Selasa, 21 Juni 2016

Pahlawan Masa Kecilku a.k.a My Childhood Heroes



Pahlawan masa kecil atau childhood heroes. Pasti kamu pernah dengar kalimat itu, kan? Siapa sih yang nggak pernah? Bahkan aku yakin mungkin kamu juga punya pahlawan masa kecil. Entah itu tokoh fiktif, bintang olahraga, atau bahkan orang terdekat seperti anggota keluarga. Kayaknya semua orang pasti punya pahlawan masa kecilnya sendiri.

Di artikel kali ini aku pengen bercerita tentang pahlawan masa kecilku. Dan karena bingung cari kata-kata supaya intronya bagus, kayaknya mending kita langsung aja, deh.

Jadi, ini dia pahlawan-pahlawan masa kecilku …

Kimi Raikkonen
Kenapa Kimi Raikkonen? Karena waktu itu aku nggak suka Michael Schumacher. Maksudku, aku nggak suka dengan dominasi Michael Schumacher yang waktu itu sering menang dan berturut-turut juara dunia.

Waktu itu aku masih SD. Tahun 2003 kalau tidak salah. Saat itu Kimi Raikkonen masih menjadi pembalap muda yang mengendarai mobil McLaren Mercedess warna hitam. Di tahun itu pula Kimi menjadi penantang serius Michael Schumacher untuk memperebutkan gelar juara dunia. Meski pada akhirnya Michael Schumacher dengan Ferrarinya yang keluar sebagai juara dunia, tapi hal itu nggak merubah Kimi Raikkonen sebagai pahlawan masa kecilku.

Oh, iya. Pada akhirnya pas tahun 2007 Kimi Raikkonen yang udah pindah ke Ferrari berhasil juara dunia dengan selisih hanya 1 poin dari Hamilton dan Fernando Alonso. Dan waktu itu, I’m very happy.

Raul Gonzalez
Raul Gonzalez adalah alasan kenapa aku pernah mendukung Real Madrid. Dan Raul Gonzalez pula yang akhirnya juga menjadi alasan kenapa aku berhenti memberikan dukunganku terhadap klub asal  ibu kota Spanyol itu.

Berawal di tahun 2002. Mungkin beberapa waktu setelah pergelaran Piala Dunia di Jepang-Korea Selatan usai. Atau bahkan saat piala dunia itu masih berlangsung. Aku nggak begitu ingat, sih. Tapi waktu itu Omku –atau orang lain, ya?- membelikanku sebuah poster bergambar tim sepak bola yang tengah berpose berbaris seperti yang biasa mereka lakukan sebelum mereka bertanding. Dan tim sepak bola itu adalah Real Madrid. Lengkap dengan nama-nama pemainnya di bagian bawah poster.

Dan poster itu akhirnya sukses membuatku yang waktu itu masih kecil bersimpati terhadap Real Madrid. Lalu waktu itu aku ingat di setiap hari minggu/senin pagi sekitar subuh aku selalu menyetel TV dan mendapati Real Madrid yang tengah bertanding. Dan di antara sekelompok pemain berkaos putih yang selalu aku tonton setiap akhir pekan itu, ada satu pemain yang akhirnya aku tasbihkan sebagai pemain favoritku. Siapa lagi kalau bukan pemain bernomor punggung 7 Raul Gonzalez. Ya, dia adalah pahlawan masa kecilku yang lain.

Lalu setelah tahun demi tahun terlewati, pada musim panas 2009 Real Madrid membeli Cristiano Ronaldo yang juga identik dengan nomor punggung 7. Waktu itu aku benar-benar takut jika nomor punggung 7 yang sudah melekat dengan Raul Gonzalez tiba-tiba diberikan kepada Ronaldo. Tapi untungnya hal itu tidak terjadi. Dan Ronaldo memakai nomor punggung 9.

Petaka terjadi di tahun 2010. Raul Gonzalez pergi dari Real Madrid –mungkin karena jasanya sudah nggak begitu diperlukan- dan akan bermain untuk Schalke 04 di Bundesliga Jerman. Waktu itu aku benar-benar berharap nomor punggung 7 milik Raul akan dipensiunkan dan haram bagi siapapun untuk memakainya. Layaknya nomor punggung 3 di AC Milan yang dipensiunkan untuk menghormati Paolo Maldini.

Namun harapanku nggak terkabul. Nomor punggung 7 akhirnya diserahkan kepada Cristiano Ronaldo. Dan waktu itu … sebenarnya agak memalukan untuk mengakuinya. Tapi aku benar-benar sakit hati. Dan sejak saat itu aku nggak pernah lagi dukung Real Madrid.

Valentino Rossi
Jika aku disuruh milih antara Kimi Raikkonen, Raul Gonzalez, atau Valentino Rossi, jelas tanpa pikir panjang aku akan menyebut nama Valentino Rossi sebagai pahlawan terbesar di masa kecilku. Dan bahkan sebenarnya hingga saat ini. Dan mungkin untuk selamanya.

Mungkin tahun 2001. Berawal dari bapakku yang suka nonton MotoGP dan mendukung Rossi, akhirnya aku terseret dalam arus itu. Motor kuning –waktu itu aku nyebutnya ijo pupus- bernomor 46 dengan tulisan Nastro Azzuro sukses membuatku tergila-gila dengan balapan motor. Meski hanya nonton, sih.

Waktu itu belum ada internet. Sebenarnya udah ada, sih. Cuman aku belum kenal internet. Tapi untungnya waktu itu bapakku berlangganan tabloid Otomotif yang terbit setiap hari jum’at. Jadi waktu itu untuk mengetahui kabar terbaru dari MotoGP, aku baca aja tabloid itu.

Tapi kayaknya tahun 2001 aku belum terlalu fanatik, deh. Waktu itu aku memang sudah nonton MotoGP. Tapi kayaknya aku benar-benar menjadi gila di tahun 2002 saat Rossi pakai motor Repsol Honda. Dan semakin menggila di tahun 2003. Lalu semakin meningkat dan meningkat ketika The Doctor pindah ke Yamaha.

Dan bahkan hingga saat ini tingkat kekagumanku terhadap The Doctor sama sekali tidak berubah. Kekagumanku terhadap Valentino Rossi masih sama dengan belasan tahun lalu ketika Rossi masih menjadi pahlawan masa kecilku.

Muhammad Santoso
Yang ini bapakku. Kayaknya sepanjang apapun aku menulisnya di sini, itu nggak akan cukup untuk sekedar menunjukkan bahwa beliau adalah pahlawan terhebat di masa kecilku. Yang terhebat dan paling hebat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar