Rabu, 17 Agustus 2016

Upacara 17 Agustus Bagi Pelajar Itu Tidak Perlu Ada



Pernah ikut upacara bendera 17 Agustus? Saya rasa hampir semua orang pasti pernah. Setidaknya waktu dulu pas masih sekolah. Ya, meskipun kita berangkat dengan perasaan terpaksa. Lalu, pernah lihat pelajar pingsan di ucapara itu? Lagi-lagi saya rasa hampir semua orang pasti pernah. Bahkan, tadi siang saya mendapat kabar bahwa di Metro Lampung ada seorang walikota yang jatuh pingsan saat memimpin upacara bendera.

Kemudian saya bertanya dalam hati … masih perlukah upacara bendera 17 Agustus diadakan?

Menurut saya sebenarnya sudah tidak. Maksud saya, semua orang datang ke upacara itu pasti karena keterpaksaan. Karena disuruh dan ada ancaman hukuman jika kita tidak mengikutinya. Jika bisa memilih, tentu kita pasti memilih untuk tidak berangkat –kecuali jika anda adalah anggota Paskibra-. Atau setidaknya, itulah yang dulu saya rasakan. Dan ketika saya bertanya kepada beberapa teman saya, ternyata mereka memberi jawaban bahwa dulu mereka juga hanya terpaksa ikut upacara 17-an.  

Nah, timbul sebuah pertanyaan. Untuk apa kita memperingati hari kemerdekaan dengan ikut dalam sebuah kegiatan di mana kita terpaksa mengikutinya? Terpaksa berarti lawan kata dari merdeka. Lalu untuk apa kita pergi ke lapangan dengan tujuan yang seharusnya memperingati hari kemerdekaan dengan jiwa-jiwa yang tidak merdeka? Ini hari kemerdekaan lho, ya.

Ok, sebelum melangkah lebih jauh, saya ingin berkata bahwa saya tidak setuju dengan upacara yang melibatkan para pelajar sekolah. Sekali lagi hanya pelajar sekolah. Saya tidak begitu peduli dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang di istana.

Kembali ke pembahasan …

Tapi upacara ini kan untuk meningkatkan rasa nasionalisme?

Meningkatkan rasa nasionalisme? Maksudnya cinta negara? Yang ada faktanya adalah para pelajar banyak yang mengeluh karena cuaca terasa sangat panas. Dan tentu kita sadar bahwa mengeluh adalah ekspresi dari rasa tidak senang. Jadi, sepertinya tidak mungkin akan ada cinta yang tumbuh dari ketidak senangan.

Masih mending kalau cuma mengeluh. Bagaimana kalau pingsan? Ah, sepertinya satu-satunya hal yang saya ingat ketika mengikuti upacara bendera 17 Agustus dulu adalah pengatahuan baru bahwa ternyata matahari pukul 10 pagi benar-benar terasa panas.

Nah, yang bahaya adalah jika kemungkinan itu akan muncul. Kemungkinan terbesar dan terburuk bahwa para pelajar akan membenci tanggal 17 Agustus karena mereka sadar bahwa itu adalah hari di mana mereka akan terbakar oleh panasnya cuaca di luasnya lapangan yang mungkin tak lagi hijau. Atau mungkin, karena mereka tetap harus masuk di mana angka di kalender tercetak dengan warna merah yang menyala. Sebuah warna yang harusnya menjadi pertanda akan hadirnya hari yang disebut dengan hari libur.

Bahkan menurut saya, sebaiknya 17 Agustus itu diliburkan saja. Tanpa harus pergi ke lapangan untuk upacara.

Apa, 17 Agustus libur tanpa upacara?

Ya, dengan liburnya tanggal 17 Agustus, maka pasti akan ada kegiatan-kegiatan menyenangkan yang digelar di hari itu. Misalnya contoh paling sederhana adalah lomba untuk anak-anak yang biasa diselenggarakan oleh organisasi karang taruna.

Loh, tunggu! Bukannya selama ini lomba anak-anak di bulan Agustus itu memang sudah berlangsung setiap tahunnya?

Memang. Tapi tidak pernah benar-benar digelar pada tanggal 17 Agustus. Biasanya lomba digelar pada hari minggu terdekat dengan tanggal 17 Agustus. Kenapa? Ya karena 17 Agustus mereka harus upacara. Tapi jika hari itu libur, pasti lomba-lomba itu juga akan digeser tanggal penyelenggaraannya.

Jika tanggal 17 Agustus benar-benar libur dan lomba-lomba diadakan di hari itu, saya yakin para pelajar yang sebelumnya mengeluh akan tertawa dengan ceria. Maksud saya, memangnya siapa coba yang tidak akan larut dalam serunya lomba Agustusan seperti itu? Dan karena mereka akan tertawa dengan ceria, maka artinya mereka merasa bahagia.

Bahagia di hari kemerdekaan. Bukankah ini bagus? Bukankah dengan merasa senang di hari kemerdekaan akan membuat mereka memiliki rasa cinta terhadap hari itu? Ya, saya pikir demikian. Setidaknya akan timbul rasa cinta terhadap tanggal 17 Agustus yang sakral itu. Itu artinya, di situ bibit-bibit rasa nasionalisme akan tumbuh.

Tunggu! Tapi bukannya upacara adalah cara bagi bangsa untuk mengenang jasa perjuangan para pahlawan?

Saya rasa, para pahlawan akan lebih senang jika anak-cucunya tertawa dalam cerianya suasana peringatan hari kemerdekaan daripada harus melihat para penerus bangsa mengeluh karena kepanasan.

Dan saya rasa, daripada melihat kondisi seperti ini …


Para Pahlawan akan lebih bahagia jika melihat yang ini …



MERDEKA!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar