Jumat, 12 Agustus 2016

Rio Haryanto Didepak Manor, Saya Rasa Wajar



Belakangan ini sepertinya media sedang ramai membicarakan perihal didepaknya Rio Haryanto oleh tim Manor Racing dari statusnya sebagai pembalap utama di tim tersebut pada gelaran F1 musim 2016. Dan tanggapan dari masyarakat Indonesia terhadap kabar itu tentunya didominasi oleh tanggapan yang menyiratkan kekecewaan. Namun, bagi saya sendiri, seperti yang saya tulis pada judul artikel ini, menurut saya didepaknya Rio adalah hal yang wajar. Bahkan jika saya melihat itu dari sudut pandang tim Manor, saya pikir itu bukan lagi keputusan yang wajar, namun tepat.

Kenapa keputusan Manor untuk mendepak Rio di pertengahan musim adalah sesuatu yang tepat?

Pertama, tentu saja karena prestasi. Dari 12 balapan yang sudah dijalani oleh Rio musim ini, 3 kali dia tidak mampu menyelesaikan balapan. Lalu di 9 balapan lain di mana Rio bisa finis, tidak satu pun poin yang bisa dia raup. Ah, boro-boro poin, bahkan finis di depan pembalap lain saja sepertinya Rio kesulitan.

Dari 9 balapan itu, posisi terbaik Rio adalah saat dia bisa finis di posisi 15 di GP Monaco. Itu pun lagi-lagi dia berada di posisi buncit karena memang hanya 15 pembalap saja yang bisa menyelesaikan balapan. Yang parahnya lagi, di balapan itu Rio dioverlap 4 kali!

Hasil terbaik sejati yang Rio Haryanto dapatkan sebenarnya adalah ketika dia turun untuk membalap di GP China yang juga merupakan balapan ketiga di F1 musim ini. Saat itu Rio memang hanya bisa finis di posisi ke 21, namun itu adalah satu-satunya moment di mana Rio Haryanto bisa finis di depan pembalap lain. Tepatnya finis di depan Joylon Palmer, pembalap asal Inggris yang finis di posisi ke 22.

Jadi bagaimana? Kalau melihat prestasi Rio Haryanto, rasanya wajar kan kalau Manor mendepak dia di sisa musim ini? Ah, sebenarnya prestasi memang bukan alasan utama pendepakan Rio, sih.

Ya, prestasi memang bukan alasan yang utama. Karena alasan utama dibalik didepaknya Rio adalah masalah keuangan. Dalam hal ini, Rio yang berstatus sebagai pay driver yang harus membayar 15 juta Euro atau sekitar Rp. 218 miliar masih memiliki tunggakan pembayaran setengah dari nilai yang sebelumnya saya tuliskan. Atau dengan kata lain Rio baru membayar 8 juta Euro dan masih harus membayar uang sebesar 7 juta Euro atau sekitar Rp. 101 miliar.

Rp. 101 miliar? Angka yang fantastis, kan? Saya rasa anda juga mulai melakukan apa yang kini saya lakukan. Membayangkan bisa untuk apa saja uang sebanyak itu. Kalau buat naik haji 27 kali … kayaknya masih sisa, deh? Hehe.

Dan karena tidak bisa membayar kekurangan itu, maka mau tidak mau Manor membuat keputusan untuk mencopot status Rio sebagai pembalap utama. Jadi kalau dipikir-pikir, Rio Haryanto itu ibarat anak sekolah yang tidak mampu untuk membayar SPP. Apa yang terjadi kepada anak yang tidak mampu membayar SPP? Hanya ada satu kemungkinan. Dikeluarkan!

Loh, tapi bukannya biasanya siswa yang kurang mampu akan mendapat beasiswa?

Ya, tepat sekali. Dengan catatan jika siswa itu berprestasi tentunya.

Jadi bagaimana? Wajar kan kalau Rio didepak sebagai pembalap utama karena tidak mampu membayar uang sebesar Rp. 101 miliar?

Bahkan sejak awal alasan kenapa Rio bisa membalap di F1 musim ini juga karena uang, kok. Jadi ketika dia didepak karena alasan yang sama, rasanya wajar saja. Kita tentunya masih ingat bahwa sebelum musim ini berlangsung, Rio bersaing dengan pembalap USA bernama Alexander Rossi untuk memperebutkan satu tempat sebagai pembalap utama Manor. Dan Rio pun terpilih. Kenapa? Tentu saja karena Rio berani membayar lebih banyak.

Sebenarnya kalau membandingkan prestasi antara Rio dan Rossi di musim lalu, jelas Rossi lebih unggul dari Rio. Musim lalu, kedua pembalap ini sama-sama berlaga di GP2. Dan di akhir musim, Rossi yang mampu mengumpulkan 181,5 poin bertengger di posisi runner-up klasemen akhir. Mengungguli Rio yang hanya mengumpulkan 138 poin dan menyelesaikan musim di posisi ke 4. Lalu kalau prestasi Alexander Rossi lebih baik dari Rio Haryanto, kenapa Rio yang terpilih? Sekali lagi ya karena bayar.

Jujur saja saya sering berpikir bahwa sebenarnya Rio Haryanto belum saatnya masuk F1. Bahkan menurut saya keikutsertaannya musim ini sangatlah dipaksakan. Ok, lah. Rio memang pembalap yang berbakat dan potensial. Tapi sudah siapkah Rio berlaga di ajang sebesar F1?

Saya sering berpikir andai saja Rio bertahan di kompetisi GP2 beberapa tahun lebih lama dan menunjukkan prestasi lebih dari sekedar bertengger di posisi 4 klasemen akhir, bukan tidak mungkin kesempatan berlaga di F1 akan menghampirinya. Bukan sebagai pembalap yang membayar tentunya. Karena jika berprestasi, saya rasa tim-tim yang lebih baik dari Manor pasti akan tertarik untuk menggunakan jasanya.

Ah, sebenarnya sejak awal Rio Haryanto sudah menunjukkan tanda-tanda bahwa musim ini akan berjalan buruk baginya. Masih ingat kejadian di latihan bebas ketiga di seri pertama musim ini yang berlangsung di Australia? Saat itu Rio menabrak Romain Grosjean di pit stop. Bukankah itu sebuah pertanda? Ah, entah kenapa setiap kali saya mengingat kejadian itu, rasanya saya ingin tertawa. Hehe.

5 komentar:

  1. Balasan
    1. thanks gan. saya kira kalau misal ada yang comment di artikel ini isinya bakal menghujat karena artikelnya agak kontroversial. ternyata enggak. hehe. makasih udah berkunjung.

      Hapus
  2. Kalo pendapat gue sih, Ya rio ga bisa lama di GP2 dari 2012-2015 4 tahun sudah rio di GP2 mau sampai kapan dia disana? Kalo pendapat gue Rio Rossi setara, ketika mereka ber 2 1 tim di caterham Rio berhasil dapat point dan podium sedangkan untuk rossi hanya 0 point

    BalasHapus
    Balasan
    1. jadi berarti mau nggak mau Rio memang harus berani melakukan perjudian untuk melangkah ke F1 ya mas? karena emang udah agak kelamaan di GP2. menurut masnya sendiri gimana?

      Hapus
    2. Saya sih setuju-setuju aja sama isi artikelnya ya. Bisa dikatakan Rio gk terlalu berkembang di F1. Tapi kalau sampai dibilang melakukan perjudian saya rasa itu keterlaluan karna pay driver dalam dunia balap itu adalah hal yang wajar

      Hapus