Minggu, 07 Agustus 2016

Juru Bicara World Tour Jogjakarta [Review]



Pada hari Sabtu tanggal 6 Agustus 2016, saya datang jauh-jauh dari Solo ke Jogja menempuh perjalanan dengan sepeda motor yang diwarnai dengan gerimis di sepanjang perjalanannya, bukan hanya saat keberangkatan, bahkan saat pulang pun kondisi cuaca belum berubah. Untuk apa? Hanya satu tujuan. Menyaksikan show stand up comedy bersejarah bertajuk Juru Bicara World Tour Jogjakarta, special show keempat dari Pandji Pragiwaksono, comic Indonesia terhebat saat ini jika dilihat dari pencapaiannya.

Andai saja show itu digelar tepat satu tahun yang lalu, saya yakin saya nggak akan pernah datang ke acara itu. Jangankan repot-repot ke Jogja, di Solo pun saya nggak akan datang. Jika kita tarik waktu menuju tepat satu tahun yang lalu, andai saya diberi pertanyaan tentang siapa comic favorit saya, tentu saya akan menyebut nama-nama seperti Ryan Adriandhy, Sammy NotASlimBoy, Adriano Qalbi, atau Rindra Dana. Tidak ada nama Pandji di situ.

Tapi semua berubah di akhir tahun 2015 ketika tanpa sengaja saya menonton video Mesakke Bangsaku di Youtube, saat itu tanpa sadar saya berkata dalam hati …

“Wow! Saya nggak pernah tahu kalau Pandji sekeren ini!”

Sejak saat itu saya mulai mencari tahu lebih banyak tentang beliau. Saya baca tulisan-tulisan di blognya, entah kenapa itu membuat saya semakin kagum dengan beliau. Dan hingga akhirnya saya memutuskan untuk membeli ketiga DVD stand up specialnya. Kenapa saya melakukan itu? Bukannya wajar ya kalau seorang pengagum selalu ingin melakukan sesuatu terhadap orang yang dikaguminya. Dan waktu itu saya pikir membeli DVD adalah salah satu cara terbaik untuk itu –pencitraan, sebenarnya sih buat koleksi aja-. Setelah itu lagi-lagi saya berkata dalam hati …

“Next time kalau Pandji bikin special nonton langsung, ah.”   

Di awal tahun 2016, saya dapat kabar kalau Pandji akan bikin special lagi. Judulnya Juru Bicara World Tour. Dan ketika kota mana saja yang akan didatangin mulai diumumkan, nama Kota Solo nggak ada di situ. Kota terdekat cuma Jogjakarta. Dan saya pikir … Jogja? Nggak papa, lah? Naik motor 2 jam juga udah nyampe, kok.”

Ketika ada kabar bahwa tiket Juru Bicara Jogja sudah bisa dibeli, nggak membuang waktu saya langsung bergerak. Bahkan saya sudah beli tiket Juru Bicara Jogja sejak tanggal 3 Mei 2016, tiga bulan lebih tiga hari sebelum shownya mulai. Kayaknya niat banget, ya. Hehe.

Eh, ini judulnya review Juru Bicara tapi isinya kok malah muter-muter, ya? Hehe. Ok, sekarang mari kita kembali ke peristiwa yang terjadi di Jogjakarta pada tanggal 6 Agustus 2016.
Tiket Juru Bicara Jogja
Sekitar jam 6 lebih 10, saya sampai juga di Kampus 2 Universitas Sanata Dharma Jogjakarta. Lalu sekitar pukul 7, saya masuk ke Auditorium Driyarkara, gedung yang akan jadi venue dari show itu. Saat pertama kali saya masuk ke situ, nggak tahu kenapa saya kagum. Tempatnya keren banget. Pengaturan kursinya, ACnya yang sejuk, bahkan sampai … sampai saya bingung mau nulis apa lagi. Hehe.

Acara dimulai sekitar jam 7.30. Rispo masuk sebagai pembawa acara. Membacakan peraturan dan tentu saja memperkenalkan sponsor-sponsor yang mendukung acara ini. Dan nggak ketinggalan, tentu saja dia melakukan itu dengan cara yang absurd.

Beberapa menit berlalu dan tepatnya pada pukul 7.45, lampu padam. Mamat Alkatiri sang opener lokal Jogjakarta masuk. Awalnya saya pikir karena dia opener lokal Jogjakarta, saya akan menyaksikan seorang mas-mas Jawa yang akan melemparkan bit-bitnya di atas panggung. Tapi ternyata, dugaan saya salah total. Alkatiri adalah … eh, gimana cara ngomongnya biar nggak dikira rasis, ya?

Alkatiri memulai penampilannya dengan memperkenalkan daerah asalnya, Fak-fak. Buat yang belum tahu, itu adalah nama sebuah kota di Papua. Ada beberapa pembahasan menarik yang disuguhkan oleh Alkatiri malam itu. Saya paling suka saat dia membahas tentang orang yang masih menilai kualitas seseorang dari wajahnya, rasisme, dan juga toleransi umat bergama.

Penampil berikutnya adalah Afif, opener yang dibawa Pandji dari Jakarta. Sebelumnya saya pernah beberapa kali menonton Afif melalui layar kaca. Namun, saya nggak pernah merasa bahwa penampilan Afif spesial. Tapi malam itu, saya pikir saya benar-benar larut dan menikmati penampilannya. Kayaknya ini adalah sesuatu yang disebut dengan, the miracle of  NONTON LANGSUNG.  

Bit favorit saya dari Afif malam itu adalah saat dia bercerita tentang teman-temannya alumni SUCI 5 yang memiliki banyak aplikasi di HPnya untuk menunjang banyaknya job yang mereka dapatkan. Sementara Afif yang merasa jobnya sepi …

“Palingan di HP gue aplikasinya cuman pengaturan,” Blar! Seketika suara tawa memporak-porandakan Auditorium Driyarkara.

Setelah penonton dibuat empuk oleh para comic opener, pada pukul 8.20 sang pemilik acara, Pandji Pragiwaksono muncul dengan disambut meriah oleh penonton. Banyak hal yang dibahas oleh Pandji malam itu. Mulai dari budaya negera yang didatanginya ketika world tour, rating, berkarya, prostitusi, sensor di televisi, HAM, hingga keresahannya terhadap nasib hewan domistik –hewan yang dijinakkan- atau hewan yang diusik alamnya.

Salah satu momen favorit saya adalah ketika Pandji melempar pertanyaan kepada penonton dan penonton berusaha menjawab tapi nggak ada yang benar, Pandji selalu merespon dengan kata hampir. Dan alasan kenapa Pandji selalu merespon dengan kata hampir adalah …

“Kenapa gue jawab hampir? Ini buat guru-guru juga. Kalau gue jawab dengan kata salah, pasti kalian akan berhenti berpikir. Tapi, kalau gue jawab dengan kata hampir, kalian akan terus berpikir dan berusaha untuk mencari jawabannya.”

Dari banyak topik yang dibahas malam itu, saya paling suka ketika Pandji membahas tentang berkarya. Tentang yang terpenting dari berkarya adalah segera memulainya.

“Karya itu yang penting harus dimulai dulu aja. Jangan takut jelek. Karena sudah pasti jelek. Karya pertama pasti jelek. Tapi setelah itu yakinlah bahwa ada sebuah proses yang disebut dengan bertumbuh.”

Saya suka pesan dari Pandji yang intinya kunci dari berkarya adalah menjadi sedikit lebih beda. Menjadi sedikit lebih beda lebih baik dari pada menjadi sedikit lebih baik. Kerena memang faktanya sesuatu yang viral adalah sesuatu yang beda. Rasanya, saya benar-benar termotivasi.

Selain termotivasi, ada juga topik-topik yang sukses membangkitkan rasa penasaran saya dan membuat saya ingin mencari tahu lebih dalam tentang topik itu. Topik yang saya maksud adalah tentang aksi kamisan, sebuah aksi yang jujur saja belum pernah saya dengar sebelumnya. Lalu saya juga penasaran dengan nasib hewan bernama Owa Jawa.

Oh, iya. Perasaan ini acara stand up comedy, ya. Kok kesannya malah termotivasi sama penasaran? Lucu nggak nih shownya?

Kalau soal lucu … jelas lucu, lah. Namanya juga stand up comedy. Bahkan teman saya berkali-kali tertawa sambil melompat dari kursinya. Dan rasanya rahang saya juga pegel karena terus-terusan ketawa. Perjalanan Solo-Jogja, tiket kelas gold seharga Rp. 135.000, ditambah kehujanan di perjalanan sepertinya adalah nilai yang cukup pantas untuk ditukar dengan show malam itu. Meskipun, sebenarnya saya akan lebih suka kalau nggak hujan. Hehe.

Setelah bercerita selama 2 jam lebih 20 menit, Pandji mengakhiri penampilannya pada malam itu. Sesi tanya jawab dibuka setelahnya. Lalu, layaknya show stand up comedy lainnya, rangkaian acara Juru Bicara World Tour Jogjakarta ditutup dengan sesi foto-foto.
Foto Bersama Sang Juru Bicara
Terakhir. Kalau DVD Juru Bicara sudah rilis –yang pasti tahun depan-, saya berjanji kepada diri saya sendiri untuk membelinya dan menjadikannya teman selemari dengan yang ada di foto di bawah ini …

4 komentar:

  1. Wah koleksi DVD Pandji ya, mas? Keren nih.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. mantaap.. salam kenal, mas faisal. :D

      Hapus
    2. salam kenal juga mas Brian. Matur suwun sudah berkunjung.

      Hapus