Senin, 25 Juli 2016

Makan Di Kondangan? Habisin Aja!



Pernah pergi ke kondangan, kan? Orang Jawa menyebut aktivitas itu sebagai njagong. Pastinya hampir semua orang pernah, ya. Dan pastinya di kondangan kita juga pernah melihat sisa makanan di piring yang dihidangkan untuk para tamu. Nggak tahu kenapa menyisakan makanan di piring pas kondangan itu menjadi sesuatu yang sangat lumrah.

Sebenarnya saya pengen bahas ini karena kemarin saya menghadiri pernikahan sepupu saya. Dan seperti yang saya sebutkan di atas, saya mendapati piring-piring dengan sisa makanan yang tergeletak di bawah kursi, atas meja, dan tempat-tempat lainnya. Kemudian saya bertanya dalam hati …

“Kok nggak dihabisin, sih?”

Baiklah, mari kita berhusnudzon. Jangan-jangan mereka sudah makan di rumah masing-masing karena mereka pikir di kondangan nggak akan dikasih jamuan. Karena sudah kenyang, makanannya jadi nggak habis.

Tapi, kok kayaknya nggak mungkin, ya. Manusia mana coba yang nggak tahu kalau di kondangan nantinya akan dikasih makan?

Oh, saya tahu. Mungking mereka lagi diet. Jadi porsi nasinya dikurangi. Tapi kayaknya juga nggak mungkin, deh. Porsi nasi di kondangan kan sedikit. Bahkan sekitar dua minggu yang lalu saya hadir di acara kondangan yang prasmanan. Di mana kita tahu di situ nasi dan lauknya bisa ambil sendiri sesuai selera dengan jumlah yang sesuai selera pula. Tapi apa? Tetap aja ada orang yang makanannya nggak dihabisin. Padahal dia yang ambil sendiri. Aneh, kan.

Atau jangan-jangan makanannya nggak enak? Ah, rasanya nggak mungkin. Ini kondangan lho, ya. Acara yang hanya berlangsung sekali seumur hidup –bagi yang punya acara tentunya-. Pasti makanannya spesial dan enak, dong. Orang Idul Fitri yang jadi agenda tahunan aja makanannya enak-enak, apalagi kondangan yang sekali seumur hidup.

Emm … tapi sebenanarnya sebelumnya saya pernah dengar. Kalau menyisakan makanan di kondangan merupakan salah satu bentuk kesopanan. Katanya biar nggak kayak orang kelaparan. Meski sampai sekarang saya masih nggak bisa menerima logika dari alasan itu.

Maksud saya, bentuk kesopanan? Malah menurut saya nggak menghabiskan makanan itu adalah bentuk ketidak sopanan yang sejati. Gini aja, deh. Pernah bertamu ke tempat orang dan di situ dijamu pakai makanan, kan? Pernah pastinya. Terus makanan itu kita habisin apa nggak? Dihabisin pastinya. Kenapa? Karena kita sadar kalau kita nggak menghabiskan makanan itu, si tuan rumah bisa saja sakit hati. Semacam nggak menghargai usaha dari si tuan rumah.

Bahkan kalau ada orang yang bertamu ke rumah kita dan kita hidangkan mereka beberapa makanan, pasti kita juga pengen makanan itu habis, kan. Bahkan kalau kita masak sendiri makanan itu, bisa aja melihat makanan yang habis terlahap oleh si tamu akan menjadi kebahagian tersendiri bagi kita.

Nah, tapi kenapa sikap yang sama nggak bisa diterapkan di kondangan? Padahal apa bedanya dengan bertamu di saat biasa dan menghadiri kondangan? Pada hakikatnya tetap aja kita sama-sama bertamu. Jadi, sadar atau nggak dengan nggak menghabiskan makanan yang dihidangkan di saat kondangan tetap aja statusnya adalah nggak menghargai usaha dari si tuan rumah. Dan tetap aja itu memiliki potensi yang besar untuk membuat si tuan rumah sakit hati.

Jadi saran saya kalau lain kali kalian makan di acara kondangan … habisin aja! 

Jumat, 22 Juli 2016

Pokemon Konspirasi Yahudi? Kayaknya Sih ... Enggak!



Beberapa hari yang lalu, jagat dunia maya sempat geger berkat isu tentang asal-usul nama sebenarnya dari Pokemon yang menyebutkan bahwa kata Pokemon itu sebenarnya berasal dari bahasa Syriac yang artinya “Aku Yahudi”. Sebenarnya isu itu sudah lama beredar, hanya saja karena kepopuleran game Pokemon Go, isu itu kembali terangkat dan bahkan menjadi viral.

Dan reaksi dari isu itu pun beragam. Tapi tetap kayaknya yang paling dominan dan mencolok adalah yang geger dan berkata bahwa game itu adalah konspirasi Yahudi untuk menjatuhkan Islam dan menyuruh kita untuk berhati-hati tentang hal itu.

Dan saat pertama kali saya mendengar isu itu, ada sebuah pertanyaan yang berputar di kepala saya …

“Itu beneran, ya? Kayaknya cuman mengada-ada, deh.”

Nggak, maksud saya Pokemon itu kan sebenarnya adalah waralaba media dari Jepang yang dimiliki oleh Nintendo dan diciptakan oleh Satoshi Tajiri pada tahun 1995. Produk dari Pokemon itu banyak mulai dari game, anime, manga, dan lain-lain.

Dari sini sudah ketahuan kan dari mana asal-usul Pokemon? Pokemon itu dari Jepang. Lalu, apa masalahnya? Oh, saya tahu. Masalahnya terletak pada nama Pokemon itu sendiri yang katanya dalam Bahasa Syriac yang artinya “Aku Yahudi”.

Tapi, tahu nggak sih kenapa Pokemon itu dinamakan Pokemon?

Soalnya Pokemon adalah singkatan dari Pocket Monsters (ポケットモンスタ  Poketto Monsuta). Di mana pocket berarti saku dan monsters … ya monster. Dan itu artinya Pokemon adalah monster yang saking kecilnya bisa masuk ke dalam saku.

Lalu tentang singkatan itu, sebenarnya itu adalah hal yang lumrah untuk kartun atau komik dari Jepang. Seperti Ore no Kanojo To Osananinajimi Ga Shuraba Sugiru yang disingkat menjadi Oreshura. Atau Ore no Imouto Ga Konna Ni Kawaii Wake Ga Nai yang disingkat menjadi Oreimo. Bahkan di waktu SD dulu kalian pernah nonton kartun di TV yang judulnya Digimon, kan? Kalau belum tahu, itu juga singkatan dari Digitel Monsters.

Jadi intinya menyingkat judul seperti itu sudah lumrah banget di Jepang. Masih berpikir itu konspirasi Yahudi? Bahkan saya nggak yakin kalau Satoshi Tajiri tahu kalau Pokemon itu artinya Aku Yahudi.

Lalu, mungkin masih akan ada yang bilang …

“Eh, tapi kan tetep aja artinya Aku Yahudi!”

Ok, taruhlah arti Pokemon dalam Bahasa Syriac beneran adalah aku Yahudi. Tapi, bukankah itu cuma kebetulan doang? Semacam otak-atik gathuk gitu.

Kalau hanya kebetulan seperti itu bukannya itu sama kayak kata ASU yang dalam Bahasa Jawa artinya anjing tapi dalam Bahasa Jepang artinya besok. Atau kalimat wa la tai asu yang dalam Bahasa Arab artinya jangan menyerah tapi dalam Bahasa Indonesia kotoran anjing. Jadi misalkan benar, berarti Pokemon dalam Bahasa Jepang artinya Monster saku tapi hanya karena kebetulan dalam Bahasa Syriac artinya aku yahudi.

Apakah hanya karena kebetulan seperti itu terus artinya itu adalah konspirasi Yahudi? Kayaknya nggak, deh.

Ah, semoga saya nggak salah.

Senin, 18 Juli 2016

MotoGP Sachsenring 2016: Finis Ke-8, Saya Rasa Rossi Bodoh!



Lagi! Ketika saya pikir balapan akan berjalan mudah untuk Valentino Rossi, musibah malah terjadi. Seperti ketika di Mugello saat Rossi terlihat begitu cepat namun tiba-tiba motornya ngebul. Atau saat di Assen ketika Rossi memimpin namun tergelincir dan jatuh tersungkur. Dan di Sachsenring musibah kembali terjadi. Kali ini bukan salah motor atau jalan yang licin. Tapi … ah, saya rasa kemarin bukanlah hari yang bagus untuk The Doctor.

Sebenarnya kalau bicara tentang hari yang bagus, saya rasa semua pasti setuju kalau saya bilang bahwa kemarin adalah hari yang bagus untuk Marc Marquez, Johann Zarco, dan Khairul Idham Pawi. Kenapa? Apalagi kalau bukan karena mereka bisa menang di kelas masing-masing. Meski sebenarnya saya rasa Cal Crutchlow yang finis di posisi ke-2 juga pasti berpikir kemarin adalah hari yang bagus untuknya.

Untuk Khairul Idham, meski saya tidak menonton balapan Moto3, tapi mendengar bahwa pembalap Malaysia bisa berdiri di podium tertinggi tetap saja terasa luar biasa. Dan kemudian pertanyaan pun muncul. Sebuah pertanyaan yang saya rasa bukan hanya saya yang merasakan. Sebuah pertanyaan berbunyi …

“Kapan ya pembalap Indonesia bisa kayak gitu?”

Beralih ke Moto2

Entah kenapa, ketika balapan berlangsung dalam kondisi hujan, saya selalu berpikir bahwa ada kutukan pembalap yang sedang leading akan jatuh tersungkur. Dan di Moto2 Jerman kemarin, kutukan itu terbukti. Dimulai dari Takaaki Nakagami yang crash di awal lomba ketika sedang memimpin. Lalu hal yang sama juga terjadi pada Franco Morbidelli beberapa lap jauh setelah itu. Kenapa bisa begitu, ya? Sekali lagi, kayaknya memang kutukan.

Moto2 Sachsenring Jerman 2016 adalah pembuktian bagi Johann Zarco bahwa dia memang pantas disebut sebagai penguasa kelas tersebut. Zarco tidak menang begitu saja. Meski ketika balapan memasuki last lap, semuanya memang sedikit terlihat cukup mudah bagi Zarco, namun ada Jonas Folger sang pembalap tuan rumah yang terus mendekat.

Puncaknya ketika memasuki tikungan terakhir. Folger mengambil jalur dalam dan secara ajaib mengambil posisi pertama dari tangan Zarco. Saat itu semua orang pasti berpikir bahwa ini akan menjadi balapan yang manis untuk sang pembalap tuan rumah. Namun, hanya beberapa detik setelah itu, Zarco menghancurkan perkiraan semua orang. Karena mengambil jalur yang terlalu dalam, hal itu membuat Folger keluar tikungan dengan sedikit melebar. Sementara Zarco yang mengambil tikungan dengan normal, akhirnya keluar tikungan dengan jalur yang normal pula. Dan di lintasan lurus terakhir, di situlah Zarco melibas Folger untuk membuktikan siapa raja sejati di Moto2.

Beralih ke kelas MotoGP

Apakah kutukan bahwa pemimpin balapan akan jatuh di wet race juga terjadi di kelas ini? Jawabnya adalah iya. Memang korbanya hanya satu. Dan Danilo Petrucci adalah orangnya. Agak ironis memang. Karena Petrucci sering disebut sebagai pembalap spesialis hujan.

Berbicara tentang GP Sachsenring kemarin, saya rasa topiknya adalah betapa briliannya Marc Marquez dan betapa bodohnya Valentino Rossi. Lalu bagaimana dengan Jorge Lorenzo? Saya rasa ketika balapan berlangsung dalam kondisi basah, semua orang lupa kalau dunia punya seorang pembalap hebat yang pernah beberapa kali juara dunia berjuluk Por Fuera. Jadi, saya pikir Lorenzo tidak perlu dibahas.

Pada awalnya balapan berjalan cukup sulit untuk Marquez. Meski start dari pol position, posisi Marquez kian melorot lap demi lap. Puncaknya ketika dia melebar hingga ke gravel. Untungnya Marquez tidak jatuh. Namun ketika kembali ke aspal, Marquez telah tercecer di urutan 9.

Berbeda dengan Marquez, Rossi justru terlihat cukup nyaman dengan berkendara di belakang Dovizioso. Semuanya terlihat cukup bagus karena sepertinya Rossi bisa saja merebut posisi pertama dari Dovi ketika waktunya tepat.

Lap demi lap terlalui. Nampaknya lintasan pun mulai mengering. Beberapa pembalap mulai menukar motornya di pit. Dan Marc Marquez adalah salah satu pembalap yang melakukan itu cukup awal. Awalnya saya agak ragu apakah itu keputusan yang tepat. Maksud saya mungkin saja lintasan belum kering sepenuhnya. Bukankah kondisi seperti itu akan membuat pembalap mudah tergelincir?

Dan akhirnya benar apa yang saya pikirkan. Pol Espargaro yang menukar motornya di lap yang sama dengan Marc Marquez tergilincir dengan motor ban keringnya. Saat itu, Pol berada satu posisi di belakang Marquez. Saat itu pula saya berpikir apa yang kira-kira akan terjadi pada Baby Alien. Bencana? Atau justru berjaya?

Dan sepertinya pilihan ke dua adalah pilihan yang benar. Marquez melaju dengan sangat kencang. Saking kencangnya, gap dengan pembalap-pembalap terdepan pun semakin menipis. Tidak mengherankan sebenarnya. Karena waktu putaran Marquez dengan pembalap lain yang masih memakai ban basah terpaut cukup jauh.

Sementara itu, Rossi masih terlihat cukup santai dengan aktivitas berkendara di belakang Dovinya. Seakan mengabaikan ancaman Marquez yang melaju dengan kencang di belakang sana. Puncak kesantaian Rossi terlihat ketika The Doctor mengabaikan instruksi tim untuk masuk ke dalam pit stop. Ketika Rossi melewati garis start tanpa masuk pit stop padahal sudah diinstruksikan, dalam hati saya berkata …

“Loh, kok nggak masuk?”       

Ya, Rossi tetap melaju di belakang Dovi diikuti beberapa pembalap satelit di belakangnya. Dan setelah keluar dari tikungan terakhir di lap itu, lagi-lagi Rossi tidak masuk ke dalam pit. Lagi-lagi dalam hati saya berkata …

“Apa sih yang ada dipikaran Rossi? Kayaknya Marquez bakal menang, nih.”

Dan setelah itu, untuk ketiga kalinya Rossi mengabaikan perintah dari tim untuk masuk ke dalam pit. Gap Marquez dengan pembalap terdepan semakin menciut. Dan lagi-lagi dalam hati saya berkata …

“Berakhir! Sudah berakhir! Marquez sudah pasti akan menang.”

Pada akhirnya Rossi mengganti motornya. Namun semua telah terlambat. Marquez benar-benar menang dan Rossi harus puas dengan finis di posisi 8. Ada pembelaan dari The Doctor bahwa motornya tidak sebagus ketika basah. Sehingga dia finis di posisi 8. Tapi sebenarnya jika saja Rossi menurut dengan instruksi tim untuk masuk pit beberapa lap lebih awal, bukankah seharusnya dia bisa finis di posisi yang lebih baik?

Pada balapan kali ini, rasanya saya tidak akan ragu untuk menyebut Rossi bodoh. Ya, sangat bodoh. Jangan salah, saya mengatakan itu bukan sebagai haters Rossi. Saya tetap berada di pihak The Doctor. Dan saya cukup yakin semua penggemar Rossi juga berpikiran sama dengan apa yang saya pikirkan. Atau setidaknya, jika ada yang tidak tega menyebut Rossi bodoh, pastinya mereka tetap berpikir keputusan menunda pit stop adalah sesuatu yang salah, egois, dan mengecewakan.

Terkahir saya hanya ingin berkata tentang sesuatu yang baru saja saya sadari …

Bahwa terkadang dokter juga perlu mendengarkan apa yang dikatakan oleh perawatnya.  

FORZA VALE!

Minggu, 17 Juli 2016

Setelah Nonton Sakamoto Desu Ga? [Review Anime]



Pernah lihat atau bahkan kenal dengan orang yang sok cool? Lalu gimana ya rasanya sekelas dengan orang yang sok cool? Kayaknya bakal menjadi sesuatu yang nyebelin, ya. Tapi gimana kalau ternyata sikap coolnya itu nggak dibuat-buat alias alami? Nah, di artikel kali ini aku pengen bahas alias bikin review awur-awuran tentang anime dengan tokoh utama yang super cool, Sakamoto Desu Ga?

Sebelum melangkah lebih jauh, aku akan kasih info dasar tentang anime ini dulu. Sakamoto Desu Ga? (坂本ですが?)  adalah anime yang diadaptasi dari manga berjudul sama karangan Nami Sano. Anime yang dalam Bahasa Inggris lebih dikenal dengan judul Haven't You Heard? I'm Sakamoto ini memiliki 12 episode yang mulai tayang pada 8 April 2016 hingga tamat pada 1 Juli 2016.
***
SINOPSIS
Bercerita tentang seorang siswa keren dan populer bernama Sakamoto. Di sekolah ia dikenal sebagai seorang jenius yang disukai olah banyak anak perempuan, namun sebaliknya ia juga dibenci banyak anak laki-laki. Meskipun banyak masalah yang menimpanya, namun Sakamoto selalu saja bisa menyelesaikan segala masalah dengan sempurna yang membuatnya terlihat semakin keren.

Catatan: sinopsis dikutip dari SINI.
***
Penilaianku tentang anime ini …

JALAN CERITA
Bercerita tentang orang super cool bernama Sakamoto yang selalu melakukan segalanya dengan sangat cool. Terus … ah, sebenarnya agak susah juga sih mau nulis tentang jalan ceritanya. Karena ceritanya agak random dan absurd.

Tapi yang jelas cerita dari anime ini berpusat kepada tinggah polah sang karakter utama Sakamoto yang sekali lagi selalu melakukan segalanya dengan cara yang sangat cool.

PREMIS
Sebuah cerita yang bagus dibangun dari premis yang bagus pula. Itulah yang selama ini aku yakini. Bukan hanya tentang anime, aku juga meyakini itu dalam hal-hal lain dan bahkan Stand up comedy. Karena ide pokok adalah pondasi yang sangat kuat akan jalannya cerita. Meski, kadang ada juga yang sebenarnya premisnya bagus tapi ceritanya biasa aja.

Dan di anime Sakamoto ini, premisnya menurutku cukup menarik. Ide utama tentang seseorang yang selalu menyelesaikan masalah dengan sangat cool sekali lagi cukup menarik. Dari premis itu aja kita udah bisa menerka-nerka seperti apa kelucuan yang akan ditimbulkan oleh anime ini nantinya.

KARAKTER
Ada banyak karakter yang muncul dalam anime ini. Mulai dari sang karakter utama, teman-teman sekelasnya, preman-preman sekolah, hingga karakter-karakter lainnya.

Dari banyak karakter itu, jika aku disuruh memilih satu karakter favorit, maka aku akan menyebut nama Hayabusa Shou. Seorang siswa kelas 2 berandal yang nggak tahu kenapa berkharisma banget. Dan kayaknya kharismanya itu yang bikin dia jadi karakter favoritku.
 
Hayabusha Senpai
Selain itu, aku juga suka karakter si Acchan –kayaknya nama aslinya Atsushi-, teman sekelas Sakamoto yang merupakan bagian dari 3 serangkai preman dari kelas itu.

BAGIAN FAVORIT
Ini sebenarnya maksudnya adegan favorit. Banyak sih adegan favorit dari anime ini. Karena semuanya lucu-lucu dan seru, maka aku hanya akan menulis yang menurutku terlucu dan terseru dari adegan-adegan lainnya.

Di episode 3 aku suka dengan gimana cara Sakamoto menangani Maruyama –siswa berandal kelas 2- yang suka memerintah anak kelas 1. Hingga akhirnya, Maruyama tobat.

Di episode 4 saat Acchan dan teman-temannya menggali lubang di taman untuk jebakan, tapi yang kena jebakan adalah Sakamoto. Lalu saat dicek, lubang menjadi semakin dalam dan Sakamoto menghilang. Acchan mengira kalau Sakamoto tembus ke belahan dunia lain, Brazil. Sumpah, bagian itu lucu banget.

Di episode 6 pas Sakamoto dan anak-anak SD bertingkah aneh di perjalanan pulang sekolah juga lucu, tuh. Jadi inget jaman SD dulu kalau pulang sekolah suka nendangin batu di perjalanan dari sekolah sampai rumah.

Di episode 9 waktu para gadis cerita tentang pertemuan pertama mereka dengan Sakamoto.

Di episode 10, kayaknya ini adalah episode terseru –selain episode terakhir tentunya- di anime ini. Di episode ini ada dua cerita dan keduanya sama-sama lucu. Yang pertama saat Sakamoto diajak sama mas-mas buat ke karaoke. Dan yang kedua pas Sakamoto dimintai bantuan sama Hayabusha senpai buat ketemuan sama calon istri bapaknya.

Di episode 12 alias episode terakhir, ini menurutku juga seru. Ya iyalah. Episode terakhir, kalau nggak seru berarti animenya tergolong gagal, dong. Hehe. Aku suka saat adegan Sakamoto menyampaikan pidato di acara kelulusan. Waktu itu Acchan yang udah dipengaruhi Fukase-san mengamuk dan pengen menciderai Sakamoto. Tapi karena Sakamoto ini coolnya bukan main, orang-orang justru mengira amukan Acchan ini adalah bagian dari pertunjukan. Dan Acchan pun bebas dari hukuman dan bahkan menyesali perbuatannya.

Eh, sorry ya kalau spoiler. Hehe.

MUSIK
BGMnya bagus, tuh.

PESAN MORAL
Apa yang aku dapat setelah menonton anime ini adalah … jika kamu pengen berhenti merokok, gantilah aktivitas itu dengan meniup gelembung.