak pernah ketemu. Bahkan namanya pun tak tahu. Satu hal yang akhirnya menyatukan mereka adalah sebuah mimpi aneh nan misterius.

Ok, sejauh ini review ini belum menunjukkan tanda-tanda spoiler, kan? Malah yang belum nonton tambah penasaran, kan? Hehe.

GAMBARNYA KEREN
Sebenarnya istilah yang tepat itu apa, sih? Art kali, ya? Tapi daripada salah mending kita pakai cara yang gampang aja lah. Kita sepakati bersama untuk menyebut itu sebagai gambar aja.


Jika ada satu hal yang menurut saya keren dari 5cm per second yang menurut saya secara keseluruhan membosankan, saya akan menyebut gambarnya. Ya, gambarnya keren banget. Nggak cuma gambarnya yang keren. Tapi pengambilan gambarnya juga keren. Pergantian gambar satu ke gambar lainnya gitu maksudnya. Keren lah pokoknya.

Nah, sepertinya di dalam film Kimi no Na Wa ini Makoto Shinkai sukses mempertahankan standar kekerenan gambar dari filmnya yang sebelumnya. Jadi nggak cuma punya cerita yang menarik, gambarnya pun juga keren.

MUSIK
Kalau ada yang berani bilang kalau lagu-lagu soundtrack dari film Kimi no Na Wa nggak bagus, mungkin dia gila. Ah, atau seenggaknya mungkin dia adalah pecinta musik dangdut koplo atau musik melayu yang tentu saja nggak akan mengerti tentang betapa kerennya lagu-lagu yang menjadi soundtrack anime ini.

Semua soundtrack di anime ini adalah lagu-lagu dari band bernama Radwimps. Dan sepertinya pendapat bahwa lagu-lagunya Radwimps di anime ini keren itu bukan hanya pendapat pribadi saya saja. Ada buktinya, kok.

Buktinya adalah di tangga lagu Billboard Japan untuk tanggal 12 September 2016, di posisi 10 besar bertengger dengan gagah 4 lagu dari Radwimps yang menjadi soundtrack dari anime ini. Keren, kan? Itu artinya pendapat pribadi saya bahwa lagu-lagu di anime ini keren ternyata diakui secara nasional oleh penduduk Jepang. Hehe.

Oh, iya. By the way, pas saya lagi nulis artikel ini, saya juga lagi dengerin lagunya Radwimps, lho.

KESIMPULAN
Kimi no Na Wa adalah anime yang sangat keren. Dari cerita, karakter, gambar, dan bahkan musik semuanya keren menurut saya. Sekali lagi, seenggaknya itu kesimpulan menurut saya. Kalau ada yang beda pendapat ya nggak papa.


PESAN MORAL
Buat yang jomblo, cepetan tidur sana. Siapa tahu kamu mendapat mimpi aneh nan misterius. Kan lumayan. Bisa dapat pacar.

APA LAGI, YA?
Oh, iya. Terakhir cuma mau bilang kalau anime ini recommended alias aku rekomendasikan untuk kamu tonton. 

Selasa, 06 September 2016

MotoGP Silverstone 2016: Balapan Tegang Di Bawah Gelapnya Awan



Nonton balapan MotoGP yang berlangsung di sirkuit Silverstone dua hari yang lalu itu udah mirip kayak sakit asma, susah napas. Ketegangan yang disuguhkan pada balapan itu membuat saya merasa seperti berada di luar angkasa yang membuat ruang nonton TV seolah memiliki atmosfer yang berbeda dari biasanya. Padahal cuma nonton di depan TV, lho.

Nah, sebenarnya paragraf di atas bisa juga jadi sanggahan buat orang yang berpikir Youtube lebih dari TV. Gini, emangnya Youtube bisa nayangin MotoGP secara live? Nggak, kan. Jadi nggak selamanya TV itu acaranya sampah semua. Mungkin orang yang bilang kayak gitu ngertinya TV cuma nayangin Anak Jalanan sama Mermaid in Love kali, ya.

Eh, sebenarnya artikel kali ini mau bahas apa, sih?

Ok, sebelum artikel ini semakin melebar kemana-mana dan malah membahas tentang sinetron-sinetron kegemaran para remaja masa kini, mari kita kembali ke jalan yang benar. Ijinkan saya untuk menulis semacam review setelah menonton balapan MotoGP Silverstone dua hari yang lalu.

Jika di artikel-artikel sebelumnya saya selalu membahas jalannya balapan di semua kelas, kali ini entah kenapa saya sedikit kehilangan hasrat untuk membahas tentang Moto3 dan Moto2. Tapi pada intinya jalannya balapan di kelas Moto3 berlangsung seperti biasanya. Seru, penuh overtaking bahkan sampai akhir perlombaan. Selalu menyenangkan untuk menonton balapan Moto3. Dan di kelas itu, Brad Binder keluar sebagai juara.

Sementara itu di kelas Moto2, yang paling mencuri perhatian saya adalah finisnya Hafizh Syahrin di posisi 4. Selalu menyenangkan bagi saya ketika melihat pembalap Asia Tenggara dengan gigih bersaing di posisi depan. Dan yang lebih menyenangkan adalah … ketika sampai di paddock, Hafizh Syahrin sujud syukur!

Ok, mari kita beralih ke kelas utama.

Tidak seperti babak kualifikasi di mana hujan mengguyur lintasan dengan sangat deras, cuaca saat balapan justru terasa lebih kering. Meski, tetap terlihat mendung, sih. Hal itu ditandai dengan tidak terlihatnya cahaya matahari yang dapat menembus awan untuk membuat sirkuit menjadi lebih terang.

Satu hal yang membuat saya bertanya-tanya adalah kenapa balapan dimulai jam Sembilan malam lebih? Bahkan mungkin setengah sepuluh. Padahal kan biasanya untuk balapan yang berlangsung di benua Eropa jam tujuh malam juga udah mulai. Sebuah pertanyaan yang bahkan ketika saya mencari jawabannya di Google, saya tidak menemukan apapun. Mungkin anda yang kebetulan membaca artikel ini tahu jawabannya, tolong tulis di kolom komentar, dong.

Kembali ke balapan.

Selepas start, balapan terhenti dengan sangat cepat. Bahkan ketika usia balapan belum mencapai 1 putaran. Red flag dikibarkan menyusul terjadinya kecelakaan yang melibatkan Pol Espargaro dengan Loriz Baz. Dan balapan pun harus diulang.

Di start yang kedua, Maverick Vinales yang memulai balapan dari posisi ketiga langsung melesat dan tak terkejar oleh para pesaingnya yang lain. Kondisi itu berakhir hingga balapan selesai. Maverick Vinales meraih kemenangan pertama sepanjang kariernya di kelas MotoGP. Sekaligus menjadi kemenangan pertama tim Suzuki sejak tahun 2007.

Jika persaingan untuk memperebutkan posisi pertama cenderung membosankan karena Vinales hanya berkendara sendirian tanpa ada rider lain yang mampu mendekat, hal yang berbeda tersaji pada perebutan posisi kedua. Nah, perebutan posisi kedua inilah yang saya sebut di paragraf awal artikel ini sebagai sesuatu yang membuat kita –atau mungkin hanya saya- mengalami kesulitan untuk bernapas.

Ada empat pembalap yang bersaing untuk mengklaim posisi runner up. Cal Cruthclow, Marc Marquez, Andrea Iannone, dan Valentino Rossi seolah tak mau merelakan posisi terbaik kedua itu jatuh kepada orang lain selain dirinya.

Perebutan posisi kedua kemarin itu udah mirip seperti Moto3. Seru dan menegangkan. Dan ketika sedang seru-serunya, Andrea Iannone justru terjatuh. Sepertinya jatuh adalah tradisi tersendiri bagi Iannone, ya.

Oh, iya. Kalau kita mengamati penampilan Marc Marquez kemarin, dia itu mirip kayak anak STM yang baru aja dikasih motor sama bapaknya. Ugal-ugalan …!!!

Tercatat dua kali Marquez keluar dari sirkuit karena bersenggolan sama rider lain. Yang pertama dengan Valentino Rossi. Dan yang kedua dengan Cruthlow. Untungnya pinggir lintasan tempat Marquez keluar di aspal. Kalau itu gravel jatuh deh kayaknya. Atau seenggaknya posisinya melorot jauh.

Tapi sebenarnya kita –atau mungkin hanya saya- patut bersyukur dengan ugal-ugalannya Marquez. Karena kalau Marquez nggak ugal-ugalan, maka balapan nggak akan seseru kemarin. Dan sepertinya Valentino Rossi juga tidak akan finis di podium dan mengakhiri lomba dengan berada di depan Marquez.

Thanks to Marc Marquez karena sudah memberi kami hiburan yang menegangkan. Dan juga terimakasih untuk podium cuma-cumanya untuk Rossi. Lagi-lagi 3 poin terpangkas. Meski masih jauh juga selisihnya. 50 poin. Sekarang pertanyaannya adalah bisakah selisih selebar itu terlampaui? Semoga saja.