Sabtu, 28 Mei 2016

Selamat Tinggal Mentoring Kelompok 23 FEB UMS 2015/2016


Akhirnya, setelah delapan bulan berlalu, hari ini menjadi akhir dari semuanya. Aku nggak tahu tapi, mungkin aku akan merindukan momen-momen itu. Saat kita berkumpul beralaskan sebuah tikar. Menghabiskan Sabtu pagi dengan duduk melingkar di hall FEB UMS. Dalam sebuah kegiatan yang biasa kita kenal bersama dengan sebutan mentoring.

Duh, kok intronya jadi sedih gini, ya?

Ok, sebelumnya aku mau bilang bahwa sama seperti apa yang terjadi di tahun pertamaku kuliah di UMS, di tahun kedua ini aku juga melewatkan Sabtu pagiku dengan kegiatan mentoring. Hanya saja di tahun keduaku ini agak berbeda dari tahun sebelumnya. Jika sebelumnya aku menjadi peserta mentoring, maka kali ini aku bertindak sebagai pementor.

Dan seperti yang aku sebutkan di awal, hari ini (28-5-2016) adalah hari terakhir masuk mentoring tahun ajaran 2015/2016. Fiuh, akhirnya selesai juga. Dan sebenarnya hari ini tidak berakhir dengan begitu saja. Ada ujian yang seolah menjadi penentu lulus tidaknya para peserta mentoring di tahun ajaran kali ini. Dan di sela-sela ujian, aku menyuruh para peserta mentoring kelompokku, kelompok 23 untuk menuliskan kesan-kesan mereka selama mengikuti kegiatan mentoring di tahun pertama mereka. Dan ini dia kesan-kesan mereka …

Riskhan Bachtiar
“Selama 1 tahun mengikuti mentoring menambah ilmu dalam hal agama dan membaca Al-Qur’an menjadi lancar.”

Naufal WR
“Mentoring kelompok 23 selalu happy. Dengan pementor yang gokil dan banyak teman-teman yang lucu. Selain itu menambah pengalaman, menambah teman, dan silaturahmi. Thanks Mas Faisal.”

Ichsan Nugroho
“Kegiatan mentoring yang bermanfaat ditambah pementor yang asik dan tidak pernah bercanda dan serius.”

Teguh Andiarto
“Dengan adanya mentoring saya dapat mendalami lebih dalam lagi tentang Islam. Selain itu sistem pembelajarannya yang berkelompok memudahkan kita untuk saling  bekerja sama.”

Bayu Dwi Utomo                       
“Selama setahun ini walaupun agak pagi tapi cukup memberikan kajian-kajian yang bermanfaat.”

Bela Guruh
“Kesan saya mengikuti mentoring sangatlah menyenangkan, sangat asik. Apalagi dengan pementornya yang sangat sabar dan menghibur. Kegiatan ini juga sangatlah bermanfaat untuk saya. Dengan adanya kegiatan mentoring ini saya bisa lebih jauh belajar tentang Islam.”

Miftachul Ngaziz
“Ada manfaatnya untuk membaca Al-Qur’an dan tambah teman. Terkadang menyenangkan. Terimakasih pementor yang baik hati.”

Ryan Wahyu
“Selama aku mengikuti mentoring aku merasa senang karena bertemu mentor yang lucu dan gokil. Dan dapat ilmu yang bermanfaat juga sih walaupun sedikit. Makasih ya mentoring. Go! Go! Go! Mentoring!”

Itu tadi kesan-kesan yang ditulis oleh anggota kelompok mentoringku. Rasanya nggak adil ya kalau aku nggak nulis tentang kesan-kesanku sendiri selama aku menjadi pementor dalam setahun ini.

Dan kesan-kesanku adalah …

…………………………

Ah, sebenarnya aku bingung mau nulis apa. Oh, iya. Cuma mau bilang terimakasih sebesar-besarnya untuk seluruh anggota mentoring kelompok 23 FEB UMS 2015/2016. Terimakasih banyak buat Erry, Ngaziz, Anang, Gilang, Naufal, Ichsan, Teguh, Riskhan, Bela, Bayu, dan Ryan. Terimakasih untuk waktu yang kita habiskan bersama di setiap Sabtu pagi. Sekali lagi, terimakasih banyak dan sampai jumpa di lain kesempatan, atau … seenggaknya di parkiran kampus.


Selasa, 24 Mei 2016

Selain Fans Real Madrid, Semua Orang Ingin Atletico Juara Liga Champions 2016



Kalau misalkan ada yang tanya mana tim yang akan aku pilih untuk memenangi Liga Champions 2016 antara Real Madrid atau Atletico Madrid, tentu tanpa ragu aku akan menjawab Atletico Madrid. Alasannya kenapa? Simple aja sebenarnya. Ya karena kasian aja. Karena sebagaimana kita tahu Real Madrid memiliki reputasi yang lebih mentereng jika dibanding dengan rival sekotanya yang akan jadi lawan main mereka di final yang akan digelar di San Siro. Dan karena nggak sementereng Real Madrid, makanya aku kasian dan bakalan lebih suka kalau Atletico yang juara.

Alasannya gitu doang? Ya nggak papa juga kali. Karena sebenarnya dalam hidup ini manusia memiliki kecenderungan untuk bersimpati kepada yang kasian, lemah, tertindas, dan sebagainya. Contohnya gini, deh. Dalam ajang pencarian bakat, yang biasanya dapat SMS paling banyak yang bagaimana? Yang backgroundnya paling kasian, kan. Kualitas mah urusan belakangan. Bahkan aku juga curiga … jangan-jangan Jokowi menang pilpres karena alasan yang serupa?

Ok, balik ke Liga Champions.

Nah, karena kecenderungan itu tadi, aku sempat berpikir jangan-jangan semua orang kecuali fans Real Madrid juga lebih suka kalau Atletico Madrid yang juara. Entah itu alasannya karena kasian atau apapun. Dan untuk menjawab pertanyaan itu, aku melakukan survey kecil-kecilan. Aku bertanya –lewat BBM- kepada beberapa teman yang juga suka bola tentang mana yang akan mereka pilih untuk memenangi Liga Champions. Aku cuma pengen membuktikan bahwa teori semua orang ingin Atletico juara kecuali fans Real Madrid tadi bener atau salah.

Dan ini dia hasil penelitianku.

Hilaly Amin (Chelsea)
“Atletico Madrid. Suka sama semangat juangnya. Selain itu, Atletico juga sudah mengalahkan tim kuat kayak Bayern Munchen.”

Tommy Aricha (Persipur Purwodadi)
“Menurutku, kalau aku simple. Pilih Atletico Madrid. Karena tidak suka aja kalau Real Madrid menang.”

Yokho (Liverpool & PSIS Semarang)
“Dari segi semangat juang aku pilih Atletico, Mas. Lagian aku juga gak terlalu suka sama Real Madrid. Permainan pun aku lebih suka gaya main Atletico.”

Memet Prabowo (Arsenal)
“Atletico Madrid.”

Alan Hariadi (Manchester United)
“Aku pilih Atletico Madrid. Karena menurutku memang ini saatnya Atletico juara.”

Anggam (Kayaknya Chelsea?)
“Real Madrid. Pemainnya bagus-bagus.”

Anton Bagas (Manchester United)
“Atletico Madrid. Musim ini Real Madrid di Liga dua kali tanding dan selalu kalah dari Atletico.”

Rizki Igun (Dulu kayaknya Manchester United)
“Atletico Madrid, dong.”

Risank Wikuwanara (Barcelona. Sebenarnya salah juga tanya ke fans Barca. Jawabannya udah jelas)
“Karena aku Barca, jadi aku pilih Atletico Madrid. Sebenarnya pilih Atletico karena nggak seru aja kalau yang udah banyak pialanya juara.”

Harisa Hepi (Arsenal)
“Real Madrid, dong. Real Madrid mainnya atraktif. Kalau Atletico sepakbola negatif, membosankan!”

Nah, itu dia hasil surveyku. Dan ternyata ada juga ya yang pengen Real Madrid juara meski bukan fans El Real. Berarti teoriku salah, dong? Tapi nggak papa. Seenggaknya 8 dari 10 orang yang menjawab pertanyaanku pilih Atletico Madrid yang juara.

Ok, itu tadi hanya pendapat dari orang-orang tentang juara ideal bagi mereka untuk Liga Champions musim ini. Nggak tahu juga sih apakah pendapat 10 orang sudah bisa menjadi representasi dari pendapat manusia sedunia. Tapi seenggaknya di TV-TV, pendapat 8 dari 10 orang cukup efektif untuk meyakinkan orang-orang untuk membeli salah satu merk shampoo.

***
29 Mei 2016

Ternyata harapan 8 dari 10 orang untuk menyaksikan Atletico Madrid menjuarai Liga Champions sirna sudah. Setelah Real Madrid mengalahkan rival sekotanya dalam drama adu penalti. Selamat untuk Real Madrid!

Rabu, 18 Mei 2016

Alasan Kenapa Doc Hudson Hornet Tidak Ada Di Film Cars 2



Pernah nonton film Cars sama Cars 2? Pastinya pernah, ya. Karena kalau misal kamu enggak nonton film itu di bioskop, dua film itu sering banget diputar di TV, kok.

Ok, sebenarnya memang basi banget sih kalau mau bahas dua film itu di 2016. Tapi nggak tahu kenapa selalu ada pertanyaan sederhana yang bikin penasaran setiap kali film itu diputar di TV. Dan pertanyaannya adalah …

“Kok di Cars ada Doc Hudson Hornet tapi di Cars 2 dia nggak ada?”

Sebenarnya jawabannya sangat simple. Ya, sederhana banget. Dan jawabannya adalah karena pengisi suara untuk karakter Doc Hudson, Paul Newman meninggal sebelum Cars 2 dibuat. Itu aja sih sebenarnya jawabannya.

Gimana? Masih belum puas dengan jawaban itu? Ok, tenangkan dirimu. Akan aku terangkan secara lebih rinci.

Sederhananya begini, film Cars itu dirilis sepuluh tahun yang lalu. Atau lebih tepatnya pada tanggal 9 Juni 2006. Lalu Paul Newman sang pengisi suara Doc Hudson meninggal dunia pada 26 September 2008 di usia yang ke 83. Sementara itu, film Cars 2 sendiri baru dirilis pada tanggal 18 Juni 2011. Di mana mungkin produksinya dimulai pada tahun 2009 atau 2010.

Gimana? Sekarang udah jelas, kan? Pokoknya kesimpulannya adalah pengisi suaranya Doc Hudson meninggal sebelum Cars 2 diproduksi.

Udah itu aja, sih. Semoga artikel ini bisa membantu.

Minggu, 08 Mei 2016

Stand Up Comedy Smansa Surakarta 2016 [Review]



Dua hari yang lalu, tanggal 6 Mei 2016 atau yang secara kebetulan juga bertepatan dengan hari Isra’ Mi’raj, aku melewatkan malam itu dengan sesuatu yang cukup berbeda dari apa yang orang lain biasa lakukan di hari Isra’ Mi’raj. Ya, jika biasanya orang lain menghabiskan malam Isra’ Mi’raj dengan berangkat ke pengajian, aku justru memilih untuk pergi ke acara Stand Up Comedy Smansa. Sebuah acara show Stand Up Comedy yang digelar oleh OSIS SMA N 1 Surakarta dengan bintang tamu Abdur Arsyad dan Kemal Palevi.

Sekitar jam 5 sore, aku berangkat dari rumahku ke venue acara, Bale Kambang Hall. Jujur aku nggak tahu juga kenapa aku bisa terdampar di acara itu. Maksudku, aku bukan penggemar Abdur atau Kemal. Terus ngapain aku ke situ? Ok, Sebenarnya aku memiliki beberapa alasan kenapa aku berangkat ke acara itu.

Pertama, mendukung perkembangan dan eksistensi stand up comedy di Kota Solo. Kedua, acara itu bisa jadi bahan review untuk blog ini. Ketiga, karena aku ngajak adikku, aku pengen mengenalkan dia pada stand up comedy sejak dini. Keempat, aku pengen lihat gedungnya. Kalau ada yang nanya kenapa pengen lihat gedung? Ok, entah kenapa akhir-akhir ini aku menjadi penggemar berat gedung pertunjukan. Udah. Itu aja, sih.

Ok, balik ke acara.

Sekitar jam 6.15 aku masuk ke gedung Bale Kambang Hall. Kesan pertama saat aku masuk ke gedung itu adalah … “asem, keren juga ya ternyata”. Meski agak mistis juga karena gedung yang sama pernah jadi tempat acara uji nyali. Ditambah seperangkat gamelan yang tertata rapi seolah menjadi penyekat antara panggung dan penonton sedikit menambah hawa keangkeran gedung ini.

Setelah menunggu agak lama, sekitar jam 6.37 –atau mungkin lebih- lampu padam. Masuk Arum Setiadi yang malam itu menjadi MC. Kemudian Arum memanggil seseorang dari SMA N 1 Solo untuk maju ke atas panggung. Kayaknya sih dia ketua panitia acara ini. Terus wawancara gitu. Sebenarnya nggak ada yang salah dengan peristiwa itu. Tapi entah kenapa aku sampai sekarang masih bertanya kayak … “dia ketua panitia, ya? Kok naik panggung pake sandal, sih?”

Ok, balik ke acara.

Selain menghadirkan Abdur dan Kemal sebagai bintang tamu, tentunya acara ini juga di buka oleh 5 orang opener. 3 dari SMA N 1 Solo, dan 2 comic dari Stand Up Solo.

Untuk opener dari SMA N 1 Solo, aku nggak tahu, nih. Mohon maaf tapi nggak tahu kenapa nggak cukup sukses untuk membuatku ketawa. Kayaknya kita beda generasi, deh. Ya, karena faktanya mereka memang 3-5 tahun lebih muda dariku. Perbedaan referensi dan pola pikir kayaknya.

Sedangkan 2 comic dari Stand Up Solo, Pandu Samodra dan Fajar Yoga, mereka sukses membuat tawa pecah di Bale Kambang Hall. Membuat crowd menjadi semakin empuk sebelum dihajar oleh Abdur dan Kemal. Oh, iya. Nambahin aja. Adikku bilang kalau dia suka banget sama penampilannya Pandu. Sekarang di rumah tiba-tiba dia jadi sering ngomong “seger cuk!”, kata yang tak lain menjadi salah satu punchline Pandu di malam itu.

Ok, setelah para opener selesai melakukan tugasnya, kini giliran Abdur Arsyad untuk naik. Seperti biasa Abdur tampil dengan membawa materi tentang kampung halamannya, Nusa Tenggara Timur. Malam itu Abdur tampil selama 22 menit dan pecah.

Setalah Abdur turun, Kemal yang dalam waktu dekat akan menggelar specialnya yang bertajuk #Terkemal pun naik. Kemal memulai penampilannya dengan ngerap yang disambut histeris oleh penonton yang rata-rata gadis remaja. Dan yang ada di pikiranku saat itu adalah … “Ok, dia masuk dengan cukup keren. Semoga penampilan stand upnya juga sekeren dengan bagaimana cara dia masuk panggung”.

Dan kayaknya harapanku terkabul. Kemal tampil mengagumkan malam itu. Bahkan adikku juga sampai ngakak-ngakak. Dan ngakaknya pun sangat parah. Bit-bit tentang duo serigala, mall kebakaran, dan ngajak pacar nonton konser adalah bit-bit favoritku dari Kemal malam itu.

Setelah tampil selama 40 menit, Kemal akhirnya menutup penampilannya. Bale Kambang Hall riuh dengan tepuk tangan. Jujur aja nonton Kemal di acara ini mengingatkanku sama sensasi pas nonton Dicky Difie di acara Laugh in Solo 2. Ya, sama kayak Dicky, ternyata Kemal itu jauh lebih bagus kalau ditonton secara live daripada di TV. Enggak, bukan jauh lebih bagus. Tapi 76 kali lebih bagus.

Pas aku keluar dari Bale Kambang Hall, aku ngomong dalam hati kalau acara barusan keren banget. Kemudian bertanya dalam hati … “kapan ya Stand Up UMS bikin acara keren kayak gini?”