Rabu, 10 Agustus 2016

Senyuman Kota Boyolali Yang Membuat Saya Iri



Apa yang ada di benak anda ketika anda mendengar nama Boyolali? Kayaknya sih saya cukup yakin anda akan menjawabnya dengan kata-kata pujian seperti Boyolali sekarang megah, keren, luar biasa, dan lain sebagainya. Betapa tidak, alun-alun megah, jalanan yang mulus seakan tanpa lubang, patung sapi raksasa, bahkan simpang lima lengkap dengan patung Arjuna naik kuda di tengahnya. Bukankah itu semua terlihat megah?

Tapi apakah semua kemegahan itu membuat saya yang notabene juga warga Boyolali bangga? Ya, andai saja saya adalah orang yang berdomisili di Boyolali Kota, saya pasti akan berkata bahwa saya sangat bangga dengan kemegahan Boyolali. Namun, sayangnya saya bukanlah warga Boyolali Kota. Saya hanyalah orang yang tinggal di sebuah kecamatan bernama Sambi, kecamatan yang berjarak lebih dari 20km dari pusat kota Boyolali. Sebuah kecamatan yang kondisinya jelas sama sekali tidak bisa disamakan dengan kota Boyolali.

Aura kemegahan yang melekat pada Kota Boyolali rasanya sama sekali tidak nampak jika kita melihat kondisi yang terlihat di Sambi dan mungkin juga kecamatan lainnya. Ada semacam kesenjangan di sana. Saya memang tidak tahu dengan pasti tentang masalah-masalah seperti ekonomi, kesejahteraan, atau lain sebagainya. Dan saya hanya melihat kesenjangan itu dari sesuatu yang memang benar-benar bisa saya lihat dengan indera pengelihatan saya. Pembangunan.

Jika Kota Boyolali memiliki alun-alun megah, jalanan yang mulus seakan tanpa lubang, patung sapi raksasa, bahkan simpang lima lengkap dengan patung Arjuna naik kuda di tengahnya, lalu apakah Sambi dan daerah-daerah pelosok lain di Kabupaten Boyolali memiliki yang seperti itu? Tentu saja tidak. Jangankan yang seperti itu, jalanan yang bisa dilewati secara layak pun masih jarang. Satu-satunya hal yang mungkin bisa membuat kami bangga adalah tumbuhnya pohon pisang di tengah jalan.  

Jadi, apakah saya bangga dengan kondisi Boyolali saat ini? Dengan tegas saya berkata tidak. Bahkan, bisa dibilang sebagai warga kecamatan saya sangat-sangat iri dengan mereka yang tinggal di kota. Tentang perbedaan fasilitas dan insfratuktur yang kami dapatkan. Tentang semua kesenjangan ini.

Maksud saya, kita sama-sama tinggal di Boyolali, kan? Tapi kenapa yang kami warga kampung dapatkan tidak sama dengan yang mereka warga kota peroleh? Ok, lah. Saya memang orang kampung dan rasanya sejak kecil saya juga sudah terbiasa merasa tertinggal dari orang kota. Tapi masalahnya adalah saya tetap merasa bahwa pembangunan Kota Boyolali itu sama sekali tidak wajar.

Maksud saya, apa gunanya coba patung sapi raksasa itu? Lalu patung-patung kuda yang di tunggangi Arjuna? Ah, mungkin pemkab akan berkata …

“Itu kan icon Boyolali. Penting untuk identitas.”

Ok, lah. Saya juga tahu kok kalau sapi sangat identik dengan Boyolali. Dan saya tidak menampik bahwa identitas adalah sesuatu yang penting. Tapi masalahnya adalah ketika ada daerah lain yang tidak tersentuh pembangunan, kenapa pemkab lebih memprioritaskan uangnya keluar untuk membuat patung sapi? Yang saya cukup yakin untuk membuat patung sebesar itu juga butuh biaya yang besar. Aneh, kan? Kira-kira buat apa coba? Oh, saya tahu. Buat foto-foto pastinya.

Lalu tentang patung Arjuna dan sekawanan kudanya, ini kayaknya tidak ada sangkut-pautnya dengan identitas Boyolali. Satu-satunya alasan yang menurut otak saya rasional kenapa patung itu dibangun adalah … ya untuk keren-kerenan dan gaya-gayaan aja.
Patung-patung kuda yang seolah membawa Kota Boyolali melaju jauh meninggalkan kecamatan lainnya.
Iri sekaligus sebal. Boyalali Kota yang semakin tersenyum, justru semakin tersenyum membuat saya semakin iri. Itulah yang saya rasakan. Atau setidaknya yang saya rasakan beberapa waktu yang lalu. Sebelum tanda-tanda pembangunan di Kecamatan Sambi akhirnya muncul.

Saat ini, di beberapa titik di Kecamatan Sambi, pembangunan terlihat sedang gencar dilakukan. Mulai dari pembangunan jalan, Pasar Sambi, bahkan hingga Kantor Kecamatan Sambi. Sepertinya untuk saat ini saya bisa sedikit lega. Lega karena seolah mendapat kepastian bahwa Sambi masih benar-benar menjadi bagian dari Kabupaten Boyolali.
 
Pasar Sambi yang dibangun ulang.
Jalanan yang baru dicor separo


Pemandangan pembangunan jalan dari depan rumah saya.
Ini juga sama. Dari depan rumah saya.
Gambar-gambar di atas seolah memberikan jawaban kepada kami warga Sambi bahwa setidaknya kami tidak benar-benar diabaikan. Ah, semoga pembangunan ini bukan sekedar langkah untuk ngeyem-yemi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar