Senin, 18 Juli 2016

MotoGP Sachsenring 2016: Finis Ke-8, Saya Rasa Rossi Bodoh!



Lagi! Ketika saya pikir balapan akan berjalan mudah untuk Valentino Rossi, musibah malah terjadi. Seperti ketika di Mugello saat Rossi terlihat begitu cepat namun tiba-tiba motornya ngebul. Atau saat di Assen ketika Rossi memimpin namun tergelincir dan jatuh tersungkur. Dan di Sachsenring musibah kembali terjadi. Kali ini bukan salah motor atau jalan yang licin. Tapi … ah, saya rasa kemarin bukanlah hari yang bagus untuk The Doctor.

Sebenarnya kalau bicara tentang hari yang bagus, saya rasa semua pasti setuju kalau saya bilang bahwa kemarin adalah hari yang bagus untuk Marc Marquez, Johann Zarco, dan Khairul Idham Pawi. Kenapa? Apalagi kalau bukan karena mereka bisa menang di kelas masing-masing. Meski sebenarnya saya rasa Cal Crutchlow yang finis di posisi ke-2 juga pasti berpikir kemarin adalah hari yang bagus untuknya.

Untuk Khairul Idham, meski saya tidak menonton balapan Moto3, tapi mendengar bahwa pembalap Malaysia bisa berdiri di podium tertinggi tetap saja terasa luar biasa. Dan kemudian pertanyaan pun muncul. Sebuah pertanyaan yang saya rasa bukan hanya saya yang merasakan. Sebuah pertanyaan berbunyi …

“Kapan ya pembalap Indonesia bisa kayak gitu?”

Beralih ke Moto2

Entah kenapa, ketika balapan berlangsung dalam kondisi hujan, saya selalu berpikir bahwa ada kutukan pembalap yang sedang leading akan jatuh tersungkur. Dan di Moto2 Jerman kemarin, kutukan itu terbukti. Dimulai dari Takaaki Nakagami yang crash di awal lomba ketika sedang memimpin. Lalu hal yang sama juga terjadi pada Franco Morbidelli beberapa lap jauh setelah itu. Kenapa bisa begitu, ya? Sekali lagi, kayaknya memang kutukan.

Moto2 Sachsenring Jerman 2016 adalah pembuktian bagi Johann Zarco bahwa dia memang pantas disebut sebagai penguasa kelas tersebut. Zarco tidak menang begitu saja. Meski ketika balapan memasuki last lap, semuanya memang sedikit terlihat cukup mudah bagi Zarco, namun ada Jonas Folger sang pembalap tuan rumah yang terus mendekat.

Puncaknya ketika memasuki tikungan terakhir. Folger mengambil jalur dalam dan secara ajaib mengambil posisi pertama dari tangan Zarco. Saat itu semua orang pasti berpikir bahwa ini akan menjadi balapan yang manis untuk sang pembalap tuan rumah. Namun, hanya beberapa detik setelah itu, Zarco menghancurkan perkiraan semua orang. Karena mengambil jalur yang terlalu dalam, hal itu membuat Folger keluar tikungan dengan sedikit melebar. Sementara Zarco yang mengambil tikungan dengan normal, akhirnya keluar tikungan dengan jalur yang normal pula. Dan di lintasan lurus terakhir, di situlah Zarco melibas Folger untuk membuktikan siapa raja sejati di Moto2.

Beralih ke kelas MotoGP

Apakah kutukan bahwa pemimpin balapan akan jatuh di wet race juga terjadi di kelas ini? Jawabnya adalah iya. Memang korbanya hanya satu. Dan Danilo Petrucci adalah orangnya. Agak ironis memang. Karena Petrucci sering disebut sebagai pembalap spesialis hujan.

Berbicara tentang GP Sachsenring kemarin, saya rasa topiknya adalah betapa briliannya Marc Marquez dan betapa bodohnya Valentino Rossi. Lalu bagaimana dengan Jorge Lorenzo? Saya rasa ketika balapan berlangsung dalam kondisi basah, semua orang lupa kalau dunia punya seorang pembalap hebat yang pernah beberapa kali juara dunia berjuluk Por Fuera. Jadi, saya pikir Lorenzo tidak perlu dibahas.

Pada awalnya balapan berjalan cukup sulit untuk Marquez. Meski start dari pol position, posisi Marquez kian melorot lap demi lap. Puncaknya ketika dia melebar hingga ke gravel. Untungnya Marquez tidak jatuh. Namun ketika kembali ke aspal, Marquez telah tercecer di urutan 9.

Berbeda dengan Marquez, Rossi justru terlihat cukup nyaman dengan berkendara di belakang Dovizioso. Semuanya terlihat cukup bagus karena sepertinya Rossi bisa saja merebut posisi pertama dari Dovi ketika waktunya tepat.

Lap demi lap terlalui. Nampaknya lintasan pun mulai mengering. Beberapa pembalap mulai menukar motornya di pit. Dan Marc Marquez adalah salah satu pembalap yang melakukan itu cukup awal. Awalnya saya agak ragu apakah itu keputusan yang tepat. Maksud saya mungkin saja lintasan belum kering sepenuhnya. Bukankah kondisi seperti itu akan membuat pembalap mudah tergelincir?

Dan akhirnya benar apa yang saya pikirkan. Pol Espargaro yang menukar motornya di lap yang sama dengan Marc Marquez tergilincir dengan motor ban keringnya. Saat itu, Pol berada satu posisi di belakang Marquez. Saat itu pula saya berpikir apa yang kira-kira akan terjadi pada Baby Alien. Bencana? Atau justru berjaya?

Dan sepertinya pilihan ke dua adalah pilihan yang benar. Marquez melaju dengan sangat kencang. Saking kencangnya, gap dengan pembalap-pembalap terdepan pun semakin menipis. Tidak mengherankan sebenarnya. Karena waktu putaran Marquez dengan pembalap lain yang masih memakai ban basah terpaut cukup jauh.

Sementara itu, Rossi masih terlihat cukup santai dengan aktivitas berkendara di belakang Dovinya. Seakan mengabaikan ancaman Marquez yang melaju dengan kencang di belakang sana. Puncak kesantaian Rossi terlihat ketika The Doctor mengabaikan instruksi tim untuk masuk ke dalam pit stop. Ketika Rossi melewati garis start tanpa masuk pit stop padahal sudah diinstruksikan, dalam hati saya berkata …

“Loh, kok nggak masuk?”       

Ya, Rossi tetap melaju di belakang Dovi diikuti beberapa pembalap satelit di belakangnya. Dan setelah keluar dari tikungan terakhir di lap itu, lagi-lagi Rossi tidak masuk ke dalam pit. Lagi-lagi dalam hati saya berkata …

“Apa sih yang ada dipikaran Rossi? Kayaknya Marquez bakal menang, nih.”

Dan setelah itu, untuk ketiga kalinya Rossi mengabaikan perintah dari tim untuk masuk ke dalam pit. Gap Marquez dengan pembalap terdepan semakin menciut. Dan lagi-lagi dalam hati saya berkata …

“Berakhir! Sudah berakhir! Marquez sudah pasti akan menang.”

Pada akhirnya Rossi mengganti motornya. Namun semua telah terlambat. Marquez benar-benar menang dan Rossi harus puas dengan finis di posisi 8. Ada pembelaan dari The Doctor bahwa motornya tidak sebagus ketika basah. Sehingga dia finis di posisi 8. Tapi sebenarnya jika saja Rossi menurut dengan instruksi tim untuk masuk pit beberapa lap lebih awal, bukankah seharusnya dia bisa finis di posisi yang lebih baik?

Pada balapan kali ini, rasanya saya tidak akan ragu untuk menyebut Rossi bodoh. Ya, sangat bodoh. Jangan salah, saya mengatakan itu bukan sebagai haters Rossi. Saya tetap berada di pihak The Doctor. Dan saya cukup yakin semua penggemar Rossi juga berpikiran sama dengan apa yang saya pikirkan. Atau setidaknya, jika ada yang tidak tega menyebut Rossi bodoh, pastinya mereka tetap berpikir keputusan menunda pit stop adalah sesuatu yang salah, egois, dan mengecewakan.

Terkahir saya hanya ingin berkata tentang sesuatu yang baru saja saya sadari …

Bahwa terkadang dokter juga perlu mendengarkan apa yang dikatakan oleh perawatnya.  

FORZA VALE!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar